27 Mei 2013

Cimahi: Bukan Sekadar Bandung Coret

"Kamu asalnya dari mana?"

Saat bertemu dengan orang-orang yang baru kukenal, selalu ada dua pilihan dalam menjawab pertanyaan ini. Jika aku menjawab, "Dari Bandung," mereka tak akan bertanya-tanya lagi dan akan membalas dengan anggukkan mengerti. Tetapi, jika aku menjawab, "Dari Cimahi," hampir dapat dipastikan, mereka akan langsung menyambar, "Cimahi itu di mana?"

Cimahi itu tak hanya soal komunitas death metal-nya, kawan!

Aku lahir, tumbuh, belajar, dan bersekolah di Cimahi. Meskipun statusku sekarang adalah seorang perantau yang hanya bisa sekali setahun pulang ke kota kelahiranku ini, ada banyak sekali hal yang kurindukan dari kota ini.

Tak ada yang lebih menyenangkan dari momen keluar tol Cipularang dan menemukan logo ini di mana-mana! Tak ada yang bisa mengalahkan perasaan, "Akhirnya aku pulang." Sumber dari sini.

Jika aku sudah menjadi orang besar nanti, dan seorang penulis biografi menanyakanku tentang hal yang paling kuingat dari kota tempatku dibesarkan, aku akan menjawab dengan daftar yang tak akan habis-habis.

Mewakili (Kotif/ Kota) Cimahi di Ajang Ketangkasan dan Ajang Otak

Ada perasaan membanggakan sendiri ketika aku mewakili Kota Cimahi di ajang perlombaan tingkat provinsi atau nasional. Badge lokasi sekolahku yang bertitel SDN Cimahi 2 atau SMPN 1 Cimahi, selalu meningkatkan kadar kepercayaandiriku.

Saat Cimahi masih bertitelkan Kota Administratif Cimahi (FYI, Cimahi mendapatkan gelar Kota Cimahi tanggal 21 Juni 2001), semua siswa yang berkompetisi di berbagai lomba pasti pernah merasakan hal yang akan kupaparkan. Karena status kotif ini, Cimahi otomatis masih di bawah Kabupaten Bandung. Jadi, jika ada perlombaan, siswa-siswa 'Kotif' Cimahi ini harus ikut penyisihan di tingkat kelurahan, kecamatan, kotif, kabupaten, provinsi, baru nasional, alias harus ikut ekstra satu seleksi di tingkat kotif.

Saat kelas satu SD, aku dan teman-temanku mengikuti lomba Calistung (Baca, Tulis, Hitung); bukan kepalang bangganya kami karena behasil mewakili kotif ini di tingkat kabupaten. Berangkat pagi benar dari Cimahi menuju Soreang, tempat kami melaksanakan lomba, rasanya jauh sekali tempat perlombaan tingkat Kabupaten Bandung ini. Bahkan, karena jalan yang berbelok-belok dan naik turun dengan curam, salah satu temanku mabuk kendaraan dan mukanya pucat pasi sebelum lomba dimulai.

Alhamdulillah, meskipun kondisi awal tidak mendukung, juara dua dapat kami sabet.

Kecil-kecil cabai rawit, umur sebiji jagung prestasi selangit.

Sekarang, siswa-siswa yang lolos di seleksi tingkat Kota Cimahi, bisa langsung maju ke tingkat Provinsi Jawa Barat, tak perlu lagi bersusah payah lolos tingkat Kabupaten Bandung (dan pergi ke Soreang untuk ikut seleksinya, hehe).

Upacara Tahunan: Mulai dari Peserta, Hingga Duduk di Kursi Undangan

Sejak SD, setidaknya dua tiga kali setahun, aku selalu mengikuti upacara hari nasional di berbagai tempat: mulai depan Masjid Agung Kota Cimahi, Stadiun Sangkuriang, Pemkot Cimahi, hingga Lapangan Rajawali.

Saat Hari Kemerdekaan Indonesia, aku dan teman-temanku biasanya mewakili barisan sekolah kami, mengenakan baju putih merah atau putih biru. Terkadang, kami harus kembali di sore harinya untuk Upacara Penurunan Bendera. Saat Hari Pramuka Indonesia, aku dan teman-temanku di ekskul ini mengenakan baju pramuka dan bertemu teman-teman Pramuka lainnya se-Kota Cimahi. Berdiri selama dua jam hingga tiga jam memang kadang membuatku lelah dan tak sabar, tetapi selalu ada cerita lucu di balik tiap upacara yang kuikuti.

Karena barisan saat upacara selalu dimulai dengan orang-orang yang paling tinggi hingga paling rendah, postur tubuhku selalu membuatku harus berdiri di barisan depan. Terkadang aku iri dengan teman-temanku yang rendah di belakang, karena mereka tak perlu berdiri tegap sepanjang upacara, sebab mereka tidak terlihat dari depan. Bahkan, ada pedagang kaki lima berjualan makanan di belakang mereka, jadi mereka bisa sewaktu-waktu jajan jika mereka mau. Setelah beberapa upacara, aku dan teman-temanku punya metode tersendiri: kami bergiliran baris di depan, supaya adil. Yang jelas, jangan sampai semua yang rendah berada di depan, hingga teman-teman yang tinggi terlihat jajan-jajan di belakang, hehe.

Waktu SD, aku cukup beruntung dan menang di olimpiade matematika tingkat nasional. Karena itu, seminggu sebelum Upacara Hari Kemerdekaan, sebuah surat undangan formal, bersegelkan burung garuda emas dan berlabel Pemerintah Kota Cimahi, tiba di tanganku. Saat itu, aku melonjak-lonjak kegirangan, karena aku tak perlu berdiri selama tiga jam untuk Upacara Kemerdakaan tahun itu. Aku akan duduk di tenda undangan!

Saat hari H, dengan seragam putih merah lengkap, aku duduk di sebelah ibuku dengan manis, menikmati prosesi upacara. Kami cukup berdiri saat Pak Walikota masuk dan meninggalkan tempat upacara, serta saat bendera dinaikkan. Konsumsiku saat jadi peserta upacara hanya mentok di air mineral gelas, tetapi saat menjadi tamu undangan, aku mendapatkan kue-kue kecil dan dipanggil ke depan untuk diberi bingkisan kecil oleh Pak Walikota. Rasanya menyenangkan, tetapi saat itu aku merasa sedih, rasanya sepi. Setelah upacara selesai, aku cepat-cepat mampir ke barisan teman-temanku yang sedang rehat dan minum air mineral gelas mereka, sambil tersenyum.

Aku rindu topi yang basah karena keringat sewaktu berdiri berjam-jam, umpatan-umpatan kecil karena pidato yang terlalu panjang, dan wajah serta tangan yang gosong sebelah karena ogah mengikuti saran ibuku agar memakai sunscreen.

Kota Kecil, Kota Bersahabat

Berpenduduk sekitar 600.000-an di area yang tidak begitu luas, serta memiliki jalan berpola tulang ikan (ada satu jalur utama di Kota Cimahi, yaitu Jalan Raya Cimahi), membuat kota ini terasa kecil nian. Belakangan ini, aku mulai berpikir untuk percaya dengan teori Six Degrees of Separation, karena probabilitas bertemu dengan orang-orang yang kukenal saat jalan-jalan di Cimahi benar-benar tinggi.

Keluargaku senang sekali membeli lotek/ gado-gado di sebuah warung kecil di pinggir Jalan Gatot Subroto. Saat aku menemani kakakku naik motor dan membeli lotek/ gado-gado di sini, kadang-kadang aku bertemu guru SMP-ku yang juga suka membeli makanan di tempat yang sama. Ternyata si Mbak-Mbak penjual lotek ini kenal baik juga dengan guru SMP-ku, karena beliau pelanggan setia di sana.

Karena kebanyakan anak-anak Cimahi bersekolah di kota yang sama dari SD hingga SMP, tak jarang kakaknya teman baikku, ternyata berteman baik juga dengan kakakku. Kadang juga cerita-cerita lucu tentang teman kakakku mengalir ke aku lewat kakakku, yang akan kuceritakan pada temanku, yang merupakan adik dari teman kakakku itu sendiri. Hehe, maaf jika agak memusingkan, tetapi hal ini memang benar-benar lazim di kota kelahiranku ini.

Karena hal itu juga, lokasi rumahku terbilang cukup dekat dengan teman-temanku. Hingga saat ini, aku tak ragu pulang jam sepuluh malam dari kumpul-kumpul bersama teman SMP-ku, karena rumah temanku cukup dekat. Dari sejak ongkos angkot hanya 200 rupiah, hingga 1.500 rupiah seperti sekarang, tak ada yang bisa mengalahkan bermain dengan teman-temanku yang sekarang sudah berpencar di mana-mana.

Cimahi = Aku

Keluar dari lingkaran Kota Cimahi, sudah kumulai sejak SMA, ketika aku memutuskan untuk melanjutkan SMA di Kota Bandung. Identitas Cimahi bukannya memudar, tetapi malah makin melekat di sosokku.

"Oh, Titan yang anak Cimahi itu, ya?"

"Titan harus berangkat jam setengah enam kurang tiap pagi supaya sampai sekolah, kan? Iya, dia anak Cimahi, soalnya."

Nglaju saat SMA tiap hari untuk bersekolah di Bandung, semakin menguatkan rasa rinduku pada Cimahi. Tak hanya dari segi proksimitas, tetapi juga dari orang-orang dan masyarakat yang mendiaminya.

Jaket Jambore Nasional 2006 dengan badge Kota Cimahi masih tersimpan rapi di lemari kamarku di rumah. Badge lokasi sekolahku: SDN Cimahi 2 dan SMPN 1 Cimahi juga kubuat kolasenya (juga tercantum di postingan-postinganku sebelumnya), bagian dari hidupku yang berharga.

Saat aku pergi dari kota ini untuk kembali merantau, lalu kembali lagi, meskipun banyak hal yang berubah, aku dengan bangga akan bilang, "Selamat datang kembali di rumahmu, Titan." Karena angkot ungu Cimahi-Parongpong, padatnya Pemkot saat pasar mendadak di Hari Minggu, serta rekahan senyum anak sekolah di pagi harinya masih akan tetap sama.

Kota ini punya impresi tersendiri di tiap penghuninya, bukan sekadar Bandung coret!

6 komentar:

  1. Great Titan.. You always make me proud ... one of my excellent students that I always tell to all my lovely students that you are now on the path to your fame ... Miss You so much...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Bu Wiwin! Saya sekarang sudah di Indonesia, Insya Allah saya mampir ke SMAN 3 Bandung kalau ada waktu :)

      Hapus
  2. keren tulisannya Titan....bner2 bernostalgia wktu mnimba ilmu di Cimahi...perjuangan Cimahi utk bukan dipandang sbg Bandung Coret kynya harus dibangun sama org2 Cimahi kaya Titan nih...like this deh........

    BalasHapus
  3. teh.titan!
    terima.kasih.atas.inspirasinya.
    saya.siswa.dari.batujajar.yang.sekolah.di.SMAN.1.Cimahi.
    Mungkin.sama.sama.berangkatnya.harus.Pagi.banget.:)

    semoga.saya.bisa.mengikuti.jejak.teh.Titan.ya!
    aamiin

    BalasHapus
  4. wah, kenangan yang manis bersama Cimahi :'D

    BalasHapus
  5. lombaapasaja.com mengucapkan selamat atas kemenangannya di lomba blog cimahi :)

    BalasHapus