09 September 2013

Home


Manusia paling beruntung adalah mereka yang punya tempat untuk kembali, mereka yang punya rumah. Lebih spesifik lagi, mereka yang tahu bahwa tempat kembali yang mereka punya adalah tempat ternyaman dan teraman bagi mereka.

Rumahmu di mana?

Setahun lalu, aku akan menjawab tiga tempat: Bandung -ID, Bantul -ID, dan Montezuma -NM, US.

Beberapa orang awalnya mungkin ingin pergi atas keinginan sendiri, untuk mengetahui alasan mengapa mereka harus kembali. Sayang, walaupun aku mengerti benar mengapa aku harus kembali (atau mungkin aku tak mengerti apapun), aku belum bisa kembali.

Atau inikah tanda bahwa aku harus mencari rumah baru di tempat aku berdiam saat ini?

Pepatah berkata, home is where your heart is. Apakah ini mengindikasikan bahwa hatiku tidak berada di tempat aku tinggal saat ini?

Sayang, pepatah itu tidak menjelaskan apapun mengenai hal yang harus aku lakukan jika aku tidak berada di tempat di mana hatiku berada.

Jika seseorang pergi untuk kembali, benarkah bahwa seseorang juga akan kembali untuk pergi lagi? Aku harap, aku cukup kembali. Tak perlu pergi lagi, tak perlu beranjak ke mana-mana. Karena hatiku tidak berada di tempat ke mana aku harus pergi.
Mereka bilang, uang bisa menunjang bahagiamu. Karena itulah kamu harus sekolah yang tinggi, supaya dapat pekerjaan yang memadai, dan kamu tak perlu pusing jika ingin ini-itu. Kamu tak perlu memikirkan, "Anakku harus makan apa besok?" atau, "Anakku diterima sekolah X yang terbaik di kota, tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan uang bangunannya?"
Tetapi, benarkah bawa uang dan posisi di masyarakat berbanding lurus dengan bahagiamu? Mungkin mereka berhubungan, tetapi tidak berbanding lurus. Bahagia, boleh berarti ketika kamu berada di lingkungan di mana kamu merasa didukung, nyaman, dan bisa tertawa lepas.
Apa yang sebenarnya aku, kamu, dan kita semua cari di dunia ini?

Untuk saat ini, jawabanku tegas dan hanya satu: rumah. Aku mencari rumah tempatku kembali.

4 komentar:

  1. Eric Hoffer bilang, "Pencarian kebahagiaan adalah satu-satunya hal yang membentuk ketidakbahagiaan." Jadi, jangan paksakan mencari rumah sebagai sumber kebahagiaan, tapi jadikan tempat-tempat tak bahagia menjadi suatu kebahagiaan tak terduga. Heeeee. Karena saya juga pernah merasakan hal yang sama, tidak tahu mau kemana, padahal dulu, hal itulah yang benar-benar saya inginkan. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak memang juara nomer satu sedunia :)

      Benar sekali yang dibilang Hoffer, mungkin yang membuatku tidak bahagia itu karena aku memaksakan diri mencari kebahagiaan. Padahal kebahagiaan mungkin sudah ada di setiap sudut hidupku saat ini.

      Terima kasih atas masukannya :)

      Hapus
  2. "home is not a place. home is people" -Florent Meiyi- :)

    BalasHapus