26 Maret 2014

Food For Thought: A Poverty-Free World?

Poverty does not belong in civilized human society. Its proper place is in a museum. That's where it will be. When schoolchildren go with their teachers and tour the poverty museums, they will be horrified to see the misery and indignity of human beings. They will blame their forefathers for tolerating this inhumane condition and for allowing it to continue in such a large segment of the population until the early part of the twenty-first century. -Muhammad Yunus

Muhammad Yunus, the founder of Grameen Bank, surely works hard towards his ultimate goal: museumizing poverty. Yet, the process seems rather slow. Why, and what should we do to provide quantum leap to this noble goal?


Some people argue that human's greed is just impossible to eradicate. Everyone does things that support his best interest. Most people, try to put themselves above anyone else, and think, "Why would I feed people if I still cannot feed myself properly?"

This is, I believe, why the term social entrepreneur or sociopreneur emerges, and it has become a trend for quite sometime. "If I could fulfill my desire and help people at the same time, why not?"

This what-is-so-called-sociopreneur is what Yunus imagines to be the backbone of creating a poverty-free world. He believes that in these people's hands, poverty will be alleviated from this world, and the world that we always want to live in will come true.

Hanya saja, yang jadi pertanyaannya, adalah bagaimana menggiatkan para sociopreneur ini untuk mau maju dan menginisiasi project yang sudah mereka pikirkan sekian lama. Yunus tidak percaya pemerintah dan tangan-tangan di atas dari World Bank, dan buktinya, Grameen Bank benar-benar sukses dalam misi yang mereka emban. Apakah untuk menggiatkan sociopreneur ini dibutuhkan dukungan dari masyarakat golongan grassroots dan tanpa campur tangan pemerintah sama sekali, agar nilai-nilai dan visi misi yang diusung tidak ter-'noda'-i?

Menurut Holmostrom-Tirole, entrepreneur harus memiliki kapital minimum agar proyeknya bisa dimulai, alias pecah telur.

Diambil dari lecture notes 14.02 milik Prof. Giavazzi.

Dalam kasus sociopreneur, niat, ketulusan, dan ide brilian merupakan tiga motor utama yang mengalahkan kapital minimum yang diajukan oleh Holmostrom-Tirole. Karena ketiga hal ini termasuk tidak kasatmata, dan tak ada yang bisa memberikan 'pinjaman' untuk ketiga hal ini.

Karena itu, bagi saya sendiri ada dua cara yang pemerintah bisa lakukan: satu, turun tangan dalam 'menghabiskan' kemiskinan itu sendiri, dan dua, dengan menciptakan iklim yang cocok agar sociopreneur berkembang. Yang pertama mungkin sudah sering dilakukan, tetapi yang kedua mungkin masih sering terabaikan, meskipun tentu saja, yang kedua menyimpan potensi yang besar.

Karena aku, dan beberapa di antara kita percaya bahwa pemerintah boleh saja sarat dengan pengalaman dan dana, tetapi kadang-kadang kita memiliki ide yang lebih segar untuk mengimplementasikannya, bukan?

Tentu saja, kemiskinan di sini bukan parameter relatif, tetapi lebih ke sesuatu yang absolut. Terangkat dari kemiskinan, berarti memiliki cukup uang untuk membeli makanan sehat tiap harinya, mendapat akses air bersih dan sanitasi yang memadai, memiliki rumah yang memenuhi syarat-syarat terdasar, mempunyai sandang yang cukup, anak-anak bisa pergi ke sekolah, dan memiliki level kesehatan terntentu.

We have created  slavery-free world, a smallpox-free world, and an apartheid-free world. Creating a poverty-free world would be greater than all these accomplishments while at the same time reinforcing them. This would be a world that we could all be proud to live in. -Muhammad Yunus

Semoga dunia yang bebas dari kemiskinan bisa terwujud, dan kemiskinan bisa menjadi satu hal yang dimuseumkan.

3 komentar:

  1. Amin. Semoga kemiskinan bisa dimuseumkan. :)

    BalasHapus
  2. kamu esther duflo KW1 yaaaaa :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. I wish haha. Aku Titan, salam kenal. Kamu?

      Hapus