09 Februari 2013

Rangkuman Empat Tahun


Manusia itu berevolusi, selalu. Menjadi lebih baik, itulah harapannya. Tulisan-tulisan di bawah ini ditemukan di notes Facebook saya, menguak cerita lama dan menjadi saksi seberapa jauh saya sudah berubah dan tumbuh. If you're my friend on Facebook, feel free to read them. They are quite interesting.

Ada beberapa yang benar-benar menarik (terutama karena ditulis saat hidup saya 'menabrak' sesuatu, menyentuh milestone lain, atau hanya sekadar sesuatu yang aneh titik). Selamat menikmati, semoga 'tulisan' kali ini berhasil membuktikan siapa sebenarnya saya di hadapan kalian. Lima, dari ratusan.
1. Berbeda (ditulis saat baru kembali dari Amerika Serikat, mengalami reverse culture shock, dan sedih yang mendalam karena lulus dari UWC)
Terasing. Terkungkung. Serius? Definisinya sudah berbeda. Privasi? Pun sama. Budaya? Apa itu budaya? Batas pun akhirnya menjadi sarang. Mudah terjerat. Susah bergerak.
Tak bisakah aku berhenti berpikir sekali saja? Selagi matahari belum beranjak dari belahan dunia lain menuju duniaku.
Bahwa bohong besar kalau dua tahun tidak bisa merubah seseorang sesenti pun. Bohong besar.
Hanya takut janji setulus hati terlontar hanya akan menjadi palsu di masa depan. Melihat semuanya, sempat terlintas: mustahil untuk diperbaiki. Perubahan itu hanya harapan bias yang tak akan pernah terwujud. Harapan yang tinggal harapan.
Aku bodoh. Aku sudah berubah, tetapi aku menolak berubah. Mau jadi apa?
Cimahi, Indonesia. 11:27 PM, 6/11/2012. Terknoneksi dengan LAN, di tengah ruang keluarga di tempat yang kusebut rumah pertama. Ya, pertama.
2. Kelas Matematika (ditulis ketika menghitung hari tersisa sebelum kelulusan UWC)
Duduk aku diam sendiri,
ditemani tik-tok jam dinding di kelas ini 
Aku bertanya pada tumpukkan kertas
Kelulusan, seberapa menguras?
Jiwa dan hari terlanjur tersemat tanpa batas
Tiba-tiba terhujam keras
Akankan luapan itu menderas?
Tak ada yang berani menjawab tegas
Karena aku sendiri di kelas
Kelas matematika, sendiri, Minggu, 4 Maret 2012, 19:46
3. Sesukamu (ditulis saat saya 'membentur' teman-teman saya di UWC, dicampur kangen rumah, sekaligus bukti bahwa saya juga sering bertanya pada diri sendiri, "Siapa saya?")
Garis-garis cahaya tipis menembus jendelaku, meninggalkan bekas panjang-panjang di atas selimut merahku, memantul sedikit di papan tulis kecil di bawah kumpulan foto dan kartu pos -jejak dari seluruh dunia.
Kamarku.
Kugelar sajadah tipis perak, buah tangan dari Tanah Suci. Sebelumnya, seperti biasanya aku berwudu di atas wastafel. Pandangan mata teman-temanku sudah normal, tetapi bayangan saat mereka melihatku pertama kali melakukan itu seperti masih segar di selubung otakku. "Kenapa kau cuci kakimu di tempat cuci tangan?" tanya mereka heran.
Mengingat Tuhan.
Seratus lima puluh anak tangga. Suhu di bawah nol derajat. Tetapi makan pagiku hanya ada di atas bukit itu, di dalam ruang makan yang luas di lantai pertama kastil di atas bukit. Banyak temanku yang memilih untuk tidak makan pagi, karena cuaca semakin dingin, dan beban tugas yang berat memaksa mereka menambah jam tidur mereka dengan bangun tidur lima menit sebelum kelas dimulai.
Tapi aku selalu ingat apa yang ibuku katakan. Beliau selalu bangun pagi buta untuk menyiapkan sarapan pagi. Pukul 4. Dan harum sup ayam dan nasi matang sudah menguar di penjuru rumah. Misting pun sudah disiapkan. Dengan jeruk, dan sekantong kerupuk. Juga sebotol air minum. "Bagaimanapun juga caranya, kamu harus makan pagi. Hanya dengan begitu kamu bisa berpikir maksimal."
Sarapan.
Guruku masuk kelas, membawa artikel ekonomi dari berbagai belahan dunia. Awalnya selalu sama, "Sesuai dengan yang terjadi di Amerika Serikat, angka pengangguran masih berlum berhasil untuk turun juga. Seperti yang kita pelajari kemarin, kebijakan fiskal dan moneter masih belum efektif..."
Kelas kimiaku jauh berbeda. Tensinya lebih terasa. Tapi pengetahuanku selalu meningkat tiap menitnya di kelas tersebut.
Ilmu.
Setiap kali aku terbangun, yang dihadapkan padaku adalah memoriku dan foto-fotoku waktu di Indonesia. Setiap kali aku tertidur, mereka juga masih di situ. Kadang rindu setengah mati, yang berujung pada keputusanku untuk menyendiri dan menolak berbicara dengan yang lain. Menjauh dari keriuhan. Mencari lahan kosong untuk mendengar gema hati.
Tapi tak ada yang mau mengerti.
Thursday, November 17, 2011 at 7:22pm 
4. Ini Ramadanku, Bagaimana Ramadanmu? (ditulis saat Ramadan terakhir sebelum saya berangkat ke Amerika Serikat -tanpa saya sadari bahwa Ramadan kali itu akan menjadi yang terakhir)
Satu
Bledug! Sesuatu meledak tepat di bawah kakiku. Tersungkur ke belakang sambil menahan jantung agar tak copot, mataku membelalak.
Sialan ini anak kecil. Bukannya tarawih, malah mainan petasan. Dilempar ke jalan lagi petasannya.
Si Anak Kecil Pelempar Petasan hanya haha-hihi cengar-cengir di bawah temaram lampu jalan. Senyum lebar terpatri hingga geliginya terlihat, lalu tangannya merogoh-rogoh saku, menyiapkan petasan berikutnya. Korek digeretkan hingga muncul percikan api. Instingku mulai terlatih, tanpa pikir panjang langsung kuambil langkah seribu.
Sialan, sialan, sialan.
Dua
Tepat dua tahun lalu, aku tersenyum lebar. Padahal bibirku mengering, mengelupas pecah-pecah, di terik siang itu. Fisika dan matematika telah menambah dahagaku. Kruyuk-kruyuk bunyi perut pun riang bunyinya.
Tetapi aku senang luar biasa. Karena aku sudah SMA. Ups, bukan itu. Tepatnya, karena tidak ada buku ceramah Ramadan.
Itu loh, buku yang harus diisi dengan rangkuman ceramah yang didengarkan selama Bulan Ramadan. Lengkap dengan tanda tangan penceramah, juga cap masjid yang kadang-kadang luber.
Tapi dua tahun lalu, tugas mulia itu tak dibebankan lagi padaku. Syukurlah. Karena asal kamu tahu, aku selalu menulis ceramah yang sama dari tahun ke tahun. Menyalinnya sama persis. Lihat saja, isi buku ceramahku kelas 9 Es-Em-Pe hampir sama dengan buku ceramah kelas 4 Es-De.
Yang menarik adalah, ceramah yang kusalin dari buku tahun sebelumnya, tanpa kusadari, penceramahnya sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
Tiga
Ada paradoks yang muncul dalam kegiatan shaum di Bulan Ramadan ini. Jatah makan berkurang sekali setiap harinya selama sebulan, tetapi Indonesia selalu mengalami inflasi musiman saat Ramadan-Lebaran. Temanya menahan nafsu, tapi kok ya pengeluaran malah menggembung? 
Saat jalan-jalan ke Gandawijaya Rabu kemarin, aku sempat melihat-lihat, dan memerhatikan orang-orang di sekitarku. Tebak, hal apa yang paling mencolok?
Toko emas yang penuh! Juga tidak sedikit orang-orang yang menggadaikan barang-barangya di Pegadaian. Atau pinjam ke rentenir dan tukang kredit.
Bahkan, shaum sebulan malah membuat angka timbanganku meningkat (tersenyum malu).
Cenderung konsumtif, lalu dibawa ke mana makna Bulan Ramadan itu sendiri?
Empat
Serba singkat, bisa dibilang itu moto instansi-instansi negeri ini saat Ramadan tiba. Anak sekolah jam belajarnya dipangkas, PNS jam kerjanya ditebas. Tapi enaknya, duit malah banyak mengalir. THR, parcel, bingkisan, macam-macam namanya.
Alasannya sederhana: tetap produktif tanpa membuat lelah. Aku sih senang-senang saja kalau 1 jam pelajaran dipangkas 15 menit, dan jam masuk sekolah maju 30 menit, hehe.
Lima
Aroma surga tersebar di mana-mana. Kenapa tidak. Bayangkan:
1. Toko-toko memberikan diskon khusus Bulan Ramadan, apalagi saat mendekati Lebaran, wih bisa 70% off!
2. Sekolah yang awalnya tidak memberi pendidikan agama khusus terpisah dari jam pelajaran, kini mengadakan Pesantren Kilat (Sanlat).
3. Kucek-kucek mata berkali-kali pun, aku tetap melihat bahwa orang-orang alim mendadak, jadi sering tadarus Al-Quran!
4. Masjid penuh sesak, sampai tak kebagian untuk menghela selembar sajadah pun.
5. Pemain sinetron menggunakan kerudung semua, belum lagi adanya Kemilau Cinta Kamila season Ramadan, atau Cinta Fitri season Ramadan.
6. Operator selular menawarkan diskon edan-edanan untuk telepon, SMS, internet-an, saat sahur!
7. Kumpul dengan teman-teman jadi lebih religi, bagaimana tidak, buka puasa bersama, shalat Magrib bersama, tarawih dan shalat Isya bersama, dilanjutkan dengan sahur bersama. Alasan untuk pulang telat juga.
Satu Sampai Lima
Intinya, Ramadan selalu luar biasa. Dari tahun ke tahun pasti ada pengalaman permanen yang menempel di hati. Ini baru Ramadan, belum Lebaran dan ritual mudiknya. Belum bagaimana kekeluargaan terasa meningkat drastis. Belum angpaunya. Belum sungkemnya. Dan ribuan belum yang belum bisa dituliskan terperinci.
Bagaimana Ramadanmu? Jangan tinggalkan note ini sebelum Anda bercerita tentang Ramadan Anda yang tak kalah luar biasa! :D
Thursday, August 12, 2010
5. Lagak Ragam 1: Balada Angkot St. Hall-Cimahi (ditulis sebagai refleksi dari perjalanan nglaju Cimahi-Bandung yang kulakukan tiap hari saat SMA)

Teriakan membahana, sorak sorai, senyuman lebar, menghiasi tiap sudut SMAN 3 Bandung begitu bel tanda UKK berakhir. Ya, ini hari terakhir. Lepas semua beban yang ada. Kalau soal remedial sih, bagaimana nanti ya, hehehe.
Kepala ini sudah tak kuat, makin pusing rasanya, itu yang aku tahu. Sudah menginjak hari ke-3 badan ini tak bisa diajak kompromi. Orangtua saya marah-marah alih-alih menasehati. Kata beliau, "Makanya kalau waktunya makan ya makan, jangan ditunda-tunda," atau "kamu dibilangin gak nurut," dan lain-lain.
Maafkan saya, ibu.
Karena itulah walaupun banyak teman yang merayakan hari terakhir UKK dengan jalan-jalan, aku malah pulang dan berencana tidur di rumah. Tidur, oh kata itu nikmat sekali kedengarannya.
Seperti biasanya, setelah naik angkot Antapani-Ciroyom, aku pun menyetop angkot St. Hall-Cimahi. Angkot itu agak penuh, soalnya jam-jam segitu kan jam bubarannya anak-anak SD, SMP dan SMA (lagi musim ulangan umum kan?).
Panas, kipas-kipas. Bekal minum sudah habis pula, sial. Sempat mampir ke minimarket dan membeli sebotol minuman, tapi sialnya (juga) tak bisa dibuka. Keras! Terpaksa tenggorokanku menahan lebih lama lagi.
Tibalah di Cibeureum.
Nah, inilah bagian utama yang ingin saya ceritakan.
Dua sosok tinggi menjulang dengan rambut panjang sebahu, masuk ke dalam angkot yang saya tumpangi. Tipe wanita modis zaman sekarang lah. Dengan highlight kecoklatan, dan bibir merah ranum yang dipulas lipgloss pink dan tatanan wajah yang proporsional.
Satu kata, SEMPURNA!
Ups, tak sampai di situ. Saat dalam hati ini mengakui kecantikan orang tersebut, aku menyadari ada yang ganjil. Tapi apa, ya?
"Sungguh rasa ini tak wajaar...," sebut saja Mawar, dia menyanyi. Kok suaranya agak berat ya? Jakunnya pun menonjol manja di balik lehernya. Ternyata dia kaum adam yang menyamar sebagai kaum hawa, alias banci.
Sambil bersenandung, dia mengeluarkan perkakas makeup-nya. Membuat gincu di wajahnya yang tebal itu makin tebal.
Wednesday, June 10, 2009
*Kamu bertumbuh, tanpa kamu sadari, hingga seseorang menepukmu dari belakang dan berkata, "Kamu sudah berubah!" Yang perlu kamu pertanyakan hanya satu: apakah kamu berubah ke arah yang kamu harapkan atau tidak.
**Ditulis saat badai salju Nemo memaksaku untuk susah pergi ke alam mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar