Minggu, 21 September 2014

Refleksi: Waktu Cepat Berlalu

Jadi, walaupun summer saya tahun ini totalnya empat bulan, tetap saja sebentar lagi saya harus kembali ke realita bahwa saya seorang mahasiswa yang baru beres setengah jalan (atau kurang?). Tentu saja, siapapun rasanya ingin liburan terus, karena hanya ada 'senang' di sana, sementara realita tak hanya menyajikan 'senang' tetapi juga menebarkan pil pahit di mana-mana.

Lingkaran pertemanan saya di Indonesia berhenti di SMA, karena sejak saya pindah ke UWC, otomatis saya tidak mendapatkan 'segerombol' teman baru pada saat yang bersamaan, seperti misalkan kalau masuk universitas baru, dan sebagainya. Karena saya tahu saya pasti kembali suatu saat setelah pendidikan saya selesai, saya harus mempertahankan jaringan yang saya miliki. Manusia tidak bisa hidup sendiri, bukan?

Berdasarkan hal tersebut, saya selalu mencoba bertemu teman-teman saya. Bahkan saya menyengajakan diri berkali-kali ke kampus orang (baca: ITB, karena Unpad terlalu jauh, haha), untuk bertemu beberapa kawan.

Ada satu hal yang saya sadari: waktu benar-benar cepat berlalu.

Dari lingkaran teman terdekat saya sendiri, ada beberapa orang yang lulus ahli madya atau sarjana tahun ini. Beberapa di antara mereka sedang aktif mencari kerja, bolak-balik ke ibukota, atau menyelesaikan revisi tugas akhir. Beberapa yang lain masih mencari celah untuk mendapatkan slot sidang. Di antara mereka, ada yang mulai serius memikirkan masa depan, seperti umur berapa harus mendapat penghasilan seberapa, umur berapa harus menikah, dan seterusnya.

This fact hits me hard. We are 'finally' adults.

Ada banyak hal yang tiba-tiba meminta ruang untuk dipikirkan. Seperti, saya akan jadi apa di masa depan.

Sebelumnya, jika ada orang-orang yang bertanya mengenai hal tersebut, saya akan menjawabnya dengan santai, "I've got time to think about it. Masih semester X."

Tetapi saat teman saya bilang, "Semakin bertambah semester kuliahmu, semakin terasa cepat waktu berlalu. Tahu-tahu kamu selesai sidang tugas akhir, dan wisuda di depan mata. Apa yang akan kamu lakukan saat itu kalau kamu belum tahu akan jadi apa?"

Saya masih belum tahu. Untuk menjawab pertanyaan, "Kamu Teknik Mesin, ya? Konsentrasinya apa? Otomotif, energi, robotik, atau apa?" saja saya tidak tahu.

Saya menyimpan mimpi untuk jadi Menteri Pendidikan karena saya ingin anak-anak Indonesia bisa menikmati belajar sebagai suatu proses, bukan melihat hasil semata. Tetapi saya juga ingin melihat diri saya sebagai penulis yang karyanya diperhitungkan, ditunggu-tunggu, dan diapresiasi dengan luar biasa oleh masyarakat. Tetapi saya juga ingin menjadi pembicara yang diundang ke sana kemari, di mana buah pikiran dan ide-ide saya didengarkan dan dikaji. Di atas semuanya, saya ingin menjadi seorang philanthropist. Uangnya datang dari mana? Entahlah, mungkin royalti buku best-seller yang ditulis saya, haha.

Tetapi kata orang-orang, idealisme itu cepat luntur, apalagi setelah menelan terlalu banyak pil pahit kehidupan. Banyak orang berakhir pada mindset, "Yang penting saya dan keluarga saya hidup sejahtera dan berkecukupan." Tak peduli dengan cara apa, yang kadang mengorbankan hal yang dipendam dalam: 'saya-ingin-jadi-X'.

Kata orang-orang juga, rezeki ada jatahnya masing-masing. Yang penting, kita bahagia melakukan apa yang ingin kita lakukan. Tetapi banyak orang yang membantah, "Sekali kamu pulang ke rumah dan melihat keluargamu yang kelaparan, pikiranmu akan berbeda."

Beberapa waktu yang lalu, saya juga melihat harga rumah dan properti yang semakin tinggi. Lalu saya mulai berhitung, butuh waktu berapa tahun, dan penghasilan per bulan berapa banyak untuk mendapatkan satu rumah layak huni di masa depan? Kemudian saya juga melihat artikel di koran hari ini tentang perencanaan keuangan di masa depan, berapa banyak yang harus diinvestasikan dan ditabung jika kita tak ingin merisaukan masa pensiun kita.

Life is too real, and I'm not ready for it.

Saya kira, selama saya mendapatkan nilai yang baik di sekolah, masa depan saya akan terjamin. Saya kira, selama saya melakukan saran orang tua saya, saya bisa menjadi apapun yang saya mau. Ternyata tidak semudah itu, ada variabel 'saya' yang berpengaruh besar di antara semua itu.

Saya mendadak takut, kalau sekarang saya berada di posisi teman-teman saya yang akan lulus itu, apa yang akan saya lakukan?

Rabu, 17 September 2014

Applying UK Student Visa from Indonesia?

Halo, semuanya! Semoga tulisanku kali ini menemukanmu dalam keadaan sehat, amin.

Tiga-empat minggu terakhir aku sering sekali bolak-balik Bandung-Jakarta untuk mengurus visa ke UK, dalam rangka pertukaran mahasiswa. Mungkin aku pernah memberitahumu sebelumnya, tetapi jika belum, aku berencana untuk menghabiskan setahun di University of Cambridge, UK, sebagai mahasiswa pertukaran di Department of Engineering, di bawah program CME (Cambridge-MIT Exchange). Doakan semoga lancar, ya!

On a side note, aku bukan penggemar daftar ranking universitas dunia, karena tiap universitas itu unik dan terlalu rumit untuk digeneralisasi. Tetapi, lihat apa yang kutemukan pagi ini ketika meng-scroll down Facebook: QS World University Rankings merilis ranking universitas dunia tahun 2014/2015.

Sumber dari sini.
Bagiku sendiri, ini merupakan tantangan sekaligus berkah yang luar biasa, karena aku berkesempatan untuk mencicipi proses belajar di dua universitas terbaik dunia sekaligus. Alhamdulillah. Semoga aku bisa membagikannya dengan kalian semua lewat blog ini selama setahun ke depan, ya.

Kembali ke topik mengenai cara mendapatkan UK student visa di Indonesia. DISCLAIMER: Aplikasi visaku dimulai Agustus 2014, dan aku mendapatkan visanya September 2014. Kategori visaku adalah Tier 4 (General) student visa. Selain itu, karena aku merupakan mahasiswa pertukaran dari universitas di Amerika Serikat, ada sedikit perbedaan dalam hal dokumen yang harus dipersiapkan, dan sebagainya.

Jadi, apa saja dokumen (umum) yang harus dipersiapkan? Berdasarkan situs Home Office-nya UK dan UKCISA:
  1. Valid paspor. Exchange program director-ku merekomendasikan minimal tanggal akhir berlaku paspor enam bulan setelah program pertukaran selesai.
  2. 2 foto sesuai ketentuan yang berlaku, perhatikan bahwa ukuran fotonya adalah 3,5cm x 4,5 cm.
  3. Print-out application dan appointment, yang diisi secara daring di sini. Pembayaran biaya proses visa juga dilakukan melalui situs ini, dengan kartu debit/kredit/Paypal. Aku harus membayar 530 USD untuk visa ini (September 2014).
  4. CAS (Confirmation of Acceptance for Studies), yang aku dapatkan lewat surel dari officer di University of Cambridge. Aku mendapatkannya otomatis setelah exchange program director-ku di MIT mengirimkan berkas-berkas yang diperlukan. Hal ini tentu saja berbeda jika kamu ingin bersekolah di UK secara full-time.
  5. Bukti kemampuan finansial. Hal ini aku penuhi melalui surat keterangan financial aid asli yang kuterima dari MIT untuk tahun ajaran 2014/2015, juga bank statements. Setahuku, jika bank statements-mu dari bank di Indonesia, kamu harus mendapatkan surat keterangan bahwa danamu sudah mengendap minimal 28 hari dari bank bersangkutan, dan ditandatangani oleh pejabat bank. Berdasarkan UKCISA, jika kamu akan bersekolah di daerah sekitar London, kamu harus punya funding untuk living cost minimal di tahun pertama dengan jumlah 1020 Pounds. per bulannya, atau 820 Pounds. per bulan untuk daerah di luar London (September 2014), dan juga untuk course fee kamu.
  6. Hasil Tuberculosis Test, yang kamu lakukan di rumah sakit yang ditunjuk oleh mereka.
  7. Hasil IELTS, untuk membuktikan bahwa Bahasa Inggrismu memenuhi standard. Aku kurang tahu tentang yang satu ini, karena di CAS-ku tertulis bahwa assessment Bahasa Inggrisku telah dilakukan oleh 'other HEI (Higher Education Institution)'. 
Selain itu, ada dokumen lain yang harus dipersiapkan, yang tidak tertulis secara gamblang di situs Home Office-nya UK:
  1. Kartu keluarga, KTP, akte kelahiran, dengan terjemahan Bahasa Inggrisnya dari translator yang memiliki izin.
  2. Bukti booking penerbangan (round trip, jika memungkinkan).
  3. Transkrip dari pendidikan terakhir/ ijazah/ bukti bahwa kamu dalam keadaan good standing, juga dengan terjemahannya jika relevan.
  4. Saat aku mempersiapkan aplikasiku sendiri, aku tidak menerjemahkan kartu keluarga, KTP, dan akte kelahiranku. Aku pun tidak memberikan transkrip dari universitasku saat ini. Tidak patut ditiru, karena walaupun aku mendapatkan visanya, aku sempat deg-degan karena takut aplikasiku di-reject. Mungkin karena aku mahasiswa MIT yang akan pergi ke Cambridge, atau travel record-ku yang pernah ke Amerika Serikat dan Jerman, ketiadaan dokumen-dokumen ini bisa dimaklumi. Tetapi, sekali lagi, sama sekali tidak direkomendasikan.
Ketika kamu datang ke appointment-mu di VFS Global, kamu mendapatkan kertas checklist, yang I-wish-I-knew-it-before-I-came atau they-should-have-put-it-somewhere-online! So, here you go.
Persiapan Dokumen Student TIER 4
  1. Pastikan form online sudah ada pada anda, ditandatangani pada halaman ke-2 dan terakhir.
  2. Pastikan anda memiliki CAS Letter (rangkap 2).
  3. Pastikan anda memiliki TB Test Certificate.
  4. Pastikan anda memiliki terjemahan dari semua original document yang berbahasa Indonesia (sworn translator).
  5. Pastikan anda membawa original document, termasuk original bank book/ original bank statement.
  6. Pastikan anda photocopy semua original document (akta lahir, kartu keluarga, ijazah, TB test, translation) dan semua original document yang disebutkan dalam CAS. Semua original document digabung menjadi satu (diklip/ masukkan ke folder), semua fotokopi digabung menjadi satu.
  7. Untuk anda yang mengajukan priority visa**, pastikan anda memiliki fotokopi paspor semua halaman (termasuk yang kosong).
  8. Pastikan dana dalam rekening anda sudah mengendap 28 hari (tuition fee + living cost).  
**Tentang priority visa. Karena waktu itu aku benar-benar mepet, dan rata-rata aplikasi visa UK dari Indonesia membutuhkan waktu sekitar enam minggu, aku harus membayar lebih untuk priority visa service, yaitu 100 Pounds. (September 2014). Visaku jadi dalam waktu dua minggu. Layanan ini tidak direkomendasikan bagi mereka yang pernah ditolak visanya di negara lain, atau pernah punya masalah di imigrasi.

Ketika datang ke VFS Global, setelah menyerahkan semua dokumenku, biometric-ku diambil (foto dan sidik jari), lalu ada interview singkat dengan officer di UK (tentu saja dengan Bahasa Inggris). Waktu itu, wawancaraku berlangsung sekitar 3 menit, cukup cepat, bukan? Hal-hal yang ditanyakan berkisar antara alasan kita datang ke UK, apa yang akan kita pelajari di sana, apa tujuan hidup kita dalam jangka panjang. Wawancaraku sendiri benar-benar menyenangkan, aku sempat bercanda dengan officer-nya bahwa aku ingin merasakan cuaca Inggris yang katanya selalu hujan, haha.

Dibandingkan dengan aplikasi visaku ke Amerika Serikat empat tahun lalu, proses visa ke UK ini terasa lebih panjang (dan mahal, haha). Empat tahun lalu, aku cukup ke Jakarta dua kali, yaitu saat wawancara visa dan saat pengambilan visa, yang sangat cepat: dua hari setelah wawancaranya. Mungkin karena masih belum ada Kedubes UK di Indonesia (hanya ada Konsulat Jenderal), sehingga seluruh aplikasi visa dari Indonesia harus dikirimkan ke Bangkok, Thailand dulu, jadi prosesnya memakan waktu lebih panjang. Kali ini, aku harus bolak-balik ke Jakarta lima kali: untuk tes TB, mengambil tes TB, memasukkan aplikasi visa dan wawancara, mengambil paspor, lalu mengambil dokumen asli yang kulampirkan sebelumnya.

Selain itu, biaya aplikasi visaku ke AS saat itu 'hanya' 140 USD (Juli 2010), dan aku mendapatkan visa untuk lima tahun. Sedangkan kali ini, aku hanya mendapatkan visa ke UK untuk satu tahun saja.

Tetapi, antrean wawancara visa AS empat tahun lalu benar-benar melelahkan, Aku harus mengantre dua-tiga jam, dengan pengamanan super ketat, dan tidak bisa membawa apapun kecuali dokumen yang diperlukan ke dalam. Bahkan sepatu pun harus dilepas (yang mana, akhirnya aku pun terbiasa karena semua bandara di AS mewajibkan aku melepas sepatu saat melewati pemeriksaan, haha). Visa application centre UK di Kuningan City, Jakarta ini berada di dalam ruangan yang sama dengan visa application centre Australia dan New Zealand. Jadi, cukup menarik juga untuk melihat apa yang orang lain lakukan untuk mendapatkan visa ke dua negara ini. Pengamanannya pun tak seketat di Kedubes AS: kamu boleh membawa backpack, tetapi kamu tidak boleh menyalakan ponsel.

Akhir kata, best of luck, kalau kamu sedang dalam proses mendapatkan UK Visa. It's all worth it, semua perjuangan mendapatkan dokumen itu terbayar ketika kamu melihat stamp visa di paspormu, hehe.

Jika kamu masih berusaha untuk mendapatkan universitas di UK, best of luck juga. Jangan pernah menyerah dan tetap semangat!