26 September 2009

Simpul Kebersamaan di Sepasang Sandal Jepit

Keluarga Cemara. Masih ingat acara satu ini? Hidup sebagai sebuah keluarga (sangat) sederhana, tapi mengajarkan kita betapa pentingnya kehangatan dalam sebuah keluarga.
Sayang, kehangatan dalam keluargaku hanya bersifat insidental, kadang-kadang saja. Selalu saja ada kesibukan yang memberi sekat-sekat tak terlihat di antara kami. Saat hari biasa, tak satupun waktu tersisa buat kami untuk berkumpul di meja makan. Sekadar ngobrol-ngobrol ringan di ruang tengah sambil melihat tabung kaca bergerak pun jarang.

Malah, saat semua bisa berkumpul, yang ada hanyalah berantem. Rebutan ini-itu. Cakar sana-sini. Tinju atas-bawah. Tampar kiri-kanan. Ya, walaupun tidak seberlebihan itu, tapi tetap saja mengurangi kualitas berkumpul itu, kan?

Idul Fitri kali ini kuharap bisa menjadi momen luar biasa yang menghangatkan kami, lagi.
Karena itu, saat mudik ke Kota Pelajar, Yogyakarta, aku memaksa untuk pergi ke suatu tempat bersama-sama. Setelah ribut sana-sini, akhirnya diputuskan Malioboro dan Alun-alun Yogya-lah yang akan kami kunjungi.

Di Malioboro, kepala rasanya tambah mendidih, karena turis mancanegara dan domestik memenuhi tiap lika-liku sudut-sudut jalan yang terkenal ini. Penuh! Alih-alih belanja dan menikmati suasana sore di sana, kami segera pergi ke Alun-alun Yogya yang agak lengang.
Dengan berbekal kamera digital, aku pun menikmati semilir angin sore itu dengan mengambil beberapa foto, berbagai pose, dengan adik dan kakakku. Rasanya menyenangkan sekali! Seolah-olah kami tiba-tiba akrab setelah sekian lama hanya gontok-gontokan melulu.

Lelah tak dapat ditolak. Dengan meleseh di tikar, kami memesan Wedang Ronde khas Yogya yang rasanya, yumm, jangan ditanya. Enak! Sambil menyeruput Wedang Ronde, kami menyaksikan matahari menggelincirkan diri ke ufuk barat sana.

Adzan Maghrib berkumandang ketika semua tengah bersantai menikmati Wedang Ronde di lembayung keemasan senja itu. Bergegas kutelan bola-bola ketan dan air jahe yang tersisa. Hangat masih terasa di telisip tenggorokan saat aku dan keluargaku berjalan ke Masjd Gede Yogyakarta. Kulihat kanan kiri, ternyata indah benar masjidnya! Dengan arsitektur Jawa Kuna dan lantai marmer yang sejuk, aku bengong, dan berkata dalam hati: Wah, ada ya, masjid seindah ini?

Setelah kutunaikan sholat Maghrib hari itu, aku melangkah keluar. Kucari sandal jepitku. Loh, kok tidak ada? Kucari lagi, sambil menajamkan pandanganku. Siapa tahu, sandalku keselip. Wah, tak ada! Jangan-jangan hilang lagi! Aku panik sendiri. Kebat-kebit jantungku. Menetes-netes keringatku. Kusenggol kakakku dengan wajah memohon, minta dicarikan Si Sandal Kesayangan milikku itu (bahkan saking sayangnya, kunamai dia Si Hitam, karena warnanya hitam). Mukanya enggan, tapi dia cari juga. Dan masih tak ada. Makin paniklah aku, makin kebat-kebit jantungku, dan makin banyak tetesan keringatku. Sial! pikirku. Tak akan kumaafkan jika ada orang yang mencuri Si Hitam!

Memang sial rupanya. Bukan keselip, tapi mungkin, bukan, tapi MEMANG ada yang mencurinya! Aura kemarahanku sudah serupa membaranya api neraka, apa boleh buat, karena ini pengalaman pertamaku kecurian sandal di masjid, dan tak tanggung-tanggung, Si Hitam yang dicurinya pula!

Setelah mengubah setting matanya menjadi X-ray, kakakku menemukan seorang mbak-mbak yang memakai sandal yang mirip sekali dengan Si Hitam.
“Mbak! Mbak! Mbak! Tunggu!” kejar kakakku. Sadar ada yang memanggilnya, Si Mbak itu grasa-grusu (cepat-cepat/ buru-buru) memperlebar dan mempercepat langkahnya.
“Mbak! Tunggu!” suara kakakku makin melengking. Dan karena dia seorang Sanguinis yang tak sabaran, dia tarik tangan Si Mbak itu. Terkaget-kagetlah Si Mbak itu. Mukanya pucat seperti bengkoang.

“Mbak. Ini benar sandal milik Mbak?” tanya kakakku lugas, keras, tepat, cepat, akurat, tegas. Ciutlah hati Si Mbak ini ditantang pribadi blak-blakan kakakku.

“Iya!” jawab Si Mbak itu, yang terdengar dikuat-kuatkan. Wah, Mbak ini bohong ya… terkekeh aku dalam hati.

“Benar, Mbak? Soalnya saya juga punya sandal yang SAMA PERSIS!” begitu kakakku men-skakmat-nya. Dalam hati, aku terkencing-kencing tertawa saking tak kuatnya!

“I, iya! Masak saya bohong!” ucapnya. Lalu dia berbalik dan pergi lagi.

Eh, sial banget nih orang! Sudah ketahuan dia yang mencuri, masih berani kabur lagi!

Kakakku mengejarnya sekali lagi. Menarik tangannya sekali lagi. Dan tiba-tiba Ibunya muncul di sampingnya.

“Ada apa, ya, dengan anak saya?” begitu tanya ibu itu. Diksinya mungkin sopan dan lembut. Tapi lihat orangnya, dia mengatakannya sambil mengeluarkan bisa dan menjulurkan lidahnya laksana ular kobra.

“Ini, Bu. Mbak ini memakai sandal yang SAMA PERSIS dengan milik saya.” Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi. Bisa dibalas bisa, Lidah ular dibalas lidah ular. Yang terlihat dari tempatku berdiri adalah ular lagi silat-silatan, seperti salah satu sinetron di televisi swasta kita (stasiun televisi apa ya... hehe).

“Oh, sandal anakku ini memang DARI SANANYA seperti ini.”

“Benar, Bu? Soalnya, sandal ini SAMA PERSIS seperti milik saya.”

“Oh, jadi anda menuduh anak saya pencuri, begitu?”

Bukannya memang pencuri ya, Bu? Wong saya kenal persis tiap lekukan dan goresan di sandal itu!

“Saya hanya mencari sandal saya saja, Bu. Sandal saya SAMA PERSIS dengan yang dipakai Mbak ini!”

“Nah, ini bukan sandal yang kamu cari, kalau begitu.” Lalu ibu dan anaknya itu pergi begitu saja. Lelah, karena memang pada dasarnya pencuri itu tak akan ada yang mengaku, kakakku kembali ke tempatku.

“Ikhlaskan, masih banyak kok sandal lain.”

“Iya, iya.”

“Aku ada sandal cadangan di mobil. Kuambil dulu ya.”

“Ya.”

Kakakku pun kembali ke Alun-alun untuk mengambil sandal. Sementara aku bengong di teras masjid. Kudengar sayup-sayup suara Si Hitam menjerit pedih. 

Ah, maafkan aku Hitam. Karena membiarkanmu diinjak oleh orang yang tak berhak memilikimu.

Belum beberapa lama berselang, ayahku datang. Beliau ngedumel karena aku lama sekali, padahal ditunggu di depan masjid. Setelah kujelaskan, beliau akhirnya manggut-manggut juga. Ditawarkanlah punggungnya.

“Hah? Digendong?” tanyaku kaget.

“Iya, biar waktunya tak menghabiskan waktu. Ayo cepat, denok!” begitu ayahku bilang.

Mau tak mau, aku digendong juga. Sementara adikku, si laki-laki yang kepuberannya sering kujadikan bahan olok-olok, kini gantian mengolok-olokku. Cekikikan dia sampai puas. Awas! Lihat saja nanti aku balas!

Ternyata bukan hanya adikku yang menertawakanku. Orang-orang di sekitarku juga.

Woalah, nok. Wis gedhe kok masih digendong tho? (Ya ampun, nak. Sudah besar kok masih digendong sih?)” komentar mbah-mbah yang lewat.

Tak gendong, ke mana-mana. Tak gendong ke mana-mana. Enak tho, mantep tho…,” senandung penjual pernak-pernik kerajinan di depan masjid yang bergaya rasta.

Mukaku merah! Semerah apel Washington yang dijual di supermarket. Apalagi ada yang bersenandung lagu Mbah Surip segala lagi. Aku mulai berontak kutendang paha ayahku minta turun.

Ayahku pun menurunkanku. Tapi, kini aku terpaksa berjalan dengan bertelanjang kaki, alias nyeker. Orang-orang masih melihatku. Setidaknya, tidak semalu sebelumnya. Aduh, kakakku kok lama sekali ya membawakan sepasang sandal cadangan saja.

Di depan gapura Masjid, seseorang berbicara nyeplos, “Lihat! Yang tadi kehilangan sandalnya sekarang nyeker!” Kulihat siapa yang berbicara, rupa-rupanya Si Ibu Ular Berbisa dan Si Mbak Pencuri!

Kurang ajar nih orang. Sudah mencuri, malah sempat mengolok-olok orang yang dicurinya pula!

Ingin kuhajar duo maut ibu dan anak itu. Tapi, adikku, si perjaka yang baru puber, menahanku. “Nih, pakai sandalku saja,” begitu katanya.

“Benar, nih? Nanti kamu nyeker loh.”

“Ah, biarin. Aku kan lelaki.”

Oalah, aku baru sadar. Adikku ternyata baik juga, hihi. Kupakai sandalnya, dan berjalan menuju tempat mobil keluargaku diparkir. Di sana, kulihat kakakku sedang diinterogasi oleh ibuku tentang hal yang terjadi. Hm, pantas lama!

Setelah itu, demi menghiburku yang kehilangan Si Hitam, sandal kesayangan sehidup semati yang sudah kupakai untuk menjelajah berbagai tempat di muka bumi, kakak dan adikku membeli beberapa kotak kembang api. Kami sulut sumbunya, dan kami nikmati pendar-pendar indah langit Yogya di malam itu.

Ketika mobil yang kutumpangi membelah jalur selatan, kembali ke naungan Kota Priangan, aku berpikir bahwa mungkin, jika aku tak kehilangan Si Hitam senja kala itu, aku tak akan merasakan keluargaku sedekat itu denganku. Selama ini aku merasa ditinggalkan karena kesibukan mereka. Tanpa sengaja kutatap gurat-guratan kapas putih serupa Si Hitam di lukisan maestro langit luas siang itu, dan kuucapkan rasa terima kasih tulusku untuk Si Hitam. Terima kasih, mungkin kita bisa berjumpa di lain kesempatan, Hitam.

14 September 2009

Sungguh, Aku Merindunya

Gila. Bilang aku gila.

Apakah akselerasi waktu bisa berlangsung seperti ini? Sampai di awal Bulan Ramadhan saja buatku merupakan suatu keterdamparan, dan hingga di akhir pun masih suatu keterdamparan.

Oh, inikah rasanya dipermainkan oleh waktu? Ingin aku menaklukkannya, tapi sampai saat ini pun masih tak bisa. Bagaimana caranya?

Tapi sayang sekali, permainan waktu tak mempan untuk perasaan rinduku ini.

Rindu ini pada kota kecil di selatan sana, selalu muncul, tanpa peduli bahwa aku merasa waktu berlalu begitu cepatnya. Bantul dan Yogya, dua kota tanpa ampun selalu muncul di pikiranku.

Dan Idul Fitri kali ini tak akan aku lewatkan. Akan kunikmati tiap tarikan nafasku di sana, seminggu lagi. Tunggulah aku, biarkan aku puaskan semua kerinduan yang telah kubendung selama ini.

Selamat jalan untuk teman-teman yang mudik. Hati-hati, ngebut benjut :D


12 September 2009

Terbang!

Kata siapa terbang harus menggunakan sayap?

Dulu, paradigma "untuk terbang itu butuh sayap" begitu mendarahdagingnya, sebelum ditemukan apa yang kini disebut dengan "pesawat". Orang-orang tak percaya, bagaimana paradigma tersebut begitu mudahnya dibalik -walau tak semudah membalik telapak tangan- oleh Wright bersaudara.

Dan saat ini: burung besi pun dapat membelah langit luas di tengah hamparan samudera!

Seperti hal yang kita semua akrabi di era sekarang, bagaimana blog, microblog, dan network site bisa mempengaruhi tiap tarikan nafas di bumi ini.

Siapa yang menyangka blog bisa sepopuler sekarang? Dengan umurnya yang 10 tahun, tidak sedikit dunia yang sudah didatarkannya.

Bagaimana bisa pola pikir manusia menjangkau masa depan?

Kata Pak MT yang acaranya selalu dinanti di layar kaca rumah keluargaku tiap Minggu, posisikan diri kita seolah-olah kita menjadi hal yang kita inginkan, dan dengan sendirinya kita mendapatkan hal yang diinginkan.

Masalahnya adalah: bagaimana bisa memosisikan diri menjadi hal yang diinginkan, sementara aku sendiri tak tahu apa yang kuinginkan?

Dan terima kasih temanku, pertemuan kemarin menyadarkan aku akan sesuatu hal:

Terlalu banyak hal yang kuinginkan!

Dan mumpung masih hangat-hangat suam-suam kuku, aku coba tulis. 100, bahkan lebih. Yes! Liburan kali ini aku bisa mereset pola pikirku.

Dan pada saatnya, aku akan terbang!

N. B. Terima kasih untuk Media Ide, karena posting sebelumnya menang kompetisi E-Narcism. Alhamdulillah! Terima kasih juga untuk Mbak Ratna, sebagai sosok yang saya ulas. Ratna juga membahasnya di sini. Hidup Ipod Shuffle! Hehe.