28 Desember 2008

generasi pemalas, keseharian yang padat, dan les

seringkah orangtuamu berkata: kalian malas sekali, dulu bapak sama ibu…. (isi titik-titik dengan kata-kata orang tua yang menunjukkan bahwa mereka, dulu, saat usia mereka hampir sama dengan kita, mereka rajin, disiplin, dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya)? kalau begitu, kamu tidak sendiri. saya pun sama. orang tua saya selalu complain begitu melihat anak-anaknya santai, sedikit saja. lalu keluarlah kata-kata mukjizat itu. hmmm…

pertanyaannya, “benarkah generasi kita merupakan generasi pemalas?”

jawabannya, ya dan tidak.

ya, karena yang kita lakukan sehari-hari mungkin telah melewati batas keterlaluan dari seorang pemalas. maksud saya, kamu bangun siang, jarang sholat subuh, tidur terlalu malam karena internetan atau nonton film, jarang membantu orang tua, atau mungkin kamu malas belajar. alasan yang terlalu basi memang, mengkambinghitamkan malas sebagai penyebab dari kemalasan kemalasan itu. padahal penyebab sesungguhnya adalah karena tidak mempunyai niat untuk melakukan itu semua. kita tidak melandasi setiap kegiatan kita dengan memurnikan niat melakukan kegiatan tersebut. karena sesungguhnya, jika niat kita sudah murni, maka apapun yang terjadi, bahkan rasa malas sekalipun, takkan mungkin menghalangi. supaya niat kita lebih murni, landasi dengan ketakwaan pada Tuhan semata, Allah swt. segala sesuatunya diniatkan untuk mencari ridho-Nya, untuk beribadah. jika sudah begini, maka apapun yang kita lakukan pasti akan terasa lebih ikhlas. kita bahkan dapat melakukan semua kegiatan dengan penuh senyuman, karena segala sesuatunya telah diserahkan pada-Nya.

tidak, karena buat beberapa teman-teman mungkin telah merasa lelah dengan keseharian, sehingga memang membutuhkan waktu untuk rehat sejenak. beberapa orang tua mungkin menganggap rehat itu sebagai malas, karena buat mereka anak-anak itu harus produktif, harus memanfaatkan setiap waktunya untuk melakukan sesuatu yang positif. tidak heran, banyak sekali orang tua yang berpandangan seperti itu, bahkan buat saya, mungkin cenderung terlalu ambisius. saya pernah melihat salah satunya. seorang teman saya, dengan orang tua yang begitu ambisius, selalu merasa dipersalahkan jika ada satu hal, yang menurut orang tuanya tidak sesuai dengan ”kaidah anak-anak baik dan benar”. dan saat acara pembagian raport di sekolah, sang orang tua memarahi anaknya, hingga mengeluarkan kata-kata yang kasar, di depan orang banyak. sesungguhnya, walaupun pada akhirnya si anak sukses, hidup bahagia, masuk universitas favorit, atau apapun itu yang diinginkan sang orang tua, kejiwaan si anak akan menjadi begitu sensitif dan labil serta mungkin menumbuhkan jiwa pemberontak yang berlebihan (jiwa pemberontak itu baik jika sesuai pada tempatnya, tapi tidak jika berlebihan), dan mungkin berujung pada kehancuran si anak sendiri. buat saya, sudah seharusnya orang tua bisa menempatkan bagaimana ’produktif’ itu seharusnya. maksud saya, produktif di sini merupakan produktif yang seimbang, tidak berlebihan, dan sesuai dengan porsi kemampuan si anak. jadi, tidak ada kata sindiran yang seperti silet lagi jika seorang anak sedang rehat dari kesehariannya yang luar biasa padat.

jadi, jika kedua orang tuamu menyindir dengan kata-kata: kalian malas sekali, dulu bapak sama ibu…., maka tanyakanlah pada diri sendiri, apakah saya benar-benar malas? dan temukan penyebabnya sendiri, lalu ubahlah apa yang telah menjadi kebiasaanmu.

***

ada satu hal lagi yang ingin saya kritik mengenai kebiasaan yang tengah menjamur di masyarakat, yaitu les, bimbel (bimbingan belajar), atau apapun itu nama dan kedoknya. dulu juga, saya sempat 4 tahun mengikuti bimbel, dan mungkin memang terasa manfaatnya (baca: menjadi ’terlihat’ lebih pintar, karena di bimbel saya diajarkan menghafal seperti robot). dulu saya hanya mengikuti apa pilihan orang tua untuk memasukkan saya ke dalam bimbel. tapi, mungkin kini saya punya pendirian sendiri kenapa saya tidak mau ikut les, bimbel, dan semacamnya.

pertama, mungkin karena biayanya yang tak tanggung-tanggung, super mahal. tapi, walaupun saya punya biaya pun, saya akan berpikir berkal-kali untuk mengikuti les. sungguh hebat lembaga-lembaga les yang menawarkan apapun yang dapat memuaskan ambisi orang tua, mulai dari jaminan masuk sekolah/ universitas favorit, hingga nilai-nilai yang dapat memenuhi kualifikasi a++. dan untuk timbal baliknya, orang tua harus membayar uang yang amat sangat tidak sedikit sekali. padahal, pada realitanya si anak malah semakin malas, karena jiwanya yang bebas terkekang oleh keseharian yang menyiksa, jam belajar bertambah dari pukul 7.00 hingga 16.00 (bahkan lebih), dan ketika sampai di rumah orang tua menyuruhnya belajar lagi. apa itu yang dinamakan pendidikan?

kedua, karena jam bebas saya untuk meng-explore kegiatan lain, bakat lain, minat lain, menjadi jauh berkurang. padahal, hanya sedikit orang di dunia ini yang saat dewasa bisa bekerja dengan hanya mengandalkan ilmu yang didapat di sekolah formal. sedangkan banyak sekali orang yang bisa survive saat dewasa karena mereka mengandalkan bakat dan minat yang telah mereka asah sejak muda.

ketiga, dan hal yang paling mendasar, mengapa saya berpikir berkali-kali untuk ikut les adalah karena saya sekolah. maksudnya, kita semua sekolah, dan sekolah itu merupakan proses untuk mempelajari sesuatu dan mengenal dunia. karena kita berproses, maka hasilnya pun tak akan langsung sempurna. jadi, ingatlah bahwa jatuh-bangun saat proses itu biasa. dan les bukan suatu solusi. les hanya mendoktrin kita untuk berusaha mendapatkan hasil yang luar biasa, bukan memaknai proses dari pembelajaran itu sendiri. selain itu, les juga buat saya merupakan bentuk lain dari sekolah. jadi, kalau kita les, berarti seolah-olah kita sekolah dua kali, dengan 2 materi yang sama, dan ini berarti mubazir. maka, saya prefer tidak les.

mungkin keputusan dan alasan saya untuk tidak les melawan mainstream yang terlanjur mengakar di negeri ini, khususnya di daerah kota yang terlanjur terdoktrin bagaimanapun prosesnya, asal hasilnya luar biasa.

tapi bukan berarti les itu tidak baik juga, dan mungkin ada di antara banyak orang yang berpendapat bahwa les juga merupakan proses dan usaha untuk mendukung sekolah. tapi, saya pikir capek sekali ’sekolah’ dua kali, dan mengeluarkan uang yang luar biasa jumlahnya. lebih baik, sekolah cukup sekali, dari pukul 06.30 hingga pukul 14.00, tapi ditekuni secara serius.

25 Desember 2008

surat buat menteri pendidikan

sebelumnya, maaf sekali kalau postingan sebelumnya kurang mengena di hati, atau terkesan mubazir (padahal saya mengampanyekan anti-pemubaziran global), karena mungkin dalam keadaan depresi seperti kemarin, hanya satu yang kamu butuhkan: tempat yang bersedia menampung semua keluh kesahmu, dan aku percaya mungkin inilah tempat yang tepat. hehehe. tapi sekarang? oh, welcome liburan! yayaya, walaupun saya masih harus menunggu vonis hari jumat nanti, bagaimana rapot saya, tapi setidaknya saat ini, saya sudah bisa relax. yehaaaa!

tahukah kamu, jika kamu merasa relax, kamu akan lebih mudah menangkap sinyal lingkungan. hal ini membuatmu lebih kritis, lebih tanggap. kali ini saya benar-benar merasakannya! saat dirimu depresi, dirimu cenderung menolak apa yang terjadi di sekitarmu, dan ini membuat dirimu kurang tanggap. tapi, lihatlah kini: kamu merasa lebih optimis, kritis, tanggap, saat dirimu merasa nyaman dengan jiwamu (hei, saat saya merasa depresi saya sering merasa tidak nyaman dengan jiwa saya sendiri! kamu?). kedamaian menyelimutimu, dan dunia tampak lebih terang! waw, efek yang hebat ketika kamu sudah bisa ‘berdamai’ dengan jiwamu!

yah, ini juga terjadi karena saya sudah selesai ulum (oya, saya memang merasa penting untuk meggaris bawahi sudah selesai ulum, karena itu yang membuat kejiwaan saya membaik). entah kenapa, ulum, dengan segala kuasanya, selalu membuat saya sebal setengah mati. dengan adanya ulum, seolah-olah hanya hasil akhir yang menentukan, padahal proseslah yang lebih memegang andil. inilah yang membuat banyak orang yang menghalalkan segala caranya demi hasil akhir yang luar biasa. perlu dicatat lagi, dengan teknologi yang semakin canggih, menghalalkan segala cara dibuat lebih mudah lagi. jika kamu bekerja sama lewat sms, dengan saling menanyakan dan memberikan jawaban, kamu tidak bisa menghilangkan bukti, cenderung kurang praktis, dan mahal. kini, kamu tinggal mengunduh aplikasi y!m untuk handphonemu dan taraaa! tanyakanlah jawabannya pada temanmu lewat y!m. lebih murah, praktis, dan jika pengawas mendekat, tinggal close aplikasinya dan tak akan ada bukti tersisa. mudah, bukan?

inilah yang membentuk generasi bangsa kita bermental korup.

sudah berapa orang sih yang digiring masuk bui karena tuduhan korupsi? banyak sekali. dan saya yakin masih banyak yang akan menyusul ke sana. beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 9 desember kita baru memeringati hari anti-korupsi sedunia, and guess what? semua orang menggembar-gemborkannya –yang seperti biasa, semangat itu hanya bertahan seminggu, dan minggu depannya sudah terlupakan, memang tabiat masyarakat kita seperti itu. luar biasa antusiasme masyarakat indonesia sungguh, saat saya melihatnya di televisi, koran, atau media apapun. pemerintah pun bersikap luar biasa, berbangga hati karena indeks korupsi di indonesia meningkat –padahal itu masih di peringkat-peringkat terbawah (oya, dan para pejabat pemerintah itu mengatakan, ”kemajuan yang pesat!” dengan senyum yang memuakkan), lalu mereka mencanangkan gerakan ini-itu, dan untuk para calon pejabat yang akan bertarung tahun 2009 nanti mencanangkan janji ini-itu.

lupakah mereka pada indikator utama bahwa tingkat korupsi yang berkurang adalah kesejahteraan rakyat yang meningkat?

lalu apa korelasinya dengan pendidikan kita?


saya lebih kaget lagi melihat berita di televisi, anak-anak seumur saya berdemo di sekolahnya, menuntut pihak sekolah yang mereka perkirakan melakukan tindak pidana korupsi. luar biasa! mau jadi apa negeri ini di masa depan, jika lembaga pendidikan saja sudah ternoda dengan korupsi?

masih segar di ingatan saya, awal tahun 2005, saat saya kelas 6 sd seseorang menunggu saya di ruang kepala sekolah. tahun sebelumnya, saya pernah mengikuti suatu lomba akademis hingga ke tingkat nasional sebagai wakil provinsi. waktu itu saya masih kecil, dan belum bisa berpkir dewasa. jadi, saat melihat orang yang menunggu saya di ruang kepala sekolah, saya bingung. dan yang membuat saya lebih bingung lagi, saat saya disodori beberapa kertas oleh orang tersebut, dan mulai ditanya-tanya. saya melihat judul kertas tersebut, kurang lebih ”daftar penerima sepatu”, dengan kop surat disdik. lalu di halaman berikutnya ”daftar penerima baju”, ”daftar penerima tas”, ”daftar penerima uang”, dll. di setiap halaman tersebut ada tabel, dengan nama saya dan teman-teman saya yang mewakili provinsi tersebut ke tingkat nasional, dan kolom tanda tangan penerima. seperti yang seharusnya dan sewajarnya (dan saat itu pun saya mulai sadar dan mengerti), jika kita menerima barang/uang dari suatu instansi, hampir dipastikan kita harus menandatangani kertas bukti bahwa kita menerima barang/uang tersebut. yang sangat mengagetkan, saya tak pernah mendapatkan sepatu, baju, tas, uang, atau apapun seperti yang telah disebutkan di kertas-kertas tersebut. dan yang lebih mengagetkan lagi, saya melihat, tanda tangan saya dipalsukan di situ. orang itu pun bertanya-tanya.
o: dik, apa adik mendapatkan barang-barang yang disebutkan di kertas ini?
s: tidak, sama sekali.
o: dik, apa adik yang menandatangani kolom ini? (sambil menunjuk kertas tersebut)
s: tidak. (sambil melihat kertas tersebut, dan kaget, tanda tangan saya dipalsukan. dan si pemalsu pasti amatir. dia hanya membuat versi huruf sambung dari nama saya sebagai tanda tangan di kolom tersebut. apa dia kira semua anak sd punya tanda tangan versi huruf sambung dari nama anak tersebut? tidak! dan saya salah satunya, sampai sekarang tanda tangan saya tidak berubah)
dan segera saya mengerti, saya baru saja menjadi korban manipulasi, korupsi, penggelembungan anggaran, atau apapun itu namanya. bagaimana tidak? nama saya di kertas itu disebutkan telah menerima barang-barang yang memang seharusnya saya terima sebagai wakil provinsi, tapi pada kenyataannya saya tidak menerima barang-barang tersebut, dan tanda tangan saya dipalsukan. sungguh, ini membuat saya cukup shock pada umur itu.
o: terima kasih banyak atas informasinya dik. sesegera mungkin saya akan kembali menyampaikan perkembangan dari penyelidikan ini. sudah sepantasnya adik menerima barang-barang ini. saya harap secepatnya selesai. sekali lagi terima kasih.
dan orang itu pergi, keluar dari ruang kepala sekolah setelah sempat bercakap-cakap sebentar dengan kepala sekolahku. luar biasa rasanya membayangkan sebuah kasus korupsi –atau apapun itu namanya- berada di dekatmu, dan bersangkutan langsung dengan dirimu langsung. tapi sayang, orang itu, ataupun penggantinya, tak pernah kembali untuk memberikan kabar, hingga saya lulus sd, dan melanjutkan pendidikan di tingkat smp.

luar biasa!

saat smp, sekali lagi saya dengan beruntungnya dapat menjadi wakil sekolah dan menjadi juara di tingkat kota. dan di pidato penutupannya, seorang pejabat pemerintah berkata, ”terimalah hadiah yang tak seberapa ini”. dan kamu tahu? yang pejabat pemerintah katakan itu benar. hadiahnya benar-benar ’tak seberapa’! jam weker, tanpa trophy, bahkan tanpa piagam penghargaan. padahal piagam penghargaan dapat membantu para siswa pemenang lomba untuk mempermudah mereka masuk ke jenjang pendidikan berikutnya melalui jalur prestasi. jam weker? lumayan lah. saya harus bersyukur. padahal yang menjadi pedoman pemerintah setiap mereka punya kesempatan berpidato di tempat umum adalah: ”berikan hadiah yang terbaik agar setiap orang yang mengikuti lomba dapat terpacu lebih baik lagi.” benar-benar luar biasa.

saya, yang mendapat pendidikan cukup baik, di daerah perkotaan, tidak dapat membayangkan bagaimana pendidikan teman-teman saya di pelosok penjuru negeri. saya, mungkin termasuk beruntung, tapi saya sendiri masih sering mengeluh terhadap kinerja pemerintah di bidang pendidikan terutama. saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan teman-teman lain, yang sekolahnya roboh, yang atapnya tak ada, yang bukunya rusak diterjang banjir, and so on.

belum lagi soal bhp. saya belum begitu ngeh soal ini sih. soalnya bhp ini terutama ditujukan untuk universitas. tapi saya dengar, bhp ini membuat terjadinya komersialisasi pendidikan. yang buat saya shock, hampir seluruh mahasiswa di indonesia, dari berbagai universitas, memprotesnya. melihat tayangan di televisi, sungguh, pasti bapak pendidikan kita, ki hajar dewantara, menangis di liang kuburnya. betapa pendidikan yang dia perjuangkan, kini hanya digunakan sebagai alat pengeruk uang.

pak, jangan menangis pak-- saya janji akan melakukan yang terbaik untuk bapak--

dan saya tak tau bagaimana jadinya masa depanku nanti.

*sumber gambar: sdnbaktijaya01.wordpress.com/pahlawan-pendidikan, bayuadhitya.wordpress.com

19 Desember 2008

ulum selesai!

alhamdulilllah akhirnya saya selesai ulum juga :)

8 hari yang menyiksa, pikir saya. tapi semua terbayar lunas saat kemarin saya jalan jalan (thanks mbe!) dan membeli maryamah karpov (o'o i have waited 2 weeks for it). beban terlepaskan!

tapi gatau tuh kalau misalnya nilai ulumnya jelek. soalnya sekolah punya kebijakan: uas dan uts tidak ada remedial. padahal, perlu kamu tau, uas dan uts justru titik nadir dari nilai nilai yang ada. huah!

jadi, dari sekarang saya udah ngingetin kedua orang tua saya biar ga jantungan, biar ga kaget, kalau (mungkin) nilai yang terpampang di selembar kertas itu merah membara (tapi semoga saja tidak).

yok ah ntar saya cerita lagi. lagi sibuk nguber guru :)

12 Desember 2008

renungan ooh

tak semua yang terlintas akan terkatakan. dan yang terpikirkan belum tentu terucapkan. semua yang ada dan tertanam dalam otakmu mungkin kebebasanmu, tapi tak semudah itu kau tuangkan kebebasanmu. mencari bagian yang hilang adalah hakmu, tapi bukan menjadi hakmu lagi jika bagian itu menemukan pengganti dirimu. tapi bagian yang hilang itu dapat kau temukan dengan merangkak naik, karena di sanalah Dia akan gantikan bagianmu yang hilang.

08 Desember 2008

tersiksa idul adha

hari ini tanggal 8 desember, dan 10 dzulhijjah, idul adha 1429 h dilaksanakan.

apa saja yang istimewa di hari idul adha ini?

satu, sholat iednya. kalau idul fitri sholat iednya di kampung halaman bersama keluarga besar tercinta, maka idul adha sholat iednya di lapangan dekat rumah bersama keluarga dan tetangga tercinta.

dua, apalagi kalau bukan saat kurbannya. kambing yang sakaratul maut, hanya bisa disaksikan secara live pada kesempatan idul adha.

tiga. banyak makanan, baik makanan berat maupun makanan ringan. tapi semuanya tak bisa saya nikmati secara lepas dan bebas karena tidak sedikit kondisi psikologis saya tertekan karena mau menghadapi ulum.

empat. TERSIKSA. ya Allah, saya ga kuat mencium bau kambing, apalagi memakannya. daging sapi pun belum tentu saya mau memakannya. kenapa yaa, karena sejak kecil (entah mengapa oh mengapa) saya malas untuk makan sesuatu yang susah dikunyah, alot, dan meninggalkan rasa lemak di langit langit mulut. banyak yang komentar: kamu tinggal makan, dan kunyah saja kok susah? tapi swear, buatku itu susah. tapi entah kenapa kalau makan di luar bersama keluarga, saya cenderung memilih steak. haha, saya ga bisa ngunyah atau saya pilih pilih? nah yang jelas, di hari hari idul adha seperti ini, di mana bau daging berseliweran dan menu makan entah-kenapa menjadi serba daging begini, maka saatnya bagiku untuk makan mie instan tiap saat

05 Desember 2008

terjebak di angkot dan menghadapi ulum (hey, do u know the interrelation?)

di angkot, ngeblog. padahal pulsa sakaratul maut. hm, bagus!

dan rencana saya akan tetap membiarkan hp tak berpulsa selama ulum. biar ga tergoda yman, fsan, blogging, atau fesbuk hehe.
oya, myspace belum punya (ngehehehe, penting?)

ok. saya ingin memberitahukan, dan mengkampanyekan (emangnya saya caleg?) gerakan untuk berhenti memubazirkan segala sesuatu dalam hidup kita. coba hitung, berapa banyak hal yang sudah kita mubazirkan? mulai dari yang paling sederhana: untuk kita (dan juga saya) hal yang paling menyenangkan adalah memanfaatkan koneksi internet yang ada, baik untuk sekedar surfing, atau malah berteman. tapi lihat, banyak sekali teman kita yang memubazirkan fasilitas ini dengan melakukan hal yang tak bermanfaat sama sekali, bahkan mendatangkan mudharat (anak cowok mengerti kan?)

ayo dong, jangan sia siakan fasilitas ini. kalian kan tahu, banyak teman yang belum bisa sebebas kita dalam hal melakukan koneksi internet. malu dong sama mereka kalau kita memubazirkan fasilitas ini. Allah juga pernah berfirman bahwa Dia tidak menyukai perbuatan yang mubazir, atau berlebih-lebihan. Subhanallah, betapa selama ini kita telah melakukan perbuatan yang tidak disukaiNya. eit, tapi masih banyak lagi loh pemubaziran kita, bukan hanya internet saja. tapi juga waktu, tenaga, uang.

ingat, kesempatan kita hidup di dunia benar benar terbatas. dan ingat, kesempatan yang ada takkan pernah terulang lagi. makanya, tiap waktu dan kesempatan yang ada manfaatkanlah dengan baik. jangan menjadikannya mubazir.
ng, maaf, tapi saya suka berpikir: banyak anak muda sekarang yang memubazirkan waktu dan kesempatannya dengan nongkrong-nongkrong. padahal bisa lebih bermanfaat kalau kita belajar, membaca, beribadah, atau bahkan untuk sekadar beristirahat. memang klise, tapi itu memang benar-benar benar.

jadi, apalagi yang kamu tunggu untuk menjadi orang pertama yang menghentikan pemubaziran-global?