26 Januari 2014

Independent Activities Period 2014!

Ini bulan Januari. Ada apa di bulan ini? Di kampusku ada winter term yang berlangsung selama sebulan, alias IAP (Independent Activities Period)! Setelah IAP tahun lalu belajar bahasa pemograman Python, kerja sambilan, dan belajar anggar, tahun ini aku mencoba hal yang berbeda. Tahun ini, aku tetap kerja sambilan (seperti biasa), lalu belajar menggunakan mesin mill dan lathe (kalau kamu anak Teknik Mesin, kamu pasti mengerti), ikut training untuk mendapatkan internship musim panas ini, dan belajar masak chocolate truffles dengan satu-satunya MIT Lab for Chocolate Science (yes, this does exist!).

Apa itu mesin mill dan lathe? Kedua mesin ini adalah sentral mesin untuk membuat sesuatu dari metal. Untuk bekerja dengan mill, stock-nya bentuknya terserah, boleh permukaannya persegi, persegi panjang, atau lingkaran. Dengan drill yang bergerak hingga 1200 rpm, kita membentuk stock tersebut. Sedangkan lathe itu, stock-nya biasanya silinder, dan yang berputar adalah stock-nya, bukan drill-nya. Kalau dari jauh, mill itu mesinnya tinggi besar, sedangkan lathe lebih ramping memanjang.

Apa yang kubuat dengan kedua mesin ini? Foto ini diambil dari Twitter-nya MIT Pappalardo Lab.

Senter tanpa kabel dari alumunium stock!


Walaupun terlihat simpel dan mudah, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 hari untuk menyelesaikan semua bagian senter ini. Lama? Mungkin karena semua mahasiswa yang mengambil kelas ini belum pernah menggunakan mill dan lathe sebelumnya, hehe. Senter ini kecil, mudah dibawa, dan muat di saku celana. Jadi, kalau mati lampu, senter ini bisa membantuku.

Selain mengambil kelas 2.670 Mechanical Engineering Tools ini, aku juga mengambil training selama seminggu untuk mendapatkan magang musim panas ini, namanya UPOP (Undergraduate Practice Opportunities Program). Magang bukan suatu syarat kelulusan di sini, tetapi apalagi yang ingin kamu lakukan selama 3 bulan libur musim panas selain mendapatkan pengalaman baru di tempat -yang mungkin akan menjadi tempat kerjamu nanti?

Sebagian silabus UPOP, berlangsung selama setahun penuh, dengan puncak trainingnya saat IAP.

Di UPOP ini, kami mendapat training tentang bagaimana berinteraksi di dunia professional. Contohnya, pernahkah kamu bingung bagaimana cara berpakaian saat kamu menghadapi wawancara magang/ kerja? Atau, pernahkah kamu bingung bagaimana cara menulis CV atau memberikan presentasi? Atau, bagaimana menginisiasi interaksi dengan perekrut di dunia kerja? Training yang satu ini benar-benar mempersiapkan kami untuk menghadapi semua hal ini. Selain itu juga, aku berkenalan dengan mentor-mentor yang sudah sukses di dunia industri, atau start-up mereka sendiri. Mereka luar biasa: tak hanya mendonasikan dana untuk keberlangsungan kampusku, tetapi juga membagikan resep-resep dan rahasia-rahasia sukses mereka.

Di akhir team training camp saat IAP ini, UPOP juga mengundang 100+ perusahaan di mana kita bisa mencari jaringan ('networking') dan mencari info tentang magang musim panas secara langsung. Luar biasanya, tak hanya Google, Facebook, Akamai, yang ikut serta, tetapi juga berbagai perusahaan konsultan, kopi (kamu tahu inovasi Keurig? Aku sempat berbicara dengan product developer-nya secara langsung!), otomotif, minyak, alat-alat rumah tangga, hingga rekanan NASA seperti Orbital Sciences, atau rekanan departemen pertahanan dan militer AS, yaitu MIT Lincoln Lab.

Aku? Doakan saja, ya, supaya musim panas ini aku dapat tempat magang yang luar biasa, hehe.

Setelah UPOP, kemarin selama sehari, aku dan teman sekamarku, Katie, belajar membuat chocolate truffles, permen coklat yang cantik-cantik dan meleleh begitu digigit.

Boleh kelihatan jelek, maklum pertama kali membuat ini, tetapi rasanya luar biasa, kok!

Ada banyak rasa yang disediakan, mulai dari vanilla, raspberry, peppermint, lemon, jeruk, hingga wasabi (aku pernah mencoba coklat wasabi sebelumnya, rasanya luar biasa!). Sayang sekali, sebagian besar ekstrak perasa yang digunakan disimpan dalam media alkohol. Tak tanggung-tanggung alkoholnya berkisar antar 20%-70%.

"Alkoholnya akan menguap begitu kamu memasaknya, kok!"

Belum tentu, juga. Kata Wikipedia sih, alkohol menguap di suhu 73 derajat Celcius, sementara saat membuat cokelat, pan-nya tidak boleh terlalu panas. Kata instrukturnya sih, tidak boleh sampai terlalu panas untuk dipegang. Lagipula, menguap atau tidak, alkohol itu haram.

Karena itu, aku memutuskan untuk membuat truffles rasa teh hijau! Setelah suhu whipped cream untuk ganache-nya hangat, masukkan teh hijau secukupnya, kira-kira 1 teabag. Lalu tunggu hingga rasanya menguat, dan saring tehnya. Kemudian masukkan coklatnya. Lalu didinginkan hingga mengeras. Setelah mengeras, dibentuk bola-bola, lalu dicelupkan ke dalam coklat leleh.

Walaupun rasa teh hijaunya kurang kuat, dark chocolate truffles buatanku ini rasanya enak loh. Tidak percaya?

Kemarin malam, aku pergi ke keluarga temannya keluarga Katie untuk makan malam. Keluarga kecil ini, benar-benar luar biasa. Tidak hanya karena mereka memuji truffles yang aku dan Katie buat (haha!), tetapi juga karena keluarga satu ini sangat supportif. Baru kali ini aku diundang sebuah keluarga Yahudi untuk makan malam. Mereka ternyata mempunyai ritual sebelum makan di malam Sabtu. Selain menyalakan lilin (yang mirip menorah) lalu memanjatkan doa, mereka juga menyuil sepotong roti bergiliran, dan menuangkan jus anggur. Anak mereka satu-satunya, benar-benar pintar. Dia bertanya, "Apakah apa yang dirasakan indra pengecap seseorang sama dengan orang lain (proses kimianya, red), atau hanya persepsinya yang berbeda?" Wow. Aku tak pernah terpikir sejauh itu.

Selain itu, setelah makan malam, dengan teh apel yang hangat, kami semua bermain Bananagrams! Apa itu Bananagrams?

Foto diambil dari sini. Apakah Bananagrams terinspirasi dari kata 'anagram'? 

Bananagrams adalah permainan kata, semacam Scrabbles, di mana kamu harus menyusun kata secara acak dari huruf-huruf yang diberikan. Bedanya adalah, tiap orang menyusun 'bangunan' kata-kata mereka masing-masing. Pemenangnya adalah mereka yang berhasil menyusun 'bangunan kata' dengan seluruh potongan huruf. Benar-benar menantang dan menguras otak, apalagi untuk aku yang bahasa pertamanya bukan Bahasa Inggris, hehe.

Aku jadi berpikir, jika sebagian besar kegiatan keluarga di Indonesia saat/ sesudah makan malam adalah bermain permainan semacam ini, bukan menyalakan televisi, apakah kita sudah menyalip negeri-negeri adidaya dari dulu?

Last but not least, teman-temanku juga maraton Star Wars saat IAP ini. Aku, memang belum pernah menonton Star Wars sebelumnya. Ternyata luar biasa, ya, ceritanya. Asyik sekali. Minggu lalu, kami sudah menonton Star Wars 4 dan 5, lalu malam ini kami akan menonton Star Wars 6. Jika kamu belum menonton film satu ini, kamu harus coba!

Sampai nanti, teman-teman. Semoga mereka yang masih berlibur (seperti aku), bisa menyegarkan pikirannya. Bagi mereka yang sudah masuk kuliah/ sekolah, semangat semester barunya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar