01 Juni 2014

Bertekuk Lutut di Hadapan Cantiknya Hamburg

I will post in Indonesian this time, feel free to Google Translate it, haha.

Hamburg adalah kota yang cantik sekali! Hari ini, aku (sendiri, hiks), berjalan-jalan ke Hamburg. Ada banyak kereta dari Bremen Hauptbahnhof menuju Hamburg Hauptbahnhof, yang cukup membutuhkan sekitar 1 jam 15 menit. Karena kali ini aku menggunakan Niedersachsen Ticket, aku cukup membayar 22 Euro, untuk berwisata di daerah Lower Saxony, Hannover, Hamburg, dan Bremen, seharian penuh dengan menggunakan kereta apapun (kecuali ICE dan IC).

Aku bangun pagi, untuk mengejar kereta pukul sembilan pagi. Kereta Metronom, dengan khas double decker-nya, alias kereta tingkat dua, datang tepat waktu. Ratusan orang yang sudah menunggu di luar kereta berdesak-desakan untuk masuk ke dalam, dan mendapatkan kursi di tingkat dua.

Perjalanan satu jam-an menuju Hamburg tidak membosankan, pemandangan berganti-ganti mulai dari daerah Bremen yang padat penduduk, hingga daerah pertanian dan peternakan. Aku bisa melihat sapi-sapi perah itu makan dengan gembira di lahan rumput yang luas. Saat kereta memasuki daerah Hamburg, aku bisa melihat jembatan-jembatan yang menyambungkan bagian-bagian kota, bianglala besar, hingga gedung-gedung tua yang berdampingan dengan pencakar langit.

Rathaus.
Hamburg kota kanal.
Selain memiliki sistem transportasi yang luar biasa, Jerman secara umumnya, berhasil memadukan arsitektur kejayaan mereka di masa lampau dengan gedung-gedung terbaru. Hamburg, terutama, benar-benar sukses melakukan hal ini. Kota yang didominasi dengan bangunan dari bata merah ini (red bricks, hampir sama dengan di Boston), tidak terkesan terlalu kuno, karena ada sentuhan-sentuhan modern di tiap tempatnya.


Selain itu, Hamburg memiliki daerah HafenCity, yaitu salah satu proyek besar-besaran swasta yang ingin merombak daerah tertentu di Hamburg agar lebih modern, ramah lingkungan, sesuai dengan kebutuhan manusia urban, dan juga cantik. Jika kamu jalan dari daerah pusat kota menuju HafenCity, kamu bisa merasakan bedanya, karena kamu akan merasa seperti 'terlempar' ke dunia yang berbeda.

Daerah tertentu di HafenCity menjadi tempat pelabuhan kapar pesiar, juga tempat pariwisata.

Salah satu pusat perbelanjaan di HafenCity yang memiliki green design. Apakah kamu bisa menlihat lapisan plastik yang menutupi jendela-jendela di gedung itu? Mungkin itu untuk mengatur suhu di dalam bangunan.
Selain ramah lingkungan, daerah ini juga ramah manusia. Benar kata Kang Emil, Walikota Bandung, kota yang sehat bisa ditandai dengan masyarakatnya yang berkumpul di ruang terbuka.
Bagaimana dengan bagian 'tradisional' dari Hamburg itu sendiri? Tentu saja tidak kalah cantiknya! Ada banyak kanal, jembatan, town hall yang megah, juga gereja-gereja yang anggun, seperti di kota-kota di Jerman lainnya.

Dan juga air mancurnya -selalu- dengan patung pria/ wanita hampir telanjang bulat.
Aku juga sempat mengunjungi International Maritime Museum, harga tiketnya 9 Euro saja untuk siswa/ mahasiswa. Kukira tempatnya kecil, ternyata seluruh museumnya itu tersebar dari lantai satu hingga lantai sembilan! Ada banyak sekali koleksinya, mulai dari miniatur kapal-kapal, hingga senjata-senjata yang digunakan para bajak laut. Ada pula bagiama riset dilakukan di dalam laut, juga seragam-seragam angkatan laut dari berbagai belahan dunia. Lengkap, pokoknya! Aku menghabiskan sekitar 3 jam di museum satu ini, tetapi sayang sekali, itu pun belum mencukupi, karena aku keburu lelah (dan lapar). Semoga ada waktu lain kali untuk berkunjung ke museum luar biasa satu ini.

Di depan museum internasional maritim, dengan patung mesin motor penggerak kapal. Di sebelah kiri adda anak muda Jerman yang bermain otopet, ada pula temannya yang bermain skateboard. Kedua permainan ini sepertinya benar-benar populer di kalangan mereka. Di tiap taman dan jalan, selalu saja ada yang bermain ini.
Salah satu peta di zaman dahulu yang digunakan para penjelajah. Indonesia mana Indonesia?
Tebak, di manakah bagian dari bola dunia satu ini yang paling sering disentuh?
Perbudakan: beginilah para budak diangkut dari Afrika dulu untuk dijadikan budak di Eropa/ Amerika. Mereka ditumpuk-tumpuk, dibuat berdempetan satu sama lain. Tidak heran, kalau akhirnya banyak dari mereka yang tak mampu bertahan dalam perjalanan di laut yang sangat panjang (bisa mencapai berminggu-minggu).
Satu dari banyak miniatur kapal yang mendetail. Ada ribuan miniatur kapal yang bisa kamu temukan di museum ini!
Pangkat para pelaut dari berbagai belahan dunia.
Dan berbagai pakaian para angkatan laut.
Aku ingin alat ini! Alat untuk menyelamatkan diri dari kapal, semacam tempat duduk dengan roket.. Bisa kamu lihat di pojok kanan atas dari gambar ini bagaimana kursi satu ini digunakan.
Dan tentu saja, favoritku, karena namaku selalu dikaitkan dengan kapal satu ini: Titanic.
Di jalan pun aku menemukan hal yang menarik, tapi entah apa hubungannya. Mungkin mereka semua sebagai kota pelabuhan, adalah sister city.


Yang terakhir, saat aku hendak pulang ke Bremen, aku baru sadar betapa besarnya Hamburg Hauptbahnhof ini...

Abaikan pesan sponsornya.
Selamat berakhir pekan, semoga akhir pekanmu juga penuh dengan petualangan yang menarik, ya!

1 komentar: