Senin, 21 April 2014

Wisata Kuliner Boston: Adiksi Teh Hijau


View Adiksi Teh Hijau in a larger map. Zoom out untuk melihat semua tempat.

Aku bosan dengan tujuan turis di Boston. Adakah hal lain yang lebih menarik untuk dieksplorasi?

Jika kamu pernah merasakan hal seperti itu saat kamu berada di daerah Boston dan sekitarnya dan kamu suka dengan segala makanan rasa teh hijau, ada hal menarik yang bisa kamu coba. Apakah kamu siap dengan daftar tempat wisata kuliner yang telah kukumpulkan selama dua tahun terakhir?

Boston, seperti kota-kota di Amerika Serikat lainnya, tentu saja sangat multikultural. Tidak mengherankan orang-orang memberikan julukan Amerika Serikat sebagai melting pot. Mulai dari Afrika, Eropa, Asia, Timur Tengah, Amerika Selatan, semua kultur ada tempatnya di sini.

Apakah kuliner yang berasal dari teh hijau hanya terdapat di Chinatown di pusat kota Boston? Tidak juga. Banyak tempat-tempat lain di sekitar Boston yang harus kamu coba. Ayo ikut tur virtualku!

Green Tea Pocky

Siapa yang tidak kenal dengan Pocky? Stik panjang renyah dengan lapisan coklat berbagai rasa ini sudah menjadi snack favorit semua orang di berbagai belahan dunia. Pocky rasa teh hijau adalah salah satu yang harus kamu coba. 

Tahukah kamu kalau ada dua jenis (CMIIW) Pocky teh hijau yang harus kamu coba? Yang stiknya lebih pendek dan lapisan coklat teh hijaunya lebih banyak, disebut Pocky midi. Sedangkan yang satu lagi, ukurannya normal, seperti Pocky biasa. Aku sendiri, tentu saja, lebih suka yang midi, walaupun lebih mahal sedikit, hehe. 

Yum! Foto diambil dari sini.

Pocky satu ini bisa didapatkan di C-Mart Boston, dekat Chinatown. Harganya berkisar $2-$4. Selain itu, masih di C-Mart, kamu bisa menemukan matcha bubuk (yang susah sekali dicari di Bandung), green tea candies, dan green tea cookies!

Green Tea Bubble Tea (Iya, iya, terdengar redundansinya. Maaf!)

Dong Khanh Restaurant, adalah salah satu restoran Vietnam yang tak pernah sepi pengunjung di daerah Chinatown. Mereka memiliki gerai bubble tea sendiri, dengan berbagai rasa, setidaknya ada 15. Salah satunya adalah teh hijau! Jika kamu sedang tidak mood untuk minum bubble tea rasa teh hijau, rasa-rasa lainnya juga menyegarkan, termasuk durian, hehe. Harganya sekitar $3.

Green Tea Milkshake

Cafe Mami, letaknya memang cukup jauh dari pusat kota Boston, tepatnya di Porter Square. Jika kamu ingin ke sana, kamu harus naik subway, red line, menuju Alewife. Letaknya sekitar dua stasiun dari Harvard Square. Cafe Mami ini, selain menyajikan milkshake teh hijau yang lezat (seharga sekitar $3.50 saja!), juga menyajikan makanan Jepang lainnya yang tergolong cukup murah. Miso soup yang mereka sajikan juga rasanya lezat.

Ah, enak! Foto diambil dari sini.

Green Tea Ice Cream

Toscanini's Ice Cream adalah tempat yang paling tepat untuk makan es krim teh hijau. Menyandang gelar "Best Ice Cream in the World" versi The New York Times, ada belasan rasa es krim yang mereka sajikan, teh hijau salah satunya. Harganya sekitar $4.50 untuk 1 scoop es krim. Suasana toko es krim ini juga benar-benar menyenangkan, apalagi karena ada Wi-Fi gratis, hehe.

Selain es krim biasa, mereka juga menyediakan kopi, hot chocolate, dan ice cream cake. Jangan lupa, kalau kamu order ice cream cake, dan diberitahu oleh pramusajinya kalau size cake-nya untuk 6 orang, maksud mereka adalah, 6 orang Amerika. Porsinya besar!

Karena itu, 1 scoop is always more than enough for me, haha.

Green Tea Ice Cream Mochi

Kamu kira hanya di Bandung ada mochi es krim? Di Boston pun ada. Jangan bandingkan harganya tapi, hehe. 

Thelonious Monkfish, adalah salah satu restoran sushi top di Boston. Salah satu dessert yang ada di menu mereka adalah mochi es krim rasa teh hijau. Harganya sekitar $5-$6, dan kamu akan mendapatkan dua mochi es krim besar! Buatku, rasanya lebih enak daripada mochi es krim yang pernah kumakan di Bandung, lebih halus, dan kulit mochinya lebih tipis. Rasa es krimnya pun lebih terasa.

Green Tea Mint

Mint, adalah permen rasa mint yang sering orang-orang makan di sini. Bentuknya kotak/ bulat kecil-kecil, tidak seperti permen biasa. Salah satu brand mint yang ternama adalah Altoid. Walaupun aku tidak bisa makan Altoid yang biasa (karena ada gelatinnya), Altoid juga menyediakan sugar-free mint yang tidak mengandung gelatin.

Tapi ada deal lain yang lebih luar biasa: mint teh hijau! Harganya hanya sekitar $2, dan bisa kamu dapatkan di Trader Joe's di manapun. Selain aman untuk vegan karena tidak mengandung gelatin, rasanya pun unik sekali. Kali berikutnya kamu belanja bulanan di Trader Joe's jangan lupa beli yang satu ini, ya!

Dan bonus antioksidan. Foto diambil dari sini.

Bagaimana? Sudah 'hijau'-kah kamu dari wisata kuliner kali ini? Jika belum, aku berikan satu bonus. Dua hari yang lalu aku menemukan video ini di Youtube, sebuah PV dari GReeeeN, band dari Jepang. Lagu ini digunakan untuk promosi aplikasi chat LINE. 

Oke, aku mengaku. Aku juga teradiksi dengan stiker-stiker LINE yang menggemaskan itu. Enjoy! Selamat menikmati long weekend! 

Minggu, 06 April 2014

Petani Abad 21

Namanya Rebekah Carter. Rambutnya diikat ponytail dengan warna pirang keemasan. Tingginya sekitar 165cm, dan dia mengenakan kaos biru muda. Dia menyambut kami dengan tersenyum, "Selamat datang! Silakan masuk! Kalian boleh mencoba selai-selai ini yang dibuat home-made dengan croissant dan biskuit di atas meja itu."

Dari kiri ke kanan: mint rhubarb jelly, lemon marmalade jam, pineapple pear jam, raspberry rhubarb jam.

Aku, dan kedua temanku, Yee Ling dan Katie, langsung menyambar croissant dan biskuit, lalu mengoleskan selai di atasnya. Satu, dua, tiga, empat, semua selai kami coba. Rasanya benar-benar lezat, dan real, tanpa bahan pengawet. Hanya buah dan gula/ madu. Jika kalian tahu bagaimana selai yang dijual di supermarket di Amerika Serikat (Smucker's?) kalian akan mengerti, mengapa selai-selai ini kusebut barang berharga.

Hari ini, kami dan 12 orang lainnya mendapat kesempatan emas untuk membuat selai sendiri. Rebekah, yang jauh-jauh datang dari Winchester, sebuah kota kecil di Massachusetts, datang sebagai instruktur canning selai hari ini.

Canning, bukan hal yang baru bagiku. Aku pernah ikut satu semester ekskul Sustainability di UWC, di mana kita mengawetkan berkilo-kilo apel yang kami petik selama musim gugur. Bahkan, proses belajar canning ini pun meninggalkan bekas yang tak akan pernah hilang di jari tanganku. Meskipun begitu, siapa yang bisa menolak satu jar selai raspberry plum yang bisa kami bawa pulang saat workshop ini berakhir?

Prosedurnya kurang lebih sama, kami harus memotong plum kecil-kecil, dan menyiapkan raspberry, kemudian memasak keduanya dengan gula putih hingga encer. Sementara itu, beberapa orang lainnya mensterilisasi jar dengan 'memasaknya' dengan air mendidih. Kemudian, setelah jar ini steril dan selainya siap, kami menuangkan selai yang masih mendidih itu ke dalam jar, dan merebusnya ke dalam air mendidih lagi, agar ruang udara di dalam jar tersebut menguap dan menjadi vakum. Tujuannya? Tentu saja agar selainya lebih awet, dan bisa tahan ditaruh di lemari selama setahun, tanpa bahan pengawet!

Rebekah juga bercerita tentang profesinya sebagai salah satu karyawan tetap di Wright-Locke Farm di Winchester. Dia pun berbagi kartu nama, e-mail, dan website tempatnya bekerja. Aku sempat tergelitik, profesinya adalah petani, tetapi mengapa dia terkesan seperti pekerja kantoran?

Akuilah, sebagian besar dari kita menganggap petani sebagai pekerjaan sebelah mata. Kakek-nenekku, adalah petani di tanah Jawa. Setiap kami pulang kampung, selalu ada sisa panen yang beliau bagikan untuk kami bawa pulang ke tanah rantau. Tahun ini, kacang tanah. Tahun depan, kacang kedelai. Mungkin dua tahun lagi, beras atau cabai. Orang tuaku sendiri dengan bangga bilang, "Bapak ibumu ini sudah 'jadi', kedua orang tua kami hanyalah petani, tetapi kami bisa menjadi pegawai negeri."

Tetapi, Rebekah, dengan bangga bercerita mengenai pekerjaannya di Wright-Locke Farm.

Dia bercerita dengan semangat, dirinya mencintai pekerjaannya sebagai petani. Saat musim tertentu, dia akan mengawetkan buah-buahan yang baru dipanennya, dan pada hari tertentu dia akan menerima anak-anak muda untuk membantunya di ladang, agar mereka bisa belajar dari mana makanan mereka berasal.

"Saya sedih kalau ada anak yang datang dan bilang, kalau makanan asalnya dari supermarket."

Karena itu, tiap musim panas, akan ada acara summer camp di farm-nya, dan dia akan mengajari anak-anak bagaimana menanam, merawat, dan memanen berbagai sayuran dan buah-buahan. Kadang dia juga menyewakan farm-nya untuk acara resepsi pernikahan (pesta kebun?) atau sekadar piknik keluarga.

Kemudian, lembaga yang menaungi ladang dan sawahnya juga mempunyai peternakan kecil-kecilan. Rebekah bercerita, bagaimana dia benar-benar excited dengan kedatangan kambingnya akhir April nanti. "Tahun lalu, kami mempunyai beberapa kambing, dan kami memerah susunya. Saya menemukan bahwa susu kambing sangat berkhasiat untuk melembabkan kulit. Lalu kami membuat sabun dan losion dan menjualnya."

"Saya juga senang melihat resep-resep selai atau jelly baru, atau sekadar mencari inspirasi di blog-blog macam foodinjars.com atau http://www.punkdomestics.com/. Saya juga sering membaca buku tentang metode, atau hasil riset tentang bagaimana mengawetkan yang baik."

Wright-Locke Farm, seperti ladang/sawah/kebun lainnya di Amerika Serikat, juga memiliki program CSA, atau Community Supported Agriculture. Intinya, kamu bisa membayar di muka suatu ladang/kebun/sawah untuk menanam sayuran atau buah-buahan, dan saat memanen, beberapa bulan ke depan, kamu akan menerima boks berisi sayur mayur atau buah-buahan segar selama periode waktu tertentu. Sistem lainnya adalah, dengan membayar di muka, kamu bisa memetik sayur mayur atau buah-buahan segar beberapa bulan ke depan, selama periode waktu tertentu. Bagiku, sistem ini cukup efektif, karena hasil panen akan diberikan langsung kepada konsumen yang membutuhkan, dan pembayaran di muka juga membantu kesejahteraan para petani.

Dengan bangga kita bercerita tentang Indonesia sebagai negeri agraris. Faktanya, kita sendiri mengecilkan profesi petani. Kita tidak mau jadi petani, rasanya malu; jurusan kehutanan, perikanan, pertanian, jadi opsi jurusan terakhir. Melihat petani yang sukses di negeri yang tidak mengaku dirinya agraris, bukankah kita harus berpikir ulang? Bagiku, Rebekah adalah potret petani abad 21.

Yang jelas, aku membuat selai raspberry plum sendiri hari ini. Makan pagiku aman untuk sebulan ke depan, tinggal beli roti! Hore!

Resep ultimate lezat: buatan sendiri dan dipandu oleh ahli.