28 Juni 2010

Maaf, Kami (Tidak) Bisa Disuap (Lagi)

Tahun ini boleh jadi aku jejingkrakan, karena sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku, dan mimpi-mimpi yang asalnya hanya tulisan asal, mewujud perlahan. Wih!

Syukur tak putus-putus, karena kemarin 12 Maret 2010, tulisanku dimuat di harian nasional, Kompas, dalam lomba Ulang Tahun Kompas Muda, yang berjudul "400km Pertama Jauh dari Orangtua". Selengkapnya bisa baca di sini.


Ah, senangnya bukan kepalang! Sementara itu, ob
sesi untuk bisa masuk MIT semakin tebal. Rasanya ingin sekali menjejakkan kaki di sana, berfoto dengan MIT Dome, dan menikmati kehidupan mahasiswa yang haus akan ilmu.

Aku yakin kesempatan itu pasti akan datang suatu hari nanti. Sementara itu, yang harus kulakukan hanyalah mencoba segala sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.

Dan akhirnya, aku dicalonkan sebagai penerima beasiswa di Armand Hammer United World College di USA selama 2 tahun. Aku cuma bisa melongo melihat sekolahnya yang merupakan sebuah kastil di Montezuma, New Mexico.

Efeknya, berkali-kali aku bangun tidur di pagi hari, aku mengecek segalanya dan mengingat-ingat semuanya. Karena ini seperti bunga tidur bagiku.

***

Lazimnya, aku harus membuat paspor, karena sejengkalpun aku belum pernah keluar dari teritorial Indonesia. Kantor Imigrasi menjadi tujuanku, dengan didampingi kakakku dan motor bebeknya, membelah Bandung lewat Jembatan Pasupati.

Singkat kata singkat cerita, akhirnya setelah mengantri berlama-lama, aku bisa juga memasukkan formulir dan persyaratan yang dibutuhkan. Dua hari kemudian, aku pun datang untuk wawancara dan foto. Tetapi aku kaget begitu diwawancara.

"Jadinya minggu depan, Pak?"

"Iya. Kami butuh waktu empat hari kerja untuk memprosesnya."

Sial, rutukku dalam hati. Padahal aku membutuhkannya secepat mungkin. Maka, keesokan harinya, aku datang bersama ayahku ke sana, mencoba mencari 'jalur cepat' dengan membayar lebih.

Ada seorang bapak petugas, yang kami dekati.

"Pak, anak saya sudah wawancara dan foto kemarin. Dia butuh paspornya secepatnya. Bapak bisa bantu?"

"Oh, sebentar."

Bapak itu kemudian masuk ke ruangannya, dan kemudian keluar lagi kurang dari satu menit.

"Maaf, Pak. Bapak ambil saja paspornya sesuai waktunya. Saya tidak bisa membantu."

Ah, arifnya. Ternyata papan-papan penghias dinding imigrasi bahwa petugas tidak boleh menerima gratifikasi dan suap bukan hiasan. Tapi aku kesal sendiri, kok ya harus lama-lama tho' bikin paspor doang?

Pictures are taken from:

21 Juni 2010

Mencari Jati Diri di Selasar Rajawali

Bau desinfektan menyergap hidungku, mengerutkan keningku. Sudah sekian hari, aku bolak-balik ke sini. Tapi tetap saja aku belum bisa terbiasa dengan aroma luar biasa ini.

Sementara itu, langkahku cepat tegap, menuju kamar bedah. Lampu bohlam termakan usia itu masih menyala, tanda operasi belum jua selesai. Di selasarnya, adikku duduk dan memainkan rubik yang masih belum sama rata warna di tiap sisinya, kakakku membolak-balik buku Analisis dan Desainnya, dan ayahku hanya terpekur. Di mana ibuku? Beliau sedang berjuang di dalam kamar itu.


Tanganku bermain-main. Bosan menunggu, aku menyusur selasarnya. Satu koridor ke koridor yang lain. Dari ICU, ke ICCU. Dari NICU, ke PICU (sungguh aku baru tahu istilah ini dari sana, kukira hanya ada ICU). Dari Masjid, ke kamar mayat. Dari IGD, ke ruang tunggu.


Rumah Sakit Rajawali, adalah rumah sakit pertama yang kukunjungi setelah bertahun-tahun sejak aku dirawat di Dustira, yang kutahu itu hampir 10 tahun lalu. Terpisah menjadi dua bagian di kanan kiri jalan trans Bandung-Cimahi, rumah sakit ini dihubungkan jembatan tinggi di atas jalan, yang njot-njotan saat kucoba.

Dari sini, aku benar-benar banyak belajar, apalagi setelah fase tidur-makan-sholat-main selama seminggu.

Satu

Suster mengetuk ruangan ibuku dirawat. Seperti kebanyakan suster, setelannya selalu seperti yang sedang Anda bayangkan. Membawa baskom, dan bertanya dengan medok a la Jawa, dan penekanan di beberapa titik, "Mau di-waslap sekarang, Bu?"

Untuk selanjutnya, aku keluar. Membawa buku Sudoku 1 yang kugunakan membunuh waktu, sambil mendengarkan obrolan beliau-beliau.

Mulai dari nama anak, hingga sekolah, semua tuntas terbahas. Bahkan curhatan ibu rumah tangga, hingga kesal pada atasan, semua bablas.

Dokter-dokter juga tak lebih dari orangtua dari anak-anak mereka. Bahkan presiden, ataupun orang penting sekalipun. Kadang memang susah memaklumi kriminalitas. Tapi, perut dan senyum dari orang terkasih, kadang bisa menghalalkan segalanya. Tinggal mengarahkannya saja.

Dua

Lengkingan bergaung. Ruang ICU berduka. Satu lagi yang pergi meninggalkan bumi. Ah, meninggal tak selalu di Ruang ICU kok.

Itu dia, aku sering lupa. Padahal kematian bisa jadi pecut paling sakit yang menyadarkan posisi kita. Ya namanya juga manusia, pemakluman itu biasa. Lupa juga dibilang biasa. Kalau begitu, apa gunanya otak? Itulah yang sering kukatakan pada diri sendiri. Dasar Setan, ada-ada saja.

Tiga

Hal remeh ternyata bisa jadi luar biasa. Tidak bisa disepelekan begitu saja. Contohnya, buang angin. Aku agak excited sendiri mendengar penjelasan suster tentang hal satu ini.

"Jadi dik, kalau ibunya sudah kentut, lapor ke saya, ya."

"Memangnya kenapa, sus?"

"Kalau sudah, berarti pencernaannya sudah lancar, sudah lewat masa kritis. Jadi bisa mulai makan juga."

"Wah."

Picts taken from:

13 Juni 2010

Utak-Atik Asyik

Anda tahu Sudoku? Permainan peras otak asal Jepang ini, ternyata tak sedikit peminatnya. Banyak, bahkan dibuat sebagai kuis di media cetak sebagai pendamping Teka-Teki Silang. Saya juga sering mencoba mengirimkan jawabannya ke salah-satu media cetak, dan tercengang sendiri setiap bulannya. Mengapa? Jawaban saya benar, tetapi Dewi Fortuna selalu belum berpihak pada saya, hehe.


Rumit, ya sepertinya? Itu hanya kelihatannya kok. Angka dalam permainan Sudoku ini lebih sebagai simbol (bagi orang awam seperti saya). Kita hanya tinggal menempatkannya di tempat yang tepat. Tak ada hitungan rumit, apalagi kalkulasi kalkulus. Anda hanya perlu tahu triknya, dan segalanya bisa terpecahkan dengan amat mudah.

***

Ya, kalau bisa dipikir, dunia bukan tak selebar daun kelor, tetapi dunia seharusnya bisa menjadi semudah sudoku. Banyak berlatih, sering mencoba memecahkan, maka semudah itulah kita bisa keluar dari masalah. Tapi teori tak pernah semudah yang saya kira dalam hal praktiknya.

Itulah, mengapa kita diajarkan matematika dari jabang bayi. Saat di kandungan pun kita diajarkan untuk keluar kurang lebih sembilan bulan dari rahimnya. Saat balita, kita belajar mengenali ulang tahun ke berapa untuk mendapatkan hadiah. Mulai duduk di bangku sekolah, calistung adalah hal dasar yang pertama kita kenal.

Matematika juga yang mengajarkan kebineran di dunia ini berlaku universal. Ada ya, ada tidak. Ada surga, ada neraka. Yang berada di tengah cenderung dianggap keluar jalur. Permasalahan pun tak selalu bisa diambil jalan tengahnya, jika ya, maka ya, dan jika tidak, maka tidak. Begitulah, merembet pada masalah keadilan, karena daerah abu-abu selalu susah diputuskan statusnya.

Ah ya, dunia ini juga dua kutub, kok. Dan semuanya bisa disimpulkan dalam dua pilihan saja.

Pictures taken from:
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:_lUkq7qKsnLTBM:http://www.pedagonet.com/Sudoku2e/sudoku-puzzle.jpg

11 Juni 2010

What's Hot In June 2010

Flap flip, akhirnya bapak-bapak yang sejak tadi berkutat dengan komputerku beres juga. Kupotong pita dengan semangat, karena internet berhasil masuk ke rumahku (lagi). Ya, setelah menggunakan modem dari salah satu provider seluler selama setahun, aku cukup kesal karena koneksi yang tidak stabil, dan lebih senang berjalan sedikit ke depan untuk mencicip dunia maya di warnet. Benar-benar, kalau tangan kananku adalah dunia nyata, maka tangan kiriku boleh jadi dunia maya.
***

Apa sih yang ramai di Bulan Juni 2010? Kalau Anda bertanya tentang ini, jawabannya bisa banyak sekali. Boleh jadi Ujian Kenaikan Kelas, liburan, Hari Kesaktian Pancasila, bahkan video porno selebriti. Omong-omong soal UKK, doa-doa sepertinya makin banyak mengambang di udara belakangan ini. Semoga saja, semuanya mendapatkan yang diharapkan, amin.

Tetapi, di atas semuanya, tak ada yang bisa menolak bahwa Piala Dunia 2010 adalah event terbesar di dunia yang boleh dibilang sebagai icon bulan Juni 2010 ini.
Buat saya sendiri, Piala Dunia yang diadakan di Afrika Selatan tahun ini lebih sebagai representasi kemenangan Nelson Mandela atas paham perdamaian dan kesetaraannya. Anda tahu? Afrika Selatan benar-benar terpuruk saat orang Barat datang, dan menjajah tanah-tanah mereka.

Sungguh, mereka benar-benar mirip dengan negeri kita, Indonesia. Sayang, sampai saat ini kita masih belum bisa membuktikan taji kita di dunia. Ya, bisa dilihat, kita masih belum dipercaya untuk mengadakan Piala Dunia, hooligan kita pun masih ganas-ganas. Perasaan saya sampai kebal dengan berita soal rusuh suporter sepak bola.

Ah, tapi tidak juga. Saya punya "teman", yang saya follow di Twitter. Dia sangat mencintai Indonesia, padahal dia orang Budapest. Blognya tentang Indonesia benar-benar luar biasa, dan saya selalu kagum dengan foto-fotonya. Tapi kenapa, ya, hal yang sebenarnya tidak tertib dan aneh, selalu mengundang decak kagum orang luar? Bahkan di Jakarta ada tur ke pinggir rel segala untuk melihat kemiskinan secara live. Ckck.
Wisatawan Australia berwisata di pinggir rel Stasiun Senen

Yah, Indonesia mungkin rusuh, kurang tertib, atau apapun. Tetapi aku selalu bersyukur menjadi bagian darinya (sambil dalam hati berharap, "Ayolah, kapan kamu jadi Tuan Rumah Piala Dunia?" haha).

Pictures taken from: