10 November 2013

'Kotekan' dan 'Angsel' Gamelan Galak Tika

Pak Maman dan Pak Iim, dua guru kesenianku di sekolah dasar, selalu berada di ruang degung setelah jam pelajaran berakhir. Siapapun yang ingin bermain degung Sunda (tipe gamelan di daerah Jawa Barat), dipersilakan untuk belajar dan bermain sepuasnya. Sejak kelas empat sekolah dasar, aku sudah akrab dengan saron, gong, kecapi, bonang, dan suling. Spesialisasiku saat itu, tentu saja, adalah gong dan saron. Gong sangatlah penting, karena dialah yang menjaga ritme lagu, sedangkan saron sangat menarik, karena dia yang paling lincah dan nada-nadanya berlari ke sana kemari.

Da-mi-na-ti-la-da, adalah notasi yang sangat kuhafal saat itu. Walaupun aku hanya senang-senang saja, dan tidak sampai berlatih serius hingga tampil resmi bersama degung sunda SDN 2 Cimahi, degung mengambil porsi besar dalam masa kecilku, sama seperti Pramuka, dan olimpiade matematika.

Jujur, aku bukan orang yang pandai atau mengerti musik. Aku penikmat andal, dan terima kasih Youtube dan Spotify, hobiku sebagai penikmat semakin bertambah. Selain itu, ayahku yang hobi mendengarkan lagu-lagu Jawa juga menular padaku. CD gending Jawa yang beliau beli saat mudik beberapa tahun lalu, termasuk lagu pengiring mantenan alias pernikahan, aku salin semua melalui iTunes.

Sampai suatu hari, kutemukan informasi bahwa kampusku memiliki ansambel gamelan Bali sendiri, namanya Gamelan Galak Tika.


Terima kasih juga kepada Google, karena setelah mendengarkan musik fusion mereka dengan kolaborasi bersama Evan Ziporyn dalam lagu Tire Fire V, aku mencari lebih jauh tentang Gamelan Galak Tika (versi rehearsal-nya bisa dilihat di bawah ini, sedangkan versi final-nya bisa didengarkan di Spotify).


Ternyata, di MIT sendiri, ada kelas gamelannya Bali. Luar biasa. Kemudian, setelah aku mencari tahu lebih jauh selama liburan kemarin, aku memutuskan untuk mengambil kelas 21M.030 Introduction to World Music. Dosenku, Pak Steele, ternyata Guest Artistic Director-nya Gamelan Galak Tika! Bahkan, selama seminggu terakhir, kelas 21M.030-ku bernuansa Indonesia, karena hari Selasa lalu ada workshop gamelan Bali, dan hari Kamis lalu ada workshop tari Bali bersama Shoko Yamamuro. Rasanya aneh sekali, ketika melihat teman-teman kelasku berusaha menuruti contoh Bu Yamamuro dalam menari tiga jenis tarian Bali: lelaki, wanita, dan bebancihan, alias kedua-duanya.

Sejam yang lalu, aku berdiri dan bertepuk tangan untuk konser Gamelan Galak Tika yang pertama kalinya selesai kulihat. Rasanya campur aduk: ada rasa bangga, malu, dan kagum yang bercampur jadi satu.

Setelah kupikir-pikir, ternyata ada filosofi yang dalam di balik musik tradisional satu ini.

Kotekan, adalah istilah yang digunakan saat dua instrumen dalam gamelan Bali bermain bersama-sama dengan nada yang sedikit berbeda, dan mengacu pada sistem interlocking. Kedengarannya berbeda jika dua instrumen ini dimainkan sendiri-sendiri, dengan saat mereka dimainkan kotekan bersama. 

Hari Kamis lalu, ada tiga jam lab session untuk salah satu kelasku, 2.00 Introduction to Design. Tinggal satu setengah minggu lagi hingga waktu presentasi Design Project I kami. Grupku hanya beranggotakan empat orang, sementara grup-grup lainnya, beranggotakan lima hingga enam orang. Tetapi, entah mengapa, grup kami selalu yang paling lambat dalam memutuskan apapun, dan kadang berdebat panjang tak ada juntrungannya. Oleh advisor grup kami, aku ditunjuk memimpin diskusi sesi lab kali itu. Buatku yang selalu menghindar untuk berbicara di tengah orang-orang yang berdebat, tentu saja hal ini sulit sekali. Pada akhir sesi lab kali itu, kami berbagi tugas. Sayang, prototipe yang harusnya selesai dan bisa langsung kami tes saat itu, tidak dapat kami selesaikan karena kami saling mencampuri bagian yang lain dan sok tahu. Harusnya, kami lebih percaya pada orang lain dan mengerjakan bagian sendiri sebaik-baiknya, dengan begitu kotekan kami akan terdengar luar biasa.

Angsel, serupa tapi tak sama dengan kotekan, juga menekankan kerja sama; tetapi, kali ini kerja sama antara pemain gamelan dan penari. Angsel, sejatinya adalah cue bagi pemain gamelan untuk bermain lebih keras karena gerakan si penari akan lebih tegas setelah gong besar berikutnya. 

Hal ini mengingatkanku pada Ridwan Kamil dan masyarakat Kota Bandung. Umur Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung mungkin baru seumur biji jagung, muda sekali. Tetapi, kepemimpinan Kang Emil dan niatnya untuk beberes alias berbenah Bandung, didukung oleh respons yang luar biasa dari masyarakatnya sendiri, membuat perubahan di Kota Bandung semakin terlihat jelas. Insya Allah, jika aku pulang ke Indonesia tahun depan, aku mungkin bisa bersaksi atas perubahannya selama setahun. Angsel memang kunci dinamika tak hanya di musik, tetapi juga di kehidupan secara umum.

Kotekan dan angsel, mungkin kalau semua orang sadar akan cue-nya, dan bagiannya masing-masing, dunia ini akan terlalu selaras. Mungkin filosofi itu ada untuk diketahui dan dikejar, tetapi ketidaksempurnaan itu sendiri yang memberi warna, bukan? Kotekan pun tidak identik satu sama lainnya, bukan?

Memoriku tentang degung Sunda dan masa kecilku kembali lagi malam ini.

Da-mi-na-ti-la-dafinal project-ku untuk kelas 21M.030 adalah tentang angklung, KPA3, dan Saung Angklung Udjo. Dalam proses menulis paper ini, aku belajar banyak dari teman-teman KPA3, internet, dan penelusuran sendiri. Angklung, seperti halnya degung Sunda, juga telah berubah banyak seiring dunia yang makin mengglobal. Sekarang, ada angklung dengan nada-nada kromatis (nada lagu-lagu Barat), tidak lagi pentatonis. Semua terima kasih pada Alm. Daeng Soetigna. Begitu pula untuk degung Sunda yang tradisinya selalu disampaikan lewat mulut ke mulut. Terima kasih pada Alm. Raden Machjar Angga K., yang menemukan notasi da-mi-na-ti-la-da. Sehingga, lagu-lagu Sunda yang bernotasi bisa dituliskan, disimpan, dan disampaikan lebih luas. Karena beliau berdua, musik Sunda berkembang dan tetap eksis hingga saat ini. Juga bisa menjadi bahan paper-ku yang minimal 10 halaman itu, hehe.

Selamat Hari Pahlawan. Hari Pahlawan tahun ini aku mendapat hadiah spesial bernama konser Gamelan Galak Tika, yang tak hanya membuatku berpikir dan tertampar, tetapi juga senang, bangga, serta kagum. Terima kasih untuk beliau-beliau yang mengenalkan gamelan pada dunia, terutama pada komunitas Boston dan Cambridge. Terima kasih juga pada teknologi: Spotify, Youtube, Blogger, Google, dan iTunes. Hehe.

Ah, rasanya memang luar biasa!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar