16 September 2012

Dulu: Belajar, Sekarang: Kuliah

Lebih dari 350 orang memasuki lecture hall kimia hari itu, lecture pertamaku. Aku hanya bisa bengong melihat betapa banyak orang di kelas tersebut. 350 orang lebih, total siswa di UWC dulu saja sekitar 200 orang...

Kalau kau masih penasaran seperti apa kuliah di MIT rasanya, coba cek OpenCourseWare MIT, di mana kamu bisa melihat, merasakan, dan 'ikut kuliah' di sini. Varian kelasnya pun beragam, dan ketika melihat semua itu, perasaanmu sama dengan perasaanku dulu: bingung menentukan kelas apa yang harus kuambil.

Seperti halnya ITB, MIT juga punya 'TPB' alias Tahap Persiapan Bersama, yang namanya GIRs (General Institue Requirements). Setiap orang yang lulus dari MIT diharuskan untuk lolos tes berenang 100 yards, mengambil dua versi kalkulus (Calculus I dan Calculus II, untung aku dapat kredit untuk Calculus I, jadi aku langsung ambil Calculus II sekarang), mengambil dua versi fisika (mekanika klasik dan listrik & elektromagnetisme), mengambil biologi, dan juga kimia. Tak peduli jurusan apa yang akan kamu ambil, kamu dianjurkan untuk menuntaskan GIRs di tahun pertamamu, karena mereka memberikan fondasi dasar dalam bidang teknik, sains, dan ilmu sosial.

Selain itu, aku juga mengikuti program ESG (Experimental Study Group), yang mana kelas yang kami miliki lebih kecil, dan interaksi dengan professor yang mengajar pun menjadi mungkin. Selain itu, komunitas ESG pun sangat dekat (mereka punya lounge sendiri di lantai 6 building 24), sehingga untuk orang sepertiku yang introvert, proses mencari teman pun lebih mudah.

Klub? Ekstrakurikuler? Ada banyak. Jangan tanya aku. Daftar lengkapnya ada di MIT Association of Students Activities, berkisar dari klub olahraga, seni, musik, hingga volunteering pun ada. Ada juga Association of Indonesian Students, loh.

Karena terletak di kota, banyak hal tersedia di sekitar MIT ini. Menyebrang Charles River selama 15 menit dengan berjalan, kamu akan berada di Boston. Naik bus nomor 1 selama 5 menit, kamu akan tiba di Harvard Square (yang ada banyak sekali restoran: mulai dari spesifik makanan, hingga pencuci mulut). Jika ingin merasakan spirit orang Amerika Serikat, boleh juga sekali-sekali menonton bisbol di Fenway Park, markas Boston Red Sox. Aku pergi menonton bisbol di sana gratis, sekalian volunteering me-recycle sampah botol dan bekas makanan penonton di sana. Lalu ada juga toko pencuci mulut Mike's Pastry yang terkenal dengan cannoli pistachio-nya yang luar biasa. Kalau aku cerita terus, daftarnya akan jadi benar-benar panjang!

Sekarang, saatnya hal-hal trivial yang aku tangkap secara tidak sengaja selama aku di sini:

1. Lecture kimiaku terletak di Stata Center, bangunan dengan arsitektur unik. Di tengah-tengah plafon hall-nya terdapat kaca transparan. Karena semua orang mendapat handout ketika masuk hall, kaca tersebut merefleksikan orang-orang dari atas, dengan putihnya kertas handout. Buatku sih, luar biasa, karena mungkin tak semua orang menyadari hal itu.

2. Advisor-ku adalah salah satu Vice President MIT (Siapa namanya? Google!). Tiap minggu aku bertemu dengannya dalam seminar mengenai leading a balanced life. Luar biasanya adalah mengenal beliau tidak hanya dari scoop pekerjaannya saja, tetapi bagaimana kehidupan beliau, yang seperti kebanyakan orang lainnya yang terknoneksi dengan MIT: mengatur waktu adalah hal yang sulit, karena ada saja yang harus dikerjakan. Seminar ini diadakan di East Penthouse asramaku, di lantai 8, yang menghadap langsung ke Charles River (intinya: pemandangan restoran bintang lima!).

3. Free food, free food, everywhere. Jika saat SMP atau SMA kamu diancam akan dicatat absen jika tidak datang ke acara wajib yang diadakan sekolah, MIT punya caranya sendiri. Free lunch, free dinner, pizza, ice cream... selalu ada di setiap acara yang menginginkan kamu untuk datang. Aku? Aku berusaha datang ke semua acara dan menyomot sebagian makanannya, hehe. Kadang juga, mereka memberikan kaos gratis atau tas gratis untuk menarik orang datang ke acara mereka. Ide yang efektif.

4. Normalnya, dalam suatu diskusi grup, selalu ada yang ingin mengutarakan opini (apalagi jiga anggota grup itu sudah merasa nyaman dengan grup itu sendiri). Ada hal aneh yang kuamati semenjak tiba di sini. Jika suatu grup baru dibentuk (apalagi jika anggotanya adalah tingkat pertama), mereka biasanya tidak bersuara banyak. Mentor yang bertanggungjawab tentang grup itu pun biasanya harus memutar otak untuk menghidupkan suasanya nyaman, atau memaksa anggota grup untuk bicara. Kondisi seperti ini sudah lazim: mentor: "Ada pertanyaan?", anggota grup: hening, mentor: "Kalian boleh menanyakan apapun tentang kehidupan mahasiswa MIT," anggota grup: masih hening.

Masih ada hal lainnya yang ingin kutambahkan. Tetapi setidaknya, sekarang aku mulai merasakan bahwa aku sekarang benar-benar 'kuliah'. Cheers! Have a good weekend!

3 komentar:

  1. sekarang aku kuliah di ekonomi (sosial). sebelumnya aku mengambil pelajaran eksak saat SMA. dan ya, pengalaman di kelas eksak sangat membantu untuk mengenal pelajaran sosial. haha. yang aku tidak habis pikir, kenapa pelajaran renang wajib ya. hihihi. lucu juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena di sini tempatnya sebelahan banget sama Charles River :) Olahraga macam kayaking, rowing, dan main yacht sudah biasa. Banyak temanku yang latihan (gratis, dengan gabung ke klubnya) dan dapat lisensi. Kadang-kadang kalau lagi bosan, mereka tinggal ke boat house dan kayaking di Charles River :)

      Hapus
  2. semoga di indonesia ada acara yang Free lunch, free dinner, pizza, ice cream...

    BalasHapus