13 September 2011

Hello, Third Semester!

Akhirnya, tanpa sadar aku berada di sebuah persimpangan realita juga: aku sudah menjadi seorang second year, aku sudah dewasa dibandingkan first year-ku yang tampangnya masih polos-polos-imut minta di-culture shock-in. Haha.

Yang berarti... aku pun dihadapkan dengn hal-hal yang second year-ku lakukan tahun lalu. Mulai dari Extended Essay, College Applications, dan seberondong Internal Assessment. Hidup tak pernah sesibuk ini.

Bisa dilihat sendiri seperti apa sibuknya.

Tapi perasaan menjadi seorang second year itu memang luar biasa. Karena kamu sudah tahu seluk beluk sekolah dan isinya, tahu seperti apa setahun ke depan yang menantimu, tahu guru-guru dan apa ekspektasi mereka, bisa mencari celah untuk menyusup di kelonggaran-kelonggaran demi mendapat waktu tidur ekstra -misalnya, tahu jurus-jurus tertentu untuk merayu guru, dan tak kurang -punya teman-teman yang sudah dekat sekali.

Seperti orang bego mungkin kedengarannya, tapi beberapa hari terakhir ini, dimulai dari tugas yang sudah mulai menggunung, dan college research yang harus mulai dilakukan karena interview dengan universitas-universitas yahud itu dimulai segera (baca: minggu ini), aku menghabiskan hari-hariku yang damai di perpustakaan. Tidak, tidak sendiri tentunya, karena itu sama artinya dengan bunuh diri. Tentu saja dengan teman-temanku yang peduli mampus dengan masa depannya: Simona, Jomar, Rigser, dan Sopheaktra.

Tak lupa, hallway-ku yang luar biasa: Simona, Lucien, dan Andrea. Tak pernah aku mendapatkan tidur tenang selama berminggu-minggu berturut seperti ini. Karena kami sangat dekat dengan satu sama lain, sudah lumrah halnya untuk saling membantu dan mampir hanya untuk memberitahukan hal random, misalnya.

Yang paling cihuy adalah, ketika teman-teman seangkatanku sibuk memikirkan tentang bagaimana mengerjakan EE dan sebagainya, aku sudah selesai, teman! Rencanaku, final version-nya akan kuberikan besok terhadap guru Bahasa Inggris sekaligus supervisor-ku, Anne Farrell.

Mungkin aku terdengar optimis, tapi sebenarnya tidak seoptimis itu.

Kue lebaranku masih ada, lebaranku kemarin biasa saja,
tak ada bedanya dengan hari biasa. The Secret yang kubawa untuk mengangkat
motivasiku yang terjun bebas.

Yah, tak dinyana, proses masuk ke universitas impian itu tak semudah membalikkan tangan. Rasanya susah sekali. Tidak seperti di Indonesia yang ikut tes SNMPTN dan bisa memilih beberapa jurusan di sekolah yang berbeda secara langsung.

Tahun ini, aku diberi kesempatan untuk mencoba ke 9 universitas di Amerika Serikat dan Kanada. SAT? Wajib hukumnya. TOEFL? Sunnah muakad. Universitas-universitas tersebut bahkan datang langsung untuk mewawancarai siswa di sini. Dan jangan tanya berapa universitas yang datang ke sini untuk presentasi dan interview. Banyak sekali titik. Belum tiap aplikasi aku harus menyertakan essay yang bisa berjumlah dua hingga tiga dan melengkapi formulir yang panjang itu. Semuanya demi tujuan agar universitas bisa mendapatkan siswa-siswi terbaik yang mendaftar dan sesuai dengan karakteristik sekolah dan harapan mereka.

Yang tentunya beda jauh dengan di Indonesia. Kalau anak-anak ditanya mau masuk universitas mana, jawabannya pasti universitas dan institut mentereng itu lagi itu lagi. Alasannya mulai dari gengsi, ingin membahagiakan orangtua, hingga alasan super-simpel seperti, "Karena sekolah itu terbaik di Indonesia."

Jarang terdengar suara-suara seperti, "Aku suka sekolah ini karena karakteristiknya yang cocok dengan harapanku, karena aku yakin sekolah ini akan mendukung perkembangan diriku."

Mungkin pernah terdengar. Tidak tulus sayangnya, hanya untuk menyuap pemberi beasiswa, contohnya.

Kepercayaan diriku sayangnya luluh lantak. Setelah informasi dari seseorang yang kupercaya mampir ke telingaku, "Kalau mau aman, SAT kamu setidaknya harus 2200. Yang pertama loh ya." Kemudian SAT Subject Tests yang kulakukan pun ternyata hasilnya memang tidak mencukupi dan kurang memuaskan. Aku hanya bisa bernapas putus-putus dan gelagapan. Mana aku tidak sepercaya diri temanku yang lain dalam wawancara, atau mampu menulis essay seelok mungkin. Mungkin aku senang menulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi tidak dalam Bahasa Inggris. Pada hari itu, yang kurasakan hanya leburnya. Bagian diriku yang menjadi keping-keping.

Benar. Sudah berkali-kali aku ter-fascinated dengan fakta orang-orang yang mampu menembus limitnya karena percaya pada Allah swt. Sudah berkali-kali aku diberi kesempatan menyaksikan kekuatannya mengendalikan umatnya di bumi ini. Kuasanya tersebar di mana-mana dan bohong besar kalau aku tidak melihatnya.

Aku hanya percaya pada-Nya. Karena Dia tahu yang terbaik untukku. Tolong mudahkanlah jalanku menggapai mimpiku Ya Allah, amin.

3 komentar:

  1. Semoga sukses yaaa! Semoga berhasil mendapatkan cita2mu kuliah di tempat yang kamu idam-idamkan. :)

    BalasHapus
  2. keren titan... :) saya juga waktu itu ikut rotary club dan yaaa, nggak berhasil di bahasa inggris... T_T

    BalasHapus
  3. dan alasan orang Indonesia mau kuliah di tempat mentereng ternyata seperti yang aku pikirkan juga titan.. :)

    BalasHapus