02 Juni 2014

Rahma dan Rahmi

Namanya Rahma. “Seperti yang bisa kamu tebak, adikku namanya Rahmi,” begitu ujarnya pada semua orang, setelah memperkenalkan dirinya sendiri. Entah, mungkin dia ingin menekankan betapa tidak kreatif orang tuanya dalam memberikan nama anak-anaknya, atau karena dia ingin semua orang tahu mengenai adiknya yang beda enam tahun itu.

Rahma naik kereta KRD pukul enam dari Padalarang tiap hari untuk pergi ke sekolah, karena Bandung yang macet membuat angkot tidak lagi menjadi opsi yang diliriknya. Rahma benar-benar tahu kereta yang dia naiki ini, seberapa lama kereta ini akan telat, atau di gerbong mana dia masih bisa menemukan tempat duduk kecil untuk tubuhnya yang kurus. Bahkan, dia bisa naik KRD satu ini tanpa harus membeli karcis, dan bisa lolos tanpa ketahuan. Rahma memang anak yang pintar, tentu saja tak hanya soal KRD pukul enam ini.

Saat Rahma naik KRD pukul enam dan duduk di tempat favoritnya, yang entah mengapa selalu kosong, dia selalu melihat penjual ayam sabung yang menenteng tas berisikan ayam jagoannya. Kali ketiga Rahma melihat paman penjual itu, Rahma pun memperkenalkan dirinya. Sebagian karena butuh teman mengobrol, sebagian lagi karena penasaran dengan profesi paman itu.

“Apakah Emang penjual ayam sabung di Pasar Ciroyom?”

“Oh, benar sekali, Neng. Neng sering lihat Emang di kereta ini, ya? Namanya siapa, geulis?

“Iya, Mang. Emang selalu turun tiga stasiun dari sini. Saya Rahma, Mang. Seperti yang Emang bisa tebak, nama adik saya Rahmi.”

***
Tiap hari sekolah, paman penjual ayam sabung itu selalu ditemani Rahma yang berbaju putih merah. Rahma belajar banyak tentang ayam sabung dari paman tersebut. Seperti, makanan yang harus disiapkan untuk ayam sabung, serta makanan khusus sebelum pertandingan agar ayam tersebut lebih kuat dan ‘galak’. Rahma yang dulu hanya berani menyentuh anak ayam yang masih kuning, pun kini berani mengelus kepala ayam sabung milik paman penjual.

Suatu hari, Rahma bertanya, “Kalau hari Sabtu, Emang pergi jualan ke Pasar Ciroyom juga?”

“Kadang, Neng Rahma. Kalau ada yang butuh ayamnya hari Sabtu, ya Emang ke sana hari Sabtu juga.”

Mang, Rahmi suka main dengan ayam jago milik Pak Asep, tetapi kabarnya ayam tersebut akan dijual supaya Ani, anaknya Pak Asep bisa masuk TK tahun depan. Rahmi pasti sedih. Kalau Rahma ajak Rahmi naik KRD untuk lihat ayam Emang hari Sabtu ini, boleh? Lagian ayam punya Emang lebih keren dari ayam jagonya Pak Asep.”

“Boleh, Neng. Sok aja, palingan agak telat kalau hari Sabtu, sekitar jam tujuh.”

“Siap, Mang!”

Hari Kamis minggu itu merupakan tanggal merah, dan seperti biasa, karena Jumat adalah hari 'terjepit', akhirnya sekolah pun diliburkan dari hari Kamis. Tapi tak ada tanggal merah untuk paman penjual ayam sabung, sehingga dia tetap menaiki KRD pukul enam, walaupun Rahma, seperti yang bisa ditebak, tidak ada di kereta.

Sabtu pun tiba. Si Emang telah duduk di tempat biasanya di KRD pukul tujuh, dengan menggedong tas yang berisi ayam sabung yang akan dia jual. Pagi itu, dia memberi ekstra perhatian pada ayamnya, dia bersihkan secara teliti bulu-bulu ayamnya, dia sisir dan sikat pelan-pelan. Dia ingin membuat kedua kakak beradik Rahma dan Rahmi puas dengan ayam sabung yang dia miliki dan tidak bersedih lagi. 

Satu... Dua... Tiga... Empat stasiun. Rahma dan Rahmi tidak datang-datang. Hingga akhirnya Emang harus turun di Ciroyom, tanpa menemui kakak dan adik tersebut.

"Mungkin Rahma dan Rahmi diajak ke pasar kaget," begitu pikirnya. 

Hari Senin, saat dia naik ke atas KRD, Rahma sudah duduk di tempat biasanya. Matanya sayu, wajahnya tertunduk. Tanpa sempat bertanya tentang alasan ketidakhadiran Rahma dan Rahmi pada hari Sabtu yang telah dijanjikan, paman penjual ayam sabung berdiri di dekat Rahma.

Rahma mendongak, lalu berkata, "Mang, nama saya Rahma, tapi saya nggak bisa bercerita soal Rahmi lagi."

Kening Emang berkerut, "Lho, kenapa gitu, Neng?"

"Kata Mamah, Rahma nggak bisa bertemu Rahmi lagi. Rahmi sudah diambil Yang Di Atas...," perlahan telunjuknya mengarah ke langit-langit kereta yang bergetar.

"Rahma hanya ingat, Rahmi pucat sekali, bolak-balik ke jamban sama Mamah, katanya diarenya sampai berdarah..."

Kening Emang semakin berkerut, bibirnya bergetar perlahan. Bahkan, kepala ayam sabungnya pun memaksa keluar, seolah-olah ingin mengetahui apa yang terjadi.

"Maafin Rahma, ya, Mang, janji Rahma nggak ditepatin."

Kereta masih bergoyang-goyang. Muka Rahma masih menunduk, dan ayam sabung masih diam di dalam tas milik Emang.

Itulah kali terakhir Emang melihat Rahma. Mungkin Rahma tak ingin melihat Emang dan ayam sabungnya lagi yang mengingatkannya pada Rahmi, atau Mamah Rahma memutuskan untuk mengantar jemput Rahma yang statusnya berubah menjadi anak satu-satunya dalam sekejap mata, dengan naik angkot. Entahlah. Tapi, paman penjual ayam sabung itu merindukan obrolan singkat tentang ayam-ayam sabungnya bersama Rahma, karena hanya itulah yang membuat hari panjangnya di pasar dan kereta terasa lebih pendek.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar