Rabu, 17 September 2014

Applying UK Student Visa from Indonesia?

Halo, semuanya! Semoga tulisanku kali ini menemukanmu dalam keadaan sehat, amin.

Tiga-empat minggu terakhir aku sering sekali bolak-balik Bandung-Jakarta untuk mengurus visa ke UK, dalam rangka pertukaran mahasiswa. Mungkin aku pernah memberitahumu sebelumnya, tetapi jika belum, aku berencana untuk menghabiskan setahun di University of Cambridge, UK, sebagai mahasiswa pertukaran di Department of Engineering, di bawah program CME (Cambridge-MIT Exchange). Doakan semoga lancar, ya!

On a side note, aku bukan penggemar daftar ranking universitas dunia, karena tiap universitas itu unik dan terlalu rumit untuk digeneralisasi. Tetapi, lihat apa yang kutemukan pagi ini ketika meng-scroll down Facebook: QS World University Rankings merilis ranking universitas dunia tahun 2014/2015.

Sumber dari sini.
Bagiku sendiri, ini merupakan tantangan sekaligus berkah yang luar biasa, karena aku berkesempatan untuk mencicipi proses belajar di dua universitas terbaik dunia sekaligus. Alhamdulillah. Semoga aku bisa membagikannya dengan kalian semua lewat blog ini selama setahun ke depan, ya.

Kembali ke topik mengenai cara mendapatkan UK student visa di Indonesia. DISCLAIMER: Aplikasi visaku dimulai Agustus 2014, dan aku mendapatkan visanya September 2014. Kategori visaku adalah Tier 4 (General) student visa. Selain itu, karena aku merupakan mahasiswa pertukaran dari universitas di Amerika Serikat, ada sedikit perbedaan dalam hal dokumen yang harus dipersiapkan, dan sebagainya.

Jadi, apa saja dokumen (umum) yang harus dipersiapkan? Berdasarkan situs Home Office-nya UK dan UKCISA:
  1. Valid paspor. Exchange program director-ku merekomendasikan minimal tanggal akhir berlaku paspor enam bulan setelah program pertukaran selesai.
  2. 2 foto sesuai ketentuan yang berlaku, perhatikan bahwa ukuran fotonya adalah 3,5cm x 4,5 cm.
  3. Print-out application dan appointment, yang diisi secara daring di sini. Pembayaran biaya proses visa juga dilakukan melalui situs ini, dengan kartu debit/kredit/Paypal. Aku harus membayar 530 USD untuk visa ini (September 2014).
  4. CAS (Confirmation of Acceptance for Studies), yang aku dapatkan lewat surel dari officer di University of Cambridge. Aku mendapatkannya otomatis setelah exchange program director-ku di MIT mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan. Hal ini tentu saja berbeda jika kamu ingin bersekolah di UK secara full-time.
  5. Bukti kemampuan finansial. Hal ini aku penuhi melalui surat keterangan financial aid asli yang kuterima dari MIT untuk tahun ajaran 2014/2015, juga bank statements. Setahuku, jika bank statements-mu dari bank di Indonesia, kamu harus mendapatkan surat keterangan bahwa danamu sudah mengendap minimal 28 hari dari bank bersangkutan, dan ditandatangani oleh pejabat bank. Berdasarkan UKCISA, jika kamu akan bersekolah di daerah sekitar London, kamu harus punya funding untuk living cost minimal di tahun pertama dengan jumlah 1020 Pounds. per bulannya, atau 820 Pounds. per bulan untuk daerah di luar London (September 2014), dan juga untuk course fee kamu.
  6. Hasil Tuberculosis Test, yang kamu lakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh mereka.
  7. Hasil IELTS, untuk membuktikan bahwa Bahasa Inggrismu memenuhi standard. Aku kurang tahu tentang yang satu ini, karena di CAS-ku tertulis bahwa assessment Bahasa Inggrisku telah dilakukan oleh 'other HEI (Higher Education Institution)'. 
Selain itu, ada dokumen lain yang harus dipersiapkan, yang tidak tertulis secara gamblang di situs Home Office-nya UK:
  1. Kartu keluarga, KTP, akte kelahiran, dengan terjemahan Bahasa Inggrisnya dari translator yang memiliki izin.
  2. Bukti booking penerbangan (round trip, jika memungkinkan).
  3. Transkrip dari pendidikan terakhir/ ijazah/ bukti bahwa kamu dalam keadaan good standing, juga dengan terjemahannya jika relevan.
  4. Saat aku mempersiapkan aplikasiku sendiri, aku tidak menerjemahkan kartu keluarga, KTP, dan akte kelahiranku. Aku pun tidak memberikan transkrip dari universitasku saat ini. Tidak patut ditiru, karena walaupun aku mendapatkan visanya, aku sempat deg-degan karena takut aplikasiku di-reject. Mungkin karena aku mahasiswa MIT yang akan pergi ke Cambridge, atau travel record-ku yang pernah ke Amerika Serikat dan Jerman, ketiadaan dokumen-dokumen ini bisa dimaklumi. Tetapi, sekali lagi, sama sekali tidak direkomendasikan.
Ketika kamu datang ke appointment-mu di VFS Global, kamu mendapatkan kertas checklist, yang I-wish-I-knew-it-before-I-came atau they-should-have-put-it-somewhere-online! So, here you go.
Persiapan Dokumen Student TIER 4
  1. Pastikan form online sudah ada pada anda, ditandatangani pada halaman ke-2 dan terakhir.
  2. Pastikan anda memiliki CAS Letter (rangkap 2).
  3. Pastikan anda memiliki TB Test Certificate.
  4. Pastikan anda memiliki terjemahan dari semua original document yang berbahasa Indonesia (sworn translator).
  5. Pastikan anda membawa original document, termasuk original bank book/ original bank statement.
  6. Pastikan anda photocopy semua original document (akta lahir, kartu keluarga, ijazah, TB test, translation) dan semua original document yang disebutkan dalam CAS. Semua original document digabung menjadi satu (diklip/ masukkan ke folder), semua fotokopi digabung menjadi satu.
  7. Untuk anda yang mengajukan priority visa**, pastikan anda memiliki fotokopi paspor semua halaman (termasuk yang kosong).
  8. Pastikan dana dalam rekening anda sudah mengendap 28 hari (tuition fee + living cost).  
**Tentang priority visa. Karena waktu itu aku benar-benar mepet, dan rata-rata aplikasi visa UK dari Indonesia membutuhkan waktu sekitar enam minggu, aku harus membayar lebih untuk priority visa service, yaitu 100 Pounds. (September 2014). Visaku jadi dalam waktu dua minggu. Layanan ini tidak direkomendasikan bagi mereka yang pernah ditolak visanya di negara lain, atau pernah punya masalah di imigrasi.

Ketika datang ke VFS Global, setelah menyerahkan semua dokumenku, biometric-ku diambil (foto dan sidik jari), lalu ada interview singkat dengan officer di UK (tentu saja dengan Bahasa Inggris). Waktu itu, wawancaraku berlangsung sekitar 3 menit, cukup cepat, bukan? Hal-hal yang ditanyakan berkisar antara alasan kita datang ke UK, apa yang akan kita pelajari di sana, apa tujuan hidup kita dalam jangka panjang. Wawancaraku sendiri benar-benar menyenangkan, aku sempat bercanda dengan officer-nya bahwa aku ingin merasakan cuaca Inggris yang katanya selalu hujan, haha.

Dibandingkan dengan aplikasi visaku ke Amerika Serikat empat tahun lalu, proses visa ke UK ini terasa lebih panjang (dan mahal, haha). Empat tahun lalu, aku cukup ke Jakarta dua kali, yaitu saat wawancara visa dan saat pengambilan visa, yang sangat cepat: dua hari setelah wawancaranya. Mungkin karena masih belum ada Kedubes UK di Indonesia (hanya ada Konsulat Jenderal), sehingga seluruh aplikasi visa dari Indonesia harus dikirimkan ke Bangkok, Thailand dulu, jadi prosesnya memakan waktu lebih panjang. Kali ini, aku harus bolak-balik ke Jakarta lima kali: untuk tes TB, mengambil tes TB, memasukkan aplikasi visa dan wawancara, mengambil paspor, lalu mengambil dokumen asli yang kulampirkan sebelumnya.

Selain itu, biaya aplikasi visaku ke AS saat itu 'hanya' 140 USD (Juli 2010), dan aku mendapatkan visa untuk lima tahun. Sedangkan kali ini, aku hanya mendapatkan visa ke UK untuk satu tahun saja.

Tetapi, antrean wawancara visa AS empat tahun lalu benar-benar melelahkan, Aku harus mengantre dua-tiga jam, dengan pengamanan super ketat, dan tidak bisa membawa apapun kecuali dokumen yang diperlukan ke dalam. Bahkan sepatu pun harus dilepas (yang mana, akhirnya aku pun terbiasa karena semua bandara di AS mewajibkan aku melepas sepatu saat melewati pemeriksaan, haha). Visa application centre UK di Kuningan City, Jakarta ini berada di dalam ruangan yang sama dengan visa application centre Australia dan New Zealand. Jadi, cukup menarik juga untuk melihat apa yang orang lain lakukan untuk mendapatkan visa ke dua negara ini. Pengamanannya pun tak seketat di Kedubes AS: kamu boleh membawa backpack, tetapi kamu tidak boleh menyalakan ponsel.

Akhir kata, best of luck, kalau kamu sedang dalam proses mendapatkan UK Visa. It's all worth it, semua perjuangan mendapatkan dokumen itu terbayar ketika kamu melihat stamp visa di paspormu, hehe.

Jika kamu masih berusaha untuk mendapatkan universitas di UK, best of luck juga. Jangan pernah menyerah dan tetap semangat!

Selasa, 16 September 2014

Aku & Buku: Bobol Celengan

Aku baru sadar belakangan ini, bukuku banyak sekali, sebagian besar komik Jepang. Aku mengumpulkannya sejak kelas 3 SD. Tak hanya itu, banyak juga novel dan buku non-fiksi dengan berbagai macam topik. Ibuku, sejak tahun 2000, rutin membeli majalah Intisari (Reader's Digest-nya Indonesia), dan sejak tahun 2010-an juga rutin membeli majalah Kartini. Ayahku, entah sejak kapan berlangganan koran Kompas (mungkin sejak jauh sebelum aku lahir), meskipun harga kertas naik terus.

Yang tersisa dari koleksi Intisari tahun 2000. Ibuku senang membeli Intisari, tapi entah mengapa enggan untuk berlangganan langsung.
Bagiku sendiri, koleksi buku-bukuku ini adalah saksi bisu aku tumbuh, sekaligus salah satu faktor yang membentuk diriku saat ini.

Semuanya bermula dari suatu siang yang terik, saat kelas 3 SD.

Ada sebuah perpustakaan baru di pertigaan jalan padat di kota tempat tinggalku. Sejak dulu, aku orangnya tergolong pemalu dan menghindar untuk berinteraksi secara langsung. Terkadang telepon rumah tidak aku angkat, karena aku tidak ingin bicara pada orang di seberang. Kadang pula, saat harus membeli bakso di pedagang kaki lima, aku meminta kakakku untuk memesan makanan yang kuinginkan.

Tetapi hari itu berbeda. Karena aku benar-benar penasaran dengan perpustakaan itu, aku memutuskan untuk bertanya langsung. Ternyata, di dalamnya mirip dengan taman bacaan, dengan koleksi komik (terutama komik Jepang yang tumpah ruah), juga novel, dan buku-buku lainnya. Aku terkesima. Saat itu pula aku memutuskan untuk mendaftar.

Bertahun-tahun berikutnya, aku hampir tiap minggu pergi ke perpustakaan tersebut. Karena aku benar-benar tertarik dengan kisah cinta di serial cantik komik Jepang, maka aku mulai membeli beberapa buku dengan genre tersebut. Bahkan, perpustakaan ini juga membantuku mendapatkan komik tertentu yang aku inginkan, dan menjualnya padaku dengan harga jauh lebih murah daripada yang ditawarkan di jaringan toko buku besar.

Jika kamu teman SD-ku, tentu saja kamu ingat denganku yang kurus dan dekil saat itu. Karena untuk jajan makanan pun aku benar-benar irit, kadang kala memilih pulang jalan kaki daripada naik angkot, demi membeli komik-komik tersebut (juga karena aku tak suka makan ayam dan daging waktu kecil, karena keduanya terasa 'alot' -keras, bagiku, hingga aku mengetahui betapa berharganya daging dan ayam yang halal saat di luar negeri). Celengan pun aku bobol, dan kadang, 'pesangon' (angpau) lebaran dari nenek kakekku pun aku belikan komik.

Tahu Nakayoshi, Cherry, dan Shonen Magz? Ketiganya adalah majalah komik yang sempat aku koleksi untuk beberapa waktu. Nakayoshi, terutama, karena aku sampai punya hampir 70 jilid pertama majalah komik satu ini. Beberapa komik serial cantik pun aku koleksi dengan lengkap: Alice 19th, Baby Love, Marmalade Boy, Toe Shoes, dan lain-lain. Aku pun masih ingat bagaimana aku benar-benar terharu saat membaca jilid terakhir dari komik Imadoki! dengan Yamazaki Tanpopo sebagai tokoh utamanya.

Koleksi Nakayoshi, dan Cherry. Rasanya sedih karena ada beberapa jilid Nakayoshi yang hilang :(
Saat SMP, selain membaca komik Jepang, hobiku bertambah satu: membaca novel, terutama teenlit. Dealova adalah teenlit pertama yang kubaca, dan karena itu, aku benar-benar terlarut dalam ceritanya. Selain itu, aku sempat mencoba membaca Supernova-nya Dewi Lestari, namun saat itu 'belum kesampaian' kemampuan otaknya, haha.

Ketika masuk SMA di Bandung, aku jarang lewat pertigaan ini lagi saat pulang ke rumah, karena itu aku pun semakin jarang meminjam buku di perpustakaan satu ini. Ketika akhirnya aku meneruskan ke UWC di Amerika Serikat, aku tidak sempat mengucapkan proper selamat tinggal pada perpustakaan favoritku ini, bahkan aku tidak ingat persis siapa nama pemiliknya, kecuali 'Om', dan untuk petugas desk-nya, 'Mas'. Jika Anda membaca ini, aku ingin mengucapkan terima kasih pada Anda berdua, karena bersedia menjadi perantara antara aku dan buku-buku.

Lebih beragam, termasuk bahasa pengantar yang berbeda (ada beberapa buku berbahasa Inggris juga). Rak paling atas: novel berseri favoritku yang sebagian besar tak lengkap. Ada yang mau menghadiahiku buku dan melengkapi seri-seri tersebut? :)
Tahun ini, setelah aku memperbarui niatku untuk membaca buku di luar buku kuliah, celenganku pun mulai kebobolan lagi. Tetapi, kali ini aku tidak sudi untuk memotong uang makanku, sehingga tabunganku menipis. Tetapi, memang tak ada kepuasan yang menggantikan saat menyentuh buku baru, dan saat menutup buku yang telah selesai dibaca.