26 Februari 2012

Kolase Hidup Ronde Pertama

Setelah MAAD yang penuh dengan maadness-nya, aku seyogyannya punya lebih banyak waktu untuk kongkow-kongkow dengan teman atau belajar mengejar IB Exam. Setelah ide toples bintang sebelumnya berjalan dengan lancar, aku memutuskan untuk melakukan hal lainnya.

Ide membingkai potongan-potongan hidup menjadi satu pun muncul. Bersegeralah aku mencari potongan-potongan itu. Inilah hasilnya, kurang rapi tapi setidaknya bermakna buatku sendiri.

Atas kiri: fotoku sendiri.

Tom Lamberth mengambilnya dan menyelipkan foto tersebut di amplop, di castle mailbox-ku. Foto itu diambil ketika aku sedang iseng-iseng datang ke persiapan project week tahun ini di Agua Prieta (aku pergi ke project week itu tahun lalu). Niatnya sih membantu teman-teman tahun pertamaku untuk belajar tari-tarian dan pengumpulan dana. Tetapi, ujung-ujungnya aku bermain-main, dan malah memecah konsentrasi mereka. Haha, terkadang di sela-sela keseriusan itu, dibutuhkan tawa untuk membuatnya lebih bermakna.

Atas kanan: kartu pos sekolahku, kastil. Diambil bertahun-tahun yang lalu.

Kartu pos yang sama kukirimkan untuk adik-adik kelasku di SMPN 1 Cimahi, terutama anak-anak Scout One. Mengapa? Karena aku ingin membuat mereka percaya bahwa segala sesuatunya bisa dicapai kalau ada usaha. Beberapa dari mereka mendekatiku via Facebook dan Twitter, termotivasi untuk melanglang buana juga. Rasanya bangga sekali melihat keinginan dan usaha mereka yang luar biasa. Kadang-kadang tiap aku mengendorkan usahaku, aku lihat saja seberapa inginnya mereka mengeksplorasi dunia. Pecut dari mereka nyatanya luar biasa juga untuk membuatku bertahan satu jam lebih dari biasanya, karena aku selalu percaya, "Yang membuatmu jadi pemenang adalah usaha yang lebih sedikit dari usaha rata-rata orang lain."

Di tengah kartu pos: one dime dollar US (10 cents), 1 peso Meksiko, 5 peso Meksiko.

Dua negara berbeda selain Indonesia di mana aku telah menginjakkan kakiku. Sebenarnya, aku lebih senang dengan peso Meksiko, karena bentuk koinnya lebih unik, haha. Satu hal yang menarik dari one dime dollar adalah betapa anehnya sistem koin di Amerika Serikat. One dime yang bernilai 10 cents ini, bentuknya jauh lebih kecil dibandingkan koin 5 cents. Dibandingkan dengan koin di mata uang lain yang semakin besar nilainya semakin besar koinnya, koin di Amerika Serikat ini susah dibedakan kalau belum terbiasa. Ujung-ujungnya, dengan mata myopiaku ini, aku harus memicingkan dan membaca labelnya.

Tengah: boarding pass American Airlines Los Angeles-Albuquerque.

Entahlah, mungkin di masa depan aku tak akan memiliki boarding pass seperti ini. Lulus tahun ini, pikiranku cukup terberatkan. Rasa enggan meninggalkan tempat ini selalu memenuhi pikiran. Pengalaman ini terlalu unik untuk kutinggalkan.

Aku masih ingat bagaimana kesalnya hati ini untuk mendapatkan boarding pass satu itu. Bandara Los Angeles, buatku, besarnya luar biasa. Imigrasinya pun panjang mengular ke mana-mana. Tiba di sana dari Hong Kong bersama ratusan orang lainnya yang mendarat dari Jepang, Korea, Cina, dan London, bukan perkara gampang. Tiga jam sudah aku menunggu dan waktu tersisa bagiku untuk mengejar penerbangan berikutnya ke Albuquerque amatlah mepet. Boarding pass penerbangan ke Albuquerque pun belum di tangan. Walhasil, setelah lolos dari imigrasi, aku menyeret dua koper besarku ke terminal domestik. 

30 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off

Antrian panjang untuk mendapatkan boarding pass dan check-in dua koperku membuatku kesal sendiri. Ternyata aku antri di tempat yang salah. 

25 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off. 

Ternyata antrian yang benar itu jauh lebih pendek. Petugas di konter menanyakan sesuatu, tetapi telingaku masih belum terbiasa dengan bahasa Inggris beraksenkan Amerika setelah tiga bulan lamanya menghabiskan musim panas di Indonesia. Aku cuma bisa membulatkan mataku, dan bertanya, "Pardon?"

20 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.

Kubuka sepatuku. Kutaruh di keranjang kecil bersama tas tangan dan backpack-ku. Kurelakan keranjang itu masuk X-Ray scanner. Kurelakan juga diriku masuk ke mesin canggih pendeteksi logam itu. Tidak berbunyi. Petugas TSA itu hanya manggut-manggut dan membiarkanku lewat ke terminal di mana pesawatku berada.

10 menit sebelum pesawat ke Albuquerque take off.

Kutahan nafasku, setelah berlari-lari mencari terminal pesawatku, dan melompat ke shuttle bus yang pintunya hampir menutup, melintasi bandara, menuju ke terminal di mana pesawatku benar-benar berada. Sara Sebti (Canada '12) dan Atsunobu Kotani (Japan '12) adalah dua orang UWC-er pertama yang kutemui setelah musim panas. Peluk erat, dan kupasrahkan tubuhku dibawa burung besi itu ke New Mexico, Land of Enchantment.

Tengah: kartu pos New Mexico.

Aku senang mengirim kartu pos untuk teman-temanku. Berbagi rasanya hidup di negeri orang. Kartu pos ini tak semurah kartu pos yang bisa kudapatkan di Indonesia, harga kartu pos ini sekitar 30 cents. Lumayan, tetapi coba hitung sendiri kalau 40 temanmu minta dikirimi kartu pos, dengan perangko internasional yang harganya 98 cents. Lumayang menguras dompet.

Tengah: flash card, catatan kimiaku.

Kebiasaan baru buatku. Mungkin tidak bagimu. Menulis catatan pelajaran kecil-kecil di kartu dan membawanya ke mana-mana untuk dibaca pada waktu senggang. Aku melakukan hal yang sama untuk pelajaran Ekonomi, karena lumayan banyak yang harus dihapal sebagai pengetahuan dasar dalam menganalisis masalah Ekonomi. Tanya aku, apa efek dari international trade dari sisi ekonomi dan non-ekonomi, maka akan kuberitahukan 10 poin jawabannya.

Bawah kiri: struk belanja di Walmart.

Bukan satu-satunya tempat belanja, tetapi aku selalu pergi ke sana dengan alasan kepraktisan. Tiap kali aku ke sana, satu hal benang merahnya: belanjaannya juga sama. Biskuit, keripik kentang, cookies, sereal, susu kedelai, adalah sedikit dari makanan yang harus aku beli. Entahlah, musim dingin seperti ini rasanya selalu lapar melulu, sementara rentang waktu makan pagi-siang-malam tak berubah. Maafkan aku orangtuaku, jika kiriman uang dari rumah kuhabiskan untuk mengganjal perut yang tak tahu malu ini.

Bawah kanan: surat dari Simbah.

Simbah Putri, nenekku di Jogja, selalu mengirimkan surat untukku dengan rutinnya, dengan enam perangko 2500 rupiah-an. Dititipkan ke Pak Pos yang mampir ke rumah Mbah sekali dalam sekian minggu. Melintasi benua, meringankan luka kerinduan.

Aku kangen kota itu, sungguh. Keramahan orang-orangnya, kelezatan makanannya, dan kasih sayang keluarga besarku di sana. Membuatku kadang berpikir, kapan aku bisa merayakan Idul Fitri di sana lagi. Keliling-keliling ke rumah saudara-saudaraku, mengharapkan percikan angpao sedikit. Melepas diri ke pantai yang jauhnya hanya setengah jam, membiarkan kelelahan hati dan keberatan pikiran terobati meski sedikit. Menikmati tradisi, menuai cinta, dan tersenyum lega.

Aku kangen rumah, aku kangen Indonesia.

3 komentar:

  1. koinnya kayak uang seribu Indonesia yaaa. Sayang yang begitu di Indonesia pasti gak nutup produksinya. Lebih mahal bahan baku daripada nilai mata uangnya. :D

    BalasHapus
  2. super kangen deh titan *pelukan virtual*

    BalasHapus
  3. tan, tunggulah urang bentar lagi mau bikin blogspot. nyehehe

    BalasHapus