21 Juni 2010

Mencari Jati Diri di Selasar Rajawali

Bau desinfektan menyergap hidungku, mengerutkan keningku. Sudah sekian hari, aku bolak-balik ke sini. Tapi tetap saja aku belum bisa terbiasa dengan aroma luar biasa ini.

Sementara itu, langkahku cepat tegap, menuju kamar bedah. Lampu bohlam termakan usia itu masih menyala, tanda operasi belum jua selesai. Di selasarnya, adikku duduk dan memainkan rubik yang masih belum sama rata warna di tiap sisinya, kakakku membolak-balik buku Analisis dan Desainnya, dan ayahku hanya terpekur. Di mana ibuku? Beliau sedang berjuang di dalam kamar itu.


Tanganku bermain-main. Bosan menunggu, aku menyusur selasarnya. Satu koridor ke koridor yang lain. Dari ICU, ke ICCU. Dari NICU, ke PICU (sungguh aku baru tahu istilah ini dari sana, kukira hanya ada ICU). Dari Masjid, ke kamar mayat. Dari IGD, ke ruang tunggu.


Rumah Sakit Rajawali, adalah rumah sakit pertama yang kukunjungi setelah bertahun-tahun sejak aku dirawat di Dustira, yang kutahu itu hampir 10 tahun lalu. Terpisah menjadi dua bagian di kanan kiri jalan trans Bandung-Cimahi, rumah sakit ini dihubungkan jembatan tinggi di atas jalan, yang njot-njotan saat kucoba.

Dari sini, aku benar-benar banyak belajar, apalagi setelah fase tidur-makan-sholat-main selama seminggu.

Satu

Suster mengetuk ruangan ibuku dirawat. Seperti kebanyakan suster, setelannya selalu seperti yang sedang Anda bayangkan. Membawa baskom, dan bertanya dengan medok a la Jawa, dan penekanan di beberapa titik, "Mau di-waslap sekarang, Bu?"

Untuk selanjutnya, aku keluar. Membawa buku Sudoku 1 yang kugunakan membunuh waktu, sambil mendengarkan obrolan beliau-beliau.

Mulai dari nama anak, hingga sekolah, semua tuntas terbahas. Bahkan curhatan ibu rumah tangga, hingga kesal pada atasan, semua bablas.

Dokter-dokter juga tak lebih dari orangtua dari anak-anak mereka. Bahkan presiden, ataupun orang penting sekalipun. Kadang memang susah memaklumi kriminalitas. Tapi, perut dan senyum dari orang terkasih, kadang bisa menghalalkan segalanya. Tinggal mengarahkannya saja.

Dua

Lengkingan bergaung. Ruang ICU berduka. Satu lagi yang pergi meninggalkan bumi. Ah, meninggal tak selalu di Ruang ICU kok.

Itu dia, aku sering lupa. Padahal kematian bisa jadi pecut paling sakit yang menyadarkan posisi kita. Ya namanya juga manusia, pemakluman itu biasa. Lupa juga dibilang biasa. Kalau begitu, apa gunanya otak? Itulah yang sering kukatakan pada diri sendiri. Dasar Setan, ada-ada saja.

Tiga

Hal remeh ternyata bisa jadi luar biasa. Tidak bisa disepelekan begitu saja. Contohnya, buang angin. Aku agak excited sendiri mendengar penjelasan suster tentang hal satu ini.

"Jadi dik, kalau ibunya sudah kentut, lapor ke saya, ya."

"Memangnya kenapa, sus?"

"Kalau sudah, berarti pencernaannya sudah lancar, sudah lewat masa kritis. Jadi bisa mulai makan juga."

"Wah."

Picts taken from:

3 komentar:

  1. do'aku menyertai ibumu :)

    BalasHapus
  2. wah wah aku pernah denger ttg rumah sakit ini dari ua ku. baik katanya, tidak mendahulukan pembayaran. waktu itu kakekku lagi stroke, tp duitnya ga langsung ada.
    alhamdulilah rs nya mau nerima. akhirnya setelah kakekku udah keluar, biayanya dilunasin, cuma rs nya nolak. "ah gapapa bu" katanya
    baik bgt ga sih

    BalasHapus
  3. iya ya. kemarin juga ibu aku operasi tapi bayar uang mukanya terserah kita dulu. dan untunglah itu ga mempengaruhi kualitas pelayanannya :)

    BalasHapus