07 April 2013

The Esplanade Boston-Swing-Spring!

Foto diambil dari KenKen Photoblog, diambil tahun 2012: The Esplanade Boston.

"Saya harus tersenyum dan saya harus berbahagia dengan apapun yang saya miliki saat ini." Tulisan ini terpampang besar di whiteboard kecil di kamar asramaku di kampus. Dulu, biasanya saya menulis to-do list di papan itu, semacam "Problem Set 18.03 hari Kamis," atau "Proposal Project 8.02 hari Jumat." Tetapi saya memutuskan sesuatu beberapa hari yang lalu. Semuanya berasal dari cara pandang kita sendiri akan sesuatu. Basi sekali memang, apa boleh buat. Tekad baru tak ada salahnya, kan? Ada beberapa hal yang kulakukan:


  1. Project: Happiness. Tumblr anonim privat yang berfungsi sebagai jurnal saya dua tahun terakhir ini (menggantikan si buku bergambar peta dunia) harus saya isi lebih sering. Menulis tentang apapun, intinya. Sampah, umpatan, kebahagiaan yang meledak-ledak, kesedihan, semua harus saya tumpahkan di sana. Saya coba untuk menulis rutin di sana, rasanya benar-benar sulit, tapi harus saya paksakan. Motto dari dulu: dipaksa, terbiasa, lalu biasa sendiri. Lumayan kalau di masa depan butuh sumber untuk menulis autobiografi sendiri, hehe.
  2. Mencoba hal baru. Kadang kamu terjebak rutinitas (begitupun saya). Contoh sederhana: kamu melewati pedagang kaki lima yang ramai menjual baso tahu tiap hari, karena mang batagornya berjualan di jalan kamu menuju kampus. Pernahkah kamu terpikir untuk diam, berhenti, dan makan di sana? Contoh lainnya: kamu selalu mengagung-agungkan masa SMA-mu, betapa kamu benar-benar bahagia saat itu. Hal apa yang sudah kamu lakukan untuk terkoneksi kembali dengan masa itu? Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman SMA-mu?
  3. Saya dan teman sekamar saya, sering menjadi partner in crime dan ngebolang sama-sama di sekitar Boston. Beberapa minggu lalu, saya yang ingin sekali minum green tea milkshake, menemukan tempat yang menjualnya di Yelp, lalu kami pergi bersama naik subway ke sana. Minggu sebelumnya, kami pergi ke Georgetown Cupcake, toko cupcake cukup terkenal yang berbasis di Washington DC (dan cabang barunya ada di Boston), dan mendapatkan cupcake kecil dengan rasa Irish Cream. Minggu ini, kami berjalan kaki ke The Esplanade: jogging track dan taman (serta playground) di pinggiran Charles River, menjelang matahari terbenam. Semua bermula dari teman sekamar yang tiba-tiba bilang, "Aku ingin naik ayunan. Di mana taman bermain terdekat dari sini?"

Foto diambil dari sini.

Seperti yang kakaknya Ratna bilang (yang masih saya ingat sampai sekarang): "Ibadah itu meluangkan waktu, bukan di waktu luang." Bagi saya, ada satu tambahan lain, "Berbahagia itu meluangkan waktu, bukan di waktu luang." Bahagia itu, kamu yang menciptakannya sendiri. Melihat awan, memuji Allah, bersyukur karena cuaca yang menghangat, kesempatan untuk tidur satu malam lagi, dan lain-lain. Kebahagiaan itu tidak hanya datang dari harta, pencapaian, atau pasangan. 

Satu hal lagi: selagi masih muda, lihatlah dunia. Sebagai penggemar berat kata mutiara Aldous Huxley, "To travel is to discover everyone is wrong about other countries," saya percaya bahwa kebencian serta penyakit-penyakit masyarakat lainnya muncul dari stigma negatif yang tercipta karena ketidaktahuan. Saya ingin sekali menjelajah dunia, melihat bahwa entitas manusia itu sebenarnya sama, dan kita tak berbeda satu apapun, kecuali hal-hal yang di permukaan, tentunya. Kemudian, pesan ini ingin saya amplifikasi dan sebarkan agar orang lain tahu dan mengerti.

Hal ini juga yang membawa saya pergi ke New York, alias Big Apple, kota metropolitan dari segala kota metropolitan.

Setengah penasaran seperti apa rasanya menjadi seseorang yang tinggal, bekerja, dan hidup di New York, saya menjelajah kota itu seharian penuh, bersama teman-teman saya yang tidak pulang saat Spring Break kemarin. Hanya ada satu hal yang muncul dari kepala saya, "Bagaimana bisa orang tetap waras dengan tinggal di tempat seperti ini?"

Mungkin bentuk kebahagiaan manusia itu berbeda. Ada yang bahagia saat nafsu konsumerismenya terpuaskan, ada pula yang keterjebakannya dalam rutinitas membuatnya bahagia. Simbol peradaban semacam New York telah menjadi salah satu bukti bahwa manusia-manusia seperti itu ada, eksis.

Tetapi saya sudah memutuskan: kebahagiaan saya cukup bersumber dari penjelajahan tempat dan petualangan-petualangan kecil ke dimensi yang belum terjamah oleh saya sebelumnya. Cukup kebahagiaan saya datang dari mengisi ruang kecil di media abstrak bernama blog, mencurahkan apa yang saya kira penting dan tidak. Cukup hati ini penuh karena dinamika hidup saya sendiri.

Selamat musim semi. Kali ini saya harap yang buruk-buruk dari saya telah gugur di musim gugur tahun lalu, dan yang baik-baik bersemi dengan indahnya di musim semi kali ini. Begitupun dengan kamu.

1 komentar:

  1. "Saya harus tersenyum dan saya harus berbahagia dengan apapun yang saya miliki saat ini."

    saya suka dengan kata2 ini :) saya post di fb saya ya... mohon ijin...

    tetep menginspirasi, salam kenal

    BalasHapus