12 Juni 2013

Recoil?

Kabarnya, Indonesia mengalami kemarau basah tahun ini. Tak akan ada satu-dua hari tanpa hujan hingga penghujung tahun ini. Walau saat bangun pagi kamu bisa melihat langit yang biru terang, setelah adzan Dzuhur, langit berubah cepat menjadi kelabu dan berawan. Pukul dua-tiga-empat-lima, hujan turun: ibu-ibu rumah tangga berlari menyelamatkan jemuran di halaman rumah, anak-anak sekolah terpaksa hujan-hujanan karena terlalu malas membawa payung, bapak-bapak pekerja kantoran sudah terbiasa membawa sendal jepit dan menembus genangan hujan dengan motor mereka. Koar-koar soal jalan rusak parah, selokan yang membludak, hingga kemacetan luar biasa sesaat setelah hujan berhenti, terdengar semakin nyaring dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Ya, musim hujan yang terlalu panjang. Hujan, kata Tuhan, adalah berkah.


Sore ini, aku dimarahi oleh kakakku. Pagi tadi, beliau bilang, "Helm ini kemarin lupa kubawa masuk dan kutinggal di parkiran. Hasilnya basah kuyup seperti ini. Aku akan jemur di pekarangan, kau jaga dan ambil ya, kalau-kalau sore ini hujan." Aku lupa, terbuai tidur siang. Setelah satu jam hujan lebat sore ini, kakakku yang baru pulang dari kampus bertanya, "Helmnya kau bawa masuk 'kan?" Tidak, Kak, maaf. Tadi aku tidur siang dan lupa sama sekali. Saat kulihat, helm yang terbalik itu sudah penuh dengan air hujan, tak ada bedanya dengan gayung isi penuh.

Salon helm, alias tukang cuci helm, pasti laku luar biasa musim ini. Tekanan hiruk pikuk kota membuat orang lupa hal kecil semacam helm yang tertinggal di parkiran.

Di meja makan, obrolan keluargaku tak lepas dari tiga hal: Jody Broto Suseno, pencurian di komplek tempat tinggal kami, dan harga jengkol.

Profil Jody Broto Suseno yang dimuat di Harian Kompas beberapa waktu lalu, sukses membuat bapakku tak berhenti membicarakannya. Pemilik Waroeng Steak langganan keluargaku ini, sudah membuka 60 kedai steak di seluruh Indonesia dengan omset miliaran rupiah (tanya bapakku, beliau hafal  persis tiap angkanya). Kakakku pun disuruh bisnis kuliner.

Bahkan, saat aku kembali dari jajan mochi isi es krim yang sedang booming sekali di Bandung (bayangkan, harga per mochi-nya berkisar antara 3.500 rupiah hingga 4.500 rupiah!), kakakku semakin ditekan oleh bapakku, "Yang penting jualan makanan itu unik. Pasti antriannya nggak pernah habis. Sana kamu cari sesuatu yang baru!"

Tempat tinggalku, di area suburban Kota Bandung, terlihat semakin padat dari tahun ke tahun. Hal ini benar-benar terlihat dari ritual tahunanku pulang ke rumah. Selalu ada lahan pertanian/ ladang yang diubah menjadi tempat tinggal, bahkan suatu hari, saat aku iseng-iseng menghitung berapa banyak motor yang lewat dalam 20 menit, sekitar 1.000 motor dari dua arah melewati jalan dekat rumahku ini yang dulu terbilang sepi. Aku gagap sendiri ditelan perubahan di kota ini. Mugkin kepadatan yang tak bisa ditopang ini juga yang membuat pencurian benar-benar marak terjadi di komplek sekitar rumahku. Dua rumah di depanku suatu siang bolong, TV layar lebarnya dibawa lari. Ada juga yang motornya hilang. Ibuku jadi super galak soal mengunci pintu; pergi ke warung sebelah untuk membeli kerupuk saja pintu harus dikunci dobel.

Harga jengkol yang hampir menyamai harga ayam pun jadi topik yang sering keluargaku perbincangkan.  "Orang miskin makan ayam, orang kaya makan jengkol," begitu canda bapakku. "Kamar kecil orang kaya lebih 'harum' daripada orang miskin, karena hanya yang kaya yang bisa makan jengkol," begitu candanya di lain waktu. Pengetahuan terbatasku soal Mikroekonomi hanya mentok pada penjelasan bahwa kondisi cuaca yang tidak karuan mendorong supply curve jengkol ke atas, membuat titik equilibrium baru, di mana kuantitas yang diperjualbelikan lebih rendah dan harga yang dipatok lebih tinggi.

Buatku pribadi, ada hal lain yang mencolok soal tempat ini dibandingkan tahun lalu. Aku, kakakku, dan adikku, adalah tiga anak yang sangat sering jajan. Duit habis karena urusan perut, serta jarang makan di rumah. Hal ini agaknya harus kubatasi tahun ini, karena kenaikan harga makanan benar-benar kentara. Ritual tiga hari sekali kami bertiga adalah jajan di minimarket dekat rumah, mencoba varian baru snack yang iklannya baru keluar di televisi, atau iseng-iseng mengemil mie instan. Beberapa snack favoritku yang tahun lalu dibanderol dengan harga 3.500, sekarang sudah 4.500. Yang dulu harganya 5.000, sekarang bisa 6.500 rupiah. Statusku yang sedang liburan membuat orangtuaku benar-benar terbatas dalam memberikan uang jajan. Hasilnya? Aku terpaksa merayu kakak dan adikku untuk mentraktir, tentu saja dengan kalimat maut, "Aku 'kan hanya setahun sekali pulang. Nanti menyesal lho kalau tidak mentraktir sekarang..."

Aku hanya takut kalau tiba waktunya aku harus pergi lagi. Bahkan mungkin untuk dua-tiga tahun. Meski awalnya aku takut meraba lagi tempat ini, yang telah dibasuh setahun perubahan.

2 komentar:

  1. Banyak yang bilang, untuk menuju sesuatu yang benar-benar berubah, maka harus menghancurkan hal sebelumnya yang pernah ada... Apa sebutannya ya? Oh ya, revolusi... Hahahaha... Revolusi akan mengubah semua benar-benar baru, sampai siklus semacam ini benar-benar menjemukan para manusia. :D

    Duh saya ngomong apa. :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Bagaimana kalau merevolusikan revolusi? :P

      Hapus