26 November 2009

"Ketika Tasbih Bercinta" by Provoke


Lembar-lembar majalah gratis dengan bentuk yang catchy itu sungguh menarik hati. Provoke namanya. Edisi perdananya sukses dilumat bulat-bulat oleh kami sekelas.

Kenalkan, kami siswa/i yahud Kota Bandung. Tampan, cantik, menawan. Otak kami dijejali ilmu sains dan berlembar-lembar rumus. Kami bukan tak pernah menyesali masuk kelas IPA, tapi kami selalu menyesalinya.

Seperti pagi itu. Matahari mendadak genit dan dengan centil sembunyi di balik gorden hijau kelasku. Dengan ehem, titel SBI (bukan sekolah bertaraf internasional, tapi sekolah bertarif internasional), dan sertifikat ISO yang telah dipegang mantap, Air Conditioner pun kami nyalakan. Oke, AC untuk sekolah negeri di Bandung itu hal yang jarang.

Kegiatan kami pagi itu adalah menyelesaikan sisa-sisa PR yang belum terkerjakan, dan memang belum dikerjakan. "Apalah arti sebuah PR? Yang penting ini nih!" kata salah satu temanku sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. Kejar mengejar mencari jawaban sudah biasa. Interkom yang mengumandangkan firman-Nya pun tak digubris.

Jika sudah begitu, jajaran atas sekolah akan datang. CCTV yang masih belum diselimuti debu itu menunjukkan taringnya. Dan setelah itu, kami tetap tak peduli omongan siapapun itu.

Dilanjutkan dengan pola seperti ini: tiap hari, min. ada 2 jam pelajaran kosong. Ada tugas pun kami tak peduli. Yang penting kami ada waktu rehat sejenak.

Giliran infocus yang kami manfaatkan. Dengan laptop dan speaker pinjaman kelas sebelah, kami menonton film ramai-ramai. Tak lupa, karpet pun digelar panjang, buat tidur-tiduran sambil berdecak-decak kagum melihat dvd bajakan yang stoknya ada terus.

Jika bel yang suaranya mirip theme song Barney's bergaung di seantero sekolah, berarti istirahat tiba. Berbondong-bondonglah ke kantin, dan karpet tadi langsung kami gunakan untuk sholat berjamaah.

Tak lupa, jika jam kosongnya maraton, temanku yang ngekos balik ke kosannya dan mengambil stick PS untuk bermain PES2010 di laptop. Atau kartu remi untuk main sulap-sulapan dan black jack, di mana yang kalah harus membuka satu persatu bajunya hingga-.

Kadang titel SBI hanya sekedar titel. Di mana orang-orang yang studi banding melihat kami seperti ikan dalam akuarium. Terlihat wah, tapi di dalamnya? Jangan tanya. Aku sendiri enggan menjawabnya.

Kesimpulannya? Kami serupa "Ketika Cinta Bertasbih" yang menyimpang, menjadi "Ketika Tasbih Bercinta". Justru meninggalkan kesan luar biasa di sela-selanya.

Senyum penuh, tampak gigi gingsul, dan wajah merah merona, kami katakan: inilah masa remaja yang akan kami kenang nanti.

07 November 2009

Twitter dan Kabinet Baru

Sabtu pagi ini tak habis-habisnya membuatku mengucapkan kalimat syukur berulang kali pada-Nya. Indah, cerah, santai, dan kesempatan masih hidup. Apalagi yang bisa lebih dari itu?

Kesempatan akhirnya datang juga. Si Komputer Jinjing sedang tak dijajah oleh sulung keluargaku. Biasanya, dengan alasan meleber ke mana-mana, dia melotot mantengin Si Kojing buat melihat live feed facebooknya yang nambah tiap detik berjam-jam, sore hingg
a malam, pagi hingga siang.

Aah, betapa tak terhingga nikmat yang kurasa, kalau begitu.

Kugelontorkan susu fullcream terakhir ke rongga kerongkonganku. Kemudian melihat notes bulukanku, tempat menulis tugas, jadwal, hingga draft-draft ide liar yang terlontar entah di tengah perjalanan pulang sekolah, di tengah jam pelajaran, hingga saat-saat tak terduga.

Lima jendela yang wajib kubuka: Google Chrome, Ms. Word, Ms. Power Point, Winamp dan
Tweet Deck; siap menemaniku mengerjakan tugas tanda sayang dari Pak Guru dan Bu Guru di sekolah.

Turut, turut. Begitu bunyinya Tweet Deck saat ada yang twit yang muncul di timelineku. Dan tebak siapa, ternyata ada twit dari Pak Tifatul Sembiring! Seperti biasa, pantun mengalir di selap-selip twitnya.

Meletup-letuplah pikiran saya. Andai, semua menteri punya Twitter, apakah aspirasi kita pada para pemangku kekuasaan lebih mudah tercapai? Entahlah. Tapi, yang jelas, microblog makin menyempitkan jarak antara kita semua, termasuk saya dan anda, atau anda dan teman anda, atau saya dan teman saya.

Melayanglah pikiran saya, seperti balon komik, andai saja Pak M. Nuh punya Twitter juga. Banyak yang ingin kukatakan pada beliau. Remeh temeh yang bisa jadi besar juga.

Maklum, saya selalu ingin protes bagaimana pendidikan yang saya terima di sekolah tak sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana semua anak dididik korupsi sejak dini, kalau boso Jowonya nracak (mata lirak lirik, contek menyontek saat ujian). Bagaimana inflasi pendidikan bisa sampai 20%/tahun. Bagaimana tak seimbangnya harga yang dikeluarkan dengan pelayanan yang diterima.

Belum soal klasik: sekolah roboh, buku mahal, dan lainnya.

Pak Nuh pasti lebih tahu. Selamat bertugas untuk semua menteri baru. Semoga mimpi Indonesia Lebih Baik mampu diwujudkan melalui tangan terampil anda. Saya titip kepercayaan.

30 Oktober 2009

"Namaku Janu Ismadi. Anda?"

Fitrop, alias Fitri Tropika, mojang cantik asal Bandung ini, pernah menyebutkan nama Janu Ismadi di salah satu scene "Are You Smarter Than A Fifth Grader?" garapan sebuah TV swasta.

Di benak kita, timbul satu pernyataan dan pertanyaan: "Kalau Fitrop sih saya juga sudah tahu, tapi siapa itu Janu Ismadi? Siapa? Siapa?"

Kalau belum tahu, mari saya perkenalkan dengan bangga dan senyum lebar. Janu Ismadi, adalah guru putih merah saya, serupa pula Fitrop. Jangan tanya saya bagaimana Fitrop saat EsDe, karena saya beda generasi dengannya.

Yang lebih hebat itu ya, guruku itu. Janu Ismadi. Yang bisa mendidik orang sehebat aku dan Fitrop, hehe.

Hal yang paling kuingat adalah saat Pak Janu mengantarkanku ke Riau untuk mengikuti sebuah lomba di tingkat nasional. Dengan menenteng-nenteng SLR-nya beliau berusaha mengambil potret setiap kegiatanku di sana. Sedangkan aku? Aku benci dengan blitz kamera :)

Yang sangat kukagumi adalah tanggung jawab beliau. Bagaimana beliau bertindak sebagai guru, prinsipnya, cara berpikirnya yang melawan mainstream. Bagaimana beliau datang ke kelas dan mengajar beralaskan sandal, dengan janggut putihnya yang jarang dicukur, dan gaya bicaranya yang tak dibuat-buat. Pertanyaan seaneh apapun dijawabnya dengan sudut pandang ilmiah. Cara mengajarnya pun nyeleneh, praktiknya aneh-aneh.

Bayangkan, dengan otak anak umur 11 tahun, beliau mempraktikkan tentang fotosintesis. Nama praktikumnya apa ya, saya lupa. Jadi kita menutup sebagian daun dengan alumunium foil, lalu dibiarkan. Kemudian direbus dengan alkohol, melunturlah klorofilnya. Lalu crot crot, disemprot yodium tintur, dan ketahuan mana yang mengandung zat gula dan tidak.

Percayalah, cara memikat anak putih merah adalah dengan praktikum yang ribet. Dan semua anak terkesima, penasaran mengapa ini jadi itu dan itu jadi ini. Dan ketertarikan terhadap sains akan meningkat.

Hal lainnya, beliau adalah guru IPA. Tapi beliau dengan setia mendampingi saya yang lebih memilih matematika. Saya tahu, beliau kecewa karenanya. Tapi toh, beliau tetap setia mengantarkan saya dari rumah ke asrama karantina, atau ke pemusatan latihan. Kadang, bahkan rela nambahin kantong saya hanya agar muka saya tak masam lagi, karena belum disuplai duit hari itu. Dasar anak kecil, hehe.

Beliau selalu menjadi yang terbaik.

Bahkan setelah umurku putih abu seperti ini. Di sini dan jenjang sebelumnya, tak ada yang semendukung Pak Janu.

Pak Janu, kapan aku bisa bertemu lagi?

16 Oktober 2009

Buah Tangan dari Minang

Belum juga dua minggu berlalu dari hari luluh lantaknya Padang, ayahku sudah terbang ke sana.

Aku tanya: kenapa harus buru-buru?

Beliau menjawabnya dengan tegas: tak ada pekerjaan yang boleh ditunda-tunda.

Dedikasinya memang luar biasa. Akhirnya, Minggu (12/10) kemarin beliau dengan kereta Parahyangan menuju Cengkareng.

Malam itu pun SMS tiba.
Bapak sudah sampai Padang. Mau oleh-oleh apa, dek?

Baru juga sampai, masa sudah nanya mau oleh-oleh sih :D

Untunglah sampai juga beliau di sana. Tetakutku hilang sedikit. Sejak betapa banyaknya kecelakaan pesawat terbang menghiasi layar kaca di ruang keluargaku, aku agak was-was. Entahlah.

***

Handphoneku bergetar-getar siang itu. Padahal, hampir ketiduran aku di angkot Cimahi-St. Hall. Sebutir peluh mengalir dari ubun-ubunku yang panas. Sepertinya akan hujan.

Dek, bapak di hotel ambacang loh. Bau bangkainya menyengat!

Hotel Ambacang... Melayang pikiranku pada sebuah acara berita di televisi di mana mbak-mbaknya dengan semangat mengabarkan kondisi terbaru di sana.

Dan bau bangkai, mungkin juga anyir darah...

***

Kalaulah aku yang jadi mereka, mungkin sudah jerit-jerit aku dibuatnya. Sedih, dan mungkin marah pada Tuhan. Teriak: kenapa harus saya Tuhan? Padahal banyak orang lain yang lebih pantas dapat cobaan ini!

"Tidak akan suatu kaum diberi cobaan melainkan sesuai dengan kemampuan kaum tersebut."

Tuhan benar. Buktinya, saat pulang dari sana, ayahku bawa keripik balado tuh :D

Maksudnya, berarti saudara kita di Minang sudah mulai berbenah. Hidup itu harus maju. Dan mereka sudah bekerja lagi (baca: menjual keripik balado, hehe).

Semoga saja pedasnya keripik balado yang kumakan sekarang sama dengan semangat mereka yang mulai menjalar-jalar. Amin.

10 Oktober 2009

Ngidam Kuliah di MIT


*I no longer update this blog, I have moved to: https://noortitan.wordpress.com. Thanks!

Duh aduh, betapa gundahnya perasaanku belakangan ini. Makan tak enak, tidur tak nyenyak (haha). Hanya karena satu hal ini, yaitu iri.

Iya, aku iri sekali dengan temanku, Karima namanya. Tiga bulan terakhir ini, dia baru pindah ke negerinya Queen Elizabeth itu. Cerita-cerita di blognya benar-benar luar biasa! Aku ingin seperti dia, bisa ke luar negeri, menuntut ilmu di sana, bertemu teman-teman baru, merasakan suasana baru, dan banyak hal baru yang pasti menyenangkan lainnya!

Aku jadi teringat target besar yang membuatku tertantang untuk mewujudkannya. Aku ingin kuliah di MIT, di Amerika sana! Dan tak tanggung-tanggung, aku ingin mendapat full scholarship, tuition free. Impian yang terlalu menantang sebenarnya, karena sampai saat ini aku belum tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Ehm, sebenarnya ada beberapa cara sih yang mulai kupikirkan. Tapi, biayanya tak sedikit, dan usaha yang tak mudah juga. Yaitu dengan ikut IGCSE A-level, yang sertifikatnya bisa diterima di seluruh universitas di dunia.. Hal yang perlu diketahui, ada 3 sertifikat: O, A, dan AS. Sertifikat O-level itu setingkat SMP (Junior High School), dan A-level itu setingkat SMA. Jika dari O-level ingin masuk universitas, maka kita harus ambil college/pre-uni dulu, atau mendapatkan sertifikat A-level.

Dan beberapa hari yang lalu, presentasi dari Temasek di sekolahku membukakanku pada beberapa opsi lainnya, seperti 3 jalan yang bisa kutempuh di Singapura, setelah lulus SMA di Indonesia, mendapatkan sertifikat O-level (tapi kan aku inginnya di MIT, huhu), di antaranya mengambil politeknik di Singapura dan college di Singapura (nanti bisa ke universitas di Amerika atau Eropa).

Aku jadi ingat saat menghadiri pameran pendidikan internasional beberapa waktu lalu. Setelah aku tanya-tanya, masuk MIT buat orang lokal sana yang Englishnya yahud dan kemampuannya bintang lima saja sudah susah. Apalagi untuk orang asing yang Englishnya masih belepotan sana sini. Tapi, semua itu sebenarnya bisa dikejar kok, ya kan? :D

Atau opsi lainnya: beasiswa S2 di luar negeri itu jauh lebih banyak daripada beasiswa S1. Yang berarti, aku bisa kuliah dulu di Indonesia, dan S2-nya di luar negeri! Lagipula, banyak seniorku yang sudah membuktikan kesuksesan mereka dengan jalan ini.

Kalau ditanya mengapa aku ingin sekali kuliah ke luar negeri, jawabannya mudah saja. Aku terinspirasi tokoh fiktif So Toma di komik Q.E.D (Quod Erat Demonstrandum). Kata-kata “Quod Erat Demonstrandum” sendiri mengingatkanku pada kepuasan setelah membuktikan suatu teorema matematika. Luar biasa!

Dan semua pasti ada jalannya. Man jadda wajada.

*gambar diambil dari: chandrakusuma.com

Update:

Seminggu lalu, 14 Maret 2012 (or Pi Day, if you like to call it like that), pengumuman penerimaan mahasiswa baru untuk MiT 2016. Jangan tanya seberapa pasrahnya aku saat itu.

Alhamdulillah, Allah mengizinkan aku untuk menghidupi mimpiku.


"Allah selalu menjawab doa hamba-hamba-Nya yang percaya."

26 September 2009

Simpul Kebersamaan di Sepasang Sandal Jepit

Keluarga Cemara. Masih ingat acara satu ini? Hidup sebagai sebuah keluarga (sangat) sederhana, tapi mengajarkan kita betapa pentingnya kehangatan dalam sebuah keluarga.
Sayang, kehangatan dalam keluargaku hanya bersifat insidental, kadang-kadang saja. Selalu saja ada kesibukan yang memberi sekat-sekat tak terlihat di antara kami. Saat hari biasa, tak satupun waktu tersisa buat kami untuk berkumpul di meja makan. Sekadar ngobrol-ngobrol ringan di ruang tengah sambil melihat tabung kaca bergerak pun jarang.

Malah, saat semua bisa berkumpul, yang ada hanyalah berantem. Rebutan ini-itu. Cakar sana-sini. Tinju atas-bawah. Tampar kiri-kanan. Ya, walaupun tidak seberlebihan itu, tapi tetap saja mengurangi kualitas berkumpul itu, kan?

Idul Fitri kali ini kuharap bisa menjadi momen luar biasa yang menghangatkan kami, lagi.
Karena itu, saat mudik ke Kota Pelajar, Yogyakarta, aku memaksa untuk pergi ke suatu tempat bersama-sama. Setelah ribut sana-sini, akhirnya diputuskan Malioboro dan Alun-alun Yogya-lah yang akan kami kunjungi.

Di Malioboro, kepala rasanya tambah mendidih, karena turis mancanegara dan domestik memenuhi tiap lika-liku sudut-sudut jalan yang terkenal ini. Penuh! Alih-alih belanja dan menikmati suasana sore di sana, kami segera pergi ke Alun-alun Yogya yang agak lengang.
Dengan berbekal kamera digital, aku pun menikmati semilir angin sore itu dengan mengambil beberapa foto, berbagai pose, dengan adik dan kakakku. Rasanya menyenangkan sekali! Seolah-olah kami tiba-tiba akrab setelah sekian lama hanya gontok-gontokan melulu.

Lelah tak dapat ditolak. Dengan meleseh di tikar, kami memesan Wedang Ronde khas Yogya yang rasanya, yumm, jangan ditanya. Enak! Sambil menyeruput Wedang Ronde, kami menyaksikan matahari menggelincirkan diri ke ufuk barat sana.

Adzan Maghrib berkumandang ketika semua tengah bersantai menikmati Wedang Ronde di lembayung keemasan senja itu. Bergegas kutelan bola-bola ketan dan air jahe yang tersisa. Hangat masih terasa di telisip tenggorokan saat aku dan keluargaku berjalan ke Masjd Gede Yogyakarta. Kulihat kanan kiri, ternyata indah benar masjidnya! Dengan arsitektur Jawa Kuna dan lantai marmer yang sejuk, aku bengong, dan berkata dalam hati: Wah, ada ya, masjid seindah ini?

Setelah kutunaikan sholat Maghrib hari itu, aku melangkah keluar. Kucari sandal jepitku. Loh, kok tidak ada? Kucari lagi, sambil menajamkan pandanganku. Siapa tahu, sandalku keselip. Wah, tak ada! Jangan-jangan hilang lagi! Aku panik sendiri. Kebat-kebit jantungku. Menetes-netes keringatku. Kusenggol kakakku dengan wajah memohon, minta dicarikan Si Sandal Kesayangan milikku itu (bahkan saking sayangnya, kunamai dia Si Hitam, karena warnanya hitam). Mukanya enggan, tapi dia cari juga. Dan masih tak ada. Makin paniklah aku, makin kebat-kebit jantungku, dan makin banyak tetesan keringatku. Sial! pikirku. Tak akan kumaafkan jika ada orang yang mencuri Si Hitam!

Memang sial rupanya. Bukan keselip, tapi mungkin, bukan, tapi MEMANG ada yang mencurinya! Aura kemarahanku sudah serupa membaranya api neraka, apa boleh buat, karena ini pengalaman pertamaku kecurian sandal di masjid, dan tak tanggung-tanggung, Si Hitam yang dicurinya pula!

Setelah mengubah setting matanya menjadi X-ray, kakakku menemukan seorang mbak-mbak yang memakai sandal yang mirip sekali dengan Si Hitam.
“Mbak! Mbak! Mbak! Tunggu!” kejar kakakku. Sadar ada yang memanggilnya, Si Mbak itu grasa-grusu (cepat-cepat/ buru-buru) memperlebar dan mempercepat langkahnya.
“Mbak! Tunggu!” suara kakakku makin melengking. Dan karena dia seorang Sanguinis yang tak sabaran, dia tarik tangan Si Mbak itu. Terkaget-kagetlah Si Mbak itu. Mukanya pucat seperti bengkoang.

“Mbak. Ini benar sandal milik Mbak?” tanya kakakku lugas, keras, tepat, cepat, akurat, tegas. Ciutlah hati Si Mbak ini ditantang pribadi blak-blakan kakakku.

“Iya!” jawab Si Mbak itu, yang terdengar dikuat-kuatkan. Wah, Mbak ini bohong ya… terkekeh aku dalam hati.

“Benar, Mbak? Soalnya saya juga punya sandal yang SAMA PERSIS!” begitu kakakku men-skakmat-nya. Dalam hati, aku terkencing-kencing tertawa saking tak kuatnya!

“I, iya! Masak saya bohong!” ucapnya. Lalu dia berbalik dan pergi lagi.

Eh, sial banget nih orang! Sudah ketahuan dia yang mencuri, masih berani kabur lagi!

Kakakku mengejarnya sekali lagi. Menarik tangannya sekali lagi. Dan tiba-tiba Ibunya muncul di sampingnya.

“Ada apa, ya, dengan anak saya?” begitu tanya ibu itu. Diksinya mungkin sopan dan lembut. Tapi lihat orangnya, dia mengatakannya sambil mengeluarkan bisa dan menjulurkan lidahnya laksana ular kobra.

“Ini, Bu. Mbak ini memakai sandal yang SAMA PERSIS dengan milik saya.” Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Bisa dibalas bisa, Lidah ular dibalas lidah ular. Yang terlihat dari tempatku berdiri adalah ular lagi silat-silatan, seperti salah satu sinetron di televisi swasta kita (stasiun televisi apa ya... hehe).

“Oh, sandal anakku ini memang DARI SANANYA seperti ini.”

“Benar, Bu? Soalnya, sandal ini SAMA PERSIS seperti milik saya.”

“Oh, jadi anda menuduh anak saya pencuri, begitu?”

Bukannya memang pencuri ya, Bu? Wong saya kenal persis tiap lekukan dan goresan di sandal itu!

“Saya hanya mencari sandal saya saja, Bu. Sandal saya SAMA PERSIS dengan yang dipakai Mbak ini!”

“Nah, ini bukan sandal yang kamu cari, kalau begitu.” Lalu ibu dan anaknya itu pergi begitu saja. Lelah, karena memang pada dasarnya pencuri itu tak akan ada yang mengaku, kakakku kembali ke tempatku.

“Ikhlaskan, masih banyak kok sandal lain.”

“Iya, iya.”

“Aku ada sandal cadangan di mobil. Kuambil dulu ya.”

“Ya.”

Kakakku pun kembali ke Alun-alun untuk mengambil sandal. Sementara aku bengong di teras masjid. Kudengar sayup-sayup suara Si Hitam menjerit pedih. 

Ah, maafkan aku Hitam. Karena membiarkanmu diinjak oleh orang yang tak berhak memilikimu.

Belum beberapa lama berselang, ayahku datang. Beliau ngedumel karena aku lama sekali, padahal ditunggu di depan masjid. Setelah kujelaskan, beliau akhirnya manggut-manggut juga. Ditawarkanlah punggungnya.

“Hah? Digendong?” tanyaku kaget.

“Iya, biar waktunya tak menghabiskan waktu. Ayo cepat, denok!” begitu ayahku bilang.

Mau tak mau, aku digendong juga. Sementara adikku, si laki-laki yang kepuberannya sering kujadikan bahan olok-olok, kini gantian mengolok-olokku. Cekikikan dia sampai puas. Awas! Lihat saja nanti aku balas!

Ternyata bukan hanya adikku yang menertawakanku. Orang-orang di sekitarku juga.

Woalah, nok. Wis gedhe kok masih digendong tho? (Ya ampun, nak. Sudah besar kok masih digendong sih?)” komentar mbah-mbah yang lewat.

Tak gendong, ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana. Enak tho, mantep tho…,” senandung penjual pernak-pernik kerajinan di depan masjid yang bergaya rasta.

Mukaku merah! Semerah apel Washington yang dijual di supermarket. Apalagi ada yang bersenandung lagu Mbah Surip segala lagi. Aku mulai berontak kutendang paha ayahku minta turun.

Ayahku pun menurunkanku. Tapi, kini aku terpaksa berjalan dengan bertelanjang kaki, alias nyeker. Orang-orang masih melihatku. Setidaknya, tidak semalu sebelumnya. Aduh, kakakku kok lama sekali ya membawakan sepasang sandal cadangan saja.

Di depan gapura Masjid, seseorang berbicara nyeplos, “Lihat! Yang tadi kehilangan sandalnya sekarang nyeker!” Kulihat siapa yang berbicara, rupa-rupanya Si Ibu Ular Berbisa dan Si Mbak Pencuri!

Kurang ajar nih orang. Sudah mencuri, malah sempat mengolok-olok orang yang dicurinya pula!

Ingin kuhajar duo maut ibu dan anak itu. Tapi, adikku, si perjaka yang baru puber, menahanku. “Nih, pakai sandalku saja,” begitu katanya.

“Benar, nih? Nanti kamu nyeker loh.”

“Ah, biarin. Aku kan lelaki.”

Oalah, aku baru sadar. Adikku ternyata baik juga, hihi. Kupakai sandalnya, dan berjalan menuju tempat mobil keluargaku diparkir. Di sana, kulihat kakakku sedang diinterogasi oleh ibuku tentang hal yang terjadi. Hm, pantas lama!

Setelah itu, demi menghiburku yang kehilangan Si Hitam, sandal kesayangan sehidup semati yang sudah kupakai untuk menjelajah berbagai tempat di muka bumi, kakak dan adikku membeli beberapa kotak kembang api. Kami sulut sumbunya, dan kami nikmati pendar-pendar indah langit Yogya di malam itu.

Ketika mobil yang kutumpangi membelah jalur selatan, kembali ke naungan Kota Priangan, aku berpikir bahwa mungkin, jika aku tak kehilangan Si Hitam senja kala itu, aku tak akan merasakan keluargaku sedekat itu denganku. Selama ini aku merasa ditinggalkan karena kesibukan mereka. Tanpa sengaja kutatap gurat-guratan kapas putih serupa Si Hitam di lukisan maestro langit luas siang itu, dan kuucapkan rasa terima kasih tulusku untuk Si Hitam. Terima kasih, mungkin kita bisa berjumpa di lain kesempatan, Hitam.

14 September 2009

Sungguh, Aku Merindunya

Gila. Bilang aku gila.

Apakah akselerasi waktu bisa berlangsung seperti ini? Sampai di awal Bulan Ramadhan saja buatku merupakan suatu keterdamparan, dan hingga di akhir pun masih suatu keterdamparan.

Oh, inikah rasanya dipermainkan oleh waktu? Ingin aku menaklukkannya, tapi sampai saat ini pun masih tak bisa. Bagaimana caranya?

Tapi sayang sekali, permainan waktu tak mempan untuk perasaan rinduku ini.

Rindu ini pada kota kecil di selatan sana, selalu muncul, tanpa peduli bahwa aku merasa waktu berlalu begitu cepatnya. Bantul dan Yogya, dua kota tanpa ampun selalu muncul di pikiranku.

Dan Idul Fitri kali ini tak akan aku lewatkan. Akan kunikmati tiap tarikan nafasku di sana, seminggu lagi. Tunggulah aku, biarkan aku puaskan semua kerinduan yang telah kubendung selama ini.

Selamat jalan untuk teman-teman yang mudik. Hati-hati, ngebut benjut :D


12 September 2009

Terbang!

Kata siapa terbang harus menggunakan sayap?

Dulu, paradigma "untuk terbang itu butuh sayap" begitu mendarahdagingnya, sebelum ditemukan apa yang kini disebut dengan "pesawat". Orang-orang tak percaya, bagaimana paradigma tersebut begitu mudahnya dibalik -walau tak semudah membalik telapak tangan- oleh Wright bersaudara.

Dan saat ini: burung besi pun dapat membelah langit luas di tengah hamparan samudera!

Seperti hal yang kita semua akrabi di era sekarang, bagaimana blog, microblog, dan network site bisa mempengaruhi tiap tarikan nafas di bumi ini.

Siapa yang menyangka blog bisa sepopuler sekarang? Dengan umurnya yang 10 tahun, tidak sedikit dunia yang sudah didatarkannya.

Bagaimana bisa pola pikir manusia menjangkau masa depan?

Kata Pak MT yang acaranya selalu dinanti di layar kaca rumah keluargaku tiap Minggu, posisikan diri kita seolah-olah kita menjadi hal yang kita inginkan, dan dengan sendirinya kita mendapatkan hal yang diinginkan.

Masalahnya adalah: bagaimana bisa memosisikan diri menjadi hal yang diinginkan, sementara aku sendiri tak tahu apa yang kuinginkan?

Dan terima kasih temanku, pertemuan kemarin menyadarkan aku akan sesuatu hal:

Terlalu banyak hal yang kuinginkan!

Dan mumpung masih hangat-hangat suam-suam kuku, aku coba tulis. 100, bahkan lebih. Yes! Liburan kali ini aku bisa mereset pola pikirku.

Dan pada saatnya, aku akan terbang!

N. B. Terima kasih untuk Media Ide, karena posting sebelumnya menang kompetisi E-Narcism. Alhamdulillah! Terima kasih juga untuk Mbak Ratna, sebagai sosok yang saya ulas. Ratna juga membahasnya di sini. Hidup Ipod Shuffle! Hehe.

20 Agustus 2009

Prestasi di Selubung Satelit

Kalau boleh tertawa, aku mau tertawa sekencang angin Bohorok di Sumut, atau sepuas Mbah Surip bernyanyi Tak Gendong. Kalau boleh juga tersenyum, aku mau tersenyum selebar Timor hingga ke Rote, atau semanis aspartame. Sangat menyenangkan mengenal karibku yang satu ini. Namanya Ratna Hartiningtyas. Aku mulai akrab dengannya saat masa putih biru sebagai sesama anggota ekskul Pramuka. Tiga tahun dalam kebersamaan yang dalam, sangat menyenangkan. Tidak ada yang terlalu spesial. Kami sama saja. Sama-sama menjadi praja yang baik, sama-sama menjadi siswa yang tidak neko-neko.
Dulu, dia sama sekali tidak pernah menulis. Hanya satu kali saat sedang ber-putih merah alias masih SD. Dia pernah mengikuti lomba sinopsis, sedangkan aku saat itu juga tengah mengikuti lomba matematika yang dilanjutkan menuju tingkat nasional. Sedangkan Ratna, malah mandek karena tidak masuk juara tiga besar pun. Senyumku pun tersungging. Tapi, dia sama sekali tidak kecewa, apa lagi bersedih. Cuek sekali. Saat SMP pun tak ada sesuatu yang terlalu berarti. Justru seperti seorang anak yang kehilangan buku pelajaran, ia banyak ber-absurd ria melalui status-status YM—media ‘ngobrol online’ yang saat itu sedang naik daun.

Menjejak Tanah Lewat Blog
Dalam kurun waktu yang singkat, internet banyak membuka wawasan masyarakat dan sedikit menyeret kehidupan menjadi datar. Sama seperti kita juga yang menjadi addict untuk membukanya. Bahkan hanya untuk sekadar membuka jejaring sosial paling terkenal saat ini, alias Facebook, kita punya waktu khusus. Manusia memang aneh. Mereka bekerja, mereka bermain, mereka bersosialisasi, mereka berbagi, mereka mencari ilmu, mereka mencari uang, dan menulis melalui internet. Tak ada bedanya dengan Ratna. Dia mulai menulis banyak hal melalui blognya, sering meng-update-nya, atau menyinggung-nyinggung blog ini karena sedikit narsis. Dia uga bercerita tentang banyak hal yang didapatkannya dari blogging. Meski mengaku-ngaku dengan sesebutan “nengratna” yang jujur, sedikit asing, belakangan aku tahu, ternyata dia mendapatkan barang-barang menarik dari internet melalui posting-posting di blognya ini. Ada kaos, buku-buku dan banyak mainan, bahkan uang tunai! Blognya juga pernah dibahas di detik.com. Detik gitu loh! Sekarang, terkuaklah sedikit kelebihannya! Waw! Aku bertanya lagi: Dulu dia memang absurd, atau …

Mengepakkan Sayap di Dunia Twitter

Selain dengan blog, dia juga banyak menyampaikan bunga-bunga imajinasi dan akar-akar inspirasinya melalui twitter. Menyenangkan juga rupanya, melakukan brainstorming dengannya melalui twitter-ku. Menunjang kehidupan dan loyalitasnya di dunia datar dengan twitter, adalah ide yang topcer. Lingkungan yang educationally dalam twitter, membuka banyak hal tentang perempuan ini. Menulis, memang lebih mudah dari pada berbicara.

Terbang ke Angkasa Nusantara
Menteri negara? Waw. Bangga sekali rasanya kalau bisa bertemu. Belum, tapi mungkin akan. Kali ini, Menpora (Menteri Pemuda dan Olah Raga) bersama Forum Lingkar Pena menunjuknya sebagai juara kedua dalam lomba esai Kepemudaan Tingkat Nasional. Luar biasa. Tulisannya memang sangat menggugah, konyol, menyentil dan membuat siapa saja jadi gemas.
Lalu, berita terakhir yang aku dengar adalah yang satu ini: beasiswa. Wuz! Aku terhenyak, saat mendengarnya menerima hadiah beasiswa senilai jutaan dari info24jam.com dari tulisannya yang satu ini. Ada seribu lebih artikel yang dikalahkannya, tapi kadang si hitam manis belum percaya juga dengan kemenangannya. Lucu. Kalau aku jadi dia, bisa putar-putar seantero Kota Bandung deh karena kegirangan. Padahal, kalau ingat masa album lama, dia tidak lebih dari pujangga yang teronggok kaku di kamar tidur. Kerjanya hanya chatting dan mem-publish status-status dengan bahasa planet. Kalau ditanya apa artinya, malah tak nyambung. Lebih halusnya sih, kalimat-kalimatnya adalah bahasa sendiri dari dimensinya sendiri—dimensi para penyair dan penulis. Sekarang... jangan ditanya. Yang jelas, ini baru awalnya, masih 16 tahun umurnya. Bayangkan, jadi apa dia di masa depan! Selamat ya, Sayang!

Ikuti Kontes E-Narcism, Gaul dan Eksisnya si Teman di Internet, dan menangkan 6 buah iPod persembahan dari Bhinneka.com dan 24 t-shirt E-Narcism dari Grin Clothing.

08 Maret 2009

Jangan Sia-siakan Waktu di Perjalanan

Perjalanan rumah-kantor atau rumah-sekolah jauh?

Saya pun mengalaminya. Sejak saya masuk SMA, jarak rumah-sekolah (SMA) meningkat menjadi 10 kali lipat dibandingkan dengan jarak rumah-SMP. Jadinya, waktu perjalanan pun meningkat menjadi sekitar 60 menit atau 4-6 kali lipat. Sempat
shock juga pertama-tama masuk SMA, dan rasanya malas sekali berangkat sekolah. Tapi, kini saya punya tips dan trik sendiri supaya jarak rumah dengan sekolah/kantor yang jauh tetap produktif dan tidak mempengaruhi mood, terutama untuk teman-teman yang naik kendaraan umum. Karena saya tahu persis bagaimana rasanya naik kendaraan umum di tengah siang bolong (baca: panas SEKALI! suntuk, dan membuat otak ikutan "panas"), dan saat kendaraan umum (angkot) tersebut "ngetem". Lha, mau gak mau tho? Wong saya tinggal di Bandung yang notabene Kota Seribu Angkot. Hehehe.

View pulang-pergi sekolah dari angkot St.Hall-Cimahi. Diambil dari arminss.wordpress.com.

Sudah basa-basinya. Mau tipsnya?

  1. Siapkan buku ringan atau mungkin self-help yang bisa membantu anda memanfaatkan waktu. Atau, kalau anda seorang pelajar/mahasiswa, dan kebetulan hari itu ada test, buku mata pelajaran/mata kuliah bisa menjadi pilihan yang bagus. Saya sih merekomendasikan buku The Secret- Rhonda Bryne untuk dibaca. Karena saat traffic jam buku yang paling kita perlukan adalah buku yang bisa membuat kita berpikir lebih positif, kan? Dan saat ini, saya sedang memanfaatkan waktu-perjalanan saya dengan membaca buku Studying Abroad- Windie Ariestanty & Maurin Andri. Lumayan juga untuk panduan pelajar yang ingin selepas SMA nanti kuliah di luar negeri atau mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar. Hmmm...
  2. Tak ada buku yang menarik minat anda? Kalau begitu, ini saat yang pas untuk merenung tentang kehidupan anda. Kalau di sekolah/kantor dan rumah sibuk dan tak punya waktu, manfaatkanlah waktu yang sempit selama perjalanan ini untuk berpikir ulang dan menata apa yang ingin, akan, dan seharusnya anda capai. Tata ulang juga motivasi anda bekerja/bersekolah. Pikirkan juga, berapa waktu yang sudah anda berikan untuk keluarga. Terkadang, keluarga selalu menjadi prioritas terakhir dalam daftar kita, padahal merekalah yang paling menyokong kita sesungguhnya. Dan jangan lupa, jadikan kesempatan di antara jeda rumah-sekolah/kantor ini untuk bersyukur pada Tuhan karena kita masih diberi kesempatan untuk bersekolah dan bekerja, dan juga masih diberi kesempatan untuk menyadari nikmat-nikmat-Nya dan bersyukur pada-Nya.
  3. Jeda waktu di perjalanan ini juga dapat kita gunakan untuk mengasah kepekaan sosial kita. Lihat di luar sana, masih banyak anak jalanan yang mengamen, ibu-ibu dan kakek-kakek yang meminta-minta, mencari sedikit rezeki untuk melanjutkan kehidupan di hari itu. Kita bisa menyadari betapa beruntungnya kita, dan melatih kita untuk tidak meremehkan orang-orang kecil di luar sana. Mereka mungkin kecil, tapi hati mereka besar. Dan karena kebesaran hati merekalah, mereka mungkin jauh lebih di atas kita.
  4. Anda bisa mempelajari karakter tiap orang yang ada di dalam kendaraan umum yang sama dengan anda. Cukup menarik, kok. Asal jangan ketahuan saja kalau anda sedang memelototi wajah orang tersebut. Hehehe. Dengan mengasah kemampuan "membaca karakter" ini, anda menjadi lebih terlatih menghadapi betapa sangat beragamnya, dan betapa majemuknya karakter orang-orang yang ada di sekitar kita. Hasilnya? Anda bisa mempunyai "rumus" tersendiri dalam menghadapi orang yang karakternya bisa anda perkirakan.
  5. Dan yang terakhir, tapi juga paling penting: Jangan sampai karena semangat yang menggebu-gebu untuk memanfaatkan waktu di kendaraan umum, anda lupa dengan barang bawaan anda sendiri. Tidak ada orang yang mau tanggung jawab loh, salah sendiri cengo (bengong) di dalam angkot/bus, hehe. Jadi, lihat-lihat sekitar. Jaga handphone, dompet, dan barang berharga milik anda lainnya. Dan take care juga dengan barang orang lain. Siapa tahu malah orang lain yang bengong dan kecopetan. Kalau kita lihat, jangan diam saja dong. Ayo, dibantu, peringatkan.
Mungkin sekian tips dari saya. Semoga berguna untuk anda yang seolah-olah tak punya waktu untuk merenung lagi di tengah kesibukan yang luar biasa. Anda pasti masih punya waktu yang mungkin terlupakan. Ayo, semangat!

Say NO, to wasting time!

19 Februari 2009

Terjebak

Hari ini, saya dan kakak saya, agaknya punya sedikit waktu luang untuk melepas penat. Dan kebetulan, kakak saya punya voucher tiket gratis untuk nonton film di jaringan bioskop 21. Karena masa berlakunya sebentar lagi habis, saya dan kakak saya berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Begitu browsing ke www.21cineplex.com uh, saya kaget. Padahal saya harap Valkryie (bener ga nulisnya?) sudah muncul di Empire. Tapi apa boleh buat, dan apa mau dikata, demi memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut, pilihan jatuh pada Asmara Dua Diana.


Dan, sumpah saya kecewa. Saya menyesal telah memaksa untuk memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut. Kenapa?



Satu, film ini tidak cocok untuk umur saya (secara hukum, saya berumur 17 tahun baru nanti Desember). Tapi umur tidak selalu menjadi patokan kan? Nah, setidaknya saya masih bisa memilah milah dan mengerti, apakah film ini cocok untuk saya.

Dua, terlalu vulgar. Mungkin amanatnya mulia, "Tidak berselingkuh." Tapi, hal ini disampaikan terlalu vulgar, dan menyeret film ini ke dalam jenis komedi seks yang sedang nge-trend.

Tiga, film ini dibuat seolah-olah menunjukkan kekonyolan seorang Asmara. Tapi, buat saya ini tidak lucu. Dilebih-lebihkan, dan dipaksa. Jadi, kadang-kadang saya cuma bisa ketawa garing hahaha datar, karena dalam pikiran saya berkecamuk "Apa sih yang lucu? Kenapa hal kaya gini aja dianggap lucu?" dsb.

Dan akhirnya saya baru menyadari. Indonesia tengah dilanda fenomena komedi seks (dan pembuat film menyamarkannya sebagai sex education. hey, sex education itu cukup dengan pelajaran biologi di sekolah tau!). Parahnya, si komedi ini tidak dilengkapi filter yang cukup, sehingga anak-anak di bawah umur seperti saya bisa masuk dengan SANGAT mudah. Dan mungkin ini berujung pada meningkatnya kejahatan seksual.

Buat saya sendiri, wacana "Dunia Perfilman Indonesia Semakin Maju" itu cuma sebatas wacana saja. Kenyataannya? Mengalami kemunduran yang signifikan. Tahun kemarin cukup bagus dengan adanya Laskar Pelangi. Tak bisakah sutradara negeri kita berpikir secerdas Riri Riza dan Mira Lesmana? Film mereka bagus, punya amanat kuat yang tersampaikan, dan menonjolkan ciri khas Indonesia. Bahkan, film ini juga berhasil dibawa ke berbagai ajang festival internasional, seperti di Berlin, dan banyak lagi.

Jika ingin menyampaikan tema sex education, angkatlah suatu cerita yang tak terjerumus ke dalam komedi seks. Contohnya, film Pertaruhan. Saya sebenarnya, belum pernah nonton film ini, karena katanya benar-benar untuk dewasa (memangnya Asmara Dua Diana bukan dewasa, ya? Hehe). Tapi, kalau saya baca beberapa review tentang film ini, sepertinya cukup memberikan gambaran bahwa walau bertema tentang seks, tapi film ini tidak terjerumus untuk menjadikan seks sebagai komoditas utama pada filmnya. Tapi, (sekali lagi menurut review yang saya baca) lebih condong ke arah pengorekan kebudayaan.

Jadi, buat para produser dan sutradara Indonesia, kalau mau bikin film, buatlah film yang benar benar akan berguna dan memiliki nilai lebih. Jangan film yang semata-mata membangkitkan gairah dengan menampilkan artis yang katanya papan atas tapi rela mengumbar tubuhnya dalam suatu adegan film. Kenyataan sudah membuktikan kan, kalau suatu film dianggap bagus dan mendidik, orang-orang akan berduyun-duyun menontonnya, dan keuntungan yang direguk pun tak akan sedikit. Ini feedback buat para pembuat filmnya. Makanya, film-film Indonesia jangan dibajak ya. Tapi kalo film luar silakan saja :)

Makanya, sekarang saya lebih suka untuk tidak menonton film Indonesia kalau tidak benar-benar bagus. Lebih baik nonton film luar saja.

14 Februari 2009

dunia lebih baik

ok, setelah lama saya tidak posting blog, saya akhirnya bisa posting juga. sebenarnya bukan karena saya tidak bisa connect ke internet atau sibuk sih, tapi lebih karena saat saya connect internet saya malah main pet society di facebook. hehe.

saya pernah mikir, andai saja dunia itu semudah pet society. tinggal mengunjungi rumah orang, dan dapat uang. tinggal lari-lari di stadium, dapat uang. dan tinggal peluk, cium, selesai. temenan. semudah itu.

yang berbeda dengan kehidupan asli, realita, adalah melibatkan pikiran dan perasaan. kadang, karena hal ini, dunia terlihat lebih rumit, tapi terkadang menjadi lebih indah karena kerumitannya.

sesekali, saya pernah merindukan kehidupan masa kecil saya yang sederhana dan biasa. tak ada tekanan yang kuat dari lingkungan luar. segalanya seperti apa yang saya mau, yang saya inginkan. tetapi dengan bodohnya, dahulu saya ingin cepat cepat menjadi seseorang yang dewasa, yang punya pemikiran matang. tapi, ketika saya sudah menjadi dewasa, saya tak tahan akan tekanan yang ada, masalah yang banyak. lalu, bagaimana?

saya menjalaninya dengan terpaksa, dan terkadang dengan sukarela (walaupun lebih banyak terpaksanya). dan saya sadar, jika saya tetap menggerutu dengan keadaan yang saya telah terima sekarang ini, saya terus akan merasa menyesal dan menggerutu. karena yang saya tahu, keaadaan tak selalu mengasihani kita. dia hanya mengasihani kita jika kita memang patut dibantu. jika kita tidak dikasihani keadaan, berarti sebenarnya kita masih mampu.

tapi sebaiknya, jangan mau terus dikasihani keadaan. apa tidak malu dikasihani terus?

karena saya bukan anak kecil lagi yang hanya bisa merengek untuk mendapatkan sesuatu. saya harus bisa menjadi seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain, tidak hanya dipengaruhi terus dan ditindas dengan pengaruhnya. saya ingin menjadi seseorang yang mampu membuat orang lain mempercayai saya, tidak terus menerus dianggap tidak dapat dipercaya.

semoga saya menjadi seseorang yang bisa mengubah dunia ini, menjadi lebih baik dari sebelumnya.

28 Januari 2009

percayakah kamu dengan pertanda?

saya mengalami fenomena aneh akhir-akhir ini. pada suatu malam, saya memimpikan seorang teman yang sudah lama tidak saya temui. yah, aneh sekali. dia muncul di dalam kelas saya. padahal, saya tahu persis kalau dia tidak satu sekolah dengan saya. dan keesokan harinya, saya terkejut karena tiba-tiba bertemu dengannya di tempat yang sama sekali tidak saya duga. luar biasa.

dan sebelumnya, saya pernah bertemu dengan tiga orang teman lama selama tiga hari berturut-turut di saat saya pulang dan pergi sekolah. dan yang lebih anehnya lagi, ketiga orang teman lama saya itu punya kemiripan sifat, setidaknya bagi diri saya.

belum lagi, akhir-akhir ini, jika saya bertemu sekelompok orang di angkot, entah siapa itu, secara luar biasa kebetulan mereka membicarakan seseorang yang entah mengapa pasti saya kenal.

ada yang bilang, ini hanya sebuah kebetulan belaka.

ada juga yang bilang, ini disebut fenomena dunia menyempit. dunia menyempit? ya. ketika banyak orang di sekitarmu yang tiba-tiba memiliki hubungan yang dekat dengan orang yang sebelumnya telah mengenal kamu. bagaimana ini bisa terjadi? saya pun tak tahu.

beberapa orang teman saya bilang kalau ini adalah sebuah pertanda. bahwa sesuatu akan terjadi. bahwa dalam pertanda inilah Tuhan dan alam yang bekerja, yang bersinergi. melalui pertanda inilah Tuhan seolah-olah memberitahukan apa yang akan kita hadapi. dan alam menjadi medianya. percayakah? tidak juga.

buat saya, terkadang kebetulan-kebetulan kecil ini seolah-olah menjadi sebuah "hadiah", atau mungkin lebih tepatnya "kotak kejutan". karena namanya "kotak kejutan", isinya tentu saja benar-benar mengejutkan. kadang bisa membuat berlebihan, terkadang juga biasa saja tapi tetap meninggalkan kesan shock. bisa juga malah isinya benar-benar menguras emosi dan membuat marah. tapi cukuplah itu menjadi kesenangan tersendiri bagi saya. dan terkadang meninggalkan pelajaran berarti juga buat saya.

jadi, saya tak peduli dengan bagaimana mekanisme kerja suatu pertanda. tapi, jangan sampai juga mengabaikan suatu pertanda. karena terkadang hati kita sangat peka terhadap apa yang disebut pertanda sehingga kita dapat membaca apa yang sedang terjadi di sekitar kita.

dan jangan juga menganggap pertanda itu sebagai suatu hal yang "syirik", karena dianggap mempercayai hal lain selain Tuhan. tapi anggaplah pertanda itu sebagai sesuatu yang biasa saja, seperti rasa waspada dari hati kita. karena bukan kita yang membaca pertanda itu, tapi hati yang membaca.

dan itulah point of view saya. saya ingin lebih banyak menggali lagi mengenai hal ini. mengenai sinkronisasi gelombang bawah sadar dan hati dengan alam sekitar, dan hal-hal lain yang mungkin membantu. semoga saya dapat menggali lebih banyak lagi hal-hal yang mungkin saya belum ketahui yang seharusnya patut saya ketahui.

25 Januari 2009

ketika dia menutup mata


ketika dia tersenyum, angin segar menuruni tenggorokanku, berpusar pelan di dadaku, sekaligus menyejukkanku. ketika belaiannya menyentuh helaian rambutku, getarannya menenangkanku, meredakan gelisahku, mengurangi keluh kesahku. suaranya, bagaikan sutra lembut mengalir di jemari, betapa lembut, bagai beledu, dan membuatku tersenyum senang.

hari ibu memang sudah berlalu. tapi seharusnya makna rasa cinta, rasa sayang, kita terhadap seorang ibu tidak berhenti tercurah pada hari itu saja. saya pun menyesal, karena saya cuma bisa bersikap seadanya terhadap beliau. saya sering berkata kasar pada beliau. saya sering menolak permintaan beliau. padahal, apa sih yang tidak beliau berikan untuk saya?

padahal, yang beliau lakukan hanyalah tidak membelikan mainan untuk saya. karena beliau tahu, saya akan menjadi jarang belajar jika dibelikan mainan itu. tapi apa balasan saya? saya memukul-mukul perutnya, meninju-ninjunya.

ketika saya menginginkan sebuah handphone, beliau menolaknya dengan keras. dengan alasan takut saya tidak bisa menjaganya dan bertanggung jawab. dan setelah mendengar itu, saya langsung membanting pintu kamar di hadapannya.

ketika saya pulang sore hari, beliau sudah menunggu di depan rumah. betapa raut muka khawatir terbias di wajahnya. tapi yang saya lakukan adalah membentaknya saat beliau menanyakan ke mana saja saya seharian. "bukan urusan ibu!" begitu teriak saya.

saat suara lembutnya membangunkan saya di pagi hari, menyuruh saya menunaikan sholat subuh, yang saya lakukan adalah kembali menarik selimut, sambil dengan gusar berkata, "ibu ngeganggu banget sih. semalam aku kan tidur malam, aku masih capek!".

dan ketika beliau berkata, "tan, cuci piringnya. tangan ibu keseleo." saya diam sambil merengut. lalu saya berkata, "besok aku banyak tugas bu. belum selesai. aku mau ngerjain tugas dulu."

karena inilah, saya tak mau dan tak akan pernah siap jika dia menutup matanya, jika badannya tak hangat lagi, jika pelukannya terasa membekukan. saya tak siap jika saya tak bisa melihat senyumannya lagi, tak dibelai oleh telapak tangannya lagi, tak dinasihati olehnya lagi.

sungguh, saya sayang padamu ibu. walau perilaku saya sehari-hari menunjukkan kenyataan sebaliknya. jangan ambil beliau sampai saya siap, ya Allah.
*sumber gambar: http://endjivanhouten.files.wordpress.com/2007/09/terlelap.jpg

21 Januari 2009

great discussion with great friends

kemarin, hari selasa tanggal 20 januari 2009, saya dan teman-teman saya kembali 'ditinggal' guru saat jam pelajaran sedang berlangsung (baca: gurunya sibuk, ada acara, sehingga beliau terpaksa meninggalkan kami). nah, mula-mula rasanya senang, tidak ada guru (dan ini tidak patut dicontoh). tapi, lama-lama rasanya membosankan juga, tidak ada yang bisa saya kerjakan. jika saya tidak mengerjakan apa-apa itu sama saja dengan memubazirkan waktu. sayang, kan?

nah, tiba-tiba lulu datang. dia membawa sebuah buku berjudul "cerdas berpacaran". hmm, dari judulnya sih cukup menggelitik. apalagi masa remaja tengah melingkupi kami dan membuat hormon kami berlebih. hmmm. didorong rasa penasaran, kami berempat, saya, lulu, rani, dan juga hasna melihat buku itu bersama-sama. dan akhirnya, kami terlibat diskusi mengenai masalah pacaran ini secara intens. bisa dibilang juga menimba ilmu. dan inilah beberapa hal yang kami sepakati.

apakah sebelumnya kami pernah pacaran?
ada yang bilang pernah, ada yang bilang belum. haha. malah ada yang sampai 7 kali gonta-ganti cowok. siapa tuuh? hihi.

apakah kami ingin pacaran?
banyak yang bilang ingin sih, tapi untuk sekarang, sepertinya tidak dulu (terutama saya). ilmu sebanyak-banyaknya lebih menjadi prioritas saya.

apa sih yang kami dapat dari buku "cerdas berpacaran" itu?
yang saya tangkap sih adalah pengalaman penulisnya. jadi penulisnya, ame el-sabil, pertama-tama memberitahukan kenikmatan yang akan dirasakan pada awal-awal pacaran. tapi sesungguhnya, kenikmatan itu semu. karena kita belum tahu bagaimana sesungguhnya niat seseorang yang menjadi pacar kita. yah, jangan heran kalau sekarang banyak kasus kriminal yang diawali dengan hubungan bernama "pacaran".

nah, kalau sudah pacaran gimana?
yah, ada 2 jalan. nikah, atau putusin. lebih baik nikah, karena apapun yang kita lakukan nanti, jadi pahala, bukan jadi mudharat. nah, kalau belum siap nikah sih sebaiknya putusin saja. toh, kita hidup di dunia ini untuk mencari ridha Allah kan?

nah, kalau kami suka sama seseorang, terus orang yang kami sukai juga memiliki perasaan yang sama, bagaimana? jarang-jarang kami menemukan orang yang bisa menyukai kami.
sebaiknya sih jangan dituruti. itu yang namanya "godaan". godaan dari Allah untuk menguji seberapa besar iman kita dalam membentengi diri dari sesuatu yang diharamkan oleh-Nya. walaupun rasanya sakit hati, tapi katakan pada orang tersebut:
jika kita memang diridhoi Allah, maka Dia akan mempertemukan kita di tempat yang lebih baik.

dan, seperti apa orang yang dapat kami jadikan sebagai pendamping hidup?
orang yang bisa membuat kita semua dapat mencintai Allah lebih baik.

ya Allah, cintakan aku pada orang yang mencintai-Mu, yang bisa membuatku lebih mencintai-Mu, yang mau mengingatkanku untuk sujud kepada-Mu di tiap malam-malam kami. ya Allah, tambatkan hatiku pada orang yang memegang teguh amanah-Mu, sehingga bertambah pula keteguhanku pada-Mu. kabulkanlah doaku ini ya Allah, amin.

17 Januari 2009

hitam tidak selalu hitam, putih tidak selalu putih. terkadang abu-abu lebih baik

banyak orang bilang, pilihan yang pasti itu lebih baik daripada pilihan yang setengah-setengah. jadi katanya, kalau kamu mau pilih hitam, ya pilihlah hitam. kalau mau pilih putih ya putih. jangan 'banci', jangan abu-abu, jangan plin-plan. tapi apa benar memang harus selalu seperti itu.

bagi saya sendiri, dunia itu tak cukup 2 pilihan, hitam dan putih. terkadang dunia dan kehidupan tersebut membutuhkan abu-abu sebagai penengah. bukan berarti abu-abu ini plin-plan dan tidak punya pendirian. mereka juga memiliki eksistensi di dunia sebagai suatu pilihan.

yah tapi tidak semua pilihan memiliki 'abu-abu'nya. terkadang lebih baik antara hitam dan putih, tanpa campur tangan abu-abu. karena dia mungkin akan memperumit keadaan. karena secara harfiahnya, abu-abu sebagai penengah di sini adalah sebagai 'pencari jalan keluar', oleh karena itu abu-abu selalu bisa bersiasat dan berkelit dalam mencari alasan kenapa dia cenderung berada di daerah tersebut.

sekali lagi, tidak segala sesuatunya terbatas pada hitam dan putih, tapi kadang-kadang abu-abu pun diperlukan. tapi itu opsional, hanya kadang-kadang. dan sekali lagi, diakuinya daerah abu-abu bukan berarti bisa bersiasat.

dan ini bisa diaplikasikan ke dalam beberapa bidang di sekitar kehidupan kita.

12 Januari 2009

lebih berasa, berasa lebih

suka suntuk lihat iklan partai dan calon legislatif di jalan, bahkan ada yang tidak beradab dengan menempelkannya di dinding atau pagar rumah? kalau begitu kita sama. ada yang bilang iklan-iklan itu menambah semarak, tapi buat saya, lebih banyak mengotorinya. dan buang-buang kertas, tentu.

dalam menyambut hajatan pesta demokrasi tahun ini, masyarakat hanya bisa tersenyum pahit. 5 tahun sekali hajatan ini berlangsung, tapi tidak banyak merubah nasib. apakah ini bisa disebut pemubaziran? mungkin iya, soalnya, apbn tahun ini cukup membengkak gara-gara hajatan ini. tapi apbn membengkak sendiri belum ada apa-apanya dibandingkan dengan pembelanjaan tiap calon (legislatif atau presiden) untuk mencitrakan dirinya di mata masyarakat (baca: iklan berlebih). effendi ghazali, pakar komunikasi di negeri kita, pernah menulis di kompas –dan kebetulan saya membacanya padahal saya jarang-jarang baca lembar opini yang berat bahasanya itu, haha– bahwa masyarakat sudah berada di titik jenuh dengan iklan-iklan politik semacam itu. dan memang dia benar, setidaknya saya, sudah jenuh. apa tidak ada cara lain untuk mencitrakan diri?

well, buat saya sendiri, citra diri itu tidak bisa dibuat dengan instan. dan calon-calon ini, terutama calon legislatif, kebanyakan seperti itu. mereka menempelkan poster mereka di mana-mana, dengan foto senyuman yang lebar, untuk pria menggunakan peci (untuk menekankan kesan agamis), untuk wanita menggunakan jilbab (dan dengan rambut yang masih terlihat. errr, inginnya agamis tapi malah menyalahi dan ’maksa’), dan tidak lupa jargon-jargon mereka: ”jangan lupa contreng nomor sekian”. apa itu cukup untuk membuat citra diri yang kuat bahwa mereka pantas terpilih untuk menduduki kursi wakil rakyat? padahal, kita, rakyatnya sendiri, tidak tahu apa-apa mengenai diri mereka, selain senyum mereka yang lebar. apakah pantas kita menempatkan mereka sebagai wakil dari kita sedangkan kita tidak tahu apa-apa mengenai mereka? dan pantaslah semua itu terjadi, ketika tiba-tiba para wakil rakyat tersebut tertangkap menggelembungkan anggaran, menyuap, dan perbuatan lainnya yang, maaf, menjijikkan.

lain halnya dengan para calon presiden. mungkin mereka sudah mulai mencitrakan diri mereka bertahun-tahun sebelumnya, membuat brand mereka. jika mereka ingin maju sebagai calon legislatif saya kira itu cukup, tapi mereka maju sebagai presiden. dan citra mereka sudah seharusnya tidak hanya terbentuk di kancah daerah, tapi juga secara nasional.

dan segalanya jangan hanya menjadi sekedar ‘citra’, tapi juga kenyataan. jangan sampai segala keagamisan, keramahan, dan lain-lain itu hanya bertahan saat pencalonan. saat sudah terpilih, terbuai dengan segala yang didapatkan, dan melupakan motivasi murni saat mencalonkan diri: berbuat demi kepentingan rakyat.

selain citra instan, yang pernah saya dengar adalah politik instan. sama, tapi berbeda. citra itu lebih di permukaan, sekadar menempelkan imej, sedangkan politik termasuk lebih mendalam, di mana mencakup kekuatan untuk mempengaruhi orang lain, dan mendapatkan dukungan dari orang banyak. dan politik instan ini seolah-olah menjadi semacam trend di negeri ini. yang paling jelas mungkin adalah banyaknya artis yang banting setir (atau cuma sekadar untuk main-main?) menjadi bagian dari suatu partai politik lalu secara cepat posisinya naik dalam partai dan tepat sebelum pemilu menjadi calon legislatif. luar biasa. semudah itukah? dan didukung oleh partai yang berasumsi bahwa negeri ini adalah ’negeri mimpi’, di mana (menurut asumsi mereka) negeri ini cenderung terpukau oleh segala sesuatu yang ’berkilauan’ tanpa memedulikan logika dan akal sehat mereka. jadilah para artis ini menang dalam beberapa pilkada dengan memanfaatkan imej mereka yang bak pangeran dan putri negeri dongeng di layar kaca, padahal mereka bahkan tak tahu apa-apa mengenai negeri ini.

inikah yang kita harapkan pada negeri ini? terjebak ketidakberkualitasan para wakil masyarakat dan pemerintah karena politik dan citra yang kedua-duanya instan?

yah, saya dan mungkin kamu juga hanya bisa berharap kondisi ini berubah, karena saya pun tak punya ide untuk menyelesaikan permasalahan ini. atau mungkin karena daya pikir saya yang tak dapat menggapainya, karena saya masih berumur belasan tahun, karena saya masih sma, karena baju putih abu masih melekat di badan saya.

setidaknya, masyarakat indonesia juga tidak bodoh, tidak mau terus-terusan ditipu dengan politik dan citra instan tersebut. masyarakat indonesia juga bisa memilih dan memilah mana pemimpin yang kredibel dan benar-benar cocok dan pantas duduk di kursi sebagai wakil dari kita semua. semoga.

yang jelas, saya sudah muak dengan atribut partai di mana-mana, poster calon legislatif di setiap sudut jalan yang menebarkan aroma kebohongan, dan banyak lagi. jangan kira para calon itu merasa masyarakat akan memilih mereka. saya cuma berharap hajatan demokrasi lima tahunan ini cepat selesai, karena saya tahu ini mubazir, toh biaya sekolah saya tidak akan menjadi gratis, yang ada hanya merangkak naik. terkadang saya benar-benar pesimis keadaan negeri ini dapat berubah. tapi saya masih percaya saya dapat berusaha menjadi bagian perubah nasib.

"Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum tersebut yang merubah keadaannya sendiri." Q.S. Ar-Ra’du: 11

lebih berasa? berasa lebih. ini baru namanya hidup, dengan segala gonjang-ganjingnya.

09 Januari 2009

mengapa harus belajar?

*I no longer update this blog, I have moved to: https://noortitan.wordpress.com. Thanks!

hal yang begitu biasa, bahkan dianggap sangat lazim di negeri ini ketika generasi mudanya sangat ogah-ogahan dalam belajar dan menuntut ilmu. miris, dan membuat beberapa orang yang peduli mengelus dada. sebenarnya, ada yang salah dalam pemahaman mengenai ‘belajar’ dalam diri masyarakat kita. apa yang salah? lalu mengapa harus belajar?

sungguh, saat ini jika segelintir orang yang peduli di negeri ini mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang mereka ingin lakukan adalah mengubah mindset atau cara berpikir masyarakat kita (terutama generasi muda) yang terlanjur mengakar negative tentang pemahaman hidup, kehidupan, belajar, dan pembelajar. sebenarnya, tak ada yang salah dengan negeri ini jika cara berpikir setiap masyarakatnya positive. tak akan ada keluhan tentang betapa terlalu banyaknya jumlah penduduk di negeri ini. jika cara berpikir positive telah tertanam dalam benak setiap masyarakat, jumlah penduduk yang luar biasa banyaknya di negeri ini justru akan menjadi aset yang benar-benar prospektif.

hal pertama yang harus diubah adalah pemahaman tentang hidup dan kehidupan. salah kaprah jika ada yang mengatakan bahwa hidup yang baik adalah yang enak, tak ada masalah, dan kaya harta. tak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa hidup seperti itu, perlu dicatat. justru inti dari hidup itu sendiri adalah menghadapi masalah, memecahkannya, lalu menghadapi masalah lagi, dan memecahkannya lagi, terus menerus seperti itu hingga tiba waktunya kehidupan kita diputus, dan menuai hasil dari ‘pemecahan-pemecahan masalah’ selama kita hidup. dan agar suatu masalah dapat kita pecahkan, kita membutuhkan ilmu. ilmu hanya bisa didapatkan dengan menuntutnya, dengan belajar. jadi, selama hidup kita dituntut untuk menjadi manusia pembelajar, manusia yang dapat belajar dari setiap masalah yang menimpanya, dan peka terhadap apa ‘tanda-tanda’ alam di sekitarnya. kita bisa hidup sampai saat ini pun karena kemampuan kita belajar dalam memecahkan masalah hingga saat ini. hargailah, tapi jangan lupa, di masa depan masalah akan semakin berat, dan menuntut ilmu dan pembelajaran yang lebih.

jadi, belajar tak semata-mata datang ke sekolah, duduk di kelas, dan memperhatikan guru mengajar. itu hanya salah satu cara belajar. banyak cara belajar yang lain, bahkan tanpa duduk di bangku sekolah. dan dapat disimpulkan, salah satu esensi dari hidup adalah belajar.

kadang, kita (termasuk saya juga) sudah mengerti esensi dari suatu kegiatan, sudah mengerti tata cara untuk melakukan kegiatan tersebut, tapi motivasi yang kurang (dan rasa malas) mengandaskan segalanya. ada satu cara yang cukup efektif untuk menanggulangi, yaitu dengan menacari sebanyak-banyaknya alasan mengapa kita harus melakukan kegiatan tersebut. sehingga, saat motivasi kita melemah dan memikirkan betapa banyak alasan yang membuat kita merugi jika meninggalkan kegiatan tersebut, motivasi akan sedikit meningkat dan pada akhirnya, konsistensi kita dalam melakukan kegiatan tersebut terwujud.

dan berikut ini, beberapa alasan mengapa saya harus belajar, yang membuat motivasi saya untuk menjadi murid kehidupan agak terdongkrak.

saya belajar untuk hidup. tak ada gunanya hidup tanpa menjadi pembelajar. sia-sia. karena sudah harfiahnya saya sebagai manusia diciptakan untuk belajar lalu memecahkan masalah. untuk menjadi khalifah (pemimpin) di dunia. jika tidak untuk kelompoknya, maka dia memimpin untuk dirinya sendiri.

saya belajar untuk bertahan hidup. tanpa menjadi pembelajar, saya takkan bisa survive menjalani hidup ini. dalam konteks ini, saya membutuhkan keberlangsungan hidup saya.

saya ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya, ingin kedua orangtua saya melihat saya dengan bangga ketika saya berhasil menaklukan tebing-tebing kehidupan sebagai satu-satunya cara berterimakasih pada mereka. karena orangtua tak butuh uang yang saya hasilkan setelah bekerja dan mapan, tapi mereka hanya ingin jerih payah mereka mendidik saya begitu susah terbayar saat saya berhasil menaklukan hidup.

saya ingin merasa nikmat dan bahagia dengan hidup saya sendiri. dengan belajar demi kehidupan, setiap proses dapat saya nikmati sebagai tahap menuju suatu kebahagiaan, semacam menabung bahagia dalam tiap tahap pembelajaran.

saya ingin orang lain mengakui kemampuan saya dalam memecahkan masalah dan menaklukan tebing kehidupan. bukan berarti sombong, tetapi hanya ingin dihargai karena saya dapat memecahkan masalah.

saya ingin berbuat baik dengan menerapkan ilmu saya dalam mengatasi masalah orang lain. karena mungkin orang lain punya solusi dan ilmu untuk memecahkan masalah saya. untuk itulah kita diciptakan untuk berbagi, untuk saling membantu memecahkan masalah dalam kehidupan dengan berbagi ilmu.

saya ingin meraih kepuasan saat saya berhasil membuka rahasia-rahasia dunia yang saya yakin pasti masih banyak bertebaran dan belum terungkap.

dan masih banyak lagi yang mendasari saya untuk belajar. dan akan saya tambahkan nanti, ketika saya sadar, masih terlalu banyak hal yang mendasari saya untuk belajar. mari kita berbagi motivasi, agar kita bisa menjadi lebih baik. saya tunggu.

saat saya sedih, saya belajar untuk menjadi gembira. dan saat saya gembira, saya belajar untuk menjaga kegembiraan tersebut.
*sumber gambar: www.smart-kit.com