17 Desember 2013

Cerita dari Kereta Kota

Survival guide #1 di Boston. Diambil dari sini.

Seseorang tiba-tiba naik red line, kereta merah di Stasiun Park Street. Matanya merah, jelalatan. Sontak kubuang pandanganku, pelajaran yang kudapat tahun lalu ketika tak mampu menjawab pertanyaan professorku masih jelas, "Kalau kamu tak mau diajak bicara atau ditanya, hal pertama yang harus kamu hindari adalah kontak mata."


"Semuanya tolong dengarkan saya!" ucap pria berumur 30-an tahun itu. Bajunya dekil dan lusuh, sama dengan para tunawisma yang sering menengadahkan tangan, mencari sejumput belas kasihan di Harvard Square itu.

"'Saya didiagnosis positif HIV." Ada jeda yang mengganjal di sana. Orang-orang mulai menoleh.

"Saya tidak memiliki keluarga atau saudara jauh. Jangan tanya di mana rumah saya, karena saya tidak punya. Saya pernah teradiksi dengan obat-obatan terlarang. My life is so f***ed up. Beruntung ada rehabilitasi yang bersedia menampung saya. Gratis. Letaknya di Springfield. Saya harus naik kereta Amtrak ke sana. Saat ini saya hanya punya $25. Saya butuh sedikitnya $20 dollar lagi untuk membeli tiket saya. Saya mohon, mohon, mohon, agar Anda bersedia untuk memberikan recehan, atau apapun agar saya bisa ke sana."

Aku masih menunduk. Kereta merah ini memasuki Stasiun Downtown Crossing. Stasiun berikutnya adalah South Station, yang merupakan stasiun kereta Amtrak, kereta komuter, kereta bawah tanah, dan terminal bus. Waktu yang dimiliki pria ini tidak banyak lagi.

Seseorang lelaki yang dari tadi hanya sibuk dengan iPhone-nya (5S, aku bisa pastikan dari body-nya yang keemasan) dan duduk kursi di seberangku berteriak, "Yang ingin membantu, silakan saja. Tapi, sekalian pergi ke konter tiket dengannya, dan belikan langsung tiketnya. Siapa tahu dia berbohong."

Nada pria lusuh itu meninggi, "Tentu saja saya tidak berbohong! Anda kejam sekali karena mengira saya berbohong meskipun hidup saya saat ini so f***ing messed up!"

South Station. Pria ini pun keluar. Tak ada satupun orang yang memberinya uang. Dia memaki-maki dengan bahasa (Inggris) yang kasar. Aku pun keluar setelah merasa jarak dia cukup jauh. Chinatown memang lebih dekat jika aku keluar di South Station.

Aku pun teringat hal yang kulihat beberapa minggu lalu, di akun Instagram Walikota Bandung, Pak Ridwan Kamil. Jika kamu pernah ke Bandung, kamu pasti sering melihat 'manusia perak' di pinggir jalan yang meminta-minta. Beberapa dari mereka 'berangkat ke tempat kerja' dengan motor, ternyata.


Pertanyaan yang belum terjawab selama bertahun-tahun pun makin menguat, bagaimana saya tahu siapa yang harus saya beri derma jika saya memiliki sedikit kelebihan?

Terlepas dari itu semua, kereta kota ini memang punya banyak cerita. Kalau bandar udara buatku adalah tempat paling romatis, stasiun dan kereta di sini adalah miniatur dunia. Semua orang duduk dan berdiri berdempet-dempetan tanpa mengenal ras, umur, gender, kepercayaan. Rasanya benar-benar menarik melihat apa yang mereka lakukan, membayangkan apa yang sedang mereka pikirkan. Orang-orang pun berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Ada yang terlihat seperti turis dan sibuk mengambil foto-foto, ada pula yang terlihat lelah setelah bekerja seharian. Ada yang terlihat seperti mahasiswa karena membicarakan tentang pesta di fraternity pacarnya, ada pula yang terlihat seperti kakek yang mengajak cucunya jalan-jalan.

Mungkin caraku beristarahat dari rutinitas memang unik, karena selama aku bisa naik kereta kota ke Boston saat akhir minggu dan melihat dimensi lain dari manusia, rasanya sudah cukup senang dan terpuaskan. Seperti ada yang menyelimuti perasaanku dengan hangat dan berkata, "Bukan hanya kamu di dunia ini yang berjuang dan bekerja keras. Orang-orang ini pun begitu."

Aku masih ingat dengan jelas saat kakiku menjejakkan kota ini untuk pertama kali. Pengalamanku naik kereta bawah tanah seperti ini nol besar saat itu. Surat elektronik yang kuterima dari International Students Office dua minggu sebelumnya pun terasa seperti teka-teki yang sulit dipecahkan.

"Naik silver line -bus perak dari Bandara Internasional Logan menuju South Station. Kemudian, naik red line -kereta merah menuju Alewife. Berhenti di Stasiun Kendall/ MIT, lalu ikuti Memorial Drive." (FYI, bisa coba kamu lihat di peta di atas, dan kamu tebak jalurnya).

Beruntung salah satu Kakak Mentor Internasionalku bersedia menjemputku. Dengan menggunakan kaos Mentor Internasional kebanggannya dan kertas letter bertuliskan Noor Titan Hartono besar-besar, dia berdiri di samping conveyor belt.

Jika kamu bingung mengapa aku menyebut kereta kota, bukan subway, atau kereta bawah tanah, jawabannya adalah di bawah ini.

Kereta merah di antara Stasiun Kendall/MIT dan Stasiun Charles MGH, di atas Jembatan Longfellow. Foto diambil dari sini

Benar sekali, kereta merah ini 'naik ke atas tanah' di atas Jembatan Longfellow. Jika kamu ke Boston, kamu pasti lewat sini jika ingin mengunjungi Harvard atau MIT. Pemandangannya benar-benar luar biasa, terutama saat matahari terbenam atau terbit. Ratusan kali sudah aku melewati jembatan ini dengan kereta, dan ratusan kali juga aku mengucap syukur karena aku dapat melihat hal luar biasa ini.

Apa cerita menarikmu di dalam kereta/ bus/ angkutan umum?

5 komentar:

  1. semakin susah sekarang membedakan mana yang butuh belas kasihan beneran, atau yang cuma pura2 :(

    BalasHapus
  2. ada yang begitu juga yaaaah ternyata disana :( ngiler naik kereta merah yang digambar di atas deeeeh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main ke Boston yuk, nanti kuajak jalan-jalan keliling kota, melihat-lihat pemandangan yang ada :) Sampai waktunya tiba, boleh dilihat dulu di sini videonya: http://youtu.be/NHbW8QULWEw

      Hapus
  3. kapan ya saya bisa ke sana...????pengen banget...

    BalasHapus