28 Oktober 2013

Sumpah (Serapah) Pemuda Indonesia

Esai singkat ini pernah diikutkan dalam lomba tingkat sekolah di SMAN 3 Bandung tahun 2009. Kata-katanya memang terdengar klise, mohon maklum. Selamat Hari Pemuda Indonesia, semoga yang keluar dari kita bukan hanya sumpah serapah saja, tetapi benar-benar sumpah yang merubah.


Sejarah sudah ditahbiskan di berlembar-lembar kertas. Saksi hidup yang telah disaput tanah pun sudah serahkan hal yang seharusnya dikatakan. Seperti yang diprediksikan, sejarah hanya akan dikenang, seumpama aroma dedaunan yang mengingatkan pada panjangnya musim meranggas, atau wangi khas tanah yang mengingatkan pada dinginnya musim penghujan.

Banyak kepala, banyak tanya yang muncul. Selalu: buat apa dikenang, buat apa diingat kembali?


Jawabnya hanya satu: karena makin nyaman, makin lupalah kita. Lupa alasan kita berjuang. Lupa alasan kita belajar. Lupa alasan kita mengabdi pada Dwi Warna yang berdiri tegar. Terbelai kita karena semua yang di tangan kita, yang dikenakan kita. Terbuai karena semua kesemuan yang dibawa Kaum Barat. Kita kaum muda lembek, enyoy-enyoy, memalukan. Hanya bisa sesumbar sana-sini, buang ludah bicara banyak-banyak, sementara yang keluar hanya sumpah serapah. Keluhan karena orang tua yang cerewet lah, karena nilai yang jelek melulu lah, karena duit yang sedikit lah, karena pacar yang begini-begitu lah, dan karena yang banyak lagi. Jutaan, milyaran, tulis di dinding sekolah kecil-kecil pun tak cukup.

Kita memalukan. Karena sumpah kita sebagai pemuda Indonesia diselip serapah; “Sumpah (Serapah) Pemuda Indonesia”. Maukah sejarah menasbihkannya seperti itu? Nama kita dicetak dengan tebal sebagai generasi perusak sejarah Indonesia yang romansanya selalu luar biasa dan indah tak ketulungan. Generasi di bawah kita tak akan mengingat kita seindah kita mengingat angkatan veteran perang dan para pemuda tahun 20-an.

Maukah kita?

Kita semua saling tahu, kita semua sudah mengerti. Hafal luar dalam. Muak dengan teks, anjuran, saran, nasihat: “Kita sebagai generasi muda harus…(isi sesuai yang Anda tahu)”. Semua juga tahu, kita lelah dicekcoki mengenai hal apa saja yang mustinya dilakukan. Sebagai objek, kita tahu persis. Ini itunya, lika-likunya, detail permukaannya. Hingga di luar kesadaran kita bisa menyebutkannya serinci daftar perkalian.

Sayang, apakah otak kita masih susah dibangunkan? Nurani kita masih susah dirayu? Terpampang jelas di hadapan, tapi tak pernah muncul yang diharapkan: perubahan.

Silakan lontarkan jutaan alasan. Isi tiap robekan kertas di dunia ini dengan alasan itu. Tak akan pernah mencukupi. Tak ada orang yang mau mendengarkan alasan-alasan, walaupun hingga mulut berbusa-busa mengucapkannya.


Yang perlu diketahui hanya satu: waktu tidak merangkak atau berjalan, dia berlari. Dan tiap waktu berlalu, sejarah pun akan ditasbihkan.

Noor Titan Hartono - XI RSBI 2
SMAN 3 Bandung

2 komentar: