13 Januari 2013

Menjadi Diri Sendiri

Sejak dulu, dulu sekali, kebanggaan orang tua selalu saya utamakan di atas keinginan saya, meskipun seringnya kebanggaan orang tua dan keinginan saya nyerempet, alias bersinggungan. Karena itu pula, seperti anak Indonesia normal lainnya, bermimpi masuk ke sekolah terbaik di kota tempat tinggal, dan kalau bisa, mendapat ranking satu. Walaupun Ibu karo (dan) Bapak-ku lebih sering bilang, "Yang paling penting itu, kamu merasa sudah melakukan hal terbaik yang bisa kamu lakukan. Bapak sama Ibu ikut senang kalau kamu senang, kok."

Orang-orang lain, sebagian besar dari mereka adalah teman Bapak dan Ibu, serta teman-temanku yang berbeda sekolah, biasa bertanya, "Gimana sekolah di sana, susah, nggak?"


Sejujurnya, dari zaman SD hingga detik ini, jawaban saya belum berubah: "Susah, kadang-kadang susah banget, malah." Hehe.

Si 'Susah' ini juga yang membuatku dan kita semua berkembang dengan cara memaksa kita melalui proses trial & error dalam menghadapi suatu masalah yang spesifik. Masih segar di ingatan saya quote termasyhur dari Kak Hani, salah satu pelatih Pramuka saya di SMP: "Hidup itu penuh masalah, kalau hidupmu nggak bermasalah, berarti kamu nggak hidup."

Karena didoktrin seperti itulah, saya kerjaannya 'mencari-cari' masalah beberapa tahun belakangan ini. Melakukan sesuatu yang orang lain tak mau, tentu selama hal tersebut tidak menyalahi norma dan ideal saya. Kebanyakan dari 'sesuatu' ini, masih dalam zona nyaman saya (membantah beberapa orang yang berpikir bahwa saya selalu membuat zona di luar zona terluar saya menjadi zona nyaman saya).

Sampai saya terbentur tembok bernama peer pressure. Tembok ini tidak terasa terlalu keras pada awalnya, tetapi semakin ke sini, saya merasa tembok ini semakin keras, semakin membuat saya babak belur.

"Kamu di SMPN 1 Cimahi, ya? Ranking berapa? Oh... Harusnya bisa nerusin sekolah ke Bandung, dong, ya!"

"Kamu di SMAN 3 Bandung? Nanti di ITB mau ngambil jurusan apa? Pasti yang paling susah masuknya, ya. FTI atau STEI?"

"Kamu di UWC? Nanti lulusnya dapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat, kan?"

"Kuliah di MIT? Pasti ngambil engineering, kan?"

"Kamu udah ngambil UROP (research dengan professor di MIT, kependekan dari Undergraduate Research Opportunities Program) belum? Gabung di klub apa saja? Summer internship di mana? Ngambil berapa kelas?"

Sebagian orang di bumi ini melihat pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebagai tantangan, dan mencoba menjawabnya. Dulu, saya juga begitu. Sekarang?

Saya masih muda, tetapi secara relatif, saya semakin menua. Benarkah ketidakpedulian itu berasal dari penuaan (fisik dan jiwa)? Atau apakah ini yang dibilang para tetua itu sebagai 'realistis'? Atau mungkin saya memang semakin malas saja, hehe.

2013 ini, saya ingin memberi kesempatan pada diri saya sendiri untuk melakukan apa yang diri ini ingin lakukan, bukan apa yang orang lain harapkan atas apa yang harus diri ini lakukan. Mari kita lihat seperti apa hasilnya.

Menjadi diri sendiri dan merasa nyaman dengan diri sendiri, (selalu) lebih penting daripada menjawab apa yang orang lain harapkan (kecuali harapan orang tua, mungkin).

3 komentar:

  1. aku juga mungkin harus sedikit lebih jujur sama diri sendiri :')

    BalasHapus
  2. nah kalo kita udah menjalankan 'harapan' orang tua secara baik, tapi kita ga happy. gimana tuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah, sepertinya harus dipertimbangkan per kasus. Kalau orangtuaku, misalnya, kebahagiaanku itu harapan mereka, jadi kedua hal tersebut bersinggungan.
      Kalau mis. kedua hal tersebut bertentangan, coba tanya orang tua. Buatku, harapan orang tua (seringnya) lebih penting :)

      Hapus