27 Desember 2010

Feliz Navidad! (Karena Gambar Berbicara Lebih Banyak)

Ini adalah Natal pertama untukku. Kalau di Indonesia, biasanya Natal hanya hari libur, tak lebih, tak kurang. Tapi sekarang, euforia orang di sekitarku membuatku bertanya-tanya juga: Natal itu seperti apa sih?


Rumah tempatku nebeng, ha-ha-ha.


Pohon natal!


Tumpukan hadiah, sebelum dibagikan. Bagi-bagi hadiahnya tanggal 24 loh.


Crane di hari Natal. Tak ada bedanya, tetap sepi, menyayat hati.
Selama 30 menit jalan-jalan dengan temanku, hanya ketemu 5 mobil.


Crane Public Schools -di hari Natal. Aku suka dekorasi kacanya!


Crane High School. Sekolahnya besar! Padahal populasinya jauh lebih kecil
dibandingkan Kota Bandung, misalnya.


Menunggu di mall. Cari hadiah Natal.


Kotak pos dengan hiasan: "Christmas"


Dan yang terakhir: tradisi Natal orang Belanda (dikasih tahu Lucien, sih).
Tanggal 5/6 Desember, orang-orang bikin coklat yang berbentuk huruf awal nama panggilan.
Lalu kita nyanyi lagu (dalam Bahasa Belanda, aku ngga tau artinya). Kemudian, saat pagi-pagi
bangun, kita akan menemukan coklat di atas sepatu kita! Ya, Sinterklasnya bagi-bagi coklat,
dengan naik kuda putih, dan ditaruh di atas sepatu.

So, yeah, ini hari terakhirku di Crane. Besok aku akan terbang kembali ke Albuquerque, menghabiskan tahun baru di sana, sebelum kembali ke sekolah. Kangen UWC dan seluruh penghuninya. Feliz Navidad!

Beberapa foto: credit to Leslie, Je t'aime, merci beacoup :D

17 Desember 2010

Crane, Texas (Winter Break+Birthday)

I'm so grateful being here (actually I'm grateful being in US, going to new place, and experiencing new things). And in this winter break, I'm so lucky to spend my holiday and birthday here, in Crane, Texas. Where's Crane?


Crane is located in Texas, approximately 1 hour driving from Midland-Odessa Airport (where I arrived last week from Albuquerque, it's close to ex-US-President's house: Mr. Bush, and it's only 1 hour flight!). A small, warm, and cool city, where the people know each other from north to south, from east to west.

I'm going with Leslie from Congo, and Hayu from Ethiopia. In the first few days we were just chilling in Juan's house, enjoying enough sleep, better food (maybe when I come back to campus I can't eat foods from Sodexho anymore), and really BETTER internet. Why? Because in the last days of first semester, IT guys in my school decided to block social networking sites such as Facebook. And yes, of course, all the students in campus protested and sent mass emails in intern email network.

Oh come on, nowadays, how can you live without social networking sites?

But, it's not a big deal for me, since i still can access it via lite.facebook.com, haha. And I still can access twitter, too; since there's no significant twitter user in my campus. So, yes, it doesn't affect my virtual-life so much.

And now: I'm in Crane, Texas. Happy, although I still have to work on my self-taught essay otherwise I have to make it next semester (which is the time when everything is getting busier, and you can't even find a time for yourself!). And we didn't go to many places since we came here, to Crane.

But, I was really happy when they made a surprise party (I didn't know if it was surprise, because when I wanted to throw rubbish and I came to the kitchen, Juan's mom and Juan were putting candles on the cheese cake, and I smiled. Juan said: Pretend that you didn't know anything, haha). I missed home, sure. I really missed home, suddenly, when I had the party. I almost cried (dasar cewek galau!), but when I remembered how lucky I am, then my feeling turned better, and more thankful. In the deep of my heart, I said, "Alhamdulillah, I can reach many big dreams when I was 17."

After my stomach was full with pizzas and sodas, we watched Paranormal Activity 2 together. To be honest, I prefer Thailand's Horror Movie than PA. I was so sleepy. But after the movie was over, suddenly Juan invited us to go to a haunted-house in Crane.

YES! They (Juan and his partner in crime: his brother) successfully made me feel scary and tremble. But not as scary as what Leslie and other Juan's friends felt haha. Giant crematorium, a story of an empty house, made my birthday became perfect. Perfecto y delicioso!

We also went to basketball's game, where Crane beat Reagan. That was so cool, and it was so... em, American. With all cheerleaders, the spectators who shouted to referee, and American teenagers, it was perfect. As I usually watched on movie.

And today, we went to Crane's library, in the center of the town, just beside the school. I really like the reading room, which is so 'Texas'. I was screaming when I found something, not only My Name Is Khan (one of my favorite movies ever, and I made Hayu to believe me and checkout this DVD), but also Despicable Me and Wimpy Kid! I'm obsessed with this kid's diary, and I plan to buy the last-purple-book of him, as soon as I arrive in campus.

I also attended a christmas concert in Crane High School, and it was so cool. I was amazed by castle concert and winter concert in my school, but it was not as grand as this christmas concert. Oh, ok, the atmosphere in my school's concerts were better, though. But Hayu was sleeping during the concert, and I just surprised: "How can?" because it was really awesome.

Yes, I still have 11 days here, in Crane, Texas. And I'm waiting for more things happened. Even though I really miss both of my homes: Indonesia and UWC.

I really miss this place, UWC, a white paradise, with snow-full-on-the-ground!







Knitting a scarf is one of many things that I do during Winter Break.


Crane County Library-register number of DVDs that I checked out


Diary of A Wimpy Kid! I found it here!


And also, Despicable Me!


All stuffs that I have to do: watching movie, and doing my self-taught essay.


Reading Room in Crane Library, how comfortable!


Still Reading Room. Looks like a cowboy room, and so Texas.


Reading Room, with a REALLY good desktop computer (compared to Indonesia,
library's computer=the worst computer in whole building)


Yes, I'm 18. And the cheese cake was so delicious!


Crane-night


Crane-day

Soundtrack: PEACH-Otsuka Ai (Instrumental Version)
Thank you so much Leslie, for your photos. Je t'aime :D

05 Desember 2010

Ini Soal... Makanan!







Apalagi sih kalau bukan makanan, hal yang paling dirindukan dari rumah dan kampung halaman tercinta? Sayang, aku tak mungkin bawa terasi atau batagor. Mentok-mentok ya bawa Indomie, itu pun harus dihemat-hemat, dimakan hanya kalau rindu rumahnya akut.

Tapi, barusan saja, Jane, dari Swedia, mengetuk pintu kamar. Membawa "Sotong Satay". Sate Cumi, Bahasa Indonesianya. Dari mana? Dari negara tetangga, Malaysia. Entahlah, kenapa tiba-tiba dia bisa dapat banyak stok sate cumi.

Minggu-minggu yang lalu, Kyoko, temanku dari Jepang mampir. Bawa makanan, semacam kraker, dari Jepang. Rasanya? Lucu, haha. Pedas asin agak manis. Lumayan kan tapinya.

Tak lupa, second year-ku dari Vietnam, Vu Chau, bagi-bagi permen kelapa. Ya, permen rasa kelapa. Permennya kotak, keras, tapi enak diemut. Jadinya kangen es kelapa muda, haha.

Sebagai orang Asia yang kadang kangen makanan rumah dan nasi yang manusiawi, tak ada salahnya berbagi. Seperti kakak kelasku dari Malaysia, Rabin. Kemarin-kemarin dia mampir ke kamar, dan bilang, "Kalau mau Indomie, abang ada banyak. Mampir saja ke kamar abang."

1 detik kemudian... YES!

Sayang, tak bisa tiap hari. Tak tahu malu namanya, kalau begitu ceritanya.

Ngomong-ngomong, selamat ya Indonesia, anda berhasil mengalahkan Malaysia. Maaf, Bang Rabin, hehe.

26 November 2010

Happy Thanksgiving!

Semalam, begadang sampai jam 3 pagi, main monopoli!
Thank you so much for Kyoko, Lucien, Adilson, Vuvu, Pau, Simona, and Stefan.

Tanya: Apa yang kamu lakukan saat thanksgiving? Apa itu thanksgiving?

Thanksgiving adalah hari yang dirayakan pada Kamis minggu ke-4 Bulan November di Amerika Serikat. Pada dasarnya, hari ini merupakan hari di mana orang-orang berterima kasih, bersyukur, atas apa yang telah didapatkan. Menu yang khas adalah kalkun. Dan hari ini identik dengan makan sebanyak-banyaknya! Yummy!

Thanksgiving's dinner package. Digambar oleh Tasneem, salah satu putri guru ekonomiku
yang tinggal di sekitar kampus. Isinya dinner buat anak-anak yang diam di kampus. Apa isinya?

Isi: Herb chicken (buat ngobatin hati yang ndak bisa makan kalkun kali ya), apel pisang, soda,
dan coklat bar.

Jadi, sebenarnya, aku sudah merencanakan untuk diam di kampus selama hari Kamis-Minggu. Teman-temanku yang orang Amrik pulang ke rumahnya, menikmati kalkun bersama keluarga. Sedangkan yang non-Amrik, ada dua opsi untuk mereka: satu, ikut teman-teman Amrik ke rumahnya, dua, ke rumah getaway family mereka. Getaway family itu salah satu program sekolah, yang menghubungkan keluarga di sekitar sekolah yang ingin mencicipi pengalaman U-Dab (bertemu orang-orang dari berbagai negara dan berbagi cara pandang), dan anak-anak U-Dab sendiri yang rindu akan suasana rumah. Roomita-ku, Lucien, hari ini pergi ke getaway family-nya, dan akan pulang hari Sabtu nanti. Kamarku sepi, deh, hiks.

Nah, karena tak mungkin ada pegawai cafeteria yang kerja selama thanksgiving (karena mereka biasanya berkumpul dengan keluarga!), maka anak-anak U-Dab yang memilih tinggal di kampus dan menikmati ekstra tidur, dapat sekantong makanan seperti di atas. Not too bad.

Untungnya, aku diundang ke Tom Lamberth's house, untuk menikmati sedikit budaya Amerika saat thanksgiving. Beliau adalah faculty member yang bertanggung jawab pada bidang macam Wilderness, ekspedisi, hiking, red cross emergency, first-aid training, dan sebagainya. Orang yang luar biasa, begitu kesan pertamaku. Ramah, juga. Kadang, jika ada siswa yang berulang tahun, dia akan menyisipkan sebatang coklat besar dan kartu ucapan di mailbox siswa tersebut. Aku dan Simona beruntung diundang olehnya untuk menikmati thanksgiving's dinner.

Dari ekskulku, Sustainability CAS. Ingat cerita tanganku terluka karena mengupas apel?
Yang karenanya, aku batal jadi dokter. Ini hasilnya, two jars of preserved apple!

2 minggu lagi winter break, dan rencananya aku akan mengunjungi temanku di Mexico. Spanishku makin lancar nih. Pulang-pulang sudah bisa cas-cis-cus pakai bahasa Spanyol, hehe. Dan ya, CAS atau ekskulku berakhir minggu depan. Tapi Apple Peeling CAS-ku Selasa kemarin sudah resmi potong pita. Karena tak ada lagi apel yang bisa digarap. Winter sudah tiba, pohon-pohon tinggal batang dan rantingnya saja yang berdiri tegar. Dan puluhan jars apel yang sudah diawetkan tak pelak membuat aku, Hannah, Cassandra, Charlotte, dan faculty sponsor-ku, Ben Gillock tersenyum lebar. Hadiahnya? 2 jars of apple pie-filling bisa dibawa pulang! Sayang, sepertinya tak sampai bila mau dibawa ke Indonesia. Jadi, Sabtu nanti, aku dan teman-temanku rencananya akan membuat apple pie! Yummy!

Semua suka Oreo!

Ya, aku merasa benar-benar beruntung bisa di sini. Lepas dari kenyataan bahwa kalau aku ingin makan Oreo, aku harus beli sepak besar seharga 2.89 dollar (yang biasanya habis seketika karena tangan tak bisa berhenti nyomot). Lucien yang pergi hari ini ke getaway family-nya pun meninggalkan pesan di board, di depan kamarku (tiap kamar ada boardnya masing-masing untuk menulis pesan, kalau-kalau orang yang ingin kita temui tak ada).

Roomita! Have a happy thanksgiving! You are one of the most things
I'm most thankful for. Love you!! :D
By the way Lucien, yo tambien. Te quiero mucho!

Aku benar-benar beruntung bisa berada di sini. Tak hanya karena aku mendekatkan diri pada mimpiku yang ingin bersekolah di universitas yang sama dengan So Toma, tapi juga karena bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Alhamdulillah.

Happy Thanksgiving! Gobble 'till wobble!

18 November 2010

NAD, Snow, Sick, Homework, Exam, Eid Al-Adha...

So, yea, wonderful days still continue in U-Dab. I wish I could explain to you all the details. But, so many things happen in a time, and I can't always write it on time.

The first thing that I wanna share to you is... NAD! NAD is abbreviation for North American Day, one of five cultural days that take place in my school.

Started with dinner, and ended with cultural show; only one word that I could say: awesome.


Held in the cafeteria, with a cool music, and everyone was dancing.

Thank you for your photos, Simona!

So, I really enjoyed the night, and I swore that the next MAAD (Middle Eastern, Asian, Australian Day) will be more awesome than this.

The second thing is, snow. Yes, snow. Finally, I saw snow for the first time. When I wanted to go to swimming pool last Monday, it was so cold. And suddenly the snow fell. Unfortunately, it's only in a short time, so, there's not enough snow to make U-Dab as a white paradise (according to what Naoki said, haha). But, it was cool and I like snow. It was tiny, white, and soft; just like a cotton.

The third thing is, sick. Everyone is starting to have cold or flu. It's really contagious. Moreover, I had free code today because my math teacher is sick! Well ya, even though the snow isn't still too much, but the temperature already dropped. You can't go to dinner using flip-flop, or go outside without a jacket or coat (except Canadian people, their perception about how cold the weather is absolutely different, they still can go outside wearing a boxer, flip-flop, and a thin shirt).

The fourth things are homework and exam. Facing the end of the semester makes people frustrate, because there are lots of homeworks and exams waiting for us. And many 'heavy' homeworks such as Research Paper and Internal Assessment are due thanksgiving, which is next week. So, everyone is getting crazy, and feeling depressed. Maybe it's also the reason why many people are sick.

The hard thing is, how you can balance your life while many things happened around you. Many people joked about the three things U-Dab about are sleeping, studying, and socializing; but you only can do two of them. That's neither true nor false. It depends on yourself. For me, socializing and studying is in one beautiful package. I do socializing when I'm studying.

That's the thing that I can't get in back home. At least, I should spend minimum 2 hours each day to go to school, and go back to home. My friends in Tiga were awesome, but there's no such collision as what happened here, among many cultures, religions, and beliefs.

My Buddhist's friend sent a mass email to all the firsties and second years about qurban ( or sacrifice) in Eid Al-Adha yesterday. They don't eat meat, because they believe that if they hurt the animals, they'll get the consequence in the next life, after reincarnation. It's pretty interesting, and makes me shocked and thinking. I've never faced something like this before. As a majority in Indonesia, there's no such a protest from other religions about what we do. So, this chained mass emails continue. My Moslem's friend also gave an opinion about this (using mass email, again), and it still happens.

Ya, pretty interesting. If I had a beard, i would only rub my beard, and nodding my head.

11 November 2010

2 Setengah Bulan

Tak terasa Bulan November sudah berjalan 10 hari. Hari apa sekarang? Hari pahlawan, tepat sekali. Maka, sebelumnya, izinkan aku merenungkan seberapa berartinya pahlawan ini buatku. Yang jelas, jika mereka tak ada, aku tak bisa mencicipi kesempatan seperti hari ini.

Setahun yang lalu, saat masih ada di 3 (ah, aku kangen tiga) saat sumpah pemuda tepatnya, ada lomba menulis. Dan aku menang. Judulnya? Tentang Sumpah (Serapah) Pemuda. Kalau saja aku bisa membaca tulisan itu lagi, rasanya pasti ditampar, haha.

Menjadi penerus jejak pahlawan tak perlu repot sebenarnya. Wah, aku jadi ingat hari Sabtu kemarin ada event Fast to Feed UWC USA-UNICEF. Puasa 24 jam untuk menunjukkan kepedulian terhadap jutaan anak yang bahkan tidak makan dalam kurun waktu lebih dari 24 jam. Karena terbiasa puasa, jadinya biasa saja. Boleh minum air putih segala lagi. Tapi temanku banyak yang puasa untuk pertama kalinya. Lucu juga ketika mendengar komentar mereka.

"My brain can't work properly. I feel so tired."

"It's not too bad, except the hungry. I fall asleep along the day."

"I can't think, I can't do my homework."

Kalau di Indonesia? Bulan Ramadhan sekolah tetap jalan, padahal kalau pulang naik angkot kipas-kipas tak membantu banyak, haha.

Jadi, kami mengenakan gelang biru-putih untuk menunjukkan kami berpuasa. Sekaligus untuk menghindarkan diri dari teman-teman yang barangkali tidak puasa dan menggoda untuk makan.

Sialnya, karena daylight savings time berakhir hari itu juga, puasanya nambah jadi 25 jam. Tapi, karena saat pukul 10 malam teman-teman mulai pada buka (dimulai dari jam 11 malam sebelumnya), ya aku comot saja makanan di Student Center. Aku timbun ramen yang dibagikan di sana juga, haha.

Minggu malam setelah buka, aku langsung ngeloyor ke pesta ulang tahun region mate-ku, Ha Dang dari Vietnam. Lucu juga, dan ramai luar biasa (karena sebagian besar yang datang orang Asia!). Yang asyiknya, second year-ku yang dari Jepang, Jun Yasuda, dan country mate-nya Ha Ha, Vu Chau, membuat hadiah spesial: makanan Asia! Yang kumaksud adalah nasi yang manusiawi sebenarnya. Karena diperbolehkan icip-icip, ya aku ambil banyak, haha.

Sialnya, region mate-ku yang lain, Soph dari Kamboja mencolek kue ulang tahun buatan Ahmad, dan mengoleskannya ke wajahku. Akhirnya malam itu jadinya kejar-kejaran pacolek-colek krim kue.

Kembali ke kamar dengan muka belepotan krim dan baju yang kotor, aku ingin beranjak tidur. Tapi teringat keesokan harinya adalah Senin dan ada ulangan kimia, akhirnya kau mengurungkan niatku untuk tidur. Kutarik buku kimiaku dan setumpuk kertas yang menyertainya. Kubaca, dengan sekali-kali kantuk tak tertahankan dan menguap.

Paginya, jam setengah tujuh pagi saat dunia masih gelap (setidaknya itu yang terlihat dari jendelaku), seseorang berlari dan berteriak: It's FREE DAY! It's FREE DAY!

Aku tersentak, bangun, mencerna, mengambil ponsel, dan mengecek email. Secepat itu. Ternyata benar, hari itu Free Day alias hari tanpa kelas. Ini kesempatan yang langka, karena tak ada cerita guru rapat dan sekolah libur seperti di Indonesia. Free Day ini keputusan dari gurunya juga, mempertimbangkan siswanya yang lelah karena tugas, dan sebagian besar kurang tidur.

Hari itu cuaca cukup hangat dan menyenangkan. Kemudian, kami memutuskan untuk piknik di lapangan sepak bola. Aku, Lucien, Simona, Vu Vu, dan Adilson, bermain pictionary, ninja, dan sebagainya, dan sebagainya. Menyenangkan luar biasa, dan membuat kepalaku relaks.

Tak sampai di situ, hari itu juga aku dan Lucien mengubah tata letak furniture di kamar kami. Dan hasilnya? Terlihat lebih lapang dan luas!


Ya, ada bendera di sana. Bukan mau sok nasionalis, tapi bendera ini kadang menyemangatiku dan membuatku berpikir: aku ada di sini mewakili Indonesia. Tentu ini jadi lecut juga buatku, yang kadang apinya mati di tengah jalan.

Setelah beberapa hari tenang dan menyenangkan, deadline Internal Assessment Economy-ku pun mendekat. Tensi anak Econ Firsties meningkat, karena bahkan ada yang belum selesai. Aku tenang-tenang saja, karena guruku sudah meng-ACC IA-ku.

Saat H-2, aku menanyakan IA-ku pada Vu Vu, second year-ku dari Vietnam. Dan dia geleng-geleng kepala. Aku pun mengulang kembali IA-ku malam itu.

Kenapa aku lebih percaya padanya? Karena dia second year. Dan guru ekonomi yang mengajarku masih baru, dan masih ragu dengan apa yang IB harapkan dalam IA kami.

Saat H-1, aku kembali meminta pendapatnya. Dan aku masih harus merombaknya. Maklum, ini pengalaman pertamaku membuat essay seperti ini. Dalam Bahasa Inggris pula.

Hari H, dini hari, aku masih merombak IA-ku di Second Floor Dayroom bersama dua temanku yang lain: Simona dan Andrea. Dengan segelas teh jeruk dan potongan pizza dari Andrea, kami melalui malam itu. Untung aku masih bisa tidur 5 jam.

Tanya: Bagaimana Simona dan Andrea? Mereka hampir tidak tidur malam itu. Semoga perjuangan mereka dibayar setimpal dengan nilai yang luar biasa, amin.

Jadi, hari ini, dengan mata masih terkantuk-kantuk, aku melalui 3 kelasku, tutoringku di West LV High School, dan kelas First-Aid Trainingku. Setelah dinner, aku kembali dihadapkan dengan tugas fisika, matematika, dan bahasa Inggris.

Untung besok aku punya free-code di pagi hari. Lumayan untuk membuatku tidur lebih. Kemudian, aku ada meeting dengan advisorku tentang nilai midterm-ku. Barulah kelas siangku dimulai.

Semoga semuanya dilancarkan, termasuk tugas Research Paper Bahasa Inggrisku yang deadlinenya minggu depan. Semoga nilai midtermku luar biasa. Aku hanya tak ingin mengecewakan siapapun.

Dan 2 minggu lagi Thanksgiving. Libur panjang yang cukup untuk recovery siklus tubuhku. Dan sebulan lagi: semester ini usai, winter break dimulai. Sungguh cepat rasanya.

Berdasarkan Weather Forecast, minggu depan salju mulai turun. Aku tak sabar melihatnya, tapi aku ingin berdamai dengan dinginnya.

Pekan ini, North American Cultural Days dimulai. Setelah Dress-Like-Your-Roomie-Day kemarin, besok ada Pajamas Day. Entahlah, aku masih belum sreg kalau harus mengenakan piyama ke kelas.

Selamat datang November. Selamat datang musim salju. Selamat datang kehidupan yang luar biasa!

04 November 2010

Trick or Treat!

31 Oktober, Halloween pertamaku yang bukan abal-abal. Heran, di Indonesia juga pada merayakan Halloween, padahal bukan budayanya. Department store menggelar diskon besar-besaran, toko-toko dan restoran didekorasi sedemikian sehingga, menarik pengunjung, seperti budaya sendiri saja.

Ternyata beda juga, ya, rasanya kalau mencecapnya langsung di tempat. Malam minggu kemarin setelah Castle Concert (gila, bagus-bagus banget yang nyanyi sama main musik, BCL lewat!), ada Halloween Party di Student Center. Tapi aku lebih memilih diam di kamar. Mengapa? Mari kita main tebak-tebakan, hehe.

Hari Minggunya, setelah bangun telat dan terburu-buru menuju Castle (takut cafetarianya keburu ditutup, mana breakfast dan lunch disatukan lagi), aku kembali ke kamar. Ingin mengerjakan tugas, tapi ujung-ujungnya mengorok, untung masih ingat untuk sholat.

Setelah dinner yang dijalani dengan setengah sadar, antusiasmeku terlecut tiba-tiba. Mungkin karena ada kontes kostum di cafetaria, dan kostum mereka semua luar biasa. Semangat memburu permen pun mau tak mau membara juga. Lumayan, biar tak usahlah beli di Walmart, dollarnya ditabung dan ditukar dengan rupiah biar kaya (seperti inilah pola pikir orang Indonesia di mana-mana: mau untung, tak mau rugi).

Akhirnya bergegaslah aku kembali ke dorm. Mengeluarkan mukena yang diberikan Ratna dengan penuh kasih, biar aku ingat sholat selalu. Maaf, Ratna. Sungguh maaf. Aku tak punya kostum lain.

Kemudian aku berlari ke kamar temanku, Selen dari Turki, dan Andrea dari Mexico. Mereka membantuku berdandan, memulas dengan bedak, menggambar dengan pensil alis. Sesegara setelah itu, aku, dan dua orang partner-in-crime-ku: Adilson dari Mexico dan Lucien dari Belanda (yang juga teman sekamarku) mulai menyatroni kampus, memaksa orang-orang memberikan permennya.

Tidak juga sih. Kami jalan ke rumah guru-guru nun jauh di perbukitan sana, lebih jauh dari kastil. Capek? Apa sih yang nggak buat permen, begitu motto hati kami.

Sukseslah kami, dan banyak yang suka dengan kostumku.

"Titan! You look really creepy!" -Nicol, Costa Rica '12

"AAA! Who are you?? If you joined Costume Contest, you would win!" -Faculty

"You look like Cambodian ghost!" -Sopheaktra, Cambodia '12 (yang satu ini, ya iya dong, hantu Asia kurang lebih kan sama semua)

Dan terima kasih untuk Rigsar, dari Bhutan, untuk fotonya. Saya catut dengan citation kok, APA style kan? Hehe.

Dan hasilnya, apalagi kalau bukan permen yang banyak. Sudah dibagi-bagi ke 8 orang, tapi aku masih dapat dua atau tiga genggam penuh. Favoritku: M&Ms!


Kembali ke kamar dengan tangan yang kepayahan membawa coklat dan permen-permen, aku senang. Saat ke kamar mandi, aku teriak. Pensil alisnya permanen! Untung tidak, tapi aku menjerit juga. Pembersih mukaku tak cukup ampuh untuk menghapus hitam-hitamnya yang belepotan. Beberapa menit kemudian, aku memijat-mijat wajahku, berharap nodanya hilang dari sana.

Happy Halloween, everyone! Trick or treat!

31 Oktober 2010

Rasa Indonesia

Dirobek dari jurnalku, seminggu yang lalu.


Sudah tahu belum, aku jadi nominator Writing Contest Pesta Blogger 2010. Ya, nominator, yang sayangnya hanya sebatas itu, tidak lebih, tidak kurang. Perasaanku sensitif ternyata, firasatku benar, haha. Padahal aku sudah sesumbar sana-sini, malu jadinya. Belum lagi rasanya sebal juga, ada satu mimpiku yang kucoret lagi, bukan karena terwujud, tapi karena tak terwujud dan sudah lewat batas waktunya. Ya, aku tak bisa datang ke Pesta Blogger tahun ini. Dan kemungkinan besar tahun depan pun tak bisa, karena aku mengorbankannya demi daftar masa depan yang lain. Dan mungkin tahun tahun berikutnya (keburu saya jadi orang, belum nyicip Pesta Blogger).


TAPI, boleh dibilang ini mingguku. Minggu luar biasa untukku, dengan segala kesibukanku di U-Dab yang tak habis-habis. Ada banyak hal, yang me’rumah’kan-ku. Yang mengobatiku akan rasa kangen yang sudah memenuhi selap-selip rusukku, tanpa meninggalkan ruang kosong sedikitpun.

Kemarin-kemarin orang rumah sempat telepon, sebentar sih, hanya 30 menit (hajar!). Tapi, yang lebih yahud lagi, paket dari rumah akhirnya tiba juga, setelah melintas batas antar-benua. Jumat kemarin, aku sempat-sempatkan untuk jalan ke Kantor Pos Montezuma, padahal cuaca dingin luar biasa, karena kakakku sudah uring-uringan ingin mendengar kata, “YA! PAKET SUDAH DITERIMA!” Saat kukeluarkan kunci PO BOX dari tas Eiger hijauku (yang mulai robek sana-sini). Klik! Terbukalah kotak kecil itu, dan kutemukan sebuah tanda pengambilan paket, dan kartu pos dari India, dari temanku Kevin di Mahindra United World College India. Sebelumnya aku sudah dapat kartu pos juga dari Theresia yang di UWC Maastricht, dan Nadya yang di Atlantic College, Wales. Tinggal tunggu yang dari Italy, iya kan Christian? Hehe.


Kembali ke paket. Kubawa paket, melintasi jembatan, dan sekilas kulihat bahwa musim gugur sudah benar-benar gugur.

Di kamar, kubuka lekas-lekas kotak sepatu itu. Dan kutemukan tiga bungkus mie instan di sana. Seperti kata Bagus Cn Retsu mengomentari status Facebook-ku, Indomie itu surga dunia. Sial, benar sekali, tapi sampai sekarang masih kusimpan. Stok kalau aku benar-benar butuh dan kangen Indonesia nanti :’D

Selain converter (colokan US sama Indonesia beda loh), ada juga bendera. Bendera merah putih. Langsung kuambil thumbtacks, dan menempelnya di dinding kamarku. Sekarang aku bisa upacara tiap hari, bisa nyanyi Indonesia Raya sendiri, atau ingat-ingat waktu main bendera di kelas.

Ya, aku butuh waktu sejam untuk membuka semua paket itu (selama free-code loh), dan meresapi barangnya satu-satu. Senang rasanya, sekaligus sedih. Mengapa aku baru sadar sekarang, bahwa segala sesuatunya begitu luar biasa tanpa pernah aku bersyukur.

2 hari yang lalu, saat dinner, aku mengantri seperti biasa. Antriannya panjang, dan mengular, padahal perut sudah kukuruyuk seperti ayam.

Kulihat menu malam itu, dan aku terkejut setengah mati. TEMPEH (SOY FOOD FROM INDONESIA)! Gila, aku teriak, dan temanku melihatku dengan tatapan ari-maneh-kunaon. Kuminta banyak-banyak pada pramusajinya, rasanya lumayan. Sebenarnya ini tempe bumbu saus, dengan wijen, paprika, dan wortel. Rasanya seperti surga dunia (lagi).

Kemudian sepagian tadi, aku mengobrol bersama temanku dan kakakku via Skype. Aku benar-benar sujud syukur terhadap siapapun yang menemukan teknologi macam Skype. Aku ngobrol asyik dengan mereka, dan menyadari bahwa sudah dua bulan di sini. Aku rindu kalian, sungguh. Summer nanti kita ke Dufan, ya, teman-teman.

Homesickku mengental belakangan ini, tapi untunglah terobati juga. Rasanya tidak seperti setengah depresi kok, karena aku mulai terbiasa dengan segalanya (kecuali tugas membuat papernya). Aku mulai menemukan tempatku, di mana aku bisa berkata, “Aku kembali ke rumah.”

Tapi untunglah, event yang kuorganisasi: Skype bersama artis, sukses juga. Terima kasih Ciko, Mansur, Karima, dan Ratna. Akhirnya setelah 2 bulan aku bisa lihat wajah kalian juga. Kangenku sudah pecah, dan pasti akan menggerumbul lagi.



Sore ini ada pesta Halloween. Aku tak akan ikut sepertinya, rasanya aku bukan aku jika aku datang ke sana. Tapi besok, ada Trick-Or-Treat! Akan kusambangi rumah-rumah di sekitar kampus, mengetuk dan mengambil permennya, dan menjual kembali permen itu, haha. Kostum? Mukena putih panjang (dari @nengratna, sebelum pergi, maaf ya neng dipakai yang nggak-nggak mukenanya) dan rambut acak-acakan cukup menjadikanku sebagai hantu khas Indonesia.

Tak sabar menunggu salju, tak sabar menunggu waktu kembali dengan pesawat dan melihat Jakarta dan pengapnya dari kejauhan. Ingin menolong saudara-saudaraku di Indonesia juga, sayang di sini tak ada coin a chance. Akan kucari jalan lain, pasti.

“Fabi ayyia la irabbikuma tukadziban.” QS Ar-Rahman: 13. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

25 Oktober 2010

CEC Retreat dan Sholat di Gereja

Karena laptop yang baru tiba dari Amazon, semangat menulis mau tak mau terpecut juga. Produktivitas meningkat, termasuk di dalam social media. Tapi ujung-ujungnya entah kenapa dimatikan juga oleh si Tugas dan si Ujian, duo maut yang selalu bikin takut.

Dan kemarin Sabtu, akhirnya para firsties yang mulai jenuh (padahal belum ada apa-apanya dibandingkan second year) dengan rutinitas, disegarkan dengan CEC Retreat di Metodist Church di Las Vegas. Kenapa harus di gereja? Konon, ini bentuk donasi dari mereka kepada sekolahku, yaitu dengan menyumbang tempat.

Malam sebelumnya, aku tidur pukul 2.30 pagi. Nyata-nyatalah mataku tak bisa diajak kompromi selama seharian itu. Materinya keluar masuk seperti cacing kepanasan. Tapi ujung-ujungnya keluar semua.

Hem, tidak juga sih. Demi menghormati para CEC leaders, yang semuanya second year, yang merelakan Sabtu mereka untuk mengurusi para firsties sementara tumpukan tugas menunggu dengan anteng di kamar mereka, aku akan ceritakan sedikit.

Tapi sebelumnya, terima kasih untuk Adilson Gonzalez, temanku yang dari Mexico, yang bersedia fotonya kucomot untuk postingan kali ini. Gracias, mi amigo (pero tu eres feo :P)!

CEC adalah kependekan dari Constructive Engagement Conflict, bagian sentral dari UWC manapun. Berat ya judulnya. Tapi, intinya sederhana. Workshop-workshopnya berintikan bagaimana menjembatani konflik, karena semua siswa UWC dari latar belakang kultur dan kebiasaan yang berbeda. Jangan heran, kalau ada gesekan-gesekan kecil, seperti misalnya hanya karena persepsi tentang baik buruk yang datang dari kultur masing-masing.

Kebanyakan isi workshopnya sih diskusi, walaupun pada siang hari ada juga selipan game macam ricochet dan ninja (salah satu game favoritku semenjak tiba di sini). Yang bikin meringis ya angin musim gugur yang dingin itu. Tapi, senang juga rasanya melihat angin itu menggulung daun-daun kuning yang sudah rontok dan menciptakan topan kecil.

Langit New Mexico memang biru dan bersih sekali. Awan jarang mampir. Kalau dia menggantung, dijamin hari itu akan hujan. Kadang-kadang aku rindu langit berawan, seperti Indonesia.

Makan siang di dapur gereja dengan masakan India rasanya luar biasa, karena lidahku membacanya sebagai masakan Padang. Mirip luar biasa! Rasanya seperti papila-papila lidahku bangun dari tidurnya setelah 2 bulan makanan yang tak berasa. Makan malam pun perutku diisi dengan makanan Mexico, di sebuah restoran bernama El-Rialto, dekat taman kota. Beda sekali dengan makanan yang disediakan oleh kafetaria, karena yang ini benar-benar yahud. Lebih senang sekali ketika di pojok meja prasmanan aku menemukan sesuatu yang sejak pertama aku bertemu, aku jatuh cinta dengannya. Ya, totopos, alias Mexican Chips yang luar biasa dengan saus salsa dan lumeran keju; siapa yang tak jatuh cinta padanya?

Oya, satu hal yang menarik, karena aku tak menemukan tempat suci untuk sholat (ya iya, mana ada mushola atau masjid), akhirnya aku sholat di gereja, di chapelnya. Rasanya aneh sholat tapi menghadap salib. Aku tahu, mungkin ini isu sensitif. Tapi mohon maklumnya, karena ini dalam keadaan super-terdesak.

CEC Retreat boleh dibilang menyegarkan otakku kembali. Sebelum aku kembali ke kampus dan bergelut dengan Internal Assessment Economy-ku, tentang pasokan gas di Indonesia dan shifting supply curve-nya.

22 Oktober 2010

Asian Dinner!

Photo by: Vichea Tan, Cambodia

Tebak, apa yang paling kutunggu sejak e-mail undangan Asian Dinner mampir di inbox-ku Jumat minggu lalu? Ya, aku ingin makan nasi, sebanyak mungkin, sekenyang mungkin, dan senikmat mungkin bersama teman-teman yang membuatku merasa seperti di 'rumah'.

Oh ya, aku makin bermasalah dengan makanan yang disediakan kafetaria belakangan ini. Nafsu makanku menurun drastis. Kadang aku hanya makan dedaunan saja (soalnya aku tak tahu apa namanya, yang jelas bukan bayam kangkung apalagi bokchoy), segelas air putih, dan pencuci mulut. Heran juga, kenapa pencuci mulutnya selalu luar biasa (favoritku: cheese cake dan apple pie!), tapi main coursenya jarang-jarang cocok di mulut.

Begitulah, e-mail dari second year-ku yang berkewarganegaraan Hongkong membuatku tak sabar menunggu sore, menanti bus yang membawaku ke Las Vegas dan mencicipi nasi yang manusiawi.

Well, sejujurnya, nasinya tetap saja beda. Tapi aku senang suasananya. Mereka luar biasa! Aku nambah tiga kali malah, sambil ketawa-ketiwi melihat temanku yang dari Bhutan dan Filipina bermain-main dengan Jell-O, melempar-lemparnya.

Yang menarik adalah, walaupun temanya Asian Dinner, teman-teman dari Middle East tidak diundang. Setahuku mereka Asia, tapi entahlah, mungkin persepsi Asia itu hanya Asia Selatan, Tengah, Timur (ini harus di-bold, karena mayoritas dari sana, yang bikin stereotip Asia menyebar seperti: Matematika dan Sains Higher Level), dan tentu saja Asia Tenggara.

Vuvu, second year-ku dari Vietnam, malam itu jerit-jerit, "South-East Asian Hereee! Let's take a photo!" O, yeah, aku senang jadi bagian dari Asia (dan stereotipnya!).

12 Oktober 2010

(Chibi) Maru(ko)-Chan

Belakangan ini lagi santer isu Indomie yang pakai lilin. Aduh, ampun, sekalinya tahu berita, yang begini. Tapi peduli amat, soalnya aku kangen berat sama Indomie Goreng Jumbo. Menyesal hati ini tidak membawa sekardus Indomie kemarin. Apa boleh buat, gengsi di awal, sesal di akhir. Jadinya kemarin nyari-nyari mi instan di Walmart, dan dapat, merknya Maruchan. Sayang, tak seenak Indomie. Harganya cuma 16cents sih. Terus ada yang rasa pork, lagi. Pasti enak banget tuh, dan patut dicoba. Percobaan pertama: rasa udang!

Rasanya kurang lebih kaya Indomie Ayam Bawang, tapi yang satu ini Indomie Udang Bawang. Mana tak ada minyak sayur dan cabainya lagi. Hanya ada bumbunya saja, kawan-kawan! Yang terasa ya monosodium glutamatnya saja.

Nanti kalau ke Walmart lagi, aku mau borong sekardus Maruchan! Murah, dibandingkan beli camilan lain, Lays misalnya, satu bungkus kecil 1 dollar. Atau alternatif lain: microwave popcorn, 8 bags hanya 2.50 dollar. Murah lah, soalnya ini sama dengan beli 1 bag popcorn di bioskop di Indonesia.

Kenapa saya ngomongin makanan? Karena sekarang makin dingin, bawannya ngantuk dan lapar. Pagi-pagi waktu bangun suhunya bisa kurang dari 10 derajat celcius. Aduh, aduh. Terus sekarang bawaannya rajin ngantongin makanan dari kafetaria, entah itu cream cheese strawberry yang enak banget untuk dicamil, atau sebotol susu, karena di kamar aku punya 2 kotak sereal: raisin bran dan cornflake almond, kalau-kalau mau shaum dan tak punya apa-apa untuk sahur. Yummy!

Ya, autumn (benar-benar) telah tiba! Menyesal juga waktu itu menyumpah serapah saat hari pertama musim gugur tiba: Naha ieu masih hejo keneh kieu? Masih haneut deui, teu karasa musim gugurna.

11 Oktober 2010

Membaca Amerika (Dan Dunia)

Minggu pagi yang cerah (dan dingin). Belakangan ini saya sering sekali mengutuk cuaca di sini, yang kalau siang panasnya bisa sampai 70-80F, dan malam bisa menyentuh 30F (hampir nol derajat celcius). Anginnya pun bikin kulit mencelos, jaket angkatan 2011 pun tak bisa menahannya.

Suntuk dengan tugas yang menumpuk, yang kutahu ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan second year, jemariku beralih klak-klik ke social media. Sayang, Indonesia sedang tengah malam saat ini, aku tak bisa menemukan tanda-tanda temanku online di sana.

Beralihlah aku menjadi stalker Facebook. Maklum, ketinggalan berita dari teman-teman rasanya kurang enak. Sampailah aku pada tumblr-nya Arina Shabrina, anak SMAN 5 Bandung yang sekarang di Colorado karena pertukaran pelajar (entah AFS atau YES). Mungkin aku pernah berpapasan dengannya di koridor 3 dan 5, di bazaar saat ngantri baso tahu, atau di kantin 5 saat aku memesan pisang ijo strawberry (yang aku kangenin sampai kebawa ke mimpi!). Aku tahu dia anak DKM, karena Karima dan Ainun kadang-kadang ngobrolin teman mereka. Terima kasih, karena ini berguna sekali buat saya untuk mengerti bagaimana sebenarnya di luar sana.

Kehidupan UWC boleh dibilang terpisah dari dunia luar. Kami punya komunitas sendiri di sini, dan kami hanya berinteraksi dalam beberapa aspek saja. Makanya saya megap-megap begitu lihat sekolah Amerika yang sebenarnya, yang beda jauh banget pisan (di-bold, underline, italic, big) dengan UWC. Atau saat saya ke kota dan belanja di Walmart, atau saat saya ke dokter (ngurusin jari saya).

Saya jadi mikir, nanti kalau saya mau kuliah di sini tetap saja saya ngalamin culture shock, karena kehidupannya memang beda.

Ngomong-ngomong soal culture shock, saya nemu banyak hal lucu soal ini. Saya akan coba jabarkan satu-satu, hehe.

Roomate-ku dari Belanda, dan dengar cerita dari Trisi di Belanda, mereka bebas luar biasa. Waktu teman saya ngejek-ngejek dia, menuduh dia berorientasi ganda, dia lempeng aja. Katanya, di sana sudah biasa, dan jika dibilang berorientasi ganda malah kedengarannya cool.

Atau temanku yang dari Turki. Selama ini pandanganku adalah: Turki=Timur Tengah=Negara Islam yang ketat. Ternyata salah luar biasa. Aku tahu kalau Turki adalah negara moderat, tapi tak kukira semoderat ini. Temanku ini Muslim, tapi dia mengaku kalau dia bukan Muslim yang baik. Yah, setidaknya minuman favoritnya Tequilla, Wine, dsb.

Masih soal temanku yang dari Turki. Ada juga temanku yang dari Bulgaria, dan aku tak pernah menyangka kedua negara ini begitu dekat, bahkan Turki pernah menjajah Bulgaria. Nah lho, mereka kadang-kadang nemu hal random yang sama, seperti makanan atau band favorit.

Aku jadi ingat saat Buddy Dance, ketika saling tukar kado, buddy-ku nanya, "Boleh dibuka sekarang hadiahnya?" dan saya cuma bengong. Setelah buka kwintessential.co.uk (situs ini lumayan juga buat studi analisis kultur dan kebudayaan, saya pakai referensi dari sini untuk analisis dan essay B. Inggris saya), ternyata budaya mereka buka hadiah langsung begitu diterima. Kebayang kalau di Indonesia kaya gitu, kalau ada orang nikahan terus kita ngasih amplop, eh amplopnya langsung dibuka saat itu juga di pelaminan, dan ketahuan kalau amplopnya kosong. Ampun.

Dan masih banyak hal lainnya. Nanti kuceritakan kembali, karena aku masih mentok dengan tugas B. Inggrisku (yang belum selesai dari kemarin-kemarin).

08 Oktober 2010

Affirmation on My Desk

I often feel so sad because I can't talk Bahasa to everyone here. Just one countrymate, and I can't always talk to her. She's second year, and I know that she has more important things to do, than just talking Bahasa with me.

But now, I can find the advantage. I can put my dream list in Bahasa as big as I want on the desk, and there won't be anyone who can understand it.

And this dream list will be the affirmation for my future!

Actually, I want to put the image here, but I don't want everyone knows my dream :P

*The reason why I'm trying to post in English now is, I'm struggling with my English A2. I still have no idea about the topic that I'll write for my Reflection that accounts 50% of my Mid-Term Grade. Wish me luck! Or I'm gonna drop to English B -_-

07 Oktober 2010

Mengubur Mimpi Jadi Dokter

Hari Rabu yang mulai dingin di Montezuma. Musim gugur mulai terasa, daun-daun terbang ke sana kemari menuruti arah angin pergi. Setelah Southwest Studies yang panas di Arizona, sekarang kembali menggigil di New Mexico.

Oh yeah, dan juga mulai terasa, apa itu sekolah. Tugas mulai menumpuk, ulangan menunggu, kegiatan memadat.

Aku ngangguk-ngangguk ngerti kenapa semester ini dinamakan Fall, dan semester depan Spring. Tahun depan tugasnya mulai banyak setelah Spring dong? Hmm, absurd.

Nah, di hari berbahagia ini, aku mau cerita. Kemarin, insiden kecil terjadi. Di CAS Canning Apple-ku, saat aku sedang asyik ngupas apel, tanganku tergores. Ups, sepertinya bukan hanya tergores, soalnya dalam hitungan detik darahnya mengucur ke mana-mana. Dalam sekejap, aku merasa pusing. Sugesti? Entahlah. Minum air pun tidak membantu. Beberapa menit kemudian, pusingku menguat, dan muntah-muntahlah aku.

Suster dari klinik buru-buru merangsek dan melakukan hal yang diperlukan. Aku dipapah menuju klinik, jalanku oleng. Dan suster pun berkata, "Di masa depan, kamu tidak bisa jadi dokter, suster, atau yang berhubungan dengan darah. Ada kemungkinan kamu tidak tahan lihat darah."

Gila, 17 tahun hidup baru sekarang ini seperti ini, dikiranya fobia darah. Setelah itu dibalutlah tanganku, pakai protector plastik segala, perban berbuntel-buntel. Tak lupa dikasih sarung tangan plastik untuk dipakai waktu mandi supaya tidak basah, dan buntelan bandage dan antibiotik oles.

Dadah John Hopkins, aku tidak bisa ke sana lagi.

Gambar: buntelan jari, yang kata susternya: jarimu kecil, sekarang terlihat lebih berisi; buntelan obat-obatan dari klinik; coklat dari tahun kedua, penuh harapan supaya jariku pulih; sarung tangan mandi.