Selasa, 22 April 2014

Food For Thought: Racial Microaggressions


Sebuah gerakan mencuat, terlihat makin jelas di media belakangan ini, bahkan berkali-kali dimuat di BuzzFeed. Dimulai oleh I, too, am Harvard., kemudian I, too, am Oxford., lalu I, too, am NYU., kelompok mahasiswa non-putih di ketiga institusi pendidikan termasyhur ini ternyata masih menerima tindakan diskriminasi dari lingkungan universitasnya masing-masing.

"You don't sound Black."

"Then... Why do you speak such good English?"

Seperti gambar di atas. "So what happens if you *accidentally* eat pork? Do you go to hell?"

Hal-hal seperti ini, dapat dikategorikan sebagai racial microaggressions, sesuatu yang terbilang masih baru, karena istilahnya ditemukan tahun 2007.


Diambil dari sini. Terjemahan: Mikroagresi rasial adalah penghinaan secara singkat dan bisa bersifat harian melalui kata-kata, sikap, atau lingkungan, baik itu disengaja maupun tidak, yang mengkomunikasikan hal negatif, sindiran, terhadap orang dengan kulit 'berwarna'. Mereka yang melakukan mikroagresi rasial seringkali tidak sadar apa yang telah mereka lakukan dapat melukai orang tersebut.

Bagiku, yang pernah mengenyam dua tahun di SMA internasional (literally, ada sekitar 80 kewarganegaraan terwakilkan di UWC-USA), hal-hal seperti ini sudah biasa. Sudah kenyang. Stereotipe adalah bagian dari identitas, walaupun terkadang benar, stereotipe sebagian besar adalah benar.

Karena itu, aman bagi kami untuk menanyakan pertanyaan seperti, "Kamu sebenarnya dari mana?", atau "Mengapa Muslim tidak boleh minum alkohol?"

Hanya saja, di dunia luas, banyak orang-orang yang walaupun 'terlihat internasional', mereka sebenarnya lahir dan dibesarkan di negara lain yang berbeda dari yang terlihat dari ras, warna kulit, atau penampakan luar. Masih banyak orang yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang latar belakang budaya seseorang, namun kesan pertanyaan yang disampaikan bukan keingintahuan, tetapi ofensif. Atau jika ingin memuji seseorang, jangan kaitkan dia dengan latar belakang, warna kulit, stereotipe, atau ras dia. 

Jangan gunakan, "You don't sound Black," karena tidak semua orang putih itu pintar. Gunakan, "You are smart."

Jangan gunakan, "Then... Why do you speak such good English?", karena tidak semua orang negara X berbahasa ibu X. Mungkin bahasa pertama mereka adalah Bahasa Inggris. Bukankah yang paling penting adalah kalian bisa berkomunikasi dengan mereka tanpa hambatan?

Jangan gunakan, "So what happens if you *accidentally* eat pork? Do you go to hell?", tanyakan, "Why does your religion forbid you to eat pork? What happens if you accidentally eat it?"

Jangan lupa:


Aku benar-benar mengapresiasi teman-temanku, dosen-dosenku, dan orang-orang lain di sekitarku yang respect dengan namaku. Namaku adalah identitasku, dan terkadang aku mungkin terdengar 'memaksa' agar mereka membacanya dengan benar: Titan, bukan Tay-ten, atau mungkin mereka bingung karena aku bukan dipanggil dengan nama pertamaku: Noor. 

Aku menghargai mereka yang berusaha untuk menyebutkan dengan benar, walaupun aku tidak ambil pusing jika mereka lupa dan tetap memanggilku Tay-ten.

Tetapi tidak semua orang di luar sana berpikiran sama denganku. Banyak dari mereka yang merasa bahwa nama adalah sesuatu yang sangat penting, dan semua orang harus, setidaknya, mencoba untuk memanggil mereka dengan benar.

Dunia ini menarik sekali, bukan? Sayang sekali kalau kita menutup sebelah mata terhadap orang-orang dengan latar belakang yang kaya dan berbeda dari kita.

Diambil dari itooamoxford.tumblr.com.

Di Indonesia sendiri, kita sudah terlalu terbiasa dengan perbedaan suku, dan stereotipe tiap suku. Bahkan, masih banyak orang yang tidak menyetujui pilihan keluarganya untuk menikahi seseorang dari suku tertentu, misalnya.

Hal-hal seperti:

"Pemimpinnya jangan orang Jawa, terlalu lembut. Nggak bisa tegas dia!"

"Aku nggak mau sekelompok dengan orang Batak. Tiap bicara nada mereka tinggi."

"Dia keturunan Tiongkok sih. Wajar saja bukan kalau dia menang lomba matematika? Kalau kalah, baru aneh."

tanpa sadar kita lontarkan tiap harinya. Tanpa sadar juga, kita mendidik adik-adik kecil kita, generasi baru negeri ini, untuk berpikir satu template dengan kita, meskipun kita tahu betul hal seperti ini buruk untuk kesatuan negeri ini.

Bagiku, hal seperti ini juga bisa dikategorikan racial microaggressions, atau mikroagresi ras. Tak bisakah kita hidup tanpa harus mengkotak-kotakkan orang-orang di sekitar kita?

Aku akan mencobanya. Kamu?

Senin, 21 April 2014

Wisata Kuliner Boston: Adiksi Teh Hijau


View Adiksi Teh Hijau in a larger map. Zoom out untuk melihat semua tempat.

Aku bosan dengan tujuan turis di Boston. Adakah hal lain yang lebih menarik untuk dieksplorasi?

Jika kamu pernah merasakan hal seperti itu saat kamu berada di daerah Boston dan sekitarnya dan kamu suka dengan segala makanan rasa teh hijau, ada hal menarik yang bisa kamu coba. Apakah kamu siap dengan daftar tempat wisata kuliner yang telah kukumpulkan selama dua tahun terakhir?

Boston, seperti kota-kota di Amerika Serikat lainnya, tentu saja sangat multikultural. Tidak mengherankan orang-orang memberikan julukan Amerika Serikat sebagai melting pot. Mulai dari Afrika, Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, semua kultur ada tempatnya di sini.

Apakah kuliner yang berasal dari teh hijau hanya terdapat di Chinatown di pusat kota Boston? Tidak juga. Banyak tempat-tempat lain di sekitar Boston yang harus kamu coba. Ayo ikut tur virtualku!

Green Tea Pocky

Siapa yang tidak kenal dengan Pocky? Stik panjang renyah dengan lapisan coklat berbagai rasa ini sudah menjadi snack favorit semua orang di berbagai belahan dunia. Pocky rasa teh hijau adalah salah satu yang harus kamu coba. 

Tahukah kamu kalau ada dua jenis (CMIIW) Pocky teh hijau yang harus kamu coba? Yang stiknya lebih pendek dan lapisan coklat teh hijaunya lebih banyak, disebut Pocky midi. Sedangkan yang satu lagi, ukurannya normal, seperti Pocky biasa. Aku sendiri, tentu saja, lebih suka yang midi, walaupun lebih mahal sedikit, hehe. 

Yum! Foto diambil dari sini.

Pocky satu ini bisa didapatkan di C-Mart Boston, dekat Chinatown. Harganya berkisar $2-$4. Selain itu, masih di C-Mart, kamu bisa menemukan matcha bubuk (yang susah sekali dicari di Bandung), green tea candies, dan green tea cookies!

Green Tea Bubble Tea (Iya, iya, terdengar redundansinya. Maaf!)

Dong Khanh Restaurant, adalah salah satu restoran Vietnam yang tak pernah sepi pengunjung di daerah Chinatown. Mereka memiliki gerai bubble tea sendiri, dengan berbagai rasa, setidaknya ada 15. Salah satunya adalah teh hijau! Jika kamu sedang tidak mood untuk minum bubble tea rasa teh hijau, rasa-rasa lainnya juga menyegarkan, termasuk durian, hehe. Harganya sekitar $3.

Green Tea Milkshake

Cafe Mami, letaknya memang cukup jauh dari pusat kota Boston, tepatnya di Porter Square. Jika kamu ingin ke sana, kamu harus naik subway, red line, menuju Alewife. Letaknya sekitar dua stasiun dari Harvard Square. Cafe Mami ini, selain menyajikan milkshake teh hijau yang lezat (seharga sekitar $3.50 saja!), juga menyajikan makanan Jepang lainnya yang tergolong cukup murah. Miso soup yang mereka sajikan juga rasanya lezat.

Ah, enak! Foto diambil dari sini.

Green Tea Ice Cream

Toscanini's Ice Cream adalah tempat yang paling tepat untuk makan es krim teh hijau. Menyandang gelar "Best Ice Cream in the World" versi The New York Times, ada belasan rasa es krim yang mereka sajikan, teh hijau salah satunya. Harganya sekitar $4.50 untuk 1 scoop es krim. Suasana toko es krim ini juga benar-benar menyenangkan, apalagi karena ada Wi-Fi gratis, hehe.

Selain es krim biasa, mereka juga menyediakan kopi, hot chocolate, dan ice cream cake. Jangan lupa, kalau kamu order ice cream cake, dan diberitahu oleh pramusajinya kalau size cake-nya untuk 6 orang, maksud mereka adalah, 6 orang Amerika. Porsinya besar!

Karena itu, 1 scoop is always more than enough for me, haha.

Green Tea Ice Cream Mochi

Kamu kira hanya di Bandung ada mochi es krim? Di Boston pun ada. Jangan bandingkan harganya tapi, hehe. 

Thelonious Monkfish, adalah salah satu restoran sushi top di Boston. Salah satu dessert yang ada di menu mereka adalah mochi es krim rasa teh hijau. Harganya sekitar $5-$6, dan kamu akan mendapatkan dua mochi es krim besar! Buatku, rasanya lebih enak daripada mochi es krim yang pernah kumakan di Bandung, lebih halus, dan kulit mochinya lebih tipis. Rasa es krimnya pun lebih terasa.

Green Tea Mint

Mint, adalah permen rasa mint yang sering orang-orang makan di sini. Bentuknya kotak/ bulat kecil-kecil, tidak seperti permen biasa. Salah satu brand mint yang ternama adalah Altoid. Walaupun aku tidak bisa makan Altoid yang biasa (karena ada gelatinnya), Altoid juga menyediakan sugar-free mint yang tidak mengandung gelatin.

Tapi ada deal lain yang lebih luar biasa: mint teh hijau! Harganya hanya sekitar $2, dan bisa kamu dapatkan di Trader Joe's di manapun. Selain aman untuk vegan karena tidak mengandung gelatin, rasanya pun unik sekali. Kali berikutnya kamu belanja bulanan di Trader Joe's jangan lupa beli yang satu ini, ya!

Dan bonus antioksidan. Foto diambil dari sini.

Bagaimana? Sudah 'hijau'-kah kamu dari wisata kuliner kali ini? Jika belum, aku berikan satu bonus. Dua hari yang lalu aku menemukan video ini di Youtube, sebuah PV dari GReeeeN, band dari Jepang. Lagu ini digunakan untuk promosi aplikasi chat LINE. 

Oke, aku mengaku. Aku juga teradiksi dengan stiker-stiker LINE yang menggemaskan itu. Enjoy! Selamat menikmati long weekend!