05 Maret 2014

Economics-literate?

"Economic literacy is crucial because it is a measure of whether people understand the forces that significantly affect the quality of their lives." -Gary H. Stern

Dulu, guru SD-ku, Pak Janu, pernah bilang, kalau punya background matematika yang kuat itu perlu, tak peduli cita-citamu jadi apa. Seorang siswa yang pintar, kata beliau, bisa dilihat dari kemampuan matematikanya, karena matematika membentuk logika, nalar berpikir, dan reasoning. Karena itu, beliau mewanti-wanti agar kami semua belajar matematika benar-benar.

Apa mungkin karena itu aku mengabaikan pelajaran lain dan fokus dengan matematika saat di bangku sekolah dulu? Haha. Ini jangan dicontoh, ya.

Saat bersekolah di UWC dulu, aku sempat mengeluh karena kurikulum IB mengharuskanku untuk mengambil mata pelajaran ilmu sosial. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil ekonomi. Mengapa? Karena setidaknya masih ada angka-angkanya, haha.

Ternyata tidak juga. Oleh kedua guruku di sana, Eyad dan Ravi, aku diajarkan bagaimana menganalisis pasar, harga, dan kebijakan pemerintah. Ada 'gaya tak terlihat' yang menjaga keseimbangan produksi barang-barang dan harga-harga, ada pula intervensi pemerintah, atau para spekulan. Dunia yang rumit dan tidak bisa dijabarkan secara sederhana. Karena itu, aku sempat berpikir untuk mengambil jurusan ekonomi di universitas.

Jika aku adalah guru seperti Pak Janu, hal yang akan kukatakan adalah, "Matematika dan bahasa itu harus, sementara ekonomi itu perlu."

Mengapa?

Karena banyak orang yang masih tidak mengerti bagaimana inflasi itu sebenarnya, atau bagaimana memutuskan untuk investasi atau menabung. Masih banyak juga orang yang memaki-maki kebijakan pemerintah, tanpa mereka ketahui bahwa pemerintah melakukan kebijakan tertentu untuk kebaikan khalayak banyak juga.

Mengerti model kurva supply-demand mungkin merupakan hal yang sepele, tetapi banyak hal yang bisa orang-orang petik dari berita sehari-hari yang mereka dengar. Orang-orang mengasumsikan hubungan kausalitas bahwa bencana di daerah A bisa membuat harga beras naik, atau nilai tukar rupiah yang melemah merupakan pertanda ekonomi yang memburuk, tetapi tidak mengerti detailnya bagaimana.

Konsep uang yang dianggap rigid bagi banyak orang pun sebenarnya fluid.

Sekian banyak alasan itu akhirnya aku sadari setelah mengambil beberapa kelas pengantar ekonomi. Bahkan, semester ini aku mengambil dua mata kuliah ekonomi: Makroekonomi dan Ekonomi & Kebijakan Energi.

Kelas Makroekonomiku dibuka bukan dengan model Keynes atau neo-Keynesian yang membosankan semester ini. Kami langsung mempelajari mengapa krisis yang disebabkan subprime mortgage tahun 2008 dirasakan jauh lebih buruk dibandingkan Great Depression.

Kelas Ekonomi & Kebijakan Energiku apalagi. Prof. Knittel adalah dosen yang luar biasa! Beliau sering memberi masukan untuk kebijakan energi Amerika Serikat (diundang oleh US Congress -semacam DPR/MPR di Amerika Serikat). Komentar dan pemikiran beliau memang kontroversial, contohnya isu yang hangat saat ini: beliau merasa bahwa Keystone XL Pipeline memang harus dibangun.

Selain itu, kelas ini juga jauh dari kata standard. Tidak ada normal problem sets setiap minggunya, tetapi ada dua game yang setiap mahasiswa di kelas ini harus ikut serta sebagai bagian dari nilai.

Game pertama, yang sedang kami mainkan selama tiga minggu ini, adalah OPEC game. Intinya, kami bermain sebagai negara-negara di OPEC, dan kami harus menentukan total produksi dengan bersikap sebagai monopolist. Profit yang kita dapatkan pada akhir permainan, menentukan nilai kami. Karena itu, semua mahasiswa memiliki insentif untuk bermain secara serius (baca: semua mahasiswa bermain mati-matian demi nilai A). Layaknya OPEC, kami dianjurkan untuk melakukan kolusi, dan saling tikam. Oh, rasanya jadi ingat Liar Game. Salah satu drama yang bisa membuatmu berpikir tentang Game Theory.

Salah satu best J-Dorama yang pernah kutonton, selain Bloody Monday.

Di sisi lain, mengerti latar belakang ekonomi, dan motif seseorang memutuskan sesuatu juga merupakan ilmu yang berharga untuk bertahan hidup -secara umum.

Seperti kata Stern yang kalimatnya kukutip di awal tulisan ini, tak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba mengerti 'gaya-gaya tak terlihat' yang mempengaruhi kualitas hidup kita.

Menurutmu, apa ilmu paling berharga yang orang-orang harus pelajari untuk hidup?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar