06 Februari 2014

Hijrah

I want to be a great person. I probably will be, and am still working towards it. Mungkin dengan cara yang berbeda, sesuatu yang mungkin tidak orang-orang pikirkan/ anjurkan sebelumnya.

"You've got a big opportunity in front of you. Take advantage of it! Kamu kuliah di (tulis nama perguruan tinggimu), coba semua hal di sana selagi bisa. YOLO!"

Berapa banyak orang yang telah mengatakan hal yang sama terhadapmu? Hitung, berapa persen akhirnya keputusan yang kamu lakukan dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarmu, dan pada akhirnya kamu ragu apa yang kamu putuskan adalah hal yang baik bagimu?


Mendengarkan orang lain itu baik, tetapi mendengarkan hati dan pikiranmu sendiri itu lebih baik. Karena hanya kamu yang mengerti apa yang kamu inginkan/ butuhkan.

"Mengapa saya meninggalkan tempat ini kalau ada banyak kesempatan untuk mengembangkan diri di sini? Saya akan pindah ke zona yang lain setelah saya mencoba semua kesempatan di sini."

Mungkin itu yang akan kamu katakan. Pindah bukanlah suatu opsi jika ada alasan untuk tinggal.

Tetapi, kadang manusia harus pindah. Hijrah. Untuk melihat dunia lebih luas, untuk menemukan diri sendiri, atau untuk lari dari sesuatu.

Pertanyaan berikutnya mungkin adalah, "Kapan aku harus pindah? Kapan aku harus tetap tinggal?"

Tiap orang mungkin punya 'batas' atau timer yang berbeda-beda untuk jawaban di atas. Karena itu, mari saling hargai satu sama lain saat satu orang yang kita kenal memutuskan untuk pindah. Semoga saja, dengan begitu dia bisa menghargai lebih baik saat dia kembali.

Aku sedang berusaha untuk pindah. Pindah dari mempercayai, "I should try everything while I still can," pada, "I should focus on something that really calls me." Mungkin aku sudah cukup mencoba semua opsi yang ditawarkan dunia, kini saatnya memilah.

Marsha, temanku yang pernah meraih medali IBO (baca: pintar sekali), bertanya padaku beberapa hari lalu, "Mengapa kamu harus mengambil semua kelas-kelas itu? Bukankah jika kamu mengambil 4 kelas tiap semester juga pada akhirnya kamu bisa lulus tepat waktu?"

Atau kakak kelasku dari Vietnam, Vuvu, yang mampir ke Boston liburan kemarin dan bercerita, "Semester lalu aku mengambil kelas lebih sedikit dari sebelumnya. Aku keluar dari ekstrakurikuler. Aku fokus untuk makan lebih baik, dan olahraga lebih baik; juga berpikir tentang hidup lebih banyak. Aku merasa lebih gembira."

Bahkan pagi ini, aku merasa tersindir hebat dengan apa yang orang ini tulis.
Because while you're out spending your money on new outfits, new cars, overpriced meals or nights at the bar, I'll be investing in myself. And while you try to fit in with the world, I'll make the world fit in with me.
Mungkin inilah saatnya aku pindah. Pindah dari mendengarkan opini orang lain, ke opini diri sendiri.

Mungkin inilah saatnya aku pindah. Pindah ke posisi di mana aku tidak merisaukan apa yang orang lain katakan.

Mungkin saatnya memang sudah tiba.

1 komentar:

  1. Because while you're out spending your money on new outfits, new cars, overpriced meals or nights at the bar, I'll be investing in myself. And while you try to fit in with the world, I'll make the world fit in with me. *NOTE TO MY SELF. YOLO!!!*

    BalasHapus