18 Oktober 2012

Klasik: Dimulai dari Buku

Perasaan bahagia datang ketika aku mengingat masa kecilku dulu.

Aku senang membanding-bandingkan nilai rapor SD-ku dengan milik kakakku, karena nilaiku selalu lebih bagus darinya. Celetukan macam, "Ih, Putri, masa' kamu matematika cuma dapet 7.5 doang sih?" sudah biasa terdengar. Masih jelas juga seberapa senangnya aku ketika di caturwulan 1 kelas 1 SD aku berhasil mendapatkan ranking 4. Setelah mendapatkan rapor itu, aku berlari memeluk ibuku, menyodorkan raporku, dan dengan bangga menyampaikan, "Bu, akhirnya anak ibu bisa ranking 4. Si Putri 'kan nggak pernah dapat ranking di kelasnya."

Halo, Putri, aku memang adik tengil yang mengumbar fakta bahwa sampai kelas 5 SD kamu tak pernah dapat ranking 10 besar.


Momen lain yang masih kuingat sampai sekarang adalah, tagihan ranking. Tiap aku dapat ranking di kelas, aku selalu meminta sesuatu pada bapakku, mulai dari novel Harry Potter dan Piala Api yang baru keluar saat itu, hingga novel teenlit macam Dealova yang sukses membuatku menangis darah saat membacanya pertama kali (dan membuatku ketagihan untuk baca teenlit). Hingga akhirnya, bapakku berhenti membelikan sesuatu kalau aku dapat ranking, karena, "Lama-lama Bapak bangkrut kalau tiap caturwulan membelikan kamu sesuatu terus," kata bapakku.

Rutinitas keluarga kami (saat aku, kakakku, dan adikku masih relatif anak-anak) saat hari Minggu adalah pergi ke Gramedia. Dengan motor bebek Hondanya, bapakku membonceng aku dan kakakku yang duduk berdempetan di belakang, dan memangku adikku yang duduk di depan. Berempat, kami menembus jarak 20km antara Bandung dan Cimahi, sementara ibuku di rumah beres-beres, hehe. Ketika sampai di Gramedia, biasanya aku, kakakku, dan adikku berlomba-lomba merayu bapakku untuk membelikan kami buku. Yang sukses, boleh sombong, "Aku tadi dibeliin bapak buku yang harganya 50 ribu loh."

Anehnya, dulu aku tidak peduli buku apa yang bisa dibeli. Asalkan bapak mau membelikanku buku, aku akan ambil kesempatan itu. Karena itu, jangan tanya berapa banyak buku matematika kelas 3 SD yang kupunya, paling tidak ada tiga, karena bapakku pasti berbesar hati (dan dompet) membelikan buku pelajaran. Aku cukup bilang, "Pak, boleh beli ini? Aku mau latihan soal," dan beliau pasti bilang, "Iya."

Tentu saja, buku itu tidak jadi penghuni rak buku, tetapi aku benar-benar mengerjakan soal-soal di dalamnya. Semuanya. Penuh. Aku masih ingat dengan jelas, ketika aku berhasil mengerjakan soal aljabar pertamaku (kalau 2x=4, apakah x?). Rasanya luar biasa.

Sayang, entah sejak kapan, aku lupa perasaan itu. Menggali apapun yang ingin kutahu, mencari segala sesuatu yang menarik minatku.

Ketika aku menginjak kelas 4 SD dan mulai bimbingan belajar untuk persiapan masuk SMP, doktrin 'menjadi yang terbaik' itu mulai masuk. Aku tak ingat mulai kapan aku selalu ingin menjadi ranking satu di tiap try out yang diadakan bimbingan belajar tersebut. Aku tak ingat sejak kapan aku mulai peduli dengan berapa passing grade masuk SMP anu. Aku tak ingat mulai kapan aku ingin selalu membanding-bandingkan diriku dengan orang lain.

Dan hal tersebut tak berhenti di situ.

SMP? Tak terhitung berapa kali aku dan Ainun, berkompetisi dalam berbagai hal. Termasuk soal NEM, ketika kami ingin masuk SMA. Thank God, kami masuk SMA yang sama dengan jalur testing. Saat di SMA? Semuanya makin runyam. Target utamanya? Tentu nilai setinggi-tingginya, respek dari teman seumuran, dan universitas impian. Bisa ditebak, ketika sudah kuliah pun, persaingan semakin tajam karena semuanya ingin dapat IPK terbaik supaya dapat tempat kerja yang prestisenya tinggi. Masuk ke lingkungan kerja? Menapaki tangga karir.

Memikirkan semua itu, terus terang saja, membuat aku lelah. Sampai kapan aku harus tetap memikirkan hal seperti ini? Sampai kapan aku harus terus bersaing dengan orang lain demi mendapat apa yang aku (aku? Mungkin lebih tepatnya yang orang-orang) inginkan?

Sampai kapan?

Kukira, setelah masuk MIT, aku bisa sedikit slacking off, haha. Tetapi, ternyata di sini sama saja. Kukira orang-orangnya lebih passionate soal apa yang mereka lakukan dan tak begitu peduli dengan nilai.

Sampai kapan?

Aku harus mencari target baru, aku tak boleh 'menyerahkan' diriku terhadap siklus ini. Alhamdulillah, aku dapat sponsor untuk pergi ke One Young World Summit 2012. Berikut ini video dari summit tahun lalu.


Bismillahirrahmanirrahim. Semoga saat aku kembali ke kampus, aku bisa memperbarui niat dan tujuanku. Amin.

Pittsburgh, I'm coming!

3 komentar:

  1. Artikelnya bagus mbak :D
    Kalau boleh dishare mbak perjalanan bisa masuk MIT, bagaimana seleksinya dll.
    Terima kasih mbak :D

    BalasHapus
  2. yg nge-sponsorin One Young World Summit siapa Tan?? Pengeeenn nih.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dikti, kalo di Indonesia. Kurang tahu sih prosesnya bagaimana. Kalau saya dulu disponsori Siemens, tidak lewat pemerintah.

      Hapus