30 Oktober 2009

"Namaku Janu Ismadi. Anda?"

Fitrop, alias Fitri Tropika, mojang cantik asal Bandung ini, pernah menyebutkan nama Janu Ismadi di salah satu scene "Are You Smarter Than A Fifth Grader?" garapan sebuah TV swasta.

Di benak kita, timbul satu pernyataan dan pertanyaan: "Kalau Fitrop sih saya juga sudah tahu, tapi siapa itu Janu Ismadi? Siapa? Siapa?"

Kalau belum tahu, mari saya perkenalkan dengan bangga dan senyum lebar. Janu Ismadi, adalah guru putih merah saya, serupa pula Fitrop. Jangan tanya saya bagaimana Fitrop saat EsDe, karena saya beda generasi dengannya.

Yang lebih hebat itu ya, guruku itu. Janu Ismadi. Yang bisa mendidik orang sehebat aku dan Fitrop, hehe.

Hal yang paling kuingat adalah saat Pak Janu mengantarkanku ke Riau untuk mengikuti sebuah lomba di tingkat nasional. Dengan menenteng-nenteng SLR-nya beliau berusaha mengambil potret setiap kegiatanku di sana. Sedangkan aku? Aku benci dengan blitz kamera :)

Yang sangat kukagumi adalah tanggung jawab beliau. Bagaimana beliau bertindak sebagai guru, prinsipnya, cara berpikirnya yang melawan mainstream. Bagaimana beliau datang ke kelas dan mengajar beralaskan sandal, dengan janggut putihnya yang jarang dicukur, dan gaya bicaranya yang tak dibuat-buat. Pertanyaan seaneh apapun dijawabnya dengan sudut pandang ilmiah. Cara mengajarnya pun nyeleneh, praktiknya aneh-aneh.

Bayangkan, dengan otak anak umur 11 tahun, beliau mempraktikkan tentang fotosintesis. Nama praktikumnya apa ya, saya lupa. Jadi kita menutup sebagian daun dengan alumunium foil, lalu dibiarkan. Kemudian direbus dengan alkohol, melunturlah klorofilnya. Lalu crot crot, disemprot yodium tintur, dan ketahuan mana yang mengandung zat gula dan tidak.

Percayalah, cara memikat anak putih merah adalah dengan praktikum yang ribet. Dan semua anak terkesima, penasaran mengapa ini jadi itu dan itu jadi ini. Dan ketertarikan terhadap sains akan meningkat.

Hal lainnya, beliau adalah guru IPA. Tapi beliau dengan setia mendampingi saya yang lebih memilih matematika. Saya tahu, beliau kecewa karenanya. Tapi toh, beliau tetap setia mengantarkan saya dari rumah ke asrama karantina, atau ke pemusatan latihan. Kadang, bahkan rela nambahin kantong saya hanya agar muka saya tak masam lagi, karena belum disuplai duit hari itu. Dasar anak kecil, hehe.

Beliau selalu menjadi yang terbaik.

Bahkan setelah umurku putih abu seperti ini. Di sini dan jenjang sebelumnya, tak ada yang semendukung Pak Janu.

Pak Janu, kapan aku bisa bertemu lagi?

16 Oktober 2009

Buah Tangan dari Minang

Belum juga dua minggu berlalu dari hari luluh lantaknya Padang, ayahku sudah terbang ke sana.

Aku tanya: kenapa harus buru-buru?

Beliau menjawabnya dengan tegas: tak ada pekerjaan yang boleh ditunda-tunda.

Dedikasinya memang luar biasa. Akhirnya, Minggu (12/10) kemarin beliau dengan kereta Parahyangan menuju Cengkareng.

Malam itu pun SMS tiba.
Bapak sudah sampai Padang. Mau oleh-oleh apa, dek?

Baru juga sampai, masa sudah nanya mau oleh-oleh sih :D

Untunglah sampai juga beliau di sana. Tetakutku hilang sedikit. Sejak betapa banyaknya kecelakaan pesawat terbang menghiasi layar kaca di ruang keluargaku, aku agak was-was. Entahlah.

***

Handphoneku bergetar-getar siang itu. Padahal, hampir ketiduran aku di angkot Cimahi-St. Hall. Sebutir peluh mengalir dari ubun-ubunku yang panas. Sepertinya akan hujan.

Dek, bapak di hotel ambacang loh. Bau bangkainya menyengat!

Hotel Ambacang... Melayang pikiranku pada sebuah acara berita di televisi di mana mbak-mbaknya dengan semangat mengabarkan kondisi terbaru di sana.

Dan bau bangkai, mungkin juga anyir darah...

***

Kalaulah aku yang jadi mereka, mungkin sudah jerit-jerit aku dibuatnya. Sedih, dan mungkin marah pada Tuhan. Teriak: kenapa harus saya Tuhan? Padahal banyak orang lain yang lebih pantas dapat cobaan ini!

"Tidak akan suatu kaum diberi cobaan melainkan sesuai dengan kemampuan kaum tersebut."

Tuhan benar. Buktinya, saat pulang dari sana, ayahku bawa keripik balado tuh :D

Maksudnya, berarti saudara kita di Minang sudah mulai berbenah. Hidup itu harus maju. Dan mereka sudah bekerja lagi (baca: menjual keripik balado, hehe).

Semoga saja pedasnya keripik balado yang kumakan sekarang sama dengan semangat mereka yang mulai menjalar-jalar. Amin.

10 Oktober 2009

Ngidam Kuliah di MIT


Duh aduh, betapa gundahnya perasaanku belakangan ini. Makan tak enak, tidur tak nyenyak (haha). Hanya karena satu hal ini, yaitu iri.

Iya, aku iri sekali dengan temanku, Karima namanya. Tiga bulan terakhir ini, dia baru pindah ke negerinya Queen Elizabeth itu. Cerita-cerita di blognya benar-benar luar biasa! Aku ingin seperti dia, bisa ke luar negeri, menuntut ilmu di sana, bertemu teman-teman baru, merasakan suasana baru, dan banyak hal baru yang pasti menyenangkan lainnya!

Aku jadi teringat target besar yang membuatku tertantang untuk mewujudkannya. Aku ingin kuliah di MIT, di Amerika sana! Dan tak tanggung-tanggung, aku ingin mendapat full scholarship, tuition free. Impian yang terlalu menantang sebenarnya, karena sampai saat ini aku belum tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Ehm, sebenarnya ada beberapa cara sih yang mulai kupikirkan. Tapi, biayanya tak sedikit, dan usaha yang tak mudah juga. Yaitu dengan ikut IGCSE A-level, yang sertifikatnya bisa diterima di seluruh universitas di dunia.. Hal yang perlu diketahui, ada 3 sertifikat: O, A, dan AS. Sertifikat O-level itu setingkat SMP (Junior High School), dan A-level itu setingkat SMA. Jika dari O-level ingin masuk universitas, maka kita harus ambil college/pre-uni dulu, atau mendapatkan sertifikat A-level.

Dan beberapa hari yang lalu, presentasi dari Temasek di sekolahku membukakanku pada beberapa opsi lainnya, seperti 3 jalan yang bisa kutempuh di Singapura, setelah lulus SMA di Indonesia, mendapatkan sertifikat O-level (tapi kan aku inginnya di MIT, huhu), di antaranya mengambil politeknik di Singapura dan college di Singapura (nanti bisa ke universitas di Amerika atau Eropa).

Aku jadi ingat saat menghadiri pameran pendidikan internasional beberapa waktu lalu. Setelah aku tanya-tanya, masuk MIT buat orang lokal sana yang Englishnya yahud dan kemampuannya bintang lima saja sudah susah. Apalagi untuk orang asing yang Englishnya masih belepotan sana sini. Tapi, semua itu sebenarnya bisa dikejar kok, ya kan? :D

Atau opsi lainnya: beasiswa S2 di luar negeri itu jauh lebih banyak daripada beasiswa S1. Yang berarti, aku bisa kuliah dulu di Indonesia, dan S2-nya di luar negeri! Lagipula, banyak seniorku yang sudah membuktikan kesuksesan mereka dengan jalan ini.

Kalau ditanya mengapa aku ingin sekali kuliah ke luar negeri, jawabannya mudah saja. Aku terinspirasi tokoh fiktif So Toma di komik Q.E.D (Quod Erat Demonstrandum). Kata-kata “Quod Erat Demonstrandum” sendiri mengingatkanku pada kepuasan setelah membuktikan suatu teorema matematika. Luar biasa!

Dan semua pasti ada jalannya. Man jadda wajada.

*gambar diambil dari: chandrakusuma.com

Update:

Seminggu lalu, 14 Maret 2012 (or Pi Day, if you like to call it like that), pengumuman penerimaan mahasiswa baru untuk MiT 2016. Jangan tanya seberapa pasrahnya aku saat itu.

Alhamdulillah, Allah mengizinkan aku untuk menghidupi mimpiku.


"Allah selalu menjawab doa hamba-hamba-Nya yang percaya."