31 Oktober 2010

Rasa Indonesia

Dirobek dari jurnalku, seminggu yang lalu.


Sudah tahu belum, aku jadi nominator Writing Contest Pesta Blogger 2010. Ya, nominator, yang sayangnya hanya sebatas itu, tidak lebih, tidak kurang. Perasaanku sensitif ternyata, firasatku benar, haha. Padahal aku sudah sesumbar sana-sini, malu jadinya. Belum lagi rasanya sebal juga, ada satu mimpiku yang kucoret lagi, bukan karena terwujud, tapi karena tak terwujud dan sudah lewat batas waktunya. Ya, aku tak bisa datang ke Pesta Blogger tahun ini. Dan kemungkinan besar tahun depan pun tak bisa, karena aku mengorbankannya demi daftar masa depan yang lain. Dan mungkin tahun tahun berikutnya (keburu saya jadi orang, belum nyicip Pesta Blogger).


TAPI, boleh dibilang ini mingguku. Minggu luar biasa untukku, dengan segala kesibukanku di U-Dab yang tak habis-habis. Ada banyak hal, yang me’rumah’kan-ku. Yang mengobatiku akan rasa kangen yang sudah memenuhi selap-selip rusukku, tanpa meninggalkan ruang kosong sedikitpun.

Kemarin-kemarin orang rumah sempat telepon, sebentar sih, hanya 30 menit (hajar!). Tapi, yang lebih yahud lagi, paket dari rumah akhirnya tiba juga, setelah melintas batas antar-benua. Jumat kemarin, aku sempat-sempatkan untuk jalan ke Kantor Pos Montezuma, padahal cuaca dingin luar biasa, karena kakakku sudah uring-uringan ingin mendengar kata, “YA! PAKET SUDAH DITERIMA!” Saat kukeluarkan kunci PO BOX dari tas Eiger hijauku (yang mulai robek sana-sini). Klik! Terbukalah kotak kecil itu, dan kutemukan sebuah tanda pengambilan paket, dan kartu pos dari India, dari temanku Kevin di Mahindra United World College India. Sebelumnya aku sudah dapat kartu pos juga dari Theresia yang di UWC Maastricht, dan Nadya yang di Atlantic College, Wales. Tinggal tunggu yang dari Italy, iya kan Christian? Hehe.


Kembali ke paket. Kubawa paket, melintasi jembatan, dan sekilas kulihat bahwa musim gugur sudah benar-benar gugur.

Di kamar, kubuka lekas-lekas kotak sepatu itu. Dan kutemukan tiga bungkus mie instan di sana. Seperti kata Bagus Cn Retsu mengomentari status Facebook-ku, Indomie itu surga dunia. Sial, benar sekali, tapi sampai sekarang masih kusimpan. Stok kalau aku benar-benar butuh dan kangen Indonesia nanti :’D

Selain converter (colokan US sama Indonesia beda loh), ada juga bendera. Bendera merah putih. Langsung kuambil thumbtacks, dan menempelnya di dinding kamarku. Sekarang aku bisa upacara tiap hari, bisa nyanyi Indonesia Raya sendiri, atau ingat-ingat waktu main bendera di kelas.

Ya, aku butuh waktu sejam untuk membuka semua paket itu (selama free-code loh), dan meresapi barangnya satu-satu. Senang rasanya, sekaligus sedih. Mengapa aku baru sadar sekarang, bahwa segala sesuatunya begitu luar biasa tanpa pernah aku bersyukur.

2 hari yang lalu, saat dinner, aku mengantri seperti biasa. Antriannya panjang, dan mengular, padahal perut sudah kukuruyuk seperti ayam.

Kulihat menu malam itu, dan aku terkejut setengah mati. TEMPEH (SOY FOOD FROM INDONESIA)! Gila, aku teriak, dan temanku melihatku dengan tatapan ari-maneh-kunaon. Kuminta banyak-banyak pada pramusajinya, rasanya lumayan. Sebenarnya ini tempe bumbu saus, dengan wijen, paprika, dan wortel. Rasanya seperti surga dunia (lagi).

Kemudian sepagian tadi, aku mengobrol bersama temanku dan kakakku via Skype. Aku benar-benar sujud syukur terhadap siapapun yang menemukan teknologi macam Skype. Aku ngobrol asyik dengan mereka, dan menyadari bahwa sudah dua bulan di sini. Aku rindu kalian, sungguh. Summer nanti kita ke Dufan, ya, teman-teman.

Homesickku mengental belakangan ini, tapi untunglah terobati juga. Rasanya tidak seperti setengah depresi kok, karena aku mulai terbiasa dengan segalanya (kecuali tugas membuat papernya). Aku mulai menemukan tempatku, di mana aku bisa berkata, “Aku kembali ke rumah.”

Tapi untunglah, event yang kuorganisasi: Skype bersama artis, sukses juga. Terima kasih Ciko, Mansur, Karima, dan Ratna. Akhirnya setelah 2 bulan aku bisa lihat wajah kalian juga. Kangenku sudah pecah, dan pasti akan menggerumbul lagi.



Sore ini ada pesta Halloween. Aku tak akan ikut sepertinya, rasanya aku bukan aku jika aku datang ke sana. Tapi besok, ada Trick-Or-Treat! Akan kusambangi rumah-rumah di sekitar kampus, mengetuk dan mengambil permennya, dan menjual kembali permen itu, haha. Kostum? Mukena putih panjang (dari @nengratna, sebelum pergi, maaf ya neng dipakai yang nggak-nggak mukenanya) dan rambut acak-acakan cukup menjadikanku sebagai hantu khas Indonesia.

Tak sabar menunggu salju, tak sabar menunggu waktu kembali dengan pesawat dan melihat Jakarta dan pengapnya dari kejauhan. Ingin menolong saudara-saudaraku di Indonesia juga, sayang di sini tak ada coin a chance. Akan kucari jalan lain, pasti.

“Fabi ayyia la irabbikuma tukadziban.” QS Ar-Rahman: 13. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

25 Oktober 2010

CEC Retreat dan Sholat di Gereja

Karena laptop yang baru tiba dari Amazon, semangat menulis mau tak mau terpecut juga. Produktivitas meningkat, termasuk di dalam social media. Tapi ujung-ujungnya entah kenapa dimatikan juga oleh si Tugas dan si Ujian, duo maut yang selalu bikin takut.

Dan kemarin Sabtu, akhirnya para firsties yang mulai jenuh (padahal belum ada apa-apanya dibandingkan second year) dengan rutinitas, disegarkan dengan CEC Retreat di Metodist Church di Las Vegas. Kenapa harus di gereja? Konon, ini bentuk donasi dari mereka kepada sekolahku, yaitu dengan menyumbang tempat.

Malam sebelumnya, aku tidur pukul 2.30 pagi. Nyata-nyatalah mataku tak bisa diajak kompromi selama seharian itu. Materinya keluar masuk seperti cacing kepanasan. Tapi ujung-ujungnya keluar semua.

Hem, tidak juga sih. Demi menghormati para CEC leaders, yang semuanya second year, yang merelakan Sabtu mereka untuk mengurusi para firsties sementara tumpukan tugas menunggu dengan anteng di kamar mereka, aku akan ceritakan sedikit.

Tapi sebelumnya, terima kasih untuk Adilson Gonzalez, temanku yang dari Mexico, yang bersedia fotonya kucomot untuk postingan kali ini. Gracias, mi amigo (pero tu eres feo :P)!

CEC adalah kependekan dari Constructive Engagement Conflict, bagian sentral dari UWC manapun. Berat ya judulnya. Tapi, intinya sederhana. Workshop-workshopnya berintikan bagaimana menjembatani konflik, karena semua siswa UWC dari latar belakang kultur dan kebiasaan yang berbeda. Jangan heran, kalau ada gesekan-gesekan kecil, seperti misalnya hanya karena persepsi tentang baik buruk yang datang dari kultur masing-masing.

Kebanyakan isi workshopnya sih diskusi, walaupun pada siang hari ada juga selipan game macam ricochet dan ninja (salah satu game favoritku semenjak tiba di sini). Yang bikin meringis ya angin musim gugur yang dingin itu. Tapi, senang juga rasanya melihat angin itu menggulung daun-daun kuning yang sudah rontok dan menciptakan topan kecil.

Langit New Mexico memang biru dan bersih sekali. Awan jarang mampir. Kalau dia menggantung, dijamin hari itu akan hujan. Kadang-kadang aku rindu langit berawan, seperti Indonesia.

Makan siang di dapur gereja dengan masakan India rasanya luar biasa, karena lidahku membacanya sebagai masakan Padang. Mirip luar biasa! Rasanya seperti papila-papila lidahku bangun dari tidurnya setelah 2 bulan makanan yang tak berasa. Makan malam pun perutku diisi dengan makanan Mexico, di sebuah restoran bernama El-Rialto, dekat taman kota. Beda sekali dengan makanan yang disediakan oleh kafetaria, karena yang ini benar-benar yahud. Lebih senang sekali ketika di pojok meja prasmanan aku menemukan sesuatu yang sejak pertama aku bertemu, aku jatuh cinta dengannya. Ya, totopos, alias Mexican Chips yang luar biasa dengan saus salsa dan lumeran keju; siapa yang tak jatuh cinta padanya?

Oya, satu hal yang menarik, karena aku tak menemukan tempat suci untuk sholat (ya iya, mana ada mushola atau masjid), akhirnya aku sholat di gereja, di chapelnya. Rasanya aneh sholat tapi menghadap salib. Aku tahu, mungkin ini isu sensitif. Tapi mohon maklumnya, karena ini dalam keadaan super-terdesak.

CEC Retreat boleh dibilang menyegarkan otakku kembali. Sebelum aku kembali ke kampus dan bergelut dengan Internal Assessment Economy-ku, tentang pasokan gas di Indonesia dan shifting supply curve-nya.

22 Oktober 2010

Asian Dinner!

Photo by: Vichea Tan, Cambodia

Tebak, apa yang paling kutunggu sejak e-mail undangan Asian Dinner mampir di inbox-ku Jumat minggu lalu? Ya, aku ingin makan nasi, sebanyak mungkin, sekenyang mungkin, dan senikmat mungkin bersama teman-teman yang membuatku merasa seperti di 'rumah'.

Oh ya, aku makin bermasalah dengan makanan yang disediakan kafetaria belakangan ini. Nafsu makanku menurun drastis. Kadang aku hanya makan dedaunan saja (soalnya aku tak tahu apa namanya, yang jelas bukan bayam kangkung apalagi bokchoy), segelas air putih, dan pencuci mulut. Heran juga, kenapa pencuci mulutnya selalu luar biasa (favoritku: cheese cake dan apple pie!), tapi main coursenya jarang-jarang cocok di mulut.

Begitulah, e-mail dari second year-ku yang berkewarganegaraan Hongkong membuatku tak sabar menunggu sore, menanti bus yang membawaku ke Las Vegas dan mencicipi nasi yang manusiawi.

Well, sejujurnya, nasinya tetap saja beda. Tapi aku senang suasananya. Mereka luar biasa! Aku nambah tiga kali malah, sambil ketawa-ketiwi melihat temanku yang dari Bhutan dan Filipina bermain-main dengan Jell-O, melempar-lemparnya.

Yang menarik adalah, walaupun temanya Asian Dinner, teman-teman dari Middle East tidak diundang. Setahuku mereka Asia, tapi entahlah, mungkin persepsi Asia itu hanya Asia Selatan, Tengah, Timur (ini harus di-bold, karena mayoritas dari sana, yang bikin stereotip Asia menyebar seperti: Matematika dan Sains Higher Level), dan tentu saja Asia Tenggara.

Vuvu, second year-ku dari Vietnam, malam itu jerit-jerit, "South-East Asian Hereee! Let's take a photo!" O, yeah, aku senang jadi bagian dari Asia (dan stereotipnya!).

12 Oktober 2010

(Chibi) Maru(ko)-Chan

Belakangan ini lagi santer isu Indomie yang pakai lilin. Aduh, ampun, sekalinya tahu berita, yang begini. Tapi peduli amat, soalnya aku kangen berat sama Indomie Goreng Jumbo. Menyesal hati ini tidak membawa sekardus Indomie kemarin. Apa boleh buat, gengsi di awal, sesal di akhir. Jadinya kemarin nyari-nyari mi instan di Walmart, dan dapat, merknya Maruchan. Sayang, tak seenak Indomie. Harganya cuma 16cents sih. Terus ada yang rasa pork, lagi. Pasti enak banget tuh, dan patut dicoba. Percobaan pertama: rasa udang!

Rasanya kurang lebih kaya Indomie Ayam Bawang, tapi yang satu ini Indomie Udang Bawang. Mana tak ada minyak sayur dan cabainya lagi. Hanya ada bumbunya saja, kawan-kawan! Yang terasa ya monosodium glutamatnya saja.

Nanti kalau ke Walmart lagi, aku mau borong sekardus Maruchan! Murah, dibandingkan beli camilan lain, Lays misalnya, satu bungkus kecil 1 dollar. Atau alternatif lain: microwave popcorn, 8 bags hanya 2.50 dollar. Murah lah, soalnya ini sama dengan beli 1 bag popcorn di bioskop di Indonesia.

Kenapa saya ngomongin makanan? Karena sekarang makin dingin, bawannya ngantuk dan lapar. Pagi-pagi waktu bangun suhunya bisa kurang dari 10 derajat celcius. Aduh, aduh. Terus sekarang bawaannya rajin ngantongin makanan dari kafetaria, entah itu cream cheese strawberry yang enak banget untuk dicamil, atau sebotol susu, karena di kamar aku punya 2 kotak sereal: raisin bran dan cornflake almond, kalau-kalau mau shaum dan tak punya apa-apa untuk sahur. Yummy!

Ya, autumn (benar-benar) telah tiba! Menyesal juga waktu itu menyumpah serapah saat hari pertama musim gugur tiba: Naha ieu masih hejo keneh kieu? Masih haneut deui, teu karasa musim gugurna.

11 Oktober 2010

Membaca Amerika (Dan Dunia)

Minggu pagi yang cerah (dan dingin). Belakangan ini saya sering sekali mengutuk cuaca di sini, yang kalau siang panasnya bisa sampai 70-80F, dan malam bisa menyentuh 30F (hampir nol derajat celcius). Anginnya pun bikin kulit mencelos, jaket angkatan 2011 pun tak bisa menahannya.

Suntuk dengan tugas yang menumpuk, yang kutahu ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan second year, jemariku beralih klak-klik ke social media. Sayang, Indonesia sedang tengah malam saat ini, aku tak bisa menemukan tanda-tanda temanku online di sana.

Beralihlah aku menjadi stalker Facebook. Maklum, ketinggalan berita dari teman-teman rasanya kurang enak. Sampailah aku pada tumblr-nya Arina Shabrina, anak SMAN 5 Bandung yang sekarang di Colorado karena pertukaran pelajar (entah AFS atau YES). Mungkin aku pernah berpapasan dengannya di koridor 3 dan 5, di bazaar saat ngantri baso tahu, atau di kantin 5 saat aku memesan pisang ijo strawberry (yang aku kangenin sampai kebawa ke mimpi!). Aku tahu dia anak DKM, karena Karima dan Ainun kadang-kadang ngobrolin teman mereka. Terima kasih, karena ini berguna sekali buat saya untuk mengerti bagaimana sebenarnya di luar sana.

Kehidupan UWC boleh dibilang terpisah dari dunia luar. Kami punya komunitas sendiri di sini, dan kami hanya berinteraksi dalam beberapa aspek saja. Makanya saya megap-megap begitu lihat sekolah Amerika yang sebenarnya, yang beda jauh banget pisan (di-bold, underline, italic, big) dengan UWC. Atau saat saya ke kota dan belanja di Walmart, atau saat saya ke dokter (ngurusin jari saya).

Saya jadi mikir, nanti kalau saya mau kuliah di sini tetap saja saya ngalamin culture shock, karena kehidupannya memang beda.

Ngomong-ngomong soal culture shock, saya nemu banyak hal lucu soal ini. Saya akan coba jabarkan satu-satu, hehe.

Roomate-ku dari Belanda, dan dengar cerita dari Trisi di Belanda, mereka bebas luar biasa. Waktu teman saya ngejek-ngejek dia, menuduh dia berorientasi ganda, dia lempeng aja. Katanya, di sana sudah biasa, dan jika dibilang berorientasi ganda malah kedengarannya cool.

Atau temanku yang dari Turki. Selama ini pandanganku adalah: Turki=Timur Tengah=Negara Islam yang ketat. Ternyata salah luar biasa. Aku tahu kalau Turki adalah negara moderat, tapi tak kukira semoderat ini. Temanku ini Muslim, tapi dia mengaku kalau dia bukan Muslim yang baik. Yah, setidaknya minuman favoritnya Tequilla, Wine, dsb.

Masih soal temanku yang dari Turki. Ada juga temanku yang dari Bulgaria, dan aku tak pernah menyangka kedua negara ini begitu dekat, bahkan Turki pernah menjajah Bulgaria. Nah lho, mereka kadang-kadang nemu hal random yang sama, seperti makanan atau band favorit.

Aku jadi ingat saat Buddy Dance, ketika saling tukar kado, buddy-ku nanya, "Boleh dibuka sekarang hadiahnya?" dan saya cuma bengong. Setelah buka kwintessential.co.uk (situs ini lumayan juga buat studi analisis kultur dan kebudayaan, saya pakai referensi dari sini untuk analisis dan essay B. Inggris saya), ternyata budaya mereka buka hadiah langsung begitu diterima. Kebayang kalau di Indonesia kaya gitu, kalau ada orang nikahan terus kita ngasih amplop, eh amplopnya langsung dibuka saat itu juga di pelaminan, dan ketahuan kalau amplopnya kosong. Ampun.

Dan masih banyak hal lainnya. Nanti kuceritakan kembali, karena aku masih mentok dengan tugas B. Inggrisku (yang belum selesai dari kemarin-kemarin).

08 Oktober 2010

Affirmation on My Desk

I often feel so sad because I can't talk Bahasa to everyone here. Just one countrymate, and I can't always talk to her. She's second year, and I know that she has more important things to do, than just talking Bahasa with me.

But now, I can find the advantage. I can put my dream list in Bahasa as big as I want on the desk, and there won't be anyone who can understand it.

And this dream list will be the affirmation for my future!

Actually, I want to put the image here, but I don't want everyone knows my dream :P

*The reason why I'm trying to post in English now is, I'm struggling with my English A2. I still have no idea about the topic that I'll write for my Reflection that accounts 50% of my Mid-Term Grade. Wish me luck! Or I'm gonna drop to English B -_-

07 Oktober 2010

Mengubur Mimpi Jadi Dokter

Hari Rabu yang mulai dingin di Montezuma. Musim gugur mulai terasa, daun-daun terbang ke sana kemari menuruti arah angin pergi. Setelah Southwest Studies yang panas di Arizona, sekarang kembali menggigil di New Mexico.

Oh yeah, dan juga mulai terasa, apa itu sekolah. Tugas mulai menumpuk, ulangan menunggu, kegiatan memadat.

Aku ngangguk-ngangguk ngerti kenapa semester ini dinamakan Fall, dan semester depan Spring. Tahun depan tugasnya mulai banyak setelah Spring dong? Hmm, absurd.

Nah, di hari berbahagia ini, aku mau cerita. Kemarin, insiden kecil terjadi. Di CAS Canning Apple-ku, saat aku sedang asyik ngupas apel, tanganku tergores. Ups, sepertinya bukan hanya tergores, soalnya dalam hitungan detik darahnya mengucur ke mana-mana. Dalam sekejap, aku merasa pusing. Sugesti? Entahlah. Minum air pun tidak membantu. Beberapa menit kemudian, pusingku menguat, dan muntah-muntahlah aku.

Suster dari klinik buru-buru merangsek dan melakukan hal yang diperlukan. Aku dipapah menuju klinik, jalanku oleng. Dan suster pun berkata, "Di masa depan, kamu tidak bisa jadi dokter, suster, atau yang berhubungan dengan darah. Ada kemungkinan kamu tidak tahan lihat darah."

Gila, 17 tahun hidup baru sekarang ini seperti ini, dikiranya fobia darah. Setelah itu dibalutlah tanganku, pakai protector plastik segala, perban berbuntel-buntel. Tak lupa dikasih sarung tangan plastik untuk dipakai waktu mandi supaya tidak basah, dan buntelan bandage dan antibiotik oles.

Dadah John Hopkins, aku tidak bisa ke sana lagi.

Gambar: buntelan jari, yang kata susternya: jarimu kecil, sekarang terlihat lebih berisi; buntelan obat-obatan dari klinik; coklat dari tahun kedua, penuh harapan supaya jariku pulih; sarung tangan mandi.

05 Oktober 2010

Rockclimbing, Apache, Milkshake, dan Nyamuk Arizona

Setelah 5 hari yang luar biasa, asyik masyuk di Arizona, merindukan kamar mandi yang manusiawi setengah mati, baret-baret di siku dan lutut guna mencapai puncak rockclimbing, bentol di mana-mana karena gigitan nyamuk yang ganasnya ampun-ampunan, mengecap milkshake terenak yang pernah mampir di lidah, mengetahui sejarah Apache dan Geronimo, aku kembali ke Montezuma (dengan sehat dan pegal di mana-mana, juga nose-bleeding alias mimisan).

Sumpah, aku tak tahu harus mulai dari mana. Untuk gambaran, silakan lihat tempatku rockclimbing di
Cochise Stronghold, dan tempatku hiking di Chiricahua National Monument. Semuanya luar biasa! Karyawisata yang tak kalah menariknya dengan SMA 3 Bandung angkatan 2011 ke Bali. Oh ya, aku jadi kangen 3. Apa kabar teman-temanku? Apakah jenggot mereka mulai terbakar karena UN, USM, dan SNMPTN?

Bersama 9 orang lainnya (yang sebagian besar orang Amrik, selebihnya: Bahrain, Kanada, Uganda, Latvia, dan Indonesia, tentunya), kami berangkat Rabu kemarin, jam 4 ngaret dari Edith Lansing Fieldhouse, meluncur bersama teman-teman lain yang ke Grand Canyon. 8 jam perjalanan, mutlak membuat pantatku panas. Dipacu hingga kecepatan 75 miles per hour, mini bus berlabel UWC-USA membelah New Mexico dan Arizona. Sempat juga istirahat di gas station, yang diisi dengan mengantri di kamar mandi.

Sore menjelang, tibalah kami di Cochise Stronghold. Sial, panasnya bukan main, karena kami turun ke ketinggian 4000 feet dpl (jangan tanya berapa meter). Belum lagi sejauh mata memandang, pasir di mana-mana. Gurun. Tapi masih ada beberapa kaktus dan semak belukar, juga tanaman berduri mencuat dari tanah bebatuan. Segera mengeset basecamp, mendirikan tenda, dan dasar-dasar rockclimbing seperti menggunakan harness, simpul yang digunakan untuk mengeset rockclimbing diberikan. Makan malam pun rasanya jadi luar biasa, karena perut berteriak minta diisi. Malam pun diisi dengan game-game kecil yang kami tahu dan main frisbee.

Tiga hari berikutnya, pola hidupku kurang lebih sama. Jam jadi hal yang tabu. Bangun sekenanya, tidur seenaknya. Makan, tidur, rockclimbing; begitu terus selama 3 hari. Membosankan? Tidak. Karena aku seolah-olah ditantang untuk menaklukan bebatuan itu. Hari pertama, aku berhasil manjat batu skala kesulitan 4 dari 11 (atau 12, aku lupa). Hari kedua? Sakit badan dari hari sebelumnya menghalangiku untuk mencapai puncak hari itu. Berhenti di empat perlima jalan menuju puncak, kemudian minta turun karena lelah. Dan batunya itu loh, panas. Kami manjat dari jam 11 siang sampai 3 sore, dan rasanya seperti manjat bara. Hari ketiga, dipaksa-paksakanlah aku, dikuat-kuatkanlah tumitku yang berdarah-darah (lebay), dan aku berhasil manjat skala 5 dan 7. Lumayan. Toh sebelumnya aku belum pernah main beginian, hehe.

Dan begitulah ceritanya mengapa badanku berbaret-baret. Mana air terbatas, dan tidak mandi selama 5 hari, lagi. Jadilah luka itu mengering, dengan darah masih menempel di sana. Aku terlalu takut untuk menyterilkannya dengan hand sanitizer, karena perihnya pasti luar biasa.

Percayalah, climbing lebih susah dari rapelling. Aku pernah melakukan turun-loncat-loncat-tebing waktu TC Jambore Nasional 2006, dan itu sedikit meredakan ketakutanku waktu turun. Malah rasanya nikmat tenan rek.

Di hari Minggu, segera setelah membereskan basecamp, kami meluncur ke Chiricahua National Monument, melakukan hiking singkat 5 km. Oh ya, pemandangannya itu loh kagak nahan abiz. Batu berdiri, cuy! Batu berdiri! Mana ada di Indonesia (CMIIW)! Setelah terbengong-bengong lihat batu berdiri, kami meluncur ke Museum Suku Apache dan menikmati milkshake strawberry terenak yang pernah mampir di lidahku di Willycox.

Pulangnya, mampir di Albuquerque untuk makan malam, dan aku makan nasi yang manusiawi juga di restoran cina. Ahong-ahongnya mengingatkanku pada Nana, teman sekelas XII RSBI 2. Ngambil sana-sini, icip sushi, memenuhi mulut dengan kue bulan, ketawa-ketiwi, dan kembali ke Montezuma.

Badan sudah berteriak minta mandi, dan minta tidur. Semalam aku tidur dalam damai dan senang yang berlebih.

Thanks for the awesome trip, David, Kris, Jeanice, Lena, Laura, Thomas, Andrew, Scott, Eric, Danny, and Curtis!