22 Oktober 2010

Asian Dinner!

Photo by: Vichea Tan, Cambodia

Tebak, apa yang paling kutunggu sejak e-mail undangan Asian Dinner mampir di inbox-ku Jumat minggu lalu? Ya, aku ingin makan nasi, sebanyak mungkin, sekenyang mungkin, dan senikmat mungkin bersama teman-teman yang membuatku merasa seperti di 'rumah'.

Oh ya, aku makin bermasalah dengan makanan yang disediakan kafetaria belakangan ini. Nafsu makanku menurun drastis. Kadang aku hanya makan dedaunan saja (soalnya aku tak tahu apa namanya, yang jelas bukan bayam kangkung apalagi bokchoy), segelas air putih, dan pencuci mulut. Heran juga, kenapa pencuci mulutnya selalu luar biasa (favoritku: cheese cake dan apple pie!), tapi main coursenya jarang-jarang cocok di mulut.

Begitulah, e-mail dari second year-ku yang berkewarganegaraan Hongkong membuatku tak sabar menunggu sore, menanti bus yang membawaku ke Las Vegas dan mencicipi nasi yang manusiawi.

Well, sejujurnya, nasinya tetap saja beda. Tapi aku senang suasananya. Mereka luar biasa! Aku nambah tiga kali malah, sambil ketawa-ketiwi melihat temanku yang dari Bhutan dan Filipina bermain-main dengan Jell-O, melempar-lemparnya.

Yang menarik adalah, walaupun temanya Asian Dinner, teman-teman dari Middle East tidak diundang. Setahuku mereka Asia, tapi entahlah, mungkin persepsi Asia itu hanya Asia Selatan, Tengah, Timur (ini harus di-bold, karena mayoritas dari sana, yang bikin stereotip Asia menyebar seperti: Matematika dan Sains Higher Level), dan tentu saja Asia Tenggara.

Vuvu, second year-ku dari Vietnam, malam itu jerit-jerit, "South-East Asian Hereee! Let's take a photo!" O, yeah, aku senang jadi bagian dari Asia (dan stereotipnya!).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar