Aku
Semuanya menjadi saksi bisu aku yang menjadi seperti ini. Walau langit, bulan, matahari, dan bintang gemintang tetap di sana, tetapi mereka punya jadwal sendiri untuk muncul dan tenggelam. Tapi, ya, mereka tetap di sana. Menunggu waktu, mengulur diri.
Botol-botol penjaga sandangku. Dua botol kosong, hanya pemiliknya belum sempat membawanya ke tempat teman-temannya: kotak daur ulang. Menunggu di sana, dengan jadwal yang sama. Hanya keluar kamar hari Rabu dan Sabtu, menuju ke tempat yang sama: laundry room.
Aku teringat cerita. Alarm kebakaran merupakan hal yang luar biasa di sini, setidaknya seminggu sekali alarm ini berbunyi. Bahkan kemarin, saat semua siswa sedang di kastil untuk makan malam, alarm kebakaran berbunyi sampai tiga kali, dan memaksa semua orang menunggu di luar setidaknya 15 menit. Ternyata ada sekelompok anak yang memasak di kastil, menggunakan kompor yang mereka beli sendiri -yang jelas-jelas ilegal di sini. Lucunya, setelah alarm kebakaran berbunyi, anak-anak tersebut ingin menyembunyikan perbuatan mereka dan menutupi kompor yang masih panas tersebut dengan sweater. Kontan, hal ini malah menimbulkan kebakaran yang sebenarnya. Jelaslah sudah, mengapa security yang mengadakan safety check suatu hari ke kamar ini, meminta untuk menurunkan bendera merah putih tersebut karena mudah menyulur kebakaran. Tapi dia- pemilikku, enggan, dan membiarkan bendera itu tetap terpasang di sana.
Belanda-Indonesia
Terima kasih, Tuhan, kau tak pernah membeberkan segala sesuatunya di saat yang bersamaan dan membiarkannya menjadi kejutan besar, begitulah doa yang kupanjatkan seminggu lalu saat menutup hari. Siapa yang akan menyangka pergi ke negeri yang jauh dan menemukan orang asing yang berbicara dalam "bahasa" yang sama denganmu?
Sabtu, 4 Februari 2011. Badai salju pada hari-hari sebelumnya masih menyisakan udara dingin yang menggigilkan hati dan raga. Aku di sini, berdiri, menantang hari, menahan diri, menjajakan kue-kue menarik, untuk project week. Sungguh, berdiri di luar ruangan saat cuaca sekitar minus 5 sampai minus 9 derajat Celcius selama 5 jam itu bukan hal yang... hangat. Baju lapis empat, celana lapis 2, boots bulu-bulu, sarung tangan lapis 2, dan syal; bahkan tak mampu menahan dinginnya. Wara-wiri ke sana kemari, menawarkan kue mencoba menarik pembeli, dan senyum kering tiada henti (yang pada akhirnya bahkan tak perlu diusahakan lagi karena dinginnya membekukan senyum seketika).
Seorang bapak, dengan istrinya yang bermuka oriental datang menghampiri. Mengetahui kami dari UWC-USA, mereka membeli lebih dari biasanya. Kemudian bapak itu bertanya, dari mana kami. Saat aku menjawab, "Indonesia," wajah mereka menjadi sumringah. Setelah itu, jangan ditanya, cerita mereka sangat panjang. Tapi yang jelas, cerita mereka menghangatkanku, setidaknya hatiku, yang membeku di hari itu.
Bapak tersebut pernah tinggal di Indonesia. Istrinya dari Jepang. Sungguh unik pertemuan mereka. Pamannya pernah bekerja untuk sebuah perusahaan minyak di Indonesia bentukan Belanda. Suatu hari, saat Perang Dunia 2 meletus, para londo ditahan oleh Jepang. Mereka memenggal pamannya.
Sungguh, betapa sulit keluarga mereka saat bapak-bapak ini membawa calon istrinya yang jelas-jelas berdarah Jepang untuk diperkenalkan. Tetapi, besar hati keluarganya melebihi rasa sedih yang menggelembung, dan mengangkat tangan mereka menyambut calon ipar dari Jepang.
Cerita ini luar biasa, dan banyak cerita lainnya. Bahkan, beliau kembali ke rumahnya dan kembali ke Walmart hanya untuk mengantarkan buku-buku resep masakan Indonesia, dalam Bahasa Belanda. Ya, Bahasa Belanda. Luar biasa. Tapi buku-buku ini sungguh terlampau puluhan tahun lalu yang lalu. Luar biasa, saat membacanya.
Bertemu seseorang yang mengerti negaramu dan makananmu di luar negaramu itu luar biasa. Tak terbayang betapa bahagianya menemukan seseorang yang dengan terbata-bata mencoba mengatakan, "Kecap, sedap, sambal, rendang, rumah makan." Bangga karena bangsa yang diakui dan dikenal itu rasanya menyesakkan dada. Meluap-luap, meluber ke mana-mana, harus dijaga agar tidak menyebabkan efek bangga berlebih.
Tak pernah sebangga ini akan negaraku sebelumnya.
Kalung yang Menghubungkannya
Jewelry Making, lagi, seperti yang bisa ditebak. Proyek keduaku adalah liontin untuk kalung. Terinspirasi sebuah gombalan: "Kamu kok bawa-bawa kunci hatiku sih?", akhirnya aku membuat liontin sebuah kunci, dengan batu di tengahnya.
P.S. Aku kangen rumah. Meskipun aku ada di rumah, dan aneh kenapa aku musti kangen rumah saat aku ada di rumah.
two thumbs up ! :D
BalasHapusi do like your writing. .it's so inspiring me :)
>,<! nambah kangen. seneng bacanya. pengen bsa berbagi juga. i love you :)
BalasHapus