Kamis, 15 Maret 2012
Kolase Hidup Ronde Kedua
Kiri bawah: post-it note biru, "Aku bangga karena aku berhasil melewatinya."
Semester lalu, aku benar-benar dikejar-kejar hantu bernama SAT. Sebuah tes, yang seperti tes lainnya, tak mampu mengukur kemampuan sebenar-benarnya seseorang karena keterbatasan sistem tes itu sendiri. Post-it note itu masih ada di mejaku, tertempel cantik. Aku melihatnya ketika membutuhkannya, saat rasanya dunia meruntuk mengejar tempatku berdiri saat ini.
Mengapa kubilang khalifah itu pemenang? Karena kamu tak bisa menjadi pemimpin buat orang lain jika kamu belum berhasil memenangkan dirimu sendiri.
Kanan bawah: logo MaxTea Tarikk.
Tanya aku, berapa kotak teh tarik instan yang kubawa dari Indonesia. Jawabannya sederhana, empat. Lebih dari cukup untuk menyambung hidup dan perasaan setahun. Hangatnya melumerkan kebekuan otak saat musim dingin dan badai salju di luar.
Hampir habis stoknya, sayangnya. Teman-temanku yang berasal dari luar negeri mengaku bahwa teh ini unik dan memiliki rasa yang berbeda. Seperti yang bisa ditebak, mereka selalu bertanya kalau aku punya ekstra. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja aku bagi-bagi, walau kadang hati tak sepenuhnya rela.
Kanan bawah: zebra pen, "made in Indonesia".
Stok pulpen di laci belajarku menipis. Selusin pulpen yang kubawa dari Indonesia saat musim panas kemarin hanya menyisakan dua batang seminggu lalu. Apa tahun ini aku banyak menulis, ya? Semoga bukan karena menulis yang tidak-tidak atau menggambar doodle di kelas fisika dan matematika karena toleransiku dalam menerima ilmu mendekati nol.
Teriak giranglah aku ketika menemukan pulpen made in Indonesia ini di Walmart. Bangga karena jika aku membelinya berarti aku menyumbang sedikit dari neraca ekspor impor negeriku. Luar biasanya lagi, buatku yang hobi men-doodle dan nulis sembarang tempat, pulpen ini rasanya pas di tanganku, dengan besar tip-nya 0.7mm. Susah menemukan 0.7mm ini, karena ukurannya Amerika Serikat ya, pasti besar-besar.
Tengah kanan: kartu pos dari Singapura.
Mungkin sudah keluar di blog ini sebelumnya, bahwa temanku, Fitri Fatimah, sekarang belajar di National University of Singapore. Tukar-tukaran kartu pos dari dua negara yang berbeda jadi hobiku selama ini. Asyiknya, tukar kabar pun jadi salah satu hal yang paling ditunggu. Facebook? E-mail? Twitter? Lewat.
Tengah kiri: surat dari Jepang.
Pen-pal-ku yang lain adalah Nanako Harata, teman dari Kyoko Sakai (Jepang '12). Tulisannya amboi nian, dan selalu ada kejutan dari tiap suratnya. Terakhir kali, dia mengirimkan buklet kecil untuk belajar kesenian unik dari negerinya, origami. Bahasa Inggrisnya luar biasa, jika dibandingkan dengan aku yang buta menulis surat sebelum datang ke sekolah ini.
Benar-benar deh, belajar itu harus dipraktikkan. Atau hilang tak berbekas.
Tengah kiri: kartu efooddepot.com.
Situs favoritku untuk belanja belanji makanan dari ibu pertiwi. Mahal? Ya. Tapi aku selalu butuh sesuatu untuk menyambung lidah, dan tentu hati ini. Seperti obat bahan bakar yang mampu membuatku berpikir, "Titan, kalau di tes berikutnya kamu bisa dapat 7, kamu bisa makan Indomie Goreng Sate untuk malam ini."
Sungguh efektif!
Atas kanan: kartu pos dari Indonesia bergambar becak.
Kakakku mengirimkannya dari Indonesia. Setelah Lebaran, buat mengobati rasa rindu. Mungkin sebuah pertanyaan muncul di pikiranmu, "Titan, apa segitu susahnya bertahan dari rasa homesick?" Panggil aku cengeng, jika kamu sudah pernah tinggal selama 1,5 tahun di negara lain sendiri, dan jauh dari mana-mana. Jika belum, coba dulu, baru panggil aku cengeng.
Tinggal di negara lain hanya memupuk perasaan cinta akan negeriku lebih dalam setiap harinya; memberikan bahan bakar minyak untuk membuat Indonesia lebih baik.
Tengah: post-it note kuning dari teman sekamarku.
Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, teman sekamarku dari Polandia, Urszula Snigurska, adalah teman yang luar biasa. Tingkat kematangan pribadinya membuatku tercengang, sering kali menyentilku malah, karena komitmennya yang luar biasa pada sesuatu.
Selalu ada hal yang bisa dipelajari dari orang-orang di sekitarmu.
Tengah kanan: kartu tanda pengenal, "Titan Hartono-Indonesia."
Kartu tanda pengenal ini digunakan ketika national committee, dan orang-orang dari UWC IO dan sekolah UWC lainnya datang untuk brainstorming tentang misi UWC ke depannya. Luar biasa, sebenarnya, karena aku mendapat kesempatan untuk mendengar cerita-cerita dari keluarga besar UWC dan seberapa berpengaruhnya pengalaman mereka ini buat hidup mereka.
Buka mata, hati, telinga, untuk melihat, mendengar, dan menerima pelajaran baru. Aktifkan dan sesuaikan frekuensinya sehingga kamu bisa berada dalam keadaan tersensitifmu untuk belajar dengan efektif.
Kanan bawah: lokasi SMPN 1 Cimahi, SMAN 3 Bandung, dan nama untuk seragamku.
Dua dari empat sekolah yang telah berkontribusi dalam memberikan ilmu dan pengajarannya padaku. Juga rasa kangen akan seragam. Tahun lalu, aku membawa seragamku ke sini, tetapi sayangnya aku terlalu bodoh untuk tidak membawanya tahun ini. Rasa "berangkat ke sekolah" telah hilang, karena aku tinggal di sekolahku, hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk pergi dari kamarku ke kelasku.
Menikmati hal kecil yang mungkin tak bisa kamu miliki di masa depan adalah salah satu hal yang akan lebih kuperhatikan, sehingga sesal tak akan menggerogotiku di masa depan.
Tengah bawah: origami hantu.
Origami ini dibuat tahun lalu, saat hampir Halloween, di sebuah sekolah dasar di Las Vegas. Tiap minggunya selama semester kemarin aku mengajarkan matematika dalam bentuk permainan pada mereka. Minori Itabashi (Jepang '13), membuat origami ini untuk membuat mereka duduk diam dan memperhatikan permainan yang kami bawa hari itu.
Mereka menyenanginya. Aku juga menyenanginya. Maka dari itu, satu origami hantu itu kusimpan untuk diriku sendiri.
Atas kiri: foto dengan topi Sinterklas.
Seperti foto sebelumnya yang diambil Tom Lamberth, foto ini pun sama. Beliau selalu punya 'meja'-nya sendiri selama makan siang. Sebelum winter break kemarin, untuk merayakan holiday season, terutama hari Natal yang mendekat (yang dirayakan oleh semua orang di sini, meskipun mereka adalah non-Kristen), dia mendekorasi meja makan. Kameranya pun siap untuk mengambil foto anak-anak yang iseng-iseng mampir ke mejanya.
Dalam foto ini, aku bersama dua orang di sekolah ini yang mana aku sangat dekat dengan mereka, Jing Xia (kiri: Cina '13), dan Kripa Dongol (tengah: Nepal '12).
Aku akan merindukan mereka ketika aku lulus nanti. Sungguh.
Tags:
intermezzo,
kegiatan,
kehidupan,
perjalanan,
sekolah,
USA,
UWC
Sabtu, 25 Februari 2012
Kolase Hidup Ronde Pertama
Iseng-iseng berhadiah
Setelah MAAD yang penuh dengan maadness-nya, aku seyogyannya punya lebih banyak waktu untuk kongkow-kongkow dengan teman atau belajar mengejar IB Exam. Setelah ide toples bintang sebelumnya berjalan dengan lancar, aku memutuskan untuk melakukan hal lainnya.
Ide membingkai potongan-potongan hidup menjadi satu pun muncul. Bersegeralah aku mencari potongan-potongan itu. Inilah hasilnya, kurang rapi tapi setidaknya bermakna buatku sendiri.
Atas kiri: fotoku sendiri.
Tom Lamberth mengambilnya dan menyelipkan foto tersebut di amplop, di castle mailbox-ku. Foto itu diambil ketika aku sedang iseng-iseng datang ke persiapan project week tahun ini di Agua Prieta (aku pergi ke project week itu tahun lalu). Niatnya sih membantu teman-teman tahun pertamaku untuk belajar tari-tarian dan pengumpulan dana. Tetapi, ujung-ujungnya aku bermain-main, dan malah memecah konsentrasi mereka. Haha, terkadang di sela-sela keseriusan itu, dibutuhkan tawa untuk membuatnya lebih bermakna.
Atas kanan: kartu pos sekolahku, kastil. Diambil bertahun-tahun yang lalu.
Kartu pos yang sama kukirimkan untuk adik-adik kelasku di SMPN 1 Cimahi, terutama anak-anak Scout One. Mengapa? Karena aku ingin membuat mereka percaya bahwa segala sesuatunya bisa dicapai kalau ada usaha. Beberapa dari mereka mendekatiku via Facebook dan Twitter, termotivasi untuk melanglang buana juga. Rasanya bangga sekali melihat keinginan dan usaha mereka yang luar biasa. Kadang-kadang tiap aku mengendorkan usahaku, aku lihat saja seberapa inginnya mereka mengeksplorasi dunia. Pecut dari mereka nyatanya luar biasa juga untuk membuatku bertahan satu jam lebih dari biasanya, karena aku selalu percaya, "Yang membuatmu jadi pemenang adalah usaha yang lebih sedikit dari usaha rata-rata orang lain."
Di tengah kartu pos: one dime dollar US (10 cents), 1 peso Meksiko, 5 peso Meksiko.
Dua negara berbeda selain Indonesia di mana aku telah menginjakkan kakiku. Sebenarnya, aku lebih senang dengan peso Meksiko, karena bentuk koinnya lebih unik, haha. Satu hal yang menarik dari one dime dollar adalah betapa anehnya sistem koin di Amerika Serikat. One dime yang bernilai 10 cents ini, bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan koin 5 cents. Dibandingkan dengan koin di mata uang lain yang semakin besar nilainya semakin besar koinnya, koin di Amerika Serikat ini susah dibedakan kalau belum terbiasa. Ujung-ujungnya, dengan mata myopiaku ini, aku harus memicingkan dan membaca labelnya.
Tengah: boarding pass American Airlines Los Angeles-Albuquerque.
Entahlah, mungkin di masa depan aku tak akan memiliki boarding pass seperti ini. Lulus tahun ini, pikiranku cukup terberatkan. Rasa enggan meninggalkan tempat ini selalu memenuhi pikiran. Pengalaman ini terlalu unik untuk kutinggalkan.
Aku masih ingat bagaimana kesalnya hati ini untuk mendapatkan boarding pass satu itu. Bandara Los Angeles, buatku, besarnya luar biasa. Imigrasinya pun panjang mengular ke mana-mana. Tiba di sana dari Hong Kong bersama ratusan orang lainnya yang mendarat dari Jepang, Korea, Cina, dan London, bukan perkara gampang. Tiga jam sudah aku menunggu dan waktu tersisa bagiku untuk mengejar penerbangan berikutnya ke Albuquerque amatlah mepet. Boarding pass penerbangan ke Albuquerque pun belum di tangan. Walhasil, setelah lolos dari imigrasi, aku menyeret dua koper besarku ke terminal domestik.
30 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.
Antrian panjang untuk mendapatkan boarding pass dan check-in dua koperku membuatku kesal sendiri. Ternyata aku antri di tempat yang salah.
25 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.
Ternyata antrian yang benar itu jauh lebih pendek. Petugas di konter menanyakan sesuatu, tetapi telingaku masih belum terbiasa dengan bahasa Inggris beraksenkan Amerika setelah tiga bulan lamanya menghabiskan musim panas di Indonesia. Aku cuma bisa membulatkan mataku, dan bertanya, "Pardon?"
20 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.
Kubuka sepatuku. Kutaruh di keranjang kecil bersama tas tangan dan backpack-ku. Kurelakan keranjang itu masuk X-Ray scanner. Kurelakan juga diriku masuk ke mesin canggih pendeteksi logam itu. Tidak berbunyi. Petugas TSA itu hanya manggut-manggut dan membiarkanku lewat ke terminal di mana pesawatku berada.
10 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.
Kutahan nafasku, setelah berlari-lari mencari terminal pesawatku, dan melompat ke shuttle bus yang pintunya hampir menutup, melintasi bandara, menuju ke terminal di mana pesawatku benar-benar berada. Sara Sebti (Canada '12) dan Atsunobu Kotani (Japan '12) adalah dua orang UWC-er pertama yang kutemui setelah musim panas. Peluk erat, dan kupasrahkan tubuhku dibawa burung besi itu ke New Mexico, Land of Enchantment.
Tengah: kartu pos New Mexico.
Aku senang mengirim kartu pos untuk teman-temanku. Berbagi rasanya hidup di negeri orang. Kartu pos ini tak semurah kartu pos yang bisa kudapatkan di Indonesia, harga kartu pos ini sekitar 30 cents. Lumayan, tetapi coba hitung sendiri kalau 40 temanmu minta dikirimi kartu pos, dengan perangko internasional yang harganya 98 cents. Lumayang menguras dompet.
Tengah: flash card, catatan kimiaku.
Kebiasaan baru buatku. Mungkin tidak bagimu. Menulis catatan pelajaran kecil-kecil di kartu dan membawanya ke mana-mana untuk dibaca pada waktu senggang. Aku melakukan hal yang sama untuk pelajaran Ekonomi, karena lumayan banyak yang harus dihapal sebagai pengetahuan dasar dalam menganalisis masalah Ekonomi. Tanya aku, apa efek dari international trade dari sisi ekonomi dan non-ekonomi, maka akan kuberitahukan 10 poin jawabannya.
Bawah kiri: struk belanja di Walmart.
Bukan satu-satunya tempat belanja, tetapi aku selalu pergi ke sana dengan alasan kepraktisan. Tiap kali aku ke sana, satu hal benang merahnya: belanjaannya juga sama. Biskuit, keripik kentang, cookies, sereal, susu kedelai, adalah sedikit dari makanan yang harus aku beli. Entahlah, musim dingin seperti ini rasanya selalu lapar melulu, sementara rentang waktu makan pagi-siang-malam tak berubah. Maafkan aku orangtuaku, jika kiriman uang dari rumah kuhabiskan untuk mengganjal perut yang tak tahu malu ini.
Bawah kanan: surat dari Simbah.
Simbah Putri, nenekku di Jogja, selalu mengirimkan surat untukku dengan rutinnya, dengan enam perangko 2500 rupiah-an. Dititipkan ke Pak Pos yang mampir ke rumah Mbah sekali dalam sekian minggu. Melintasi benua, meringankan luka kerinduan.
Aku kangen kota itu, sungguh. Keramahan orang-orangnya, kelezatan makanannya, dan kasih sayang keluarga besarku di sana. Membuatku kadang berpikir, kapan aku bisa merayakan Idul Fitri di sana lagi. Keliling-keliling ke rumah saudara-saudaraku, mengharapkan percikan angpao sedikit. Melepas diri ke pantai yang jauhnya hanya setengah jam, membiarkan kelelahan hati dan keberatan pikiran terobati meski sedikit. Menikmati tradisi, menuai cinta, dan tersenyum lega.
Aku kangen rumah, aku kangen Indonesia.
Tags:
intermezzo,
kehidupan,
perjalanan,
sekolah,
USA,
UWC
Langganan:
Entri (Atom)

