17 Juli 2013

Ramadhan

Satu, dua, tiga, empat, ..., dua puluh lima, dua puluh enam. Daftar teman yang harus saya temui semakin panjang. Daftar sepupu jauh, paman-bibi, serta kerabat jauh yang belum sempat saya sungkem-i selama empat tahun terakhir juga tak kalah panjangnya. Setelah sekitar seminggu Ramadhan dimulai, dan sekitar tiga minggu menuju Lebaran, keluarga saya mulai disibukkan dengan printilan bulan puasa dan Idul Fitri yang tak habis-habis. Baju baru, berapa toples kue kering yang harus dipesan, menjahitkan baju, hingga antre membayar ini-itu sebelum mudik. Belum lagi, di sela-sela itu, masih ada ajakan dari berbagai grup pertemanan untuk buka bersama. Luar biasa.

Sedikit juga perasaan sedih menyusup. Tiga minggu setelah Lebaran, aku harus kembali ke Boston. Liburan musim panas ini terlalu menyenangkan untuk diakhiri, meskipun aku tahu, ada bagian hidupku di sana yang harus dilanjutkan.


Aku benar-benar menikmati tradisi masyarakat daerahku untuk menyemarakkan Ramadhan. Daerah kantor Pemerintah Kota Cimahi yang dulu sepi, sekarang dipenuhi dengan pedagang makanan berbuka puasa. Bahkan ada pula yang berjualan shisha di lapak jalanan! Ketika adzan Maghrib sudah berlalu pun, daerah ini tetap ramai karena pedagang lesehan mulai berjualan.

Sayang, Ramadhan kali ini mungkin kelam untuk sebagian orang. BBM yang baru saja naik sebelum Ramadhan dimulai, menunjukkan taring giginya. Seolah-olah inflasi belum cukup mencekik selama bulan suci ini, ditambah sisa-sisa kenaikan bahan bakar, serta melemahnya kurs rupiah, negeri kita ini yang katanya dulu bisa swasembada pangan, sekarang musti menikmati tingginya harga bahan makanan.

Ironisnya, mall-mall di pusat kota tetap saja penuh sesak. Beberapa hari yang lalu, saat aku pergi menemani adikku mencari sepatu sekolah baru karena yang lama sudah terlalu sempit, aku meringis sendiri. Ibu-ibu, anak-anak, bapak-bapak, remaja usia tanggung, semua seperti kesurupan. Melemparkan semua barang ke dalam troli di supermarket, berbinar-binar mengucap, "Iya, Pah, nanti aku kalau lapar lagi setelah tarawih mau ngemil ini. Terus bukanya masa' hanya dengan kolak saja, Pah? Gimana kalau Mamah juga bikin jus buah anu-anu-anu supaya kita tetap sehat?" Ada juga yang berangusan dan kalap ambil semua baju, menghabiskan waktu berlama-lama di fitting room, dan membayar belanjaannya hanya dengan sekali swap kartu debet/ kreditnya.

Kesaksian seorang penjual gorengan di dekat rumahku pun mendukung perilaku yang ditunjukkan para manusia-manusia mall di atas. "Muhun, Teh, jualan dua-tiga jam selama Ramadhan saja langsung habis gorengannya, padahal hari biasanya belum tentu."

Ada yang ber-Ramadhan dan berlebaran hingga mengutang, ada pula yang meraup berkah untuk membantu menjalani sebelas bulan lainnya. Yang jelas, doaku tidak muluk-muluk: Semoga amalmu, amalku, dan amal kita semua diterima Allah, dan satu lagi, semoga mudik tidak macet dan jalannya bagus. Amin. Oh, satu lagi, semoga banyak kukis dan kue kering yang enak-enak, hehe.

Selamat ber-Ramadhan dan berlebaran!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar