16 Maret 2012

Kolase Hidup Ronde Kedua

Kiri bawah: post-it note biru, "Aku bangga karena aku berhasil melewatinya."

Semester lalu, aku benar-benar dikejar-kejar hantu bernama SAT. Sebuah tes, yang seperti tes lainnya, tak mampu mengukur kemampuan sebenar-benarnya seseorang karena keterbatasan sistem tes itu sendiri. Post-it note itu masih ada di mejaku, tertempel cantik. Aku melihatnya ketika membutuhkannya, saat rasanya dunia meruntuk mengejar tempatku berdiri saat ini.

Mengapa kubilang khalifah itu pemenang? Karena kamu tak bisa menjadi pemimpin buat orang lain jika kamu belum berhasil memenangkan dirimu sendiri.

Kanan bawah: logo MaxTea Tarikk.

Tanya aku, berapa kotak teh tarik instan yang kubawa dari Indonesia. Jawabannya sederhana, empat. Lebih dari cukup untuk menyambung hidup dan perasaan setahun. Hangatnya melumerkan kebekuan otak saat musim dingin dan badai salju di luar.

Hampir habis stoknya, sayangnya. Teman-temanku yang berasal dari luar negeri mengaku bahwa teh ini unik dan memiliki rasa yang berbeda. Seperti yang bisa ditebak, mereka selalu bertanya kalau aku punya ekstra. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja aku bagi-bagi, walau kadang hati tak sepenuhnya rela.

Kanan bawah: zebra pen, "made in Indonesia".

Stok pulpen di laci belajarku menipis. Selusin pulpen yang kubawa dari Indonesia saat musim panas kemarin hanya menyisakan dua batang seminggu lalu. Apa tahun ini aku banyak menulis, ya? Semoga bukan karena menulis yang tidak-tidak atau menggambar doodle di kelas fisika dan matematika karena toleransiku dalam menerima ilmu mendekati nol.

Teriak giranglah aku ketika menemukan pulpen made in Indonesia ini di Walmart. Bangga karena jika aku membelinya berarti aku menyumbang sedikit dari neraca ekspor impor negeriku. Luar biasanya lagi, buatku yang hobi men-doodle dan nulis sembarang tempat, pulpen ini rasanya pas di tanganku, dengan besar tip-nya 0.7mm. Susah menemukan 0.7mm ini, karena ukurannya Amerika Serikat ya, pasti besar-besar.

Tengah kanan: kartu pos dari Singapura.

Mungkin sudah keluar di blog ini sebelumnya, bahwa temanku, Fitri Fatimah, sekarang belajar di National University of Singapore. Tukar-tukaran kartu pos dari dua negara yang berbeda jadi hobiku selama ini. Asyiknya, tukar kabar pun jadi salah satu hal yang paling ditunggu. Facebook? E-mail? Twitter? Lewat.

Tengah kiri: surat dari Jepang.

Pen-pal-ku yang lain adalah Nanako Harata, teman dari Kyoko Sakai (Jepang '12). Tulisannya amboi nian, dan selalu ada kejutan dari tiap suratnya. Terakhir kali, dia mengirimkan buklet kecil untuk belajar kesenian unik dari negerinya, origami. Bahasa Inggrisnya luar biasa, jika dibandingkan dengan aku yang buta menulis surat sebelum datang ke sekolah ini.

Benar-benar deh, belajar itu harus dipraktikkan. Atau hilang tak berbekas.

Tengah kiri: kartu efooddepot.com.

Situs favoritku untuk belanja belanji makanan dari ibu pertiwi. Mahal? Ya. Tapi aku selalu butuh sesuatu untuk menyambung lidah, dan tentu hati ini. Seperti obat bahan bakar yang mampu membuatku berpikir, "Titan, kalau di tes berikutnya kamu bisa dapat 7, kamu bisa makan Indomie Goreng Sate untuk malam ini."

Sungguh efektif!

Atas kanan: kartu pos dari Indonesia bergambar becak.

Kakakku mengirimkannya dari Indonesia. Setelah Lebaran, buat mengobati rasa rindu. Mungkin sebuah pertanyaan muncul di pikiranmu, "Titan, apa segitu susahnya bertahan dari rasa homesick?" Panggil aku cengeng, jika kamu sudah pernah tinggal selama 1,5 tahun di negara lain sendiri, dan jauh dari mana-mana. Jika belum, coba dulu, baru panggil aku cengeng.

Tinggal di negara lain hanya memupuk perasaan cinta akan negeriku lebih dalam setiap harinya; memberikan bahan bakar minyak untuk membuat Indonesia lebih baik.

Tengah: post-it note kuning dari teman sekamarku.

Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, teman sekamarku dari Polandia, Urszula Snigurska, adalah teman yang luar biasa. Tingkat kematangan pribadinya membuatku tercengang, sering kali menyentilku malah, karena komitmennya yang luar biasa pada sesuatu.

Selalu ada hal yang bisa dipelajari dari orang-orang di sekitarmu.

Tengah kanan: kartu tanda pengenal, "Titan Hartono-Indonesia."

Kartu tanda pengenal ini digunakan ketika national committee, dan orang-orang dari UWC IO dan sekolah UWC lainnya datang untuk brainstorming tentang misi UWC ke depannya. Luar biasa, sebenarnya, karena aku mendapat kesempatan untuk mendengar cerita-cerita dari keluarga besar UWC dan seberapa berpengaruhnya pengalaman mereka ini buat hidup mereka.

Buka mata, hati, telinga, untuk melihat, mendengar, dan menerima pelajaran baru. Aktifkan dan sesuaikan frekuensinya sehingga kamu bisa berada dalam keadaan tersensitifmu untuk belajar dengan efektif.

Kanan bawah: lokasi SMPN 1 Cimahi, SMAN 3 Bandung, dan nama untuk seragamku.

Dua dari empat sekolah yang telah berkontribusi dalam memberikan ilmu dan pengajarannya padaku. Juga rasa kangen akan seragam. Tahun lalu, aku membawa seragamku ke sini, tetapi sayangnya aku terlalu bodoh untuk tidak membawanya tahun ini. Rasa "berangkat ke sekolah" telah hilang, karena aku tinggal di sekolahku, hanya 5 menit waktu yang dibutuhkan untuk pergi dari kamarku ke kelasku.

Menikmati hal kecil yang mungkin tak bisa kamu miliki di masa depan adalah salah satu hal yang akan lebih kuperhatikan, sehingga sesal tak akan menggerogotiku di masa depan.

Tengah bawah: origami hantu.

Origami ini dibuat tahun lalu, saat hampir Halloween, di sebuah sekolah dasar di Las Vegas. Tiap minggunya selama semester kemarin aku mengajarkan matematika dalam bentuk permainan pada mereka. Minori Itabashi (Jepang '13), membuat origami ini untuk membuat mereka duduk diam dan memperhatikan permainan yang kami bawa hari itu.

Mereka menyenanginya. Aku juga menyenanginya. Maka dari itu, satu origami hantu itu kusimpan untuk diriku sendiri.

Atas kiri: foto dengan topi Sinterklas.

Seperti foto sebelumnya yang diambil Tom Lamberth, foto ini pun sama. Beliau selalu punya 'meja'-nya sendiri selama makan siang. Sebelum winter break kemarin, untuk merayakan holiday season, terutama hari Natal yang mendekat (yang dirayakan oleh semua orang di sini, meskipun mereka adalah non-Kristen), dia mendekorasi meja makan. Kameranya pun siap untuk mengambil foto anak-anak yang iseng-iseng mampir ke mejanya.

Dalam foto ini, aku bersama dua orang di sekolah ini yang mana aku sangat dekat dengan mereka, Jing Xia (kiri: Cina '13), dan Kripa Dongol (tengah: Nepal '12).

Aku akan merindukan mereka ketika aku lulus nanti. Sungguh.

1 komentar: