21 September 2013

A Small Talk: Kamu Kerja di Mana?

ANA 12: Penerbangan 11 jam 35 menit, semua bermula dari sini.

Mataku masih bengkak, sebagian karena kelelahan yang parah, ditambah dengan ketidakstabilan emosi: siapa yang tidak menangis saat meninggalkan rumah keempat kalinya untuk merantau jauh?


Hari masih pagi di Narita, toko-toko duty-free pun belum dibuka, meski ada tanda-tanda si penjaga toko siap-siap akan buka.

Beberapa saat kemudian, si penjual akhirnya siap. Dengan pakaian rapi dan dibalut kimono Jepang, hari itu dia menjajakan sake serta minuman keras lainnya di toko tersebut. Aku? Wi-fi yang bebas dan gratis menyibukkanku dengan komputerku. Aku sempat tergoda dan mampir ke tokonya, tentu saja bukan untuk membeli minuman keras, tetapi untuk membeli Kit-Kat teh hijau yang kabarnya hanya ada di negara ini dan melihat-lihat kartu pos. Sayang, aku terlalu malas untuk menukar USD-ku menjadi JPY. Semoga Kit-Kat teh hijau dan aku berjodoh lain waktu.

Dua-tiga jam kemudian, akhirnya panggilan boarding pun terdengar. Pesawat ANA12 yang akan meluncur ke Chicago hari itu rupanya penuh. Aku tak pernah melihat penerbangan apapun yang trans-Pasifik atau trans-Atlantik tidak penuh. Ada seorang perempuan muda yang tampaknya sangat bersemangat untuk perjalanan ke Amerika Serikatnya kali ini. Berbaju hijau dan tersenyum-senyum, dia berbaris menunggu boarding. Aku hanya menebak bahwa dia berasal dari Asia Timur, tak lebih dari itu.

Ternyata perempuan muda itu duduk di sebelahku. Sepanjang perjalanan, terlihat rona mukanya yang berseri-seri. Khas sekali pada orang yang baru pertama kali akan merantau, jalan-jalan, atau menjelajah negeri baru. Selama 10 jam kami duduk bersebelahan, aku tidak mengutarakan apapun, atau mencoba memulai percakapan. Terlalu lelah, tetapi juga tidak bisa tidur. Rasanya seperti berada di limbo.

Satu setengah jam terakhir di penerbangan itu, ketika aku siap menunggu si pramugari untuk memberikan sarapan pagi, perempuan ini akhirnya mencoba mengajakku berbicara duluan.

Are you a student?
Ya. 
Grad/ undergrad?
Undergrad (S1). Saat ini saya baru akan mulai tingkat dua. Anda sendiri?
Saya seorang grad student di bidang Computer Science. Sekolahmu di mana? Sekolahku di Boston.
Oh. Saya mahasiswi Mechanical Engineering. Sekolah saya juga di Boston!
Wow. Ini akan menjadi tahun pertama saya sebagai seorang grad student di BU (Boston University). Kamu sekolah di mana?
MIT.
Hebat sekali. Oh, saya ada beberapa pertanyaan. Ini pertama kalinya saya pergi ke Amerika Serikat. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan setibanya saya di Chicago. Maukah kau membantu? Kapan connecting flight-mu?
Pesawatku berikutnya sekitar jam 12 siang. Ya, tentu saja. Ini tahun keempat saya di Amerika Serikat. Saya bisa membantumu untuk menjelaskan hal-hal yang perlu kamu lakukan di imigrasi, petugas bea cukai, dan sebagainya.
Oh, kukira pesawatku berikutnya sama denganmu. Pesawatku jam dua siang, aku harus mennunggu cukup lama. Terima kasih banyak atas bantuanmu! 
Tentu saja. Boleh tanya, kamu dari mana?
China. Apa kamu dari Timur Tengah? *lirik kerudungku*
Bukan, saya dari Indonesia. Indonesia bukan terletak di Timur Tengah, tetapi di Asia Tenggara.
Oh (sepertinya dia masih belum mengerti di mana Indonesia). Boleh tanya-tanya tidak? Kamu bekerja tidak di kampus?
Iya. Tahun lalu saya bekerja di Kantor Penerimaan Mahasiswa Baru.
Berarti kamu punya Social Security Number?
Tentu saja. Semua mahasiswa internasional yang ingin bekerja di kampus harus memiliki SSN. 
Wah, kamu selangkah lebih dekat untuk mendapatkan green card! Kata teman-temanku di China, kalau kamu berhasil dapat SSN, kemungkinanmu mendapatkan green card semakin besar.... 
Saat itu, aku sadar akan sesuatu. Buat dia, memiliki SSN adalah selangkah lebih dekat bagi mimpi sejuta orang: mendapatkan green card, alias kartu residen permanen Amerika Serikat. Tak perlu lagi bersusah-susah mendapatkan visa. Selain itu, sebagian besar hak-hak warga negara Amerika Serikat juga didapatkan oleh pemegang kartu hijau ini, setidaknya sepengetahuanku. Jika Anda bersekolah di Amerika Serikat dan memegang kartu hijau, kesempatan Anda mendapatkan beasiswa jauh lebih besar.

Aku terkejut sendiri. Selama ini aku tahu, banyak orang yang ingin menjadi warga negara Amerika Serikat, tinggal di sini, dan mendapatkan hidup yang lebih layak. Tetapi baru kali ini aku sadar, bahwa ada banyak orang yang berkorban hanya untuk itu, dan contoh nyatanya ada di sebelahku.

Hari ini aku teringat akan percakapan kecilku di penerbangan yang membawaku kembali ke Paman Sam kemarin. Mengapa?

Career Fair 2013 Handbook. Semua orang dapat 1, buku setebal ~200 halaman. Hitung berapa banyak pohon yang ditebang.

Sebuah acara tahunan yang luar biasa di kampusku. Bahkan khusus untuk hari ini, kuliah diliburkan. Semua mahasiswa, dari yang S1 sampai yang S3, mencoba peruntungan mereka dengan datang ke pameran lowongan kerja di kampusku ini. Sekitar 300-400 perusahaan datang, dan di antaranya ada perusahaan top macam Google, Facebook, Twitter, Tumblr, Palantir, Dropbox, dan banyak lagi.

Demi hari ini juga, aku sudah mempersiapkan resume-ku seapik-apiknya, serta mencetaknya 10 lembar. Harapanku sederhana, aku tak mau ketinggalan dengan teman-teman seangkatanku yang sudah meletakkan batu pertama bangunan tinggi karir mereka dengan magang, kerja, di sana-sini. Aku juga harus mulai bergerak, pikirku.

Tak dinyana, ternyata yang perusahaan-perusahaan incaran semua orang itu menginginkan tenaga kerja/ magang yang begitu homogen: kebanyakan dari mereka hanya butuh Course 6 students, alias mahasiswa/i departemen EECS (Electrical Engineering dan Computer Science). Aku cukup beruntung sebenarnya, karena aku Course 2-A, boleh dibilang aku termasuk ke dalam Course 2, alias Mechanical Engineering, dan banyak juga perusahaan yang menyediakan lapangan kerja untuk mahasiswa/i di jurusanku.

Sayang, teman-temanku dari jurusan 21W, 21M, 21F, 21L, 4: Seni, Bahasa, Linguistik, Tulis, serta Arsitektur, tak banyak yang pameran ini bisa tawarkan untuk mereka.

Bahkan, untuk masuk ke arena pamerannya pun harus mengantre hingga 1 km. Dengan alasan keamanan, hanya mahasiswa resmi MIT yang boleh masuk ke pameran ini. Alhasil, semua orang harus memindai ID Card mereka masing-masing, satu-satu, sementara mesin pemindainya begitu terbatas.

Gila. Betapa gila semua manusia ini menggantungkan masa depan mereka pada pameran ini. Banyak yang berjas licin dan rapi, banyak juga yang hanya mengenakan pakaian formalnya itu sekali setahun saat acara ini saja. Banyak yang mulutnya sampai berbusa-busa menceritakan apa yang telah mereka kerjakan selama hidup mereka, dengan Professor siapa saja mereka pernah melakukan penelitian bersama, apa yang mereka lakukan saat musim panas-musim panas sebelumnya, serta betapa sempurna GPA mereka yang bulat 5.0 out of 5.0.

Dunia ini gila. Boleh jujur? Aku tak tahu kapan aku akan siap masuk pasar tenaga kerja. Dari hari ke hari, yang di pikiranku hanya satu hal: tugas apa yang harus saya kerjakan saat ini. Aku tak mau hidup dari hari ke hari memikirkan kapan gajiku turun, apa uangku akan cukup untuk makan bulan itu, seberapa banyak pajak yang harus kubayar.

Ternyata semua rangkaian ini belum selesai, duniaku belum selesai jungkir balik. Setelah merasa perlu meninjau ulang rencanaku untuk langsung sekolah dan mendapatkan gelar Master serta Ph.D., aku juga mulai berpikir bahwa aku tak mau memburu pekerjaan seperti teman-temanku. Biarlah siang tadi menjadi pelajaran utama buatku untuk selalu bersyukur. Aku masih berharap untuk mendapat tempat magang di musim panas tahun depan, agar mataku lebih terbuka lagi, agar duniaku lebih luas lagi.

Setidaknya selain dijungkirbalikkan perasaanku, aku juga mendapat hal lain siang tadi.

Pulpen, penjepit kertas, boneka squeezable Einstein, senter, serta staples.

Teman sekamarku, Kelly, bahkan dapat 15 T-shirt dari perusahaan yang berbeda, 4 rubiks cube, berbagai macam aksesori iPhone, serta tas-tas. Dia bahkan mendapatkan puzzle dari Google!

Mungkin aku harus pindah jurusan ke Course 6 kalau ingin lebih menjual (dan mendapatkan puzzle gratisan dari Google) dan cepat dapat kerja/ magang. Tapi aku kurang suka duduk diam dan programming semalam suntuk.

Atau mungkin aku cukup kembali, kerja di Indonesia dengan mengajar apa saja yang menarik: sains atau matematika, serta menulis buku, dan bantu-bantu Ayahku dengan kerja di bengkel kecil miliknya. Serta tetap dekat bersama keluargaku, makan apapun yang kusuka. Karena kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak uang/ gaji yang kamu dapatkan 'kan? Katanya sih, begitu. Mungkin.

6 komentar:

  1. Mbak Titan keren sekali. Masih sempat menulis di blog walaupun di kampus (pasti) super sibuk. Keep writing Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih dukungannya, ya. Salam sukses!

      Hapus
  2. dilema mahasiswa 20 tahunan banget sih ini..

    BalasHapus
  3. Teh, dulu bukannya kuliah S2 si aussie... Kok sekarang ngambil S1 di MIT? maaf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak. Saya belum pernah sekolah di Australia hehe.

      Hapus