29 Januari 2013

Kenangan Lodaya

Dari kotak kecil-kecil bernomorurutkan dari 101 hingga 730-an, sepucuk surat terlihat di kotak kecil yang aku hafal benar. Kotak surat milikku.

Salju di luar menambah lelahku hari ini. Satu jam kerja, enam jam duduk manis mendengarkan presentasi para wakil perusahaan itu menjelaskan produk mereka, memaksaku menenggak dosis besar bagaimana caranya berinteraksi dengan mesin bernama komputer dan mengerti bahasanya. Untung oseng-oseng wortel, sosin, baso udang, dan buncis yang kemarin kumasak masih bersisa, dengan nasi impor dari Thailand yang cukup otentik. Makan malamku sempurna.


Empat perangko bernominalkan 2500 rupiah menutup setengah dari amplop itu. Seperempat bagiannya kosong, sementara seperempat bagiannya lagi tertulis alamat asrama dan kotak suratku, dengan tulisan khas Budhe. Budhe pernah bercerita suatu waktu, kalau petugas kantor pos sampai hafal: kalau ada surat dari luar negeri, pasti surat tersebut untuk Budhe dan Simbah. Kalau Budhe dan Simbah tidak sempat ke kantor pos, biasanya, petugas kantor pos dengan senang hati datang dan mengambil surat dari beliau. Apalagi mempertimbangkan fakta bahwa Budhe dan Simbah sudah semakin tua, jalan ke kantor pos yang dulu tidak seberapa, kini sudah semakin berat.

Doa dan kabar terbaru, meskipun kabar terbaru itu sebulan yang lalu (karena butuh waktu sebulan untuk surat itu sampai di sini), selalu menjadi pembuka manis. Memanjangkan nafas, hati, dan pikiranku juga: "Oh, Simbah dan Budhe alhamdulillah sehat..."

Selanjutnya, pasti ada kabar dari keluarga besar di Yogyakarta. Umumnya, soal sepupu-sepupuku yang baru menikah, atau melahirkan anak yang pertama, kedua, atau ketiga. Budhe tahu betul kalau aku hanya hafal nama-nama dari anak dari saudara ibuku, dan kenal baik dengan 75% dari mereka. Bahasa Sundanya, pareumeun obor, karena aku tidak kenal keluarga besarku sendiri (Anak dan anak dari saudara Simbah? Sepupu jauh? Keponakan baru?). Maklum, keluargaku termasuk yang merantau paling jauh dari Yogyakarta, yaitu menetap di Bandung. Mudik dan berebut jalan setiap Lebaran dengan puluhan ribu mobil dan motor berplat D dan B tiap tahunnya pun sudah lazim. Pertanyaan macam, "Berangkat dari Bandung jam berapa? Nagrek macet tidak?" sudah biasa kami jawab setiba kami di Yogya. Seperti kaset, aku, kakakku, adikku, ibuku, dan bapakku, biasanya serempak menjawab, "Iya, macet sekali sampai nggak bisa gerak di Nagrek selama lima jam!"

Di surat kali ini, Budhe bercerita bahwa beliau mulai merajut sarung tangan baru untukku, yang bisa diambil ketika liburan di Yogyakarta nanti. Mungkin aku terlalu sering mengeluhkan cuaca Cambridge dan Boston yang dingin sekali untuk ukuran orang Indonesia.

Kubuka laciku. Stok perangko internasionalku masih aman. Kumulai menulis surat balasan, menceritakan kelas dan salju, pekerjaan paruh waktuku, serta kemampuan masakku yang semakin kuasah selama sebulan terakhir ini.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.


Moda transportasi yang selalu kugunakan untuk pergi sendiri ke Yogya selalu sama: kereta Lodaya, malam atau siang. Lodaya siang, lebih seringnya, karena Bapakku selalu mewanti-wanti, "Kalau kamu naik Lodaya malam terus ketiduran, nanti kebablasan sampai ke Solo, loh!" Ya, kereta lodaya ini sebenarnya dari Bandung ke Solo, tetapi setengah atau tiga perempat penumpangnya selalu turun di Yogyakarta.

Apa yang menarik? Tahun lalu, saat aku pulang ke Indonesia, aku menyadari sesuatu. Saat kereta api berhenti kemudian diberangkatkan kembali dari stasiun-stasiun di Jawa Tengah, bel mereka jauh berbeda dari biasanya. Bisa kamu dengarkan dari video di atas (sekadar informasi, saya coba cari mati-matian judul lagunya di Google dan Youtube sebelumnya, karena penasaran).

Biasanya, bel/ lagu/ semboyannya seperti ini.


Usut punya usut, ternyata lagu itu berjudul Di Tepinya Sungai Serayu, lagu keroncong. Aku masih ingat jelas, ibuku hafal lagu ini. Jadi, waktu terakhir kali aku dan ibu pergi ke Yogya, di tiap stasiun di Jawa Tengah, ibuku langsung mendadak karaoke lagu ini, hehe.


Aku juga masih ingat, terakhir kali aku ke Yogya itu waktu bulan Ramadhan. Kereta Lodaya yang dijadwalkan tiba di Bandung pukul 5 sore, telat sejam. Ketika adzan Maghrib berkumandang, kereta masih 'menunggu giliran' di Stasiun Kiaracondong. Rel yang terbatas membuat kereta yang bergerbongkan eksekutif semua didahulukan, kemudian kereta hibrida macam Lodaya yang mempunyai kelas bisnis dan eksekutif. Yang kasihan tentu saja para penumpang KRD yang menunggu di Stasiun Kiaracondong, karena status KRD yang kelas ekonomi, mereka terpaksa membeli makanan berbuka di stasiun.

Aku, bapakku, dan ibuku terpaksa membuka bakpia yang dimaksudkan untuk dimakan bersama-sama dengan adik dan kakakku yang menjaga rumah. Bakpia keju menjadi takjilku, sementara bakpia kumbu kacang hijau menjadi takjil bapak dan ibuku. Dari dulu aku memang tidak begitu suka bakpia kacang hijau. Jangan tanya kenapa.

Semburat matahari yang menyinarkan sisa-sisa cahaya terakhirnya sebelum benar-benar terkalahkan sang malam menemani kereta Lodaya terakhirku menuju stasiun terakhir, Stasiun Bandung.

Semoga aku berkesempatan lagi merasakan romansa berkereta selama 10 jam di antara dua kota yang paling kucinta, memberikan otakku waktu terbanyak untuk berpikir apa saja dan merambat ke mana saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar