27 Juli 2013

Life, Death, and In-Between

Hari ini aku mendapat undangan dari teman-teman SMP-ku, ada buka bersama angkatan, kabarnya. Di sebuah cafe di Dago, sekitar 50 orang hadir. Yang satu tertawa melihat yang lain, yang dua terkaget-kaget dengan perubahan tiga yang duduk di seberang. Satu yang jelas: asap rokok dan kenangan terasa kental di langit-langit yang disinari cahaya remang. Sesaat kemudian, bulu kudukku ikut meremang; dikabarkan dua dari 390-an teman seangkatanku sudah kembali ke pangkuan-Nya. Hal ini kontan membuatku berpikir, kapan giliranku?


Ada banyak hal yang meliputi 'kematian', beberapa orang terbirit-birit lari darinya, sedangkan yang lain menghadapinya dengan ketenangan yang luar biasa. Ada yang menganggapnya hanya seperti sebuah checkpoint: Dilahirkan sebagai bayi kuning, kemudian mendewasa hingga melengkungkan janur kuning, kemudian ke titik nol ketika bendera kuning berkibar di luar rumah. Ada pula yang menganggapnya sebagai pembebasan, batu loncatan menuju keabadian. Menarik, dan patut ditelusuri lebih jauh.

Ada sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata karya Iman Budhi Santosa dan Wage Daksinarga berjudul Tali Pati: Kisah-kisah Bunuh Diri di Gunung Kidul terbitan Jala Sutra yang memantikkan api keingintahuan saat aku duduk di bangku SMP dulu. Berkisah tentang pulung gantung, atau bala bunuh diri di Gunung Kidul, novel ini memadukan realita hidup yang mencekik di masyarakat miskin dengan mitos bahwa rumah yang dihinggapi pulung gantung -semacam hewan, akan ada anggota keluarga di rumah itu yang meninggal. Diceritakan bahwa orang yang sudah 'dihinggapi' pasti akan terus mencoba bunuh diri hingga sukses; tak peduli jika ada banyak orang yang menjaga/ mencegahnya.

Tali Pati: salah satu buku favoritku.

Buatku sendiri, buku ini mengajarkan satu hal: ada alasan di balik bunuh diri-bunuh diri yang dikisahkan, mulai dari yang ditinggal istri dan sanak saudaranya, hingga faktor eksternal seperti ketidakmampuan secara ekonomi. Ada gambar lebih besar di balik mitos dan kepercayaan masyarakat Gunung Kidul: hidup yang semakin sulit. Tak hanya pulung gantung, pemerintah pun ikut andil dalam hal ini. Konstitusi boleh berkata bahwa semua hak dasar warga dijamin negara, tetapi kenyataan berkata lain. Well, kenyataan selalu berkata lain.

Mari kita terbang ke Jepang, ke sebuah hutan yang dijuluki Suicide Forest. Jika pulung gantung mendatangi orang yang akan bunuh diri, maka orang-orang justru mendatangi hutan di kaki gunung Fuji ini untuk bunuh diri. Para sukarelawan hanya mampu berpatroli sekali setahun untuk membersihkan mayat-mayat korban bunuh diri di hutan ini, karena hutan yang luas. Mereka bisa menemukan hingga ratusan mayat saat patroli tersebut. Hutan ini memang terkenal mistis, tetapi baru menjadi 'hutan bunuh diri' sejak novel "Tower of Waves" (波の塔) oleh Seichō Matsumoto diterbitkan tahun 1960. Selengkapnya bisa dilihat di video di bawah ini. Perhatian, video ini mungkin menampilkan gambar yang mengganggu Anda.


Orang Jepang yang terkenal dengan tradisi harakiri-nya (bunuh diri dengan belati pendek jika tidak mampu menunaikan tugas dengan baik) masih mengakar hingga saat ini. Seperti yang dikatakan host video tersebut, "Harakiri adalah salah satu pilihan, ketika tak ada pilihan lain yang lebih baik."

Lain lagi dengan orang Korea Selatan yang mempunyai cara sendiri untuk membebaskan diri dari tekanan hidup perkotaan yang semakin melilit. Jika orang Gunung Kidul dan Jepang benar-benar bunuh diri dan meninggal untuk membebaskan diri, di Korea Selatan mereka menjadikan upacara kematian sebagai sarana meditasi. Konsepnya sederhana, mereka mengenakan pakaian tradisional untuk mayat, menulis surat wasiat, hingga masuk ke peti mati untuk merenungkan hidup mereka. Si Pembawa Acara di akhir video menyimpulkan hal masuk akal yang sederhana di balik fenomena ini, "Semuanya karena ritme kehidupan kota yang cepat, yang menuntut kita untuk tidak berhenti menggali dunia sekaligus merampas kesempatan kita untuk sekadar duduk diam dan refleksi tentang masa lalu, kini, dan depan. Meditasi ini memberikan waktu refleksi yang sangat berharga itu." Selengkapnya, bisa Anda lihat di video di bawah ini.


Sempat terlintas di pikiranku, apa mereka yang bunuh diri sebenarnya 'bahagia' karena mereka sendiri yang memutuskan untuk mencabut nyawa mereka; setelah seumur hidup Tuhan mengatur hidup mereka, dengan bunuh diri mereka sesaat merasa lebih superior dari Tuhan?

Atau, alasan yang sama juga menjadi basis mengapa tindakan bunuh diri dilarang di banyak agama karena menunjukkan superioritas terhadap kehendak Tuhan?

Yang aku tahu pasti hanya satu, kepercayaanku, Islam, mengajarkan sholat lima waktu, yang secara sederhana diartikan sebagai meditasi rutin. Selalu ada yang kurang di hidup seseorang, dan meditasi adalah satu-satunya waktu seseorang dapat meminta, mengeluh, dan berbicara sesuka hatinya (baik itu terhadap Tuhan, atau terhadap diri sendiri). Bunuh diri bukan jawaban, ketika pilihan lain terasa lebih tak memungkinkan, karena badai selalu mereda pada akhirnya; this, too, shall pass.

Di atas itu, menghargai perasaan mereka yang merasa tak memiliki umur cukup dan menyesali diri karena tak mampu melakukan beberapa hal saat hidup, ketika mereka meninggal, juga adalah hal yang penting.

Sesendiri apapun kamu, kamu tak mungkin sendiri. Kesedihan mereka yang ditinggalkan, bagaimana kamu akan bertanggungjawab mengenai hal ini?

Tulisan ini diperuntukkan untuk teman-temanku yang sudah mendahului; baik itu karena penyakit ("You were really strong, thanks for inspiring me to see the beautiful part of my life!"), maupun keputusan untuk mengakhiri hidupmu sendiri. Semoga kalian semua diterima di sisi-Nya. Amin.

2 komentar:

  1. hey kak. namaku Lia. aku tertarik banget pas tau kakak kuliah di MIT. kisah kakak yang bikin aku terinspirasi, dimana impian kakak buat kuliah di MIT terwujud dengan kerja keras tentunya. Aku sekolah di sekolah biasa yang gak ada taraf internasionalnya. aku baru aja lulus SMA dan keterima di satu univ negri. tapi aku pengen banget suatu waktu kuliah di MIT. Tapi informasi buat mengetahui MIT pun sangat sedikit. jadi aku boleh ngga minta email kakak untuk sekedar bertanya-tanya tentang MIT?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba e-mail ke akunoortitan[at]gmail[dot]com :)

      Hapus