24 Desember 2012

Seperdelapan

Pernah membayangkan seperti apa rasanya kalau kamu tiba-tiba dibebaskan? Hal yang biasa mengikatmu, kini tidak mengikatmu lagi. Walaupun udara sangat dingin di luar (dan anginnya kencang sekali), kamu bisa melihat sisi lainnya dan bersyukur.

Entah, mungkin saya sedang berada dalam fase itu.

Saya ingat, GRT (Graduate Resident Tutor) saya bilang suatu hari, ketika saya memutuskan untuk pergi ke One Young World Summit 2012, "Jangan biarkan sekolahmu menginterupsi edukasimu."


Setelah hari Kamis kemarin saya selesai secara resmi dengan freshman fall semester saya, saya bertemu, berbicara, dan tertawa dengan teman, keluarga, dan orang-orang yang keberadaannya sangat saya hormati. Pada saat yang sama, jumlah jam tidur saya berkurang drastis dibandingkan dengan jumlah jam tidur saya selama hari-hari normal kuliah di sini, sejauh ini. Iya, saya masih freshman, dan beban kelas yang saya ambil mungkin tak setara dengan apa yang upperclassmen ambil. Padahal, sejujurnya, saya tak suka jika jam tidur saya diganggu. Saya tak suka jika sesuatu muncul tiba-tiba dan merusak agenda yang telah disusun. Tapi rasanya, saya lebih menikmati 'kekurangan tidur' saya. Mungkin faktor bahwa periode ini dinamai 'liburan' juga sangat penting. Apalagi ditambah fakta bahwa saya berkesempatan melakukan hal-hal yang tidak biasa saya lakukan, semuanya terasa luar biasa.

Dimulai dari Kamis siang. Saya bertemu dengan first year saya, Monica (Tanzania '13), dan zero year saya, Daiki (Jepang '14). Kami berjalan-jalan di sekitar Boylston St. dan Newbury St., sentral perbelanjaan di Boston. Kemudian, saya mengajak Monica kembali ke MIT dan melihat-lihat kampus. Setelah itu, saya 'memaksa' untuk mengantar Monica pulang (Monica tinggal bersama temannya, alumni UWC Adriatic yang juga seorang siswa S3 di Harvard). Saat saya berjalan menuju apartemen di mana Monica tinggal, saya merasa, "Wow, saya bebas."

Maksud saya, saya akhirnya punya waktu untuk diri saya sendiri. Terima kasih untuk sistem pass/ no record di MIT, panik yang saya miliki terhadap nilai sedikit berkurang. Musim panas selama di Indonesia saya habiskan untuk mempersiapkan transisi saya ke universitas. Musim dingin tahun lalu, saya sibuk menyelesaikan aplikasi ke universitas. Musim panas tahun lalu, saya sibuk mengerjakan extended essay saya. Musim dingin pertama saya, saya sibuk mempersiapkan diri untuk self-taught. Sebelumnya, saat masih di Indonesia, pasti ada saja tugas yang harus dikerjakan saat liburan (karena saya ingin dapat nilai bagus dan masuk MIT-naif sekali kalau dipikir-pikir). Jadi, winter break kali ini memang saat yang saya tunggu-tunggu.

Hari Jumat, saya mulai dengan bekerja paruh waktu selama enam jam, kemudian saya lanjutkan dengan mengejar teman saya yang sudah menunggu di The Coop Kendall Square untuk berangkat dengan shuttle bus gratis ke sebuah mall di Cambridge. Kemudian, saya menjemput Simona (Bulgaria '12) yang akan menginap semalam di kamarku karena pesawatnya lepas landas Sabtu pagi.Sebelumnya, saya pergi ke gathering-nya asosiasi mahasiswa Malaysia di MIT, dan mendapatkan nasi lemak, asam laksa, dan kwetiaw gratis, hehe.  Monica juga akhirnya bergabung dengan aku dan Simona, dan kami memutuskan untuk mencari 'makan malam'. Sayang, kami terlalu telat, dan Quincy Market sudah keburu tutup. Lebih mengerikannya lagi, ternyata ada banyak orang-orang yang mabuk di daerah sekitar North End dan Long Wharf. Jadi, kami memutuskan untuk pulang dan membeli dua pizza ukuran sedang di 7-Eleven dengan harga promo: $10 untuk kedua pizza! Jadi, saat kami kembali ke asramaku, kami menghangatkan pizza, dan duduk manis mengobrol macam-macam, mulai dari zero years dan melihat foto-foto di Facebook. Kami pun tidur sekitar jam 3:30 pagi.

Sabtu pagi itu, tangan saya berniat untuk usil, jadi saya tidak terbangun saat mematikan alarm. Simona bahkan salah menyetel alarmnya, sehingga kami telat untuk pergi ke bandara. Saya tidak akan melupakan momen ketika kami berlari dari asrama saya menuju Kendall Square, melintasi MIT main campus yang terbentar dari Harvard bridge sampai Longfellow bridge. Untunglah, Simona berhasil check-in dan tidak telat untuk penerbangannya. Setelah itu, saya bertemu Yee Ling (temanku dari Malaysia di MIT) untuk berbelanja kebutuhan kami memasak saat winter break dan IAP. Sayang seribu sayang, cuacanya tidak begitu bersahabat. Angin di Boston sangat kencang hari Sabtu, dan menunggu bus di halte bus merupakan pekerjaan yang sangat berat. Setelah pergi ke dua supermarket besar, kami kembali ke asrama, dan aku memutuskan untuk mencoba sebuah rice cooker yang dapat digunakan dengan microwave, dan bisa memasak nasi dalam 15 menit. Setelah itu, aku pergi ke acara makan-makannya Asosiasi Mahasiswa Indonesia, dan bermain kartu serta board game "Taboo" hingga tengah malam.

Hari Minggu, setelah saya mendapatkan tidur yang cukup, saya bangun dengan perasaan luar biasa. Kamar saya bersihkan, baju saya cuci, dan kertas serta buku dari semester lalu saya masukkan ke dalam boks. Kemudian, saya menemukan kejutan luar biasa: Ratna sedang daring (dalam jaringan)! Kami pun mengobrol panjang lebar. Setelah itu, saya memutuskan untuk mulai memasak. Hasilnya? Walaupun sempat ragu-ragu dengan bumbunya (saya tidak punya ulekan atau blender di sini), sayur sop yang saya buat rasanya luar biasa. Alhamdulillah. Setidaknya di masa depan, saya bisa masak Indomie, telur tahu tempe goreng, sambal, dan sayur sop untuk keluarga saya nanti.


Sop ini dimakan dengan nasi setengah matang hasil percobaan rice cooker microwave hari Sabtu kemarin.

Pertanyaan saya sederhana, "Tak bisakah saya dan kamu, atau kita, merasa seperti itu setiap hari, saat melaksanakan rutinitas dan kewajiban kita sehari-hari?" Saya harus mencobanya, mungkin. Masih ada tujuh perdelapan bagian yang harus saya lalui sebelum resmi menyandang gelar S1 dari Massachusetts Institute of Technology. Liburan kali ini, walaupun rasanya setengah mati iri dengan teman-teman yang bisa pulang ke keluarganya, walaupun saya tidak ada kuliah, saya tetap 'teredukasi'.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar