06 Juli 2010

Mengurai Pikiran Ruwet


Perutku makin menggelambir liburan kali ini. Apalagi kalau bukan karena tak ada kegiatan, leyeh-leyeh melulu di rumah. Kaki melangkah tak lebih dari 100 langkah sehari, hanya bolak-balik kamar-komputer-ruang makan-toilet saja kerjaannya.

Rencana ke Yogya pun "gatot", alias gagal total, karena malu minta budget buat foya-foya ke orang tua. Tetapi dengan sisa-sisa duit jajan sekolah yang kukais di selipan bantal, misalnya, akhirnya terkumpul lima puluh ribu rupiah.

Buat apa, ya, 50ribu rupiah? Nonton, beli dvd, atau karaoke, ya?


Kebetulan, pas sekali,
Nengratna mengajakku ke sebuah acara di Jakarta 4 Juli lalu (sekaligus pemilik foto di postingan kali ini). Namanya Festival Indonesian Youth Conference. Jujur, awalnya aku agak apatis. Acaranya apa, sih? Kalau ceramah biasa, membosankan!

Tapi, dengan semangat daripada-liburan-sia-sia, akhirnya berangkat juga aku. Bersama dua teman lainnya, Alif dan Echa, mobil yang dikemudikan ayahnya Ratna membelah Purwakarta, menuju Jakarta.
Sesi yang kami ambil: Pendidikan, Film-Musik-Fotografi, Politik, Sudut Pembaharu, dan Kewirausahaan. Bukan hanya orang ngetop yang muncul menjadi pembicara dan moderator, tetapi juga para penggerak perubahan.

Nah, di sini yang beda. Jika Anda biasanya mengikuti seminar atau diskusi, biasanya orang yang ada di depan Anda adalah orang yang sudah sukses. Tetapi kali ini, tak hanya orang yang sudah sukses, tetapi juga orang yang sedang berjalan menuju sukses.

Kelebihannya? Anda tak hanya bisa tahu tips dari yang sudah sukses, tetapi anda merasakan juga perasaan orang yang sedang berjalan meraih kesuksesannya, sehingga -apa ya, namanya?- rasanya lebih dekat, terbayang, dan riil, bagaimana jalan menuju kesuksesan tersebut.

Selain itu, kami juga mengincar orang-orang ngetop untuk foto bareng, siapa tahu aura positifnya menular, haha.


Selain itu, ada satu poin penting lagi yang saya catat di otak, dan memang harus dicatat, karena namanya manusia: mudah khilaf dan lupa, juga karena hal ini sulit dilakukan, sehingga perlu ditempel kuat-kuat.

Perubahan, siapa yang tidak tahu? Anda bisa cari di KBBI Daring jika belum tahu secara teoritisnya.

Perubahan mungkin satu-satunya harapan bagi kita yang tak punya apa-apa lagi. Jadi, sudah sepatutnya kita mengalokasikan effort lebih untuk hal ini, dan membelanya sampai akhir.

Tetapi perubahan tak bisa dilakukan satu individu, kecuali tujuan perubahan tersebut adalah individu itu sendiri. Makanya, dibutuhkan suatu komunitas untuk bersama-sama melakukan perubahan, dan menularkan virus perubahan itu pada orang lain (dikutip dari buku panduan FIYC).

Setidaknya, saya tahu kunci perubahan itu apa. Blue print-nya pun jadi lebih gampang dirancang. Tahu kuncinya saja sudah cukup menguraikan pikiran ruwetku yang penuh keluh kesah terhadap berbagai orang dan kelompok di dunia ini.

Aku percaya, aku akan menjadi agen perubahan, mengurai pikiran ruwet teman-teman lainnya, dan melakukan revolusi. "Revolusi Titan" kedengarannya bagus juga ya, hehe.

Bagaimana dengan Anda?


Pictures are taken from:
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs017.snc4/34201_1372363062037_1020585239_30854868_2705944_n.jpg

http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs080.snc4/35371_1372337381395_1020585239_30854664_184949_n.jpg
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs060.snc4/35371_1372344381570_1020585239_30854726_6517669_n.jpg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar