19 Februari 2009

Terjebak

Hari ini, saya dan kakak saya, agaknya punya sedikit waktu luang untuk melepas penat. Dan kebetulan, kakak saya punya voucher tiket gratis untuk nonton film di jaringan bioskop 21. Karena masa berlakunya sebentar lagi habis, saya dan kakak saya berusaha memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Begitu browsing ke www.21cineplex.com uh, saya kaget. Padahal saya harap Valkryie (bener ga nulisnya?) sudah muncul di Empire. Tapi apa boleh buat, dan apa mau dikata, demi memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut, pilihan jatuh pada Asmara Dua Diana.


Dan, sumpah saya kecewa. Saya menyesal telah memaksa untuk memanfaatkan voucher tiket gratis tersebut. Kenapa?



Satu, film ini tidak cocok untuk umur saya (secara hukum, saya berumur 17 tahun baru nanti Desember). Tapi umur tidak selalu menjadi patokan kan? Nah, setidaknya saya masih bisa memilah milah dan mengerti, apakah film ini cocok untuk saya.

Dua, terlalu vulgar. Mungkin amanatnya mulia, "Tidak berselingkuh." Tapi, hal ini disampaikan terlalu vulgar, dan menyeret film ini ke dalam jenis komedi seks yang sedang nge-trend.

Tiga, film ini dibuat seolah-olah menunjukkan kekonyolan seorang Asmara. Tapi, buat saya ini tidak lucu. Dilebih-lebihkan, dan dipaksa. Jadi, kadang-kadang saya cuma bisa ketawa garing hahaha datar, karena dalam pikiran saya berkecamuk "Apa sih yang lucu? Kenapa hal kaya gini aja dianggap lucu?" dsb.

Dan akhirnya saya baru menyadari. Indonesia tengah dilanda fenomena komedi seks (dan pembuat film menyamarkannya sebagai sex education. hey, sex education itu cukup dengan pelajaran biologi di sekolah tau!). Parahnya, si komedi ini tidak dilengkapi filter yang cukup, sehingga anak-anak di bawah umur seperti saya bisa masuk dengan SANGAT mudah. Dan mungkin ini berujung pada meningkatnya kejahatan seksual.

Buat saya sendiri, wacana "Dunia Perfilman Indonesia Semakin Maju" itu cuma sebatas wacana saja. Kenyataannya? Mengalami kemunduran yang signifikan. Tahun kemarin cukup bagus dengan adanya Laskar Pelangi. Tak bisakah sutradara negeri kita berpikir secerdas Riri Riza dan Mira Lesmana? Film mereka bagus, punya amanat kuat yang tersampaikan, dan menonjolkan ciri khas Indonesia. Bahkan, film ini juga berhasil dibawa ke berbagai ajang festival internasional, seperti di Berlin, dan banyak lagi.

Jika ingin menyampaikan tema sex education, angkatlah suatu cerita yang tak terjerumus ke dalam komedi seks. Contohnya, film Pertaruhan. Saya sebenarnya, belum pernah nonton film ini, karena katanya benar-benar untuk dewasa (memangnya Asmara Dua Diana bukan dewasa, ya? Hehe). Tapi, kalau saya baca beberapa review tentang film ini, sepertinya cukup memberikan gambaran bahwa walau bertema tentang seks, tapi film ini tidak terjerumus untuk menjadikan seks sebagai komoditas utama pada filmnya. Tapi, (sekali lagi menurut review yang saya baca) lebih condong ke arah pengorekan kebudayaan.

Jadi, buat para produser dan sutradara Indonesia, kalau mau bikin film, buatlah film yang benar benar akan berguna dan memiliki nilai lebih. Jangan film yang semata-mata membangkitkan gairah dengan menampilkan artis yang katanya papan atas tapi rela mengumbar tubuhnya dalam suatu adegan film. Kenyataan sudah membuktikan kan, kalau suatu film dianggap bagus dan mendidik, orang-orang akan berduyun-duyun menontonnya, dan keuntungan yang direguk pun tak akan sedikit. Ini feedback buat para pembuat filmnya. Makanya, film-film Indonesia jangan dibajak ya. Tapi kalo film luar silakan saja :)

Makanya, sekarang saya lebih suka untuk tidak menonton film Indonesia kalau tidak benar-benar bagus. Lebih baik nonton film luar saja.

14 Februari 2009

dunia lebih baik

ok, setelah lama saya tidak posting blog, saya akhirnya bisa posting juga. sebenarnya bukan karena saya tidak bisa connect ke internet atau sibuk sih, tapi lebih karena saat saya connect internet saya malah main pet society di facebook. hehe.

saya pernah mikir, andai saja dunia itu semudah pet society. tinggal mengunjungi rumah orang, dan dapat uang. tinggal lari-lari di stadium, dapat uang. dan tinggal peluk, cium, selesai. temenan. semudah itu.

yang berbeda dengan kehidupan asli, realita, adalah melibatkan pikiran dan perasaan. kadang, karena hal ini, dunia terlihat lebih rumit, tapi terkadang menjadi lebih indah karena kerumitannya.

sesekali, saya pernah merindukan kehidupan masa kecil saya yang sederhana dan biasa. tak ada tekanan yang kuat dari lingkungan luar. segalanya seperti apa yang saya mau, yang saya inginkan. tetapi dengan bodohnya, dahulu saya ingin cepat cepat menjadi seseorang yang dewasa, yang punya pemikiran matang. tapi, ketika saya sudah menjadi dewasa, saya tak tahan akan tekanan yang ada, masalah yang banyak. lalu, bagaimana?

saya menjalaninya dengan terpaksa, dan terkadang dengan sukarela (walaupun lebih banyak terpaksanya). dan saya sadar, jika saya tetap menggerutu dengan keadaan yang saya telah terima sekarang ini, saya terus akan merasa menyesal dan menggerutu. karena yang saya tahu, keaadaan tak selalu mengasihani kita. dia hanya mengasihani kita jika kita memang patut dibantu. jika kita tidak dikasihani keadaan, berarti sebenarnya kita masih mampu.

tapi sebaiknya, jangan mau terus dikasihani keadaan. apa tidak malu dikasihani terus?

karena saya bukan anak kecil lagi yang hanya bisa merengek untuk mendapatkan sesuatu. saya harus bisa menjadi seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain, tidak hanya dipengaruhi terus dan ditindas dengan pengaruhnya. saya ingin menjadi seseorang yang mampu membuat orang lain mempercayai saya, tidak terus menerus dianggap tidak dapat dipercaya.

semoga saya menjadi seseorang yang bisa mengubah dunia ini, menjadi lebih baik dari sebelumnya.