04 Desember 2013

Homogen

Katanya, orang yang menghabiskan hidupnya di lingkungan yang serba homogen, di mana dia adalah bagian dari mayoritas, belum tentu punya sensitivitas dan empati yang sama dengan orang yang terbiasa tinggal di lingkungan yang serba heterogen. Benarkah?


Mungkin benar, atau, setidaknya, buatku, ini adalah hal yang benar. Keluarga besarku, semua berasal dari Yogyakarta, darah kami semua benar-benar Jawa totok. Keluargaku sebagian besar adalah Muslim, dan kami semua memiliki pandangan yang relatif sama terhadap apa hal yang benar dan salah, apa yang dibenarkan dalam masyarakat dan yang tidak dibenarkan dalam masyarakat. Ada cara bertutur tertentu yang diharapkan, ada pula cara spesifik untuk menghadapi tetua. Karena aku lahir dan dibesarkan dengan cara seperti ini, lama-lama aku terbiasa juga.

Tidak sampai 3,5 tahun lalu, ketika kakiku pertama kali menginjakkan kaki di tanah Paman Sam, semua hal yang kurasa benar dan kupegang teguh hingga umur 17 tahun perlahan-lahan mulai kupertanyakan.

"Apa memang memanggil guru/ dosen tanpa atribut apa-apa itu lebih baik daripada memanggil mereka dengan sapaan hormat?"

"Apa benar enam mata pelajaran di SMA itu lebih baik dari 17 mata pelajaran seperti di Indonesia?"

"Apa benar pandangan bangsa barat tentang anu itu lebih baik dibandingkan pandangan bangsa kita mengenai anu?"

Katanya, orang bodoh itu adalah orang yang menerima apapun yang disuapkan dari lingkungannya, tanpa mengkritisinya. Karena itu, aku selalu mencoba untuk melangkah jauh dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas. Sayang, jawaban yang dicari seringnya tak dapat ditemukan. Karena mungkin Yang Kuasa memang menciptakan dunia kita seperti itu, super heterogen, susah dicari persamaannya.

Kalau Yang Kuasa punya tujuan tertentu memberi dunia yang begitu heterogen, tak bisakah kita memberikan sedikit empati pada teman-teman minoritas yang terpinggirkan? Tak bisakah kita memikirkan apa jadinya kalau kita bertukar tempat dengan mereka?

Kepercayaan dan jalan hidup yang diyakini benar memang harus dipertahankan, tetapi menjalin kesetiakawanan dan kekerabatan dengan sebanyak mungkin manusia di bumi adalah kewajiban kita sebagai manusia untuk memberi manfaat. Yang Kuasa memberikan otak dan hati yang luar biasa agar kita bisa berpikir tentang jalan terbaik untuk menjembatani kedua hal tersebut. Karena itu, hanya orang bodohlah yang memikirkan satu di antara keduanya.

Karena homogenitas lingkunganmu bisa diputarbalikkan oleh-Nya dengan cepat, dan jangan sampai saat itu terjadi, kamu melepaskan diri dari nilai terdalam darimu.

¡Buenos días y buenas noches!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar