25 September 2011

Beriklan Cerdas, Berinternet Cerdas, Menjadi Manusia Cerdas

Video di bawah ini, tiba-tiba nongol di halaman utama Google+ saya siang ini, di tengah otak buntu saya dalam mengerjakan essay complex numbers matematika, bahasa kerennya Internal Assessment. Rehat sejenak, tak apa, kan?


Memang, sudah sebulan lamanya saya tidak menonton televisi. Jangan tanya saya soal iklan terbaru, atau band terbaru yang muncul di layar kaca. Bahkan, di sini, televisi pun tak ada sama sekali, hanya guru-guru yang bertelevisi. Doktrin televisi itu membodohkan pun semakin kupercaya.

Kenapa membodohkan? Karena iklan banyak kurang berbobot memenuhi tiap detiknya. Mendoktrin konsumen untuk membeli barang secara "buta", atau terpaksa tertutup matanya. Karena itulah, ketika saya melihat iklan ini, hanya satu hal yang mampir di kepala saya, "Sudah saatnya dunia periklanan terbuka dan tidak membodohi konsumen yang terlanjur cerdas."

***

Seperti biasa, jika Anda mau tahu kabar saya, akan saya jawab dengan satu kata. Singkat, padat, jelas: sibuk. Satu tahun terakhir ini di UWC-USA menjadi pertaruhan 18 tahun hidupku selama ini. Mimpiku tinggal selangkah lagi, tinggal masalah maukah aku berusaha di atas rata-rata usaha orang lain. Karena seperti seorang atlet, yang menentukan kemenangannya hanyalah perbedaan waktu sepersekian detik.

Kemarin, beberapa kesempatan mampir di e-mail sekolahku. Apalagi kalau bukan soal universitas. Walaupun sebagian besar beasiswa yang ditawarkan adalah need-based, atau untuk orang-orang yang kurang mampu, ternyata ada pula beberapa beasiswa berdasarkan merit-based, atau prestasi. 

Dan ternyata deadline-nya hari itu juga. Aku pun kalang kabut. Untungnya, karena orang-orang yang mendaftar harus dinominasikan dari sekolah, para pendaftar harus menulis satu paragraf singkat tentang apa kualitas yang dimiliki sehingga aku berhak dinominasikan... yang buatku merupakan hal yang cukup menarik.

Apalagi yang kutulis kalau bukan soal menulis. Karena menulis adalah pelarian, sekaligus rumah yang nyaman. Jika ada waktu, saya sarankan Anda membaca The House on Mango Street, karya Sandra Cisneros, sekaligus literatur yang saya gunakan untuk menulis Extended Essay beberapa bulan lalu. Bagi saya, menjadi seorang pemimpin tak harus aktif dalam organisasi. Membiarkan jari menari di papan ketik dan tetikus pun sudah lebih dari cukup jika kita bisa menggerakkan hati orang lain dengan berbagi. Efeknya pun lebih masif dan efektif.

Tiga tahun blog ini, saya lebih dari sadar bahwa harta saya yang paling berharga ada di ujung jari dan aliran ide otak saya. Saya ingin lebih banyak berbagi dan memberi, karena saya sudah banyak diberi dan dibagi.

Berinternet cerdas, mungkin itu kunci masa depan.

***

Kedua hal ini mungkin terdengar sepele, karena saya pun menulis post kali ini lebih karena pelarian dari tugas matematika. Tetapi intinya sederhana, menjadi manusia cerdas itu lebih sering dimulai dengan berpura-pura cerdas. Saya pun begitu, walaupun kelihatannya cerdas, nyatanya saya tak cerdas-cerdas amat. Semoga saja saya jadi cerdas beneran suatu hari nanti.

Saya kangen rumah, dan karena itulah air mata saya hampir menetes ketika melihat iklan lain dari Google Indonesia ini.


Doakan saya, minggu depan saya ada SAT dan 4 tes lainnya. Juga TOEFL PBT dalam dua minggu ke depan. Anda lebih tahu dari saya bagaimana inginnya saya masuk ITBnya dunia di sini. 

2 komentar:

  1. ... menjadi manusia cerdas itu lebih sering dimulai dengan berpura-pura cerdas. Saya pun begitu, walaupun kelihatannya cerdas, nyatanya saya tak cerdas-cerdas amat. Semoga saja saya jadi cerdas beneran suatu hari nanti.

    Saya sepakat dengan yang ini. Saya sering kali berpura-pura cerdas. Saya menganggap diri saya cerdas, padahal mah saya nggak cerdas-cerdas amat. Setidaknya saya telah menanamkan hal yang positif ke dalam saya bahwa saya cerdas. Dan tanpa disadari pikiran positif itu menuntun saya bagaimana caranya saya menjadi orang yang emang beneran cerdas.

    BalasHapus
  2. Memang pura-pura itu bisa sungguhan apalagi kecerdassan yaa memang harus sering dibayangkan kalau Cerdas, hal ini otak bisa mengkoordinir semua fungsi kecerdasan yaa...bolehlah dikatakan di jaman ini sugesti diri.

    BalasHapus