21 September 2010

"Merayakan Keragaman" (Dengan Tanda Kutip)

Aku terdampar di sini, di negeri Paman Sam, mengais-ngais ilmu. Belakangan ini rinduku menggembung serupa balon gas yang wara-wiri saat MOS anak sekolah. Bergerombol dilepas ke langit, pecah jadi tangisan. Rasanya ingin lari ke bandara dan naik pesawat pulang. Tapi begitu ingat alasanku di sini; ditabah-tabahkanlah hatiku, disenyum-senyumkan bibirku, dioptimis-optimiskanlah pikiranku.

Memang benar, kata pepatah:

Alamak, dulu aku senang sekali menghujat negeri sendiri dan memuji negeri orang. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau.

Kalau boleh jujur, aku jadi lebih "Indonesia" di sini. Senang pakai kaos yang ada Indonesia-nya, lebih sering update berita dalam negeri, termasuk rajin promosi Indonesia ke teman-teman (salah satunya, dengan bagi-bagi gantungan kunci wayang, hehe).

Hal ini juga membuatku sadar dan kritis, melihat Indonesia dari kacamata dunia. Aku seperti bangun dari tidur nyenyak yang panjang, dan menyadari ada yang hilang di jantung Indonesia. Hal yang begitu berharga, dan baru kita sadari setelah kehilangannya.

Ya, kalau dilihat-lihat, Indonesia kehilangan "Indonesia"-nya, identitasnya sebagai bangsa. Yang diagung-agungkan sebagai negeri yang toleransinya kuat, rekat; negeri yang selalu gotong royong, ramah, menghargai perbedaan.

Tanya, masihkah kita seperti itu?


Telinga kita sudah kebal dengan berita anarkis. Otak kita pun jadi bebal, muka kita tebal. Sejak kapan kita jadi tak acuh tanpa menyadarinya? Melihat berita di stasiun televisi hanya untuk bahan obrolan saat ngopi dengan relasi, atau sok kritis terhadap keadaan negeri ini lewat Twitter dan Facebook supaya terlihat peduli.

Saya beritahu satu fakta menarik. 3 orang teman lintas benua saya, menghampiri asrama di sore musim panas 2 minggu lalu. Tanpa ba-bi-bu, mereka menyodorkan buku Words Without Borders, di mana salah satu goresan Seno Gumira Ajidarma tersurat dalam Bahasa Inggris, The Children of The Sky. Dalam sekejap, bahkan tanpa aku mengetahui isinya terlebih dahulu, mereka memberondong pertanyaan yang menancap di ulu hati, "Is it right that the people in your country just ignoring the children poverty while ironically they're reading The Economist comfortly in their car? (Apakah benar orang-orang di negaramu tidak memedulikan pengemis anak-anak sementara ironisnya, mereka dengan nyaman membaca The Economist di mobil mereka?)"

Hati siapa yang tidak mencelos mendengarnya. Aku cuma terbata menjawab seadanya, tak berdaya, karena memang seperti itu kenyataannya.



Benar sekali, kita sedang "merayakan keragaman". Keragaman akan kemiskinan, karena gap Si Kaya dan Si Miskin yang terentang melebar. Keragaman akan kebudayaan, karena apapun yang kita lakukan sekarang, berkiblat pada kebudayaan luar, menelannya bulat-bulat. Toleransi akan keragaman yang "luar biasa", dengan aksi anarkis dan main hakim sendiri.

Aku ingin kembali ke Indonesiaku yang dulu, yang merayakan keragaman, bukan "merayakan keragaman" yang berlebihan. Cukup Indonesia yang benar-benar Indonesia.

Sumber gambar:http://scramble-399.blogspot.com/, www.kompas.com, http://us.detiknews.com/read/2010/07/06/111224/1393751/10/hmi-itu-tindakan-anarkis-tak-beradab-dan-ancam-kebebasan-pers, http://www.surya.co.id/2009/02/04/anggota-dprd-jadi-tersangka-kasus-demo-anarkis-di-medan.html, http://stdharmakerthi.com/blog/?p=114

17 September 2010

Oh Begini Whiteboardnya

Oh, begini toh kelas di sini.
Oh, begini toh sistem belajar di sini.
Oh, begini toh guru di sini.
Dan segenap "Oh" lainnya.

Kalau ditanya apa sih yang membuat saya paling shock dengan kelas, mata pelajaran, atau gurunya, saya akan jawab: teknologi yang digunakan. Intranet, email, proyektor, in focus, semua dimanfaatkan habis tak bersisa.

Contohnya
Smart Board. Pernah dengar? Kalau belum dengar, klik di hyperlinknya, hehe. Whiteboard apalagi blackboard, sudah ketinggalan zaman (walaupun masih digunakan).

Foto bisa dilihat
di sini.

Kalau ditilik fungsinya sih seperti gabungan in focus dan whiteboard. Yang asyik adalah, tak perlu lagi repot-repot mengisi ulang spidol, atau belepotan kena tinta. Apalagi kena debu kapur. Lalu, bisa langsung klak-klik sendiri di boardnya, tanpa harus bolak-balik laptop-layar.

Harganya? Mulai $2000-an, ya 18 juta rupiah lah kalau dikurskan ($1=9000 rupiah).

Murah, ya. Coba kalau semua sekolah di Indonesia punya beginian.

12 September 2010

From Eid Mubarak to Buddy Dance

Jumat ini meledak, napas tersedak-sedak, buatku. Antusiasme mengasap di sekelilingku, membakar ubun-ubunku. Ini pertama kalinya Eid Fitr tanpa keluargaku seperti biasanya. Aku berada nun jauh 13 jam beda waktunya, dan aku beruntung masih bisa merasakan nikmatnya sholat eid.

2 jam dari Montezuma ke Albuquerque cukup membuatku menabung jatah tidurku. Sepanjang jalan, takbir berkumandang dari mulut kami; aku, Malak, Fatima, Zeinab, Safa, Abubakar, Ahmad, Ikhzaan, Mohammad, dan keluarga Eyad, guru yang suka kutebengi sahur dan iftharnya; yang tentu mengobati rasa rindu akan Indonesia yang tak habis-habisnya.

Tibalah kami di
Islamic Center New Mexico, dan lantunan takbir menyeruak keluar dari pintunya. Subhanallah, aku rindu suasana ini.


Yang asyik adalah, khotbahnya dalam Bahasa Inggris, sedikit-sedikit bisa dimengerti. Aku jadi tahu beberapa terminologi Islam dalam Bahasa Inggris, seperti profit untuk pahala, misalnya.


Setelah sholat eid dan khutbah, DKM masjidnya menyediakan refreshment dan snack, yaitu kopi dan muffin/ donat. Yang satu ini cukup meredakan raungan predator dalam perutku.


Lalu, kami melanjutkan dengan acara yang boleh dibilang bertajuk "mencari countrymate". Arabic banyak, India banyak, Afrika juga banyak. Mana Indonesia? Setelah pencarian berlarut-larut, akhirnya aku menemukan juga "countrymate"-ku, Mbak Rinta namanya. Ternyata beliau juga kenal dengan Mbak Dini, beliau kemungkinan besar akan jadi target utama buat melindungi diri dari terjangan ganas salju winter break :D

Kemudian, kami pergi ke mall (ya nengratna, akhirnya saya ke mall amerika). Bajunya sih, murah di Indonesia (jelas!). Tapi di sini, aku banyak berpikir. Mulai dari: 1. Apa bedanya orang Indonesia dengan orang bule saat berbelanja? 2. Bagaimana orang bule memanajemen mall mereka? 3. Apa kelebihan mereka yang bisa diadopsi oleh kita? (ini bisa jadi peluang baru!)

Jam menunjukkan pukul 1, saatnya sholat Jumat. Kukencangkan lagi sabuk pengaman, dan kembali ke Islamic Center sebelumnya. Jujur, ini pengalama pertama Sholat Jumat. Di Indonesia, wanita tidak diwajibkan, bahkan sangat jarang yang Jumatan. Kalau boleh jujur, aku lebih suka gaya berdakwah ustadz Indonesia. Tidak menekan, tapi persuasif luar biasa. Kalau ustadz India yang satu ini apinya menjalar ke mana-mana, panas. Tapi buatku, ini bikin melengos:


Naon sih ieu? Maaf ya, ustadz, hehe.

Setelah ini, tebak kami ke mana. Ya, ke mall lagi! Seconda-ku bilang: mall bisa jadi barang langka, kerjaannya UWC-USA hiking melulu. Sedikit bocoran, akhir September nanti ada yang namanya Southwest Studies, semacam karyawisata. Tapi karyawisatanya hiking dan camping. Dan itu luar biasa, pastinya. Salah satu tujuannya ke Grand Canyon, tapi aku agak malas ikut latihan preparation-nya yang harus berolahraga dari pukul 6. Kuharap sih, bisa dapat yang Rock Climbing atau hiking ke aku-lupa-namanya, yang jelas disponsori Ben. Soalnya, perjalanan terakhirnya berakhir di Sento! Wih, kapan lagi mandi Sento di Amerika :D

Kembali ke Jumat ceria, di mall. Barangnya mahal-mahal sih kalau dikurskan. Kaos biasa saja bisa 10 dollar. Tapi, untunglah mataku jeli, dapat juga kaos harga 2 dollar 30 cent (mata berputar jenaka). Ya, ya, saya gila harga. Tetapi ada hal lain, stok kaosku menipis, dimakan tetangga.

Setelah itu, kami kembali. Mataku benar-benar dimanja dibuai pemandangan sekitar. Padahal Albuquerque itu gurun. Bayangkan kalau Bandung ditata apik, hasilnya pasti lebih ciamik.



Perjalanan pulang tak kalah luar biasa, takbir berkumandang di sudut mini bus, tanpa terasa sampailah juga di kampus tercinta. Jarum jam menunjukkan pukul 8. Kutepuk dahiku keras, masya Allah, Buddy Dance!

Buddy Dance adalah pesta dansa, di mana first year dipasangkan dengan second year -first year tidak mengetahui pasangannya-, laki-laki dengan perempuan. Gila, seumur-umur Prom saja belum pernah nyicip! Alhasil, nego dengan panitia pun tidak berhasil. Aku harus datang.

Senyum lebar artifisial kulatih. Sungguh, Albuquerque sudah cukup bagiku hari itu. Terduduk di kamar, dengan barang-serba-pinjam-semua, aku diam, menunggu. Pintu pun diketuk, dan di sana berdiri buddy-ku dengan sebuket mawar merah. Diam, oh ternyata leader grup orientasiku, Pau dari Spanyol. Kemudian, kami berjalan ke kastil, dan masuk ke ruangan di mana 2 pasangan buddy lainnya sudah menunggu.

Ini-bukan-aku, berkali-kali aku berkata seperti itu. Dinner yang tersedia jadi tak senikmat Batagor Isan yang dimakan sama-sama. Tapi, aku mendengar banyak cerita dan pengalaman dari mereka. Bagaimana mereka "terdampar" di UWC, sampai cerita dari tahun lalu. Setelah itu, mereka, para second year menampilkan puisi dan nyanyian dalam Spanish. Ngaberekbek, tak kumengerti. Seumur-umur aku hanya mengerti Como estas dan bien.

Beranjak menuju ke Student Center, di mana party sebenarnya berada. Sepertinya label "culture shock" menempel lekat di dahiku, dan bertambah-tambah saat berjalan di red carpet, foto, dan masuk ke ruang gelap dengan lampu disko berkedap-kedip.

Si nurani berontak, mohon undur diri. Aku pun bilang terus terang, bahwa aku tak bisa ada di ruangan ini. Kami pun keluar, dan duduk-duduk mengobrol, menantang dinginnya malam di kota 3500m di atas permukaan laut (2 kali lipat Tangkuban Perahu) -yang membuatku sadar mengapa summer di sini dingin-.

Saat lelah menghajar lebih kuat, aku undur diri, kembali ke asrama. Rasanya benar-benar tak enak karena aku seolah-olah memaksakan kehendak padanya. Semoga Anda mengerti, sama-sama jadi pelajaran buat kita. Dan 9 bulan masih panjang, aku harus lebih mengorganisir hati, memanajemen diri, dan tanya nurani.

Pau menyodorkan pernyataan yang membuatku terjaga malam itu, "Mustahil seseorang tidak berubah dalam 9 bulan. Pilihan begitu banyak, saatnya mencoba (dalam konteks positif), biarkan dirimu memilih yang nyaman buatmu, tanpa dikte dan doktrin orang lain."

Aku cuma melengos sedih, Jumatku dosisnya berlebih.

07 September 2010

K untuk Kastil



Sebelumnya maaf, kalau resolusi gambarnya kurang memuaskan. Saya agak malas upload foto dari kamera digital soalnya, hehe.

Ini adalah pemandangan yang bisa dilihat dari kamarku. Ya, ada kastil di sana! Amboi nian, bukan? Elok bukan kepalang, seperti Harry Potter rupanya. Di kastil ini, ada 2 asrama, satu untuk putra yaitu Kosciusko, dan putri yaitu Aconcagua. Asramaku sendiri Kilimanjaro, di lower campus letaknya. Kalau mau makan di cafetaria yang ada di kastil, harus naik tangga dulu. Dan tangganya ada kalau hanya 100-an anak tangga. Lama-lama betisku jadi berotot :)

Lalu, di kastil ini, juga ada beberapa kelas, terutama yang social science. Untuk experimental science, art, dan language, ada gedungnya sendiri di lower campus.

Yang menarik adalah kalau seperti hari ini: aku breakfast di cafetaria (kastil-upper campus), lalu kelas kimia di Zeinal-Zade Science Center. Kemudian aku naik ke kastil, karena ada kelas ekonomi. Setelah itu aku turun lagi ke lower-campus, untuk assembly di auditorium. Jam menunjukkan pukul 12, artinya lunch di cafetaria-kastil. Tapi sebelumnya ada kelas Bahasa Inggris dengan Cheikh di ruang 201, IT and Language Center. Setelah leyeh-leyeh sebentar di kamar, aku ke Science Center lagi untuk kelas Self-Taught Indonesian bersama Robin yang Guru Bahasa Perancis. Sore menjelang, aku pun pergi ke Anixter Swimming Pool, berenang di sana, yang airnya hangat dan bikin berkeringat. Kemudian aku ke kastil lagi, untuk dinner, sekalian nyolong apel untuk camilan tengah malam di kamar.

Pertanyaannya adalah: berapa jumlah anak tangga yang kunaiki hari ini? :)

02 September 2010

Ghost Ranch

Halo semua! Kabar luar biasa dari Montezuma, dengan ambisi dan amunisi yang meledak-ledak. Sayang, badan mulai berontak, terlalu lelah mungkin, dan badanku sendiri masih harus beradaptasi dengan langit New Mexico yang tak keruan.

Hari Jumat minggu lalu aku pergi ke Ghost Ranch, sebuah tempat camp dan aktivitas, juga hiking. Kalau di Indonesia, kurang lebih seperti LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa). Banyak game, banyak workshop. Workshop yang aku ikuti antara lain, membuat t-shirt, mountain biking, UWC Missions and Values, karate (hyat!). Yang paling berkesan sih mountain biking, karena bersepeda yang kulakukan selama di Indonesia seolah belum ada apa-apanya. Ini benar-benar mountain, dan biking! Benar-benar lewat gunung, lewat lembah, menyebrangi sungai, dsb.

Esok harinya, aku dan teman setimku (Tim 7) berangkat untuk Wilderness Program, Expedition. Dengan backpack yang berat, kami menyusuri pasir (yang tandus dan kering, yang bikin haus melulu, dan bibir pecah-pecah). Sempat tak percaya juga: Aku baru seminggu di USA, dan kini aku hiking di gurun pasir yang banyak kaktusnya! Timku luar biasa, kalau boleh dibilang. Baru pertama kali bertemu, langsung packing, langsung berangkat untuk 3 hari 2 malam. Terima kasih banyak untuk Wilderness Leaders-nya, Daniel dari Venezuela, Ben dari USA-Massachusetts, Zeinab dari Lebanon, dan firsties yang luar biasa, Cheyenne dari Barbados, Svenja dari Jerman, Harry dari USA-North Carolina, dan Jomar dari Filipina.

Perasaan yang luar biasa saat pada akhirnya aku tiba di puncak gunung bebatuan, dan melihat gurun di sekitar. Nah, yang patut diketahui dari ekspedisi kali ini adalah, benar-benar berbeda dengan camping atau hiking yang aku ikuti waktu Pramuka SMP. Menurutku, wilderness kali ini 3 kali lipat lebih hiking dan lebih camping daripada Scoutone atau Jamnas. Kenapa? Karena yang ada di backpack kita hanya: 1. Sleeping bag 2. Ground sheet 3. Bivak 4. Rain jacket 5. Mangkuk plastik 6. Jaket 7. Pasta gigi, titik. Untuk makanannya sendiri, entah mengapa rasanya terlalu mewah buat hiking dan camping. Budaya barat juga, kalau mereka senang yang lebih simple dan praktis. Jadi, makananku selama berhari-hari itu: pancake, cherry pie, corn bread, tortilla. Kami membawa banyak makanan kaleng, dan berbungkus-bungkus snack macam pretzel, M&M's, cranberries, raisins, dll. Yang menarik adalah, snack yang ini juga beda jauh dengan snack Indonesia yang kaya akan MSG :)

Yang aku suka dari wilderness program ini adalah konsep campnya. Kalau camp waktu Jamnas, LT, atau fun-camp di Indonesia, kita terbiasa bawa banyak barang dan sebisa mungkin merasa homey di tenda. Nah, yang aku alami kebalikannya. Bahkan kita cuma bawa semacam ponco untuk bikin tenda. Tali temalinya pun pakai tali koor yang ringan namun kuat. Semua serba fungsional dan efektif. Lalu, untuk mencegah binatang berbahaya, kami membagi camp menjadi 3 bagian: camp putra, camp putri, dan kitchen. Nah, si kitchennya ini sebisa mungkin jauh dari camp tempat tidur (maklum, di sini banyak beruang, serius). Terus, makanan dan benda beraroma seperti pasta gigi (tak ada yang bawa sabun apalagi shampoo) dikumpulkan di suatu tas besar, dan digantungkan di atas pohon jauh dari camp. Hal ini efektif luar biasa.

Asyiknya lagi, kalau biasanya camp di Indonesia bawa banyak baju hangat, kali ini tidak. Jangan salah, gurun itu lebih ekstrim suhunya. Siang bisa sampai 40 derajat, malam bisa sampai belasan Celcius. Tapi, kami menggunakan baju sintetis dari polyurethane dan sebangsanya, tujuannya supaya cepat kering saat terkena hujan atau keringat dan tidak menimbulkan hipotermia. Sedangkan sleeping bag-nya sendiri harus sehangat dan sebagus mungkin, supaya bisa menangkal dingin di malam hari.

Jauh lebih asyiknya lagi, kami, yang baru masuk, sekitar 100 orang, dipinjamkan sleeping bag, boots, backpack, rain jacket, dari sekolah!

Beruntungnya kami, beruntungnya aku.