31 Juli 2011

Cukilan Buku Harian

Dicukil dari buku harian Jumat, 29 Juli 2011.

Sementara pikiranku masih terganggu oleh fiksi apakah Kim Young Joo dalam City Hunter akan bertahan hidup atau tidak setelah akhir episode 19 yang menyiksa, aku dengarkan lagu Jeppangwang Kim Tak Goo. Internet mandek, dan torrent episode 20 hanya baru mencapai 0.5%. Komplain yang dilayangkan pada si provider internet ternyata belum juga ampuh untuk melancarkan sambungan hidupku itu lagi, aku mati suri.

Ketika dalam pikiran Sang Prosecutor tercetus bahwa Yoon Seong lebih adil dari hukum itu sendiri, sebuah pertanyaan teramu secara cepat di dalam pikiranku: mungkinkah sesuatu (apalagi manusia!) bisa lebih adil dari hukum? Meskipun hukum itu hasil pikiran manusia, tetapi itu suatu “masakan” yang dibuat dengan resep “sempurna”, sesuai idealisme dan harapan orang perorang. Lalu, adakah hal yang lebih adil dan ideal dari idealisme itu sendiri?

Mungkin. Tindakan Yoon Seong yang mengadili dengan memberi solusi dan jalan tengah kepada masyarakat yang haknya dipertaruhkan dalam peradilan karena menjadi mangsa empuk para tikus tak tahu malu, nyatanya lebih ideal dari idealisme. Tindakan yang nyata serta kontinu merupakan idealismenya idealisme.

Pertanyaan selanjutnya muncul, apakah mungkin hal seperti itu terjadi dalam kehidupan nyata? Sebentar, apakah anda mengerti apa yang sedang saya bicarakan? Tilik halaman City Hunter, jika ingin lebih tahu lebih banyak hal menarik dari drama penghipnotis satu ini. Kembali ke pertanyaan pertama, mungkinkah sosok idealismenya idealisme (seperti Inception saja!) muncul di tempat ini, di atas bumi kita?

Saya hanya akan berpikir positif. Semoga ada. Dunia in terlanjut berselulit berlarut-larut untuk sekadar bisa diatasi dengan krim jutaan rupiah penghilang stretchmark. Seolah-olah tak tertolong, walaupun sebenarnya ada penolong. Yaitu harapan. Yah, setidaknya kalau bergantung pada harapan, kita bisa melihat ilusi cahaya di seberang yang sebenarnya belum tentu ada, kan? Setidaknya kita mau bertahan hidup dari satu hari ke hari berikutnya hanya demi melihat apakah harapan itu menjadi nyata. Setidaknya, ada alasan untuk menjalani hidup. Dan itu jauh melebihi batas kecukupan.

Selamat malam, saya pun tak tahu apakah saya sedang mengigau atau tidak. Yang jelas, saya muak dengan kondisi sekitar saya beserta isi-isi kotak ajaib bernama televise di ruang keluarga saya. Saya jemu memikirkan perubahan. Si mimpi yang tak kunjung datang.

Saatnya untuk benar-benar tidur dan beristirahat. Berharap pada harapan yang tak kunjung terwujud, setidaknya tak sekejam itu untuk tak mengabulkan permintaanku agar isi kepalaku lebih enteng esok hari saat aku bangun dari si penjaga malam.

Karena malam selalu memberikan efek luar biasa pada otak manusia.

Update: Kim Young Joo ternyata benar-benar meninggal. Sedih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar