26 November 2009

"Ketika Tasbih Bercinta" by Provoke


Lembar-lembar majalah gratis dengan bentuk yang catchy itu sungguh menarik hati. Provoke namanya. Edisi perdananya sukses dilumat bulat-bulat oleh kami sekelas.

Kenalkan, kami siswa/i yahud Kota Bandung. Tampan, cantik, menawan. Otak kami dijejali ilmu sains dan berlembar-lembar rumus. Kami bukan tak pernah menyesali masuk kelas IPA, tapi kami selalu menyesalinya.

Seperti pagi itu. Matahari mendadak genit dan dengan centil sembunyi di balik gorden hijau kelasku. Dengan ehem, titel SBI (bukan sekolah bertaraf internasional, tapi sekolah bertarif internasional), dan sertifikat ISO yang telah dipegang mantap, Air Conditioner pun kami nyalakan. Oke, AC untuk sekolah negeri di Bandung itu hal yang jarang.

Kegiatan kami pagi itu adalah menyelesaikan sisa-sisa PR yang belum terkerjakan, dan memang belum dikerjakan. "Apalah arti sebuah PR? Yang penting ini nih!" kata salah satu temanku sambil menunjuk-nunjuk kepalanya. Kejar mengejar mencari jawaban sudah biasa. Interkom yang mengumandangkan firman-Nya pun tak digubris.

Jika sudah begitu, jajaran atas sekolah akan datang. CCTV yang masih belum diselimuti debu itu menunjukkan taringnya. Dan setelah itu, kami tetap tak peduli omongan siapapun itu.

Dilanjutkan dengan pola seperti ini: tiap hari, min. ada 2 jam pelajaran kosong. Ada tugas pun kami tak peduli. Yang penting kami ada waktu rehat sejenak.

Giliran infocus yang kami manfaatkan. Dengan laptop dan speaker pinjaman kelas sebelah, kami menonton film ramai-ramai. Tak lupa, karpet pun digelar panjang, buat tidur-tiduran sambil berdecak-decak kagum melihat dvd bajakan yang stoknya ada terus.

Jika bel yang suaranya mirip theme song Barney's bergaung di seantero sekolah, berarti istirahat tiba. Berbondong-bondonglah ke kantin, dan karpet tadi langsung kami gunakan untuk sholat berjamaah.

Tak lupa, jika jam kosongnya maraton, temanku yang ngekos balik ke kosannya dan mengambil stick PS untuk bermain PES2010 di laptop. Atau kartu remi untuk main sulap-sulapan dan black jack, di mana yang kalah harus membuka satu persatu bajunya hingga-.

Kadang titel SBI hanya sekedar titel. Di mana orang-orang yang studi banding melihat kami seperti ikan dalam akuarium. Terlihat wah, tapi di dalamnya? Jangan tanya. Aku sendiri enggan menjawabnya.

Kesimpulannya? Kami serupa "Ketika Cinta Bertasbih" yang menyimpang, menjadi "Ketika Tasbih Bercinta". Justru meninggalkan kesan luar biasa di sela-selanya.

Senyum penuh, tampak gigi gingsul, dan wajah merah merona, kami katakan: inilah masa remaja yang akan kami kenang nanti.

07 November 2009

Twitter dan Kabinet Baru

Sabtu pagi ini tak habis-habisnya membuatku mengucapkan kalimat syukur berulang kali pada-Nya. Indah, cerah, santai, dan kesempatan masih hidup. Apalagi yang bisa lebih dari itu?

Kesempatan akhirnya datang juga. Si Komputer Jinjing sedang tak dijajah oleh sulung keluargaku. Biasanya, dengan alasan meleber ke mana-mana, dia melotot mantengin Si Kojing buat melihat live feed facebooknya yang nambah tiap detik berjam-jam, sore hingg
a malam, pagi hingga siang.

Aah, betapa tak terhingga nikmat yang kurasa, kalau begitu.

Kugelontorkan susu fullcream terakhir ke rongga kerongkonganku. Kemudian melihat notes bulukanku, tempat menulis tugas, jadwal, hingga draft-draft ide liar yang terlontar entah di tengah perjalanan pulang sekolah, di tengah jam pelajaran, hingga saat-saat tak terduga.

Lima jendela yang wajib kubuka: Google Chrome, Ms. Word, Ms. Power Point, Winamp dan
Tweet Deck; siap menemaniku mengerjakan tugas tanda sayang dari Pak Guru dan Bu Guru di sekolah.

Turut, turut. Begitu bunyinya Tweet Deck saat ada yang twit yang muncul di timelineku. Dan tebak siapa, ternyata ada twit dari Pak Tifatul Sembiring! Seperti biasa, pantun mengalir di selap-selip twitnya.

Meletup-letuplah pikiran saya. Andai, semua menteri punya Twitter, apakah aspirasi kita pada para pemangku kekuasaan lebih mudah tercapai? Entahlah. Tapi, yang jelas, microblog makin menyempitkan jarak antara kita semua, termasuk saya dan anda, atau anda dan teman anda, atau saya dan teman saya.

Melayanglah pikiran saya, seperti balon komik, andai saja Pak M. Nuh punya Twitter juga. Banyak yang ingin kukatakan pada beliau. Remeh temeh yang bisa jadi besar juga.

Maklum, saya selalu ingin protes bagaimana pendidikan yang saya terima di sekolah tak sesuai dengan yang diharapkan. Bagaimana semua anak dididik korupsi sejak dini, kalau boso Jowonya nracak (mata lirak lirik, contek menyontek saat ujian). Bagaimana inflasi pendidikan bisa sampai 20%/tahun. Bagaimana tak seimbangnya harga yang dikeluarkan dengan pelayanan yang diterima.

Belum soal klasik: sekolah roboh, buku mahal, dan lainnya.

Pak Nuh pasti lebih tahu. Selamat bertugas untuk semua menteri baru. Semoga mimpi Indonesia Lebih Baik mampu diwujudkan melalui tangan terampil anda. Saya titip kepercayaan.