25 Januari 2009

ketika dia menutup mata


ketika dia tersenyum, angin segar menuruni tenggorokanku, berpusar pelan di dadaku, sekaligus menyejukkanku. ketika belaiannya menyentuh helaian rambutku, getarannya menenangkanku, meredakan gelisahku, mengurangi keluh kesahku. suaranya, bagaikan sutra lembut mengalir di jemari, betapa lembut, bagai beledu, dan membuatku tersenyum senang.

hari ibu memang sudah berlalu. tapi seharusnya makna rasa cinta, rasa sayang, kita terhadap seorang ibu tidak berhenti tercurah pada hari itu saja. saya pun menyesal, karena saya cuma bisa bersikap seadanya terhadap beliau. saya sering berkata kasar pada beliau. saya sering menolak permintaan beliau. padahal, apa sih yang tidak beliau berikan untuk saya?

padahal, yang beliau lakukan hanyalah tidak membelikan mainan untuk saya. karena beliau tahu, saya akan menjadi jarang belajar jika dibelikan mainan itu. tapi apa balasan saya? saya memukul-mukul perutnya, meninju-ninjunya.

ketika saya menginginkan sebuah handphone, beliau menolaknya dengan keras. dengan alasan takut saya tidak bisa menjaganya dan bertanggung jawab. dan setelah mendengar itu, saya langsung membanting pintu kamar di hadapannya.

ketika saya pulang sore hari, beliau sudah menunggu di depan rumah. betapa raut muka khawatir terbias di wajahnya. tapi yang saya lakukan adalah membentaknya saat beliau menanyakan ke mana saja saya seharian. "bukan urusan ibu!" begitu teriak saya.

saat suara lembutnya membangunkan saya di pagi hari, menyuruh saya menunaikan sholat subuh, yang saya lakukan adalah kembali menarik selimut, sambil dengan gusar berkata, "ibu ngeganggu banget sih. semalam aku kan tidur malam, aku masih capek!".

dan ketika beliau berkata, "tan, cuci piringnya. tangan ibu keseleo." saya diam sambil merengut. lalu saya berkata, "besok aku banyak tugas bu. belum selesai. aku mau ngerjain tugas dulu."

karena inilah, saya tak mau dan tak akan pernah siap jika dia menutup matanya, jika badannya tak hangat lagi, jika pelukannya terasa membekukan. saya tak siap jika saya tak bisa melihat senyumannya lagi, tak dibelai oleh telapak tangannya lagi, tak dinasihati olehnya lagi.

sungguh, saya sayang padamu ibu. walau perilaku saya sehari-hari menunjukkan kenyataan sebaliknya. jangan ambil beliau sampai saya siap, ya Allah.
*sumber gambar: http://endjivanhouten.files.wordpress.com/2007/09/terlelap.jpg

2 komentar:

  1. waa. blognya bgus bgt.
    huhu.
    eh, bneran km prnh ngomong kyk gt ke ibu km?

    BalasHapus
  2. iya nih. nyesel juga lama-lama. yah doakan saja supaya saya bisa berbuat lebih baik sama beliau :)

    BalasHapus