27 Oktober 2013

Meja Perayaan dan Kangkung Belacan

Musim gugur hampir berakhir. Angin saat musim perpindahan seperti ini biasanya lebih kencang. Hanya mengenakan jaket fleece yang dibelinya saat diskon besar-besaran tahun lalu, Arina merasa kedinginan. Dia pun berlari kecil setelah keluar dari stasiun kereta bawah tanah Chinatown. "Tapi Boston akan lebih dingin daripada ini saat musim dingin nanti, aku tak boleh mengeluh," pikirnya.


Ada sebuah restoran yang ingin dia kunjungi untuk makan malam kali ini. Restoran yang berkali-kali mendapatkan titel Best of Boston, serta dibahas di berbagai majalah kuliner dan wisata. Bahkan, orang-orang dari luar Boston menyengajakan diri untuk datang ke restoran satu ini. Tak pernah ada meja yang kosong, antreannya selalu mengular panjang. Bagi Arina, Chinatown dan restoran Malaysia ini adalah surga kecilnya. Karena di kedua tempat inilah Arina merasa dekat dengan akar dirinya, tempat di mana dia berasal.

Arina dan ayahnya pindah ke Amerika Serikat setelah ayahnya bercerai dengan ibunya. Jika orang-orang percaya akan blessing in disguise, bagi Arina ini adalah salah satu contohnya. Sebulan setelah tetek-bengek perceraian orang tuanya selesai, ayahnya mendapat tawaran untuk bekerja di sebuah perusahaan perangkat lunak di daerah Boston. Bagi mereka berdua, tempat tinggal mereka di Indonesia telah meninggalkan terlalu banyak kenangan pahit. Kepindahan mereka tak dilepas oleh siapapun di Soekarno-Hatta, pun mereka tidak mengharapkannya. Mereka tidak tahu apakah mereka akan kembali.

Saat itu, Arina baru kelas 11 SMA. Nilai Bahasa Inggrisnya selalu pas-pasan saat sekolah di Indonesia, meskipun dia sangat suka sains dan matematika. "Aku tak akan pergi ke mana-mana, aku ingin masuk ITB, dan menjadi teknisi perangkat lunak seperti ayahku. Aku tak perlu mendapat nilai super bagus dalam mata pelajaran ini," begitu komentarnya saat ditanya mengenai nilai Bahasa Inggrisnya. Sepertinya dia harus menelan ludahnya sendiri.

Hari pertamanya di Boston Latin School merupakan hari yang tak pernah dia lupakan. Banyak orang mencoba berbicara dengannya, tetapi dia tak bisa mengerti, apalagi membalasnya. Karena semua mata pelajaran disampaikan dalam Bahasa Inggris, tak pelak nilai mata pelajaran lainnya pun terpengaruh. Arina masih ingat betul, apa yang dikatakan ayahnya setelah dipanggil oleh wali kelasnya di pertengahan semester. Beliau mengajak Arina untuk pergi ke sebuah restoran Malaysia di Chinatown. Mereka mendapat meja di pojok ruangan, tepat di sebelah pemanas ruangan. Keduanya memesan kangkung belacan di restoran itu. Ada obrolan tak putus-putus soal kerinduan mereka akan makanan di tanah air, yang semuanya habis tak tersisa seselesainya mereka menghabiskan kangkung di kedua piring itu. Kemudian ayahnya berkata singkat setelah menyeruput tehnya, "Arina, ayah hanya punya kamu, dan kamu hanya punya ayah. Kalau salah satu dari kita tak bisa menemani yang lainnya, kita harus tetap bertahan. Menurutmu, apa kamu bisa bertahan dengan keadaan seperti itu?"

Setelah itu, secara ajaib, Arina mendapatkan kembali semangatnya untuk berjuang. Dalam waktu satu semester saja, dia mampu membalikkan pandangan negatif guru-gurunya, dan meraih gelar bintang kelas. Baginya, meja itu merupakan meja perayaan, perayaan akan perubahan, lebih tepatnya.

Ketika musim penerimaan mahasiswa baru dimulai, ayahnya juga mengajaknya makan di restoran yang sama, duduk di meja yang sama, dan memesan makanan yang sama. Restoran Malaysia, meja pojok yang hangat, dan kangkung belacan. Bulan Februari, saat bongkahan salju masih tersisa di atas tanah, ayahnya mengucapkan satu kalimat yang tak akan pernah dia lupakan, "Akan ada lebih banyak peristiwa yang membuatmu gemetar di masa depan, tetapi itu tak bisa menjadi alasan bagimu untuk gentar."

Saat bulan Maret, Arina menerima kabar gembira. Sebuah universitas kelas dunia di kawasan Cambridge menerimanya sebagai mahasiswa baru mereka. Saat itu juga, dia tahu kalau kekuatan meja itu tak terbantahkan. Meja perayaan akan perubahan. Tetapi harus dengan memesan kangkung belacan dan datang bersama ayahnya.

Kali ini pun begitu. Arina sudah berdiri tepat di restoran Malaysia tersebut. Dia sudah membuat reservasi spesifik di telepon sebelumnya. "Ya, ya, saya ingin meja yang di pojok. Ya, yang di dekat pemanas ruangan. Untuk dua orang, ya."

Seperti biasa, ada banyak sekali orang yang ingin makan di restoran satu ini. Mereka rela mengantre hingga keluar. Untunglah, karena dia sudah reservasi sebelumnya, dia bisa langsung menuju antrian paling depan. Seorang pelayan tersenyum, dan mempersilahkannya untuk masuk dan duduk.

"Saya pesan kangkung belacannya dua, ya."

"Orang yang Anda tunggu belum datang, tidak apa-apa jika makanannya disiapkan sekarang?"

"Ya, tidak apa-apa. Ayahku akan datang begitu kangkung belacannya siap."

Arina merenung, melihat keluar. Downtown Kota Boston ini memang sepi dari pepohonan, jadi wajar saja kalau tak ada penanda musim gugur telah datang, kecuali angin yang makin kencang. Sudah empat setengah tahun sejak Arina dan ayahnya pergi ke tempat ini bersama untuk 'merayakan' perubahan. Bulan Mei lalu, Arina lulus dari universitas dengan gemilang, dan dia langsung melanjutkan ke jenjang S3 di universitas yang sama, tentu saja dengan beasiswa penuh.

Kangkung belacan yang dia tunggu ternyata tak sampai 10 menit sudah tersaji di hadapannya. Restoran ini memang terkenal juga dengan efisiensinya. Sayang sekali, ayahnya belum juga datang.

Mata Arina terpejam sebentar, lalu menghadapi kursi kosong di hadapannya dengan dua piring kangkung belacan yang mengepul hangat.

"Ayah, meja ini masih sama. Meja perayaan akan perubahan. Aku berubah menjadi lebih kuat, bersemangat, dan siap karenamu, meja ini, dan kangkung belacan yang kita makan bersama. Kali ini pun begitu, meja ini adalah meja perayaan akan perubahan dalam hidupku. Ayah mungkin tak di hadapanku lagi, tetapi aku yakin ayah mendapat tempat yang lebih baik dari Tuhan. Tenang saja Ayah, setelah kembali dari sini, aku akan menjadi lebih kuat."

Cerita pendek ini didedikasikan untuk kangkung belacan favoritku yang sukses berkali-kali meredam homesick stadium yang berbeda-beda (meskipun harganya selangit). Terima kasih juga untuk pelayan restoran ini yang tidak menatap dengan curiga meskipun aku sering pergi ke restoran ini sendiri, dan melahap dua piring makanan yang berbeda sekaligus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar