01 Mei 2014

Sekolah di Luar Negeri: Ya atau Tidak

"Dance with Me", diambil oleh Katie Adler untuk project Mekanika Fluida-nya.

Salah satu temanku, +Rizky Rahmany, beberapa waktu lalu membagikan sebuah link blog dengan judul "Bahaya Buku Andrea Hirata". Penulis aslinya sudah menghapus entri ini dari blognya, tapi masih bisa dibaca di sini.

Saya akan meng-copy-nya di sini, jadi maaf kalau postingan kali ini terasa agak panjang.

***
SEORANG telah mengirimkan pesan yang berisi perkenalan serta permintaan agar saya membimbingnya hingga lulus program beasiswa. Ia mengirimkan surat panjang,dimilai dengan kata “Yang Bertandatangan di Bawah Ini”. Kemudian paragraf berikutnya adalah data diri. Lalu, informasi kalau orangtuanya telah meninggal, skill yang terbatas, serta keinginan untuk keluar dari belenggu kemiskinan.

Ini bukan kali pertama saya menerima surat demikian. Puluhan email bernada demikian pernah saya terima gara-gara beberapa tulisan di blog ini. Pernah, saya menerima surat dari pemuda Aceh yang berkata bahwa dirinya siap jadi apapun, bahkan pembantu sekalipun, asalkan bisa dibawa ke luar negeri. Ada juga email dari seseorang di Surabaya yang mengaku bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan serta dirinya tak punya pengalaman. Ia lalu bertanya, “Apa bisa saya diluluskan program beasiswa?”

Terhadap banyak email itu, saya hanya bisa mengelus dada. Dipikirnya saya adalah tim penyeleksi beasiswa. Padahal saya cuma seorang warga biasa di Pulau Buton yang sedikit beruntung karena bisa sekolah di luar negeri. Di luar itu, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seseorang yang masih suka makan indomie karena uang pas-pasan, masih harus jalan kaki di tengah salju karena uang pas-pasan untuk membeli kartu bis. Mengapa banyak orang yang melakukan segala cara untuk ke luar negeri?

Jangan-jangan, ini adalah pengaruh buku-buku yang ditulis Andrea Hirata atau A. Fuadi. Banyak yang mengira bahwa lulus beasiswa ke luar negeri adalah jalan pintas untuk hidup yang lebih baik. Banyak yang menganggap bahwa di luar negeri semua orang akan hidup kaya, makmur, serta berkecukupan. Padahal tidak demikian. Kenyataannya sama saja dengan negeri sendiri. Anda harus kerja keras, tahan banting, serta punya mental kuat. Tanpa itu, anda tak akan mendapatkan apa-apa.

Salah satu buku Andrea yang amat sangat populer adalah Laskar Pelangi. Buku ini disebut sebagai salah satu buku best seller. Tau apa ending buku itu? Tokoh utamanya tiba-tiba mendapat beasiswa ke Sorbonne, Perancis, lalu kembali ke kampungnya. Beasiswa itu membuatnya ‘naik kelas’ lalu merasa diri ‘lebih berhasil’ ketimbang sahabatnya Lintang yang hanya jadi pemetik kelapa.

Senada dengan Laskar Pelangi, ada pula buku Negeri Lima Menara karangan Fuadi, yang pernah mendapatkan delapan beasiswa ke luar negeri. Lagi-lagi, keberhasilan diukur dari belajar di lua negeri. Bagi saya, buku-buku itu makin menegaskan rasa inferior kita sebagai bangsa sebab menganggap pendidikan di luar lebih berkualitas, serta perasaan jumawa karena bisa belajar di negeri orang.

Salah kaprah itu mesti diluruskan. Proses mengasah kualitas itu bisa dilakukan di mana-mana. Tak harus berangkat ke luar negeri. Seorang alumni kampus luar negeri bisa menjadi sampah masyarakat ketika dirinya tak punya skill atau keahlian. Masyarakat kita tak butuh teori. Masyarakat butuh bukti tentang apa yang sudah dilakukan atau apa yang bisa dilakukan. Mustahil jadi orang hebat kalau hanya bermodal pengakuan jumawa bahwa anda pernah belajar di luar negeri.

Bahaya membaca buku Andrea Hirata adalah ketika orang-orang kemudian beranggapan bahwa belajar di luar negeri adalah segala-galanya. Seolah-olah, ketika pulang dari luar negeri, maka akan menjalani hidup ala sinetron, kaya-raya, berkecukupan, lalu punya mobil dan rumah mewah. Apakah demikian? No. semuanya nonsense tanpa kualitas dan pejuangan.

Bagi saya, aspek terpenting dari semuanya adalah mengasah diri. Sekolah ke luar negeri hanyalah satu jalan untuk mengasah diri. Masih ada banyak jalan lain. Bahkan jika anda tak sekolah pun, sepanjang anda mengasah diri, pasti akan hebat. Lihat saja Pramoedya Ananta Toer. Ia bukan anak sekolahan. Ia tak pernah belajar di perguruan tinggi. Tapi ia punya semangat untuk mengasah diri dan mengembangkan kapasitasnya. Maka jadilah ia sebagai pengarang tersohor yang karya sastranya menjadi rujukan banyak sejarawan hebat di luar negeri.

Pramoedya adalah contoh dari semangat yang kuat, serta keinginan yang sekuat baja. Meski tak belajar di perguruan tinggi yang hebat-hebat, ia mengasah dirinya untuk menjadi sastrawan hebat. Bahkan, ia juga ikhlas menjalani tahanan oleh sbeuah rezim militer yang menganggapnya sebagai musuh yang bisa merusak rakyat. Di tengah pengapnya sel penjara, ia menulis dengan hanya mengandalkan ingatan. Ia tak membaca pustaka, sebagaimana para sarjana zaman kini. Ia hanya bermodalkan semangat serta daya ingat yang kuat.

Susahnya tak banyak anak muda yang mau mengikuti jejak Pramoedya. Generasi hari ini adalah pembaca Laskar Pelangi, karangan Andrea Hirata yang kemudian diracuni oleh novel itu. Maka berbondong-bondonglah mereka untuk mengejar beasiswa dan setelah itu mengubah nasib. Mereka bersaing demi berangkat ke luar negeri, setelah itu hidup kaya-raya dan terhormat. Anak muda tak tertarik kembali ke desa. Mereka sibuk mengejar sekolah ke kota, setelah itu keluar negeri demi mejadi orang hebat dan kaya.

Pertanyaannya, apakah masih ada anak-anak muda idealis yang ingin kembali ke desa dan melakukan hal-hal bermanfaat bagi masyarakatnya? Ataukah anak-anak muda itu ingin kembali ke desa sebagai alumni kampus luar negeri sebagaimana kisah dalam novel Andrea Hirata yang kemudian tertunduk sedih saat melihat temannya yang hebat hanya menjadi tukang pemanjat kelapa?

Athens, 11 Februari 2013
Yusran Darmawan

***
Ada pula tulisan menarik dari kakak angkatan saya di sini, Kevin Soedyatmiko, yang di-publish di blog-nya Indonesia Mengglobal, dengan judul Google It!. Salah satu kalimat menarik yang diutarakannya adalah sebagai berikut.

Sepengetahuan saya, rata – rata mahasiswa (atau alumni) Indonesia dari kampus di Amerika, akan dengan sangat senang hati membantu siswa SMA untuk melamar kampus tersebut. Akan tetapi, sang siswa SMA tersebut juga harus memastikan bahwa dirinya siap untuk dibantu.

Jadi, untuk kamu yang tengah bersiap – siap melamar ke kampus di luar negeri, kamu haruslah mengerjakan PR kamu terlebih dahulu, dengan melakukan “riset” tentang kampusnya, dan tentu saja menggunakan resources-resources online seperti Google dan Indonesia Mengglobal. Percayalah jika kamu sudah melakukan semua hal di atas, sang mahasiswa* (atau alumni) will make his/her best untuk membantu sebanyak – banyaknya (bukan hanya sebisanya).

***
Apa hal yang menarik? Banyak sekali. Mulai dari komentar bahwa buku-buku semacam Laskar Pelangi dan Negeri 5 Menara telah 'meracuni' pikiran anak-anak muda di Indonesia. Jangan jauh-jauh, trennya terlihat jelas di sosial media, coba hitung, ada berapa banyak akun yang membagikan link-link beasiswa, yang kadang kala tidak relevan untuk kondisi orang-orang di Indonesia, dan asal copy-paste.

Aku pun sempat berdiskusi dengan teman-teman Indonesiaku di sini. Jumlah mahasiswa Indonesia memang tidak terlalu banyak jika dibandingkan negara lain, bahkan rasio jumlah mahasiswa Indonesia dengan total penduduk Indonesia sangat kecil sekali, dibandingkan China atau India, misalnya.

Mengapa kamu ingin sekolah di luar negeri?

Belajar di luar negeri, tidak sementereng kelihatannya. Oke, kamu bisa melihat 4 musim untuk pertama kalinya, jalan-jalan, dan kalau mendapat beasiswa, semuanya ditanggung, kamu tinggal belajar saja. Semudah itukah?

Aku sendiri tidak berpikir panjang sewaktu SMA dulu dan memutuskan untuk bersekolah di luar negeri. Waktu itu, hanya ada satu hal di pikiranku, "Kapan lagi dapat beasiswa? Kapan lagi bisa ke luar negeri? Mungkin ini satu-satunya kesempatan!" Aku tidak memikirkan, bahwa butuh waktu yang lama untuk menyelesaikan jenjang pendidikan, dibutuhkan adaptasi yang luar biasa, serta tenaga dan pikiran yang tidak sedikit.

Sampai sekarang pun, aku kadang melihat orang lain  lebih pantas daripada diriku sendiri untuk belajar di luar negeri. Aku masih berusaha untuk memantaskan diriku sendiri.

Selain itu, seperti kata Miko di atas, jika untuk riset awal tentang universitas yang kamu inginkan saja tidak kamu lakukan, apa kamu benar-benar siap untuk bersekolah di luar negeri? Untung jika kamu bertanya kepada orang yang sudah pernah bersekolah di tempat yang sama dan mendapat jawaban panjang lebar. Bagaimana jika ketidaktahuanmu terekspos saat kamu sedang duduk di kursi wawancara? Bukan hanya kesempatan saat itu yang kamu sia-siakan, tetapi juga kesempatan-kesempatan setelah itu. Hal yang sama pun berlaku untuk bekerja atau bersekolah di manapun.

Jadi, semuanya kembali pada pertanyaan, apa tujuan utamamu bersekolah di luar negeri.

Apakah perlu kita mengirimkan banyak orang Indonesia untuk bersekolah di luar negeri?

Setahuku, tiap tahun, beberapa departemen di Indonesia mengirimkan mereka-mereka yang masih muda untuk disekolahkan di luar negeri. Biayanya? Sepertinya ditanggung departemen-departemen ini, CMIIW.

Menurutku sendiri, sekolah di luar negeri atau dalam negeri sama saja. Sama-sama belajar, sama-sama mencari tahu. Jika sudah terbatas sumber dayanya di Indonesia, barulah diwajibkan untuk ke luar negeri dan mencari lebih banyak lagi.

Apakah sekolah-sekolah Indonesia tidak lebih bagus dari di luar negeri? Tidak juga. Jika orangnya tidak berniat untuk belajar dan menimba ilmu, di manapun tempatnya, tentu tidak ada bedanya jika bersekolah di Indonesia atau di luar negeri.

Sekarang pertanyaan yang tersisa adalah, bagaimana menyeleksi orang-orang yang benar-benar siap, mampu, dan berniat lurus (bukan berniat main seperti aku, tetapi memang niat belajar).

Opini tentang buku Andrea Hirata dan Ahmad Fuadi? 

Buku mereka luar biasa. Aku adalah salah satu penggemar favorit karya-karya mereka. Penceritaan yang luar biasa, plot yang 'seksi', dan alur yang mengalir. Tak banyak penulis yang bisa seperti mereka. Karena itu, aku pun ingin bisa melebihi mereka, haha.

Impuls yang ditimbulkan buku-buku mereka terhadap semangat untuk belajar dan berjuang lebih keras adalah positif. Induksinya pun meluas, banyak gerakan-gerakan pemburu beasiswa yang muncul.

Sekali lagi, selama mereka yang ingin sekolah ke luar negeri, siap, mampu, dan berniat lurus, kenapa tidak? Lagipula, hipotesis bahwa kehidupan di luar bisa melatih untuk lebih tangguh (kecuali kamu anak orang berada, dan apa-apa serba ada), bisa menjadi aset positif di negeri kita di masa depan, kalau pulang.

Kalau pulang, haha.

Kalau tidak pulang?

Apa masih relevan membahas dan mengucilkan teman-teman Indonesia kita yang memutuskan untuk tidak pulang dan mengabdi pada negeri? Mereka mungkin lahir dan dibesarkan di pangkuan ibu pertiwi, tetapi mereka memegang hak penuh atas diri mereka sendiri. Mereka berhak memutuskan yang terbaik untuk mereka, dan lingkaran terdekat mereka.

Jangan panggil mereka pengkhianat, karena kamu tidak berada di posisi mereka dan merasakan sulitnya memilih.

Lagi pula jangan tanya orang lain apa yang telah mereka lakukan untuk negeri, tanya dirimu sendiri.

Seperti foto di atas, tiap manusia memiliki perannya masing-masing. Semuanya menari di kehidupannya sendiri-sendiri. Sinergi dari semua tarian ini, yang membuat hidup indah berseri.

Bagaimana menurutmu?

8 komentar:

  1. Saya senyum-senyum sendiri baca ini, karena saya salah satu orang yang kepengen kuliah di luar negeri (dulu) dan pernah mengontak mbak :p

    Tapi, pada akhirnya saya mikir, buat apa sih kuliah di luar negeri? dan dari pertanyaan itu saya gak pernah ketemu alesan yang 'pantes' buat ngelakuin hal itu. Jadinya saya stop dan melanjutkan hidup seperti biasa. haha. Beberapa info tentang kuliah di luar negeri + cv, saya jadiin satu di folder "DIBUANG SAYANG" XD

    Soal buku-buku itu saya malah cuma baca sinopsisnya aja. :))

    Semoga tulisan mbak Titan banyak dibaca sama siswa/i yang pengen kuliah di luar negeri. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan, "Buat apa sih kuliah di luar negeri," tetapi, "Ada hal yang harus dilakukan di sini, yang tidak mungkin dilakukan di luar negeri."

      Kalau alasannya karena tak ada alasan yang 'pantas' untuk pergi ke luar, itu namanya menyerah sebelum berperang :P

      Hapus
    2. Kalo saya nanya ke diri sendiri pertanyaan itu sih. Mungkin, pertanyaan itu harus saya pikir dulu. ;)

      Eh, baiklah. -_-

      Hapus
  2. kalau sering berkunjung ke luar negeri, mungkin untuk kuliah atau lainnya bisa lebih luas wawasannya dan pola pikir lebih terbuka. setuju gak? :D

    BalasHapus
  3. Baru nemu tulisan ini sekarang hehe. Tulisannya bagus mbak, pesannya tersampaikan, menurut saya.
    Saya juga pernah membaca tulisan yang serupa di web indonesia mengglobal, dan sejak saat itu mindset saya tentang sekolah ke luar negri berubah. Saat ini, saya masih riset, menyusun matriks tentang sekolah-sekolah di luar negri, alasan saya harus kesana dan apa bedanya saya bersekolah disana dengan di Indonesia. InsyaAllah saya juga masih berusaha memantaskan diri.
    Terima kasih mba, menambah motivasi saya :)

    BalasHapus
  4. Wahh, nice info banget sist! Makasih loh sudah mau sharing-sharing pengalamannya. Ane jadi punyagambaran nih tenatng sekolah ke luar negeri. Thx a lot banget ^^

    BalasHapus
  5. Ini tulisan blog pertama yang bikin saya terharu dan pengen nangis kak, sekarang saya harus benar benar memantapkan tujuan saya untuk kuliah di luar negeri lagi dan mengubah jalan pikiran saya

    BalasHapus