06 April 2014

Petani Abad 21

Namanya Rebekah Carter. Rambutnya diikat ponytail dengan warna pirang keemasan. Tingginya sekitar 165cm, dan dia mengenakan kaos biru muda. Dia menyambut kami dengan tersenyum, "Selamat datang! Silakan masuk! Kalian boleh mencoba selai-selai ini yang dibuat home-made dengan croissant dan biskuit di atas meja itu."

Dari kiri ke kanan: mint rhubarb jelly, lemon marmalade jam, pineapple pear jam, raspberry rhubarb jam.

Aku, dan kedua temanku, Yee Ling dan Katie, langsung menyambar croissant dan biskuit, lalu mengoleskan selai di atasnya. Satu, dua, tiga, empat, semua selai kami coba. Rasanya benar-benar lezat, dan real, tanpa bahan pengawet. Hanya buah dan gula/ madu. Jika kalian tahu bagaimana selai yang dijual di supermarket di Amerika Serikat (Smucker's?) kalian akan mengerti, mengapa selai-selai ini kusebut barang berharga.


Hari ini, kami dan 12 orang lainnya mendapat kesempatan emas untuk membuat selai sendiri. Rebekah, yang jauh-jauh datang dari Winchester, sebuah kota kecil di Massachusetts, datang sebagai instruktur canning selai hari ini.

Canning, bukan hal yang baru bagiku. Aku pernah ikut satu semester ekskul Sustainability di UWC, di mana kita mengawetkan berkilo-kilo apel yang kami petik selama musim gugur. Bahkan, proses belajar canning ini pun meninggalkan bekas yang tak akan pernah hilang di jari tanganku. Meskipun begitu, siapa yang bisa menolak satu jar selai raspberry plum yang bisa kami bawa pulang saat workshop ini berakhir?

Prosedurnya kurang lebih sama, kami harus memotong plum kecil-kecil, dan menyiapkan raspberry, kemudian memasak keduanya dengan gula putih hingga encer. Sementara itu, beberapa orang lainnya mensterilisasi jar dengan 'memasaknya' dengan air mendidih. Kemudian, setelah jar ini steril dan selainya siap, kami menuangkan selai yang masih mendidih itu ke dalam jar, dan merebusnya ke dalam air mendidih lagi, agar ruang udara di dalam jar tersebut menguap dan menjadi vakum. Tujuannya? Tentu saja agar selainya lebih awet, dan bisa tahan ditaruh di lemari selama setahun, tanpa bahan pengawet!

Rebekah juga bercerita tentang profesinya sebagai salah satu karyawan tetap di Wright-Locke Farm di Winchester. Dia pun berbagi kartu nama, e-mail, dan website tempatnya bekerja. Aku sempat tergelitik, profesinya adalah petani, tetapi mengapa dia terkesan seperti pekerja kantoran?

Akuilah, sebagian besar dari kita menganggap petani sebagai pekerjaan sebelah mata. Kakek-nenekku, adalah petani di tanah Jawa. Setiap kami pulang kampung, selalu ada sisa panen yang beliau bagikan untuk kami bawa pulang ke tanah rantau. Tahun ini, kacang tanah. Tahun depan, kacang kedelai. Mungkin dua tahun lagi, beras atau cabai. Orang tuaku sendiri dengan bangga bilang, "Bapak ibumu ini sudah 'jadi', kedua orang tua kami hanyalah petani, tetapi kami bisa menjadi pegawai negeri."

Tetapi, Rebekah, dengan bangga bercerita mengenai pekerjaannya di Wright-Locke Farm.

Dia bercerita dengan semangat, dirinya mencintai pekerjaannya sebagai petani. Saat musim tertentu, dia akan mengawetkan buah-buahan yang baru dipanennya, dan pada hari tertentu dia akan menerima anak-anak muda untuk membantunya di ladang, agar mereka bisa belajar dari mana makanan mereka berasal.

"Saya sedih kalau ada anak yang datang dan bilang, kalau makanan asalnya dari supermarket."

Karena itu, tiap musim panas, akan ada acara summer camp di farm-nya, dan dia akan mengajari anak-anak bagaimana menanam, merawat, dan memanen berbagai sayuran dan buah-buahan. Kadang dia juga menyewakan farm-nya untuk acara resepsi pernikahan (pesta kebun?) atau sekadar piknik keluarga.

Kemudian, lembaga yang menaungi ladang dan sawahnya juga mempunyai peternakan kecil-kecilan. Rebekah bercerita, bagaimana dia benar-benar excited dengan kedatangan kambingnya akhir April nanti. "Tahun lalu, kami mempunyai beberapa kambing, dan kami memerah susunya. Saya menemukan bahwa susu kambing sangat berkhasiat untuk melembabkan kulit. Lalu kami membuat sabun dan losion dan menjualnya."

"Saya juga senang melihat resep-resep selai atau jelly baru, atau sekadar mencari inspirasi di blog-blog macam foodinjars.com atau http://www.punkdomestics.com/. Saya juga sering membaca buku tentang metode, atau hasil riset tentang bagaimana mengawetkan yang baik."

Wright-Locke Farm, seperti ladang/sawah/kebun lainnya di Amerika Serikat, juga memiliki program CSA, atau Community Supported Agriculture. Intinya, kamu bisa membayar di muka suatu ladang/kebun/sawah untuk menanam sayuran atau buah-buahan, dan saat memanen, beberapa bulan ke depan, kamu akan menerima boks berisi sayur mayur atau buah-buahan segar selama periode waktu tertentu. Sistem lainnya adalah, dengan membayar di muka, kamu bisa memetik sayur mayur atau buah-buahan segar beberapa bulan ke depan, selama periode waktu tertentu. Bagiku, sistem ini cukup efektif, karena hasil panen akan diberikan langsung kepada konsumen yang membutuhkan, dan pembayaran di muka juga membantu kesejahteraan para petani.

Dengan bangga kita bercerita tentang Indonesia sebagai negeri agraris. Faktanya, kita sendiri mengecilkan profesi petani. Kita tidak mau jadi petani, rasanya malu; jurusan kehutanan, perikanan, pertanian, jadi opsi jurusan terakhir. Melihat petani yang sukses di negeri yang tidak mengaku dirinya agraris, bukankah kita harus berpikir ulang? Bagiku, Rebekah adalah potret petani abad 21.

Yang jelas, aku membuat selai raspberry plum sendiri hari ini. Makan pagiku aman untuk sebulan ke depan, tinggal beli roti! Hore!

Resep ultimate lezat: buatan sendiri dan dipandu oleh ahli.

2 komentar:

  1. Di sini petani malah diusir dari tanah pertaniannya sendiri.

    Eh, keliatannya selai buatanmu enak. Bagi resepnya dong :) heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Resepnya bisa dicek di sini: http://walthamfieldscommunityfarm.blogspot.com/2011/08/notes-from-learning-garden-from-one.html :D

      Hapus