31 Oktober 2010

Rasa Indonesia

Dirobek dari jurnalku, seminggu yang lalu.


Sudah tahu belum, aku jadi nominator Writing Contest Pesta Blogger 2010. Ya, nominator, yang sayangnya hanya sebatas itu, tidak lebih, tidak kurang. Perasaanku sensitif ternyata, firasatku benar, haha. Padahal aku sudah sesumbar sana-sini, malu jadinya. Belum lagi rasanya sebal juga, ada satu mimpiku yang kucoret lagi, bukan karena terwujud, tapi karena tak terwujud dan sudah lewat batas waktunya. Ya, aku tak bisa datang ke Pesta Blogger tahun ini. Dan kemungkinan besar tahun depan pun tak bisa, karena aku mengorbankannya demi daftar masa depan yang lain. Dan mungkin tahun tahun berikutnya (keburu saya jadi orang, belum nyicip Pesta Blogger).


TAPI, boleh dibilang ini mingguku. Minggu luar biasa untukku, dengan segala kesibukanku di U-Dab yang tak habis-habis. Ada banyak hal, yang me’rumah’kan-ku. Yang mengobatiku akan rasa kangen yang sudah memenuhi selap-selip rusukku, tanpa meninggalkan ruang kosong sedikitpun.

Kemarin-kemarin orang rumah sempat telepon, sebentar sih, hanya 30 menit (hajar!). Tapi, yang lebih yahud lagi, paket dari rumah akhirnya tiba juga, setelah melintas batas antar-benua. Jumat kemarin, aku sempat-sempatkan untuk jalan ke Kantor Pos Montezuma, padahal cuaca dingin luar biasa, karena kakakku sudah uring-uringan ingin mendengar kata, “YA! PAKET SUDAH DITERIMA!” Saat kukeluarkan kunci PO BOX dari tas Eiger hijauku (yang mulai robek sana-sini). Klik! Terbukalah kotak kecil itu, dan kutemukan sebuah tanda pengambilan paket, dan kartu pos dari India, dari temanku Kevin di Mahindra United World College India. Sebelumnya aku sudah dapat kartu pos juga dari Theresia yang di UWC Maastricht, dan Nadya yang di Atlantic College, Wales. Tinggal tunggu yang dari Italy, iya kan Christian? Hehe.


Kembali ke paket. Kubawa paket, melintasi jembatan, dan sekilas kulihat bahwa musim gugur sudah benar-benar gugur.

Di kamar, kubuka lekas-lekas kotak sepatu itu. Dan kutemukan tiga bungkus mie instan di sana. Seperti kata Bagus Cn Retsu mengomentari status Facebook-ku, Indomie itu surga dunia. Sial, benar sekali, tapi sampai sekarang masih kusimpan. Stok kalau aku benar-benar butuh dan kangen Indonesia nanti :’D

Selain converter (colokan US sama Indonesia beda loh), ada juga bendera. Bendera merah putih. Langsung kuambil thumbtacks, dan menempelnya di dinding kamarku. Sekarang aku bisa upacara tiap hari, bisa nyanyi Indonesia Raya sendiri, atau ingat-ingat waktu main bendera di kelas.

Ya, aku butuh waktu sejam untuk membuka semua paket itu (selama free-code loh), dan meresapi barangnya satu-satu. Senang rasanya, sekaligus sedih. Mengapa aku baru sadar sekarang, bahwa segala sesuatunya begitu luar biasa tanpa pernah aku bersyukur.

2 hari yang lalu, saat dinner, aku mengantri seperti biasa. Antriannya panjang, dan mengular, padahal perut sudah kukuruyuk seperti ayam.

Kulihat menu malam itu, dan aku terkejut setengah mati. TEMPEH (SOY FOOD FROM INDONESIA)! Gila, aku teriak, dan temanku melihatku dengan tatapan ari-maneh-kunaon. Kuminta banyak-banyak pada pramusajinya, rasanya lumayan. Sebenarnya ini tempe bumbu saus, dengan wijen, paprika, dan wortel. Rasanya seperti surga dunia (lagi).

Kemudian sepagian tadi, aku mengobrol bersama temanku dan kakakku via Skype. Aku benar-benar sujud syukur terhadap siapapun yang menemukan teknologi macam Skype. Aku ngobrol asyik dengan mereka, dan menyadari bahwa sudah dua bulan di sini. Aku rindu kalian, sungguh. Summer nanti kita ke Dufan, ya, teman-teman.

Homesickku mengental belakangan ini, tapi untunglah terobati juga. Rasanya tidak seperti setengah depresi kok, karena aku mulai terbiasa dengan segalanya (kecuali tugas membuat papernya). Aku mulai menemukan tempatku, di mana aku bisa berkata, “Aku kembali ke rumah.”

Tapi untunglah, event yang kuorganisasi: Skype bersama artis, sukses juga. Terima kasih Ciko, Mansur, Karima, dan Ratna. Akhirnya setelah 2 bulan aku bisa lihat wajah kalian juga. Kangenku sudah pecah, dan pasti akan menggerumbul lagi.



Sore ini ada pesta Halloween. Aku tak akan ikut sepertinya, rasanya aku bukan aku jika aku datang ke sana. Tapi besok, ada Trick-Or-Treat! Akan kusambangi rumah-rumah di sekitar kampus, mengetuk dan mengambil permennya, dan menjual kembali permen itu, haha. Kostum? Mukena putih panjang (dari @nengratna, sebelum pergi, maaf ya neng dipakai yang nggak-nggak mukenanya) dan rambut acak-acakan cukup menjadikanku sebagai hantu khas Indonesia.

Tak sabar menunggu salju, tak sabar menunggu waktu kembali dengan pesawat dan melihat Jakarta dan pengapnya dari kejauhan. Ingin menolong saudara-saudaraku di Indonesia juga, sayang di sini tak ada coin a chance. Akan kucari jalan lain, pasti.

“Fabi ayyia la irabbikuma tukadziban.” QS Ar-Rahman: 13. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar