12 Februari 2011

Aku, Belanda, Indonesia, dan Kalung yang Menghubungkannya

Aku

Semuanya menjadi saksi bisu aku yang menjadi seperti ini. Walau langit, bulan, matahari, dan bintang gemintang tetap di sana, tetapi mereka punya jadwal sendiri untuk muncul dan tenggelam. Tapi, ya, mereka tetap di sana. Menunggu waktu, mengulur diri.


Botol-botol penjaga sandangku. Dua botol kosong, hanya pemiliknya belum sempat membawanya ke tempat teman-temannya: kotak daur ulang. Menunggu di sana, dengan jadwal yang sama. Hanya keluar kamar hari Rabu dan Sabtu, menuju ke tempat yang sama: laundry room.


Aku merupakan hadiah dari secret santa orang yang memilikiku saat natal Desember lalu. Badanku besar, buluku lembut. Tetapi aku sering ditelantarkan. Aku hanya terkagum-kagum melihat bendera yang lebih tinggi dariku di sini. Menatap, menunggu waktu. Akankah aku dibawa pulang ke kampung halamannya di negeri tropis nan jauh di sana?

Aku teringat cerita. Alarm kebakaran merupakan hal yang luar biasa di sini, setidaknya seminggu sekali alarm ini berbunyi. Bahkan kemarin, saat semua siswa sedang di kastil untuk makan malam, alarm kebakaran berbunyi sampai tiga kali, dan memaksa semua orang menunggu di luar setidaknya 15 menit. Ternyata ada sekelompok anak yang memasak di kastil, menggunakan kompor yang mereka beli sendiri -yang jelas-jelas ilegal di sini. Lucunya, setelah alarm kebakaran berbunyi, anak-anak tersebut ingin menyembunyikan perbuatan mereka dan menutupi kompor yang masih panas tersebut dengan sweater. Kontan, hal ini malah menimbulkan kebakaran yang sebenarnya. Jelaslah sudah, mengapa security yang mengadakan safety check suatu hari ke kamar ini, meminta untuk menurunkan bendera merah putih tersebut karena mudah menyulur kebakaran. Tapi dia- pemilikku, enggan, dan membiarkan bendera itu tetap terpasang di sana.

Boneka dari Mexico, begitu kata pemilikku yang dulu. Dia memberikanku pada anak Indonesia yang senang menonjok-nonjok kepalaku kalau gemas atau kesal. Aku beruntung, setidaknya, karena pemilikku lebih peduli padaku daripada ke boneka beruang besar itu. Saat melintas malam, aku sering melihat pemilikku setengah tertidur membaca buku pelajarannya, ditemani lampu kecil di sebelahku ini karena tak ingin mengganggu teman sekamarnya yang sudah tertidur. Aku salut dengannya. Dia memang bukan jenius, tapi usahanya membuktikan segalanya.

Prayer Times Schedule, begitulah tulisan yang tertera di badanku. Semua orang yang berkunjung ke kamar pemilikku selalu bertanya, "Tan, ini untuk apa?" Kemudian dengan senyumnya, dia selalu menjawab, "Jadwalku untuk sholat." Temannya membalas, "Kamu punya jadwal untuk praying?" Dia tersenyum dan mengangguk. Akulah saksi pemilikku, saat dia memastikan waktu yang tepat untuk sholat. Di atasku, tulisan "Man jadda wajada," menjadi saksi niatnya di sini.

Aku rusa, gantungan kunci. Sebenarnya aku Rudolph, rusa berhidung merah, dibeli pemilikku di Texas saat Winter Break, di salah satu konter Hallmark. Kenapa dia ingin membeliku? Soalnya aku merupakan barang termurah di sana. Teman baikku ada tiga: gantungan kunci UWC-USA, kunci kamar #209, dan kunci PO Box 233. Tertumpuk di pojok meja, aku selalu bersama kawan-kawan dekatku yang lain: Vaseline karena udara yang sangat kering di sini, Nasal Spray karena udara yang kering sering mengeringkan lendir dalam hidungku, Vicks Vaporub karena udara yang drastis antara siang dan malam (ini gurun, loh) dan heater yang kadang tak menyala membuat udara sangat dingin, Lays Stax Sour Cream & Onion untuk teman melintas malam bersama tumpukan buku, Post-It-Notes untuk memenuhi meja dengan To Do List, dan tentu: Charger. Barang kecil yang berarti besar. Yang kalau hilang susah dicari dan bikin gelisah.

Salah satu bagian rak buku pemilikku, itulah aku. Menampung buku-buku tebal dan berat. Ada Wimpy Kid yang ke-5, karena pemilikku membelinya via Amazon bersama Eat, Pray, Love. Buku lainnya yang dia punya, banyak. Yang paling tebal: Calculus. Lalu Math HL, Chemistry, Physics, Economics. Juga ada CD dari Lucien, untuk mendengarkan materi fisika, karena terkadang terlalu malas untuk membaca. Language Death, tentang kematian bahasa, referensi buku untuk research paper Bahasa Inggrisku. File pass-down Selftaught. Daily planner. Beberapa binder dan notebook. Penuh hanya dalam 6 bulan.

Temanku yang lain. Sama-sama rak buku, dan kami bersebelahan. Bedanya, di rak temanku ini, lebih banyak buku Selftaught Bahasa Indonesianya. Untung, pemilik kami sudah cepat-cepat membaca semuanya saat winter break kemarin. Keteteran? Tidak. Jadinya lebih mudah baginya untuk menyiapkan oral examnya bulan April ini. Dengan tulus, aku mendoakannya semoga sukses. Di sebelah buku-buku Selftaught ini, ada beberapa buku SAT dan TOEFL juga. Bulan-bulan panjang untuk menembus IB sudah dimulai. Jalan keluarnya hanya satu: lulus dengan gemilang. Dengan begini, dia bisa melanjutkan ke universitas manapun yang dia inginkan. Amin.

Belanda-Indonesia

Terima kasih, Tuhan, kau tak pernah membeberkan segala sesuatunya di saat yang bersamaan dan membiarkannya menjadi kejutan besar, begitulah doa yang kupanjatkan seminggu lalu saat menutup hari. Siapa yang akan menyangka pergi ke negeri yang jauh dan menemukan orang asing yang berbicara dalam "bahasa" yang sama denganmu?

Sabtu, 4 Februari 2011. Badai salju pada hari-hari sebelumnya masih menyisakan udara dingin yang menggigilkan hati dan raga. Aku di sini, berdiri, menantang hari, menahan diri, menjajakan kue-kue menarik, untuk project week. Sungguh, berdiri di luar ruangan saat cuaca sekitar minus 5 sampai minus 9 derajat Celcius selama 5 jam itu bukan hal yang... hangat. Baju lapis empat, celana lapis 2, boots bulu-bulu, sarung tangan lapis 2, dan syal; bahkan tak mampu menahan dinginnya. Wara-wiri ke sana kemari, menawarkan kue mencoba menarik pembeli, dan senyum kering tiada henti (yang pada akhirnya bahkan tak perlu diusahakan lagi karena dinginnya membekukan senyum seketika).

Seorang bapak, dengan istrinya yang bermuka oriental datang menghampiri. Mengetahui kami dari UWC-USA, mereka membeli lebih dari biasanya. Kemudian bapak itu bertanya, dari mana kami. Saat aku menjawab, "Indonesia," wajah mereka menjadi sumringah. Setelah itu, jangan ditanya, cerita mereka sangat panjang. Tapi yang jelas, cerita mereka menghangatkanku, setidaknya hatiku, yang membeku di hari itu.

Bapak tersebut pernah tinggal di Indonesia. Istrinya dari Jepang. Sungguh unik pertemuan mereka. Pamannya pernah bekerja untuk sebuah perusahaan minyak di Indonesia bentukan Belanda. Suatu hari, saat Perang Dunia 2 meletus, para londo ditahan oleh Jepang. Mereka memenggal pamannya.

Sungguh, betapa sulit keluarga mereka saat bapak-bapak ini membawa calon istrinya yang jelas-jelas berdarah Jepang untuk diperkenalkan. Tetapi, besar hati keluarganya melebihi rasa sedih yang menggelembung, dan mengangkat tangan mereka menyambut calon ipar dari Jepang.

Cerita ini luar biasa, dan banyak cerita lainnya. Bahkan, beliau kembali ke rumahnya dan kembali ke Walmart hanya untuk mengantarkan buku-buku resep masakan Indonesia, dalam Bahasa Belanda. Ya, Bahasa Belanda. Luar biasa. Tapi buku-buku ini sungguh terlampau puluhan tahun lalu yang lalu. Luar biasa, saat membacanya.

Bertemu seseorang yang mengerti negaramu dan makananmu di luar negaramu itu luar biasa. Tak terbayang betapa bahagianya menemukan seseorang yang dengan terbata-bata mencoba mengatakan, "Kecap, sedap, sambal, rendang, rumah makan." Bangga karena bangsa yang diakui dan dikenal itu rasanya menyesakkan dada. Meluap-luap, meluber ke mana-mana, harus dijaga agar tidak menyebabkan efek bangga berlebih.

Tak pernah sebangga ini akan negaraku sebelumnya.
















Kalung yang Menghubungkannya

Jewelry Making, lagi, seperti yang bisa ditebak. Proyek keduaku adalah liontin untuk kalung. Terinspirasi sebuah gombalan: "Kamu kok bawa-bawa kunci hatiku sih?", akhirnya aku membuat liontin sebuah kunci, dengan batu di tengahnya.

Bersama liontin lainnya (dari kiri ke kanan): kunci hati, hadiah ulang tahun dari Lucien (dia buat sendiri, di Jewelry Making juga), cincin perak buatanku, dan liontin KK dari ibuku tersayang.

Aku, Belanda, Indonesia, dan Kalung yang Menghubungkannya. Terikat dalam satu rantai. Erat dan berkaitan. Satu sama lain tak bisa terlepaskan.

P.S. Aku kangen rumah. Meskipun aku ada di rumah, dan aneh kenapa aku musti kangen rumah saat aku ada di rumah.

05 Februari 2011

Salju, Imlek, Dorm Photos, Cincin Pertama, Pen-Pal

Kawan-kawan semua! Apa kabar? Rasanya kangen sekali bisa meluangkan waktu walaupun sedikit untuk menulis di sini. Maklum, kehidupan terasa cepat dan sibuk. Ada-ada saja yang harus dilakukan, dan ya... self-taught deadline untuk World Literature Essay. Belum minggu depan ada 3 ulangan: matematika, kimia, dan ekonomi. Matematika? 2 papers. Ekonomi? 3 papers. Entah, belum kebayang, belajar aja belum. Sedangkan besok ada CLAD, alias Caribbean Latin American Day, dan juga bake sale di Walmart, untuk fundraising buat project week di Mexico. Belum, besok aku harus pakai kebaya, untuk meng-attract orang-orang supaya beli cookies atau cake yang dijual. Pfiuuuh...

Jadi, bagaimana kalo aku cerita-cerita apa yang terjadi belakangan ini di UWC-USA? Setuju? Yang pasti walaupun dinginnya salju di luar sana menggigilkan seluruh badanku, pertemanan di antara kami semua malah menghangat, sehangat angin musim semi yang menyongsong.

***
Keranjingan BBF? Mungkin itu yang terjadi belakangan ini. Lingkaran pergaulanku menyempit pada orang-orang Asia yang kecanduan drama Korea. Hal yang selalu kami lakukan: conference group di Skype, "Iraha bade nongton BBF teh?" atau wall Facebook, "Hayu nongton BBF! Pan ulangan fisikana eunggeusan." Haha. Lucu sekali.

Dan... New Mexico akhirnya punya salju juga. Weekend minggu kemarin, suhunya menyentuh 15 derajat celcius di siang hari. Makanya, oleh asramaku, kami gunakan kesempatan ini untuk dorm photos, buat yearbook. Gaul kan, pakai dress fotonya, sama nenteng balon bintang merah dan loncat sama-sama berlatarbelakangkan kastil?

Tapi, tiba-tiba ramalan cuaca bilang: BADAI SALJU. Siapa tak shock? Dalam 3 hari suhu ngedrop sampai minus 30 derajat celcius. Dan salju pun memenuhi seluruh sudut sekolah. Dingin? Jangan ditanya. Aku tak pernah membayangkan bahwa menghirup udara pada suhu minus 30 derajat itu susah sekali. Ingus membeku di dalam hidung. Tangan terluka dan berdarah pun sampai tak terasa sama sekali. Rasanya seperti tak punya telinga, tangan, atau kaki. Maklum, malas pakai topi, sarung tangan, atau kadang-kadang dobel kaos kaki. Baju lapis empat pun masih dingin menusuk-nusuk, rasanya. Subhanallah, aku lebih menghargai tropisnya Indonesia, sekarang.

Dan tak lupa, main salju! Berhubung di sekolah kami sedang kedatangan anak-anak dari Cina yang studi banding, kami pun mengajak mereka main-main. Mereka lucu-lucu sekali loh, malu-malunya Asia itu kentara banget, haha.

Hanya dalam tiga hari, dan menjadi seperti ini. Ketebalan: kurang lebih 10 cm.

Kastil yang tampak jauh lebih indah. Dengan salju yang menumpuk di mana-mana.

Dan, tadi, saat ngecek PO Box ke kantor pos, kami menyadari bahwa saljunya sudah berubah, karena suhu menghangat. Jadinya lebih nempel, dan bisa dibentuk jadi manusia salju! Asyik! Aku, Simona, Andrea, dan Sopheaktra pun mulai membuat bulatan-bulatan salju, mencabut ranting, dan akhirnya: melingkarkan syal di sekeliling leher manusia saljunya. Waw.

Terus, kemarin aku ada ekskul Jewelry Making. Bikin perhiasan gitu, dari silver, nickel, atau brass. Bikinnya memang dari pertama, ada plat silver, harus dibentuk, dipanasin, disatuin, di-stamp motifnya, dipoles, terus jadi deh. Prosesnya cepat, dan yang penting, hasilnya luar biasa. Ini pertama kalinya aku membuat cincin perak sendiri. SENDIRI loh, ya, haha. Ekskulnya memang luar biasa, jadi pemilik galeri di kota sengaja datang dan mengajarkan kita untuk membuat perhiasan. Kalau mau gabung, cukup bayar 20 dollar, sisanya sudah disubsidi dari sekolah. Wih, luar biasa kan.


Sekarang, tak hanya liontin dari ibuku dan Lucien (hadiah ulang tahun kemarin) yang menghiasi kalungku, tetapi juga cincin ini! Yes!

Lalu, kemarin juga ada tahun baru Cina. Dan ini hal yang spesial untuk anak-anak Asia di sini. Kami masak sama-sama, dan makan sama-sama. Lebih-lebih, seperti yang sudah kuceritakan, ada anak Cina juga yang studi banding di sini. Jadinya rasanya lebih spesial. Dan tebak apa yang kudapatkan! Angpao! Dengan amplop merah!

Lalu, apa isinya? Dua puluh dollarkah? Lima puluh dollarkah?


Ternyata, hanya satu cent. Atau sekitar 900 rupiah. Tapi keren amplopnya, haha. Tak lupa, ada permen juga, yang belum aku coba. Dan bahkan aku tak tahu apa yang tertulis di sana. Hehehe.

Sebelumnya, aku cerita bahwa aku pergi ke kantor pos. Nah, kebetulan aku dapat surat! Dari Abo, alias Arina Shabrina. Teman yang selama ini belum pernah benar-benar ketemu, tapi tahu satu sama lain. Ketemu di blog dan facebook. Dulu dia di SMA 5, yang biasanya gontok-gontokkan dengan SMA 3. Tapi, toh, aku dan dia sering mengobrol juga akhirnya, dan kami ternyata menyukai beberapa hal yang sama. Yang paling penting: kami sama-sama berbagi suka duka di negeri orang, bagaimana rasa kangen yang tak tersalurkan akhirnya dibagi sama-sama. Bisa ditebak, saat aku menerima suratnya, jejingkrakan-lah aku. Loncat-loncat kegirangan. Terima kasih, Abo!


Terakhir, tapi bukan yang paling sedikit atau tak kalah pentingnya, adalah hari-hari yang menyongsong di depan. Banyak sekali yang akan terjadi. Banyak yang akan mengisi, menjadi kenangan. Sekali lagi aku hanya bisa mengusap dada, dan bersyukur, Alhamdulillah, aku bisa berada di sini dan menikmati pengalaman yang tak tergantikan. Aku berjanji untuk membayarnya, dengan segala sesuatu yang bisa kubayar untuk negeri dan sekolah ini. Terima kasih, Ya Allah, aku hidup sampai detik ini dan menikmati segalanya.

Special thanks to Simona Boyadjiiska for some of the photos.
You know that I like you, and let's watch Boys over Flowers together.
Don't forget to download Korean drama during summer break.