02 Juli 2014

Balada Surat Suara Pertama

Hari ini, sepulang dari magang, aku melihat tumpukan surat di dekat pintu kos-kosanku. Yang sudah lama kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga.

Surat Suara Pemilu Presiden 2014!

Jangan tertawakan aku, tapi ini kali pertama aku memilih. Maklum, sudah empat tahun terakhir aku menuntut ilmu di luar negeri, dan rasanya enggan untuk mengurus coblos-coblosan. Sejujurnya, lapor diri ke KJRI NY juga baru tahun ini, itu pun karena butuh untuk memperpanjang paspor. Hahaha. Jangan ditiru ya. Lapor diri itu kalau bisa satu minggu pertama setelah tiba di luar negeri ya, kawan-kawan, hehe.

Pemilu Legislatif kemarin saja tidak aku urus. Entah kenapa, Pemilu Presiden kali ini aku usahakan inisiatif awal mencari info sebelum tiba di Jerman. Begitu tiba di Jerman, hari kedua, aku langsung kirim surat lapor diri, lalu kirim surel juga ke PPLN Hamburg. Awalnya, aku ingin datang ke Hamburg langsung untuk mencoblos, karena hanya sejam setengah naik kereta dari Bremen. Tetapi apa boleh buat, waktunya bertepatan dengan meeting DAAD-RISE di Heidelberg, di selatan Jerman; sementara Hamburg di utara. Jadinya, aku memilih lewat surat. Setelah balas membalas surat dan surel, akhirnya tiba juga surat suaraku!

Jadi, pertanyaannya bukan aku memilih siapa, tetapi apa yang unik dari surat suara ini.

Hal yang pertama ingin kulakukan saat membuka surat suara ini, bukan mencoblosnya. Benar sekali, aku adalah swing voter dan masih belum tahu akan memilih siapa, haha. Saat aku membuka surat suara ini, aku ingin melingkari dan main game saat Taman Kanak-kanak dulu: temukan 6 perbedaan dari kedua gambar di bawah ini.


1. Bajunya Pak Prabowo dan Pak Hatta kompak, dua-duanya punya lambang garuda di dada. Sedangkan Pak Jokowi dan Pak JK tampak kurang kompak: Pak Jokowi dengan kemeja khas kotak-kotaknya, dan Pak JK dengan kemeja putihnya.

2. Kalau lihat gambar latar benderanya, yang punya nomor satu lebih berkibar dan berlekuk-lekuk dibandingkan yang nomor dua.

3. Pak Prabowo dan Pak Hatta kompak mengenakan peci, sedangkan Pak Jokowi dan Pak JK kompak tidak mengenakan peci, haha.

4. Kalau kamu melihat kertas suaranya langsung, fotonya Pak Jokowi dan Pak JK entah mengapa terlihat lebih glossy. Sedangkan wajah Pak Prabowo dan Pak Hatta terlihat bersih tanpa jerawat atau bintik-bintik.

5. Kalau lihat jumlah gelar milik pasangan capres-cawapres, pasangan nomor satu punya 3 gelar (2 haji dan 1 insyinyur), dan pasangan nomor dua punya 4 gelar (2 haji, 1 insyinyur, dan 1 doktorandus).

6. Senyum milik Pak Prabowo lebih dikulum, sedangkan senyum tiga orang lainnya lebih lepas dan bebas. Senyum Pak Jokowi adalah yang paling lebar.

Jadi, berdasarkan 6 hal tersebut, pasangan mana yang akan kamu pilih?

Yang jelas, memilih lewat surat tidak semenarik memilih langsung di TPS. Katanya, sewaktu Pemilu Legislatif kemarin, banyak makanan Indonesia gratis di KJRI/ KBRI-nya. Selain itu, apa sih yang tidak menyenangkan dari bertemu teman-teman dan saudara-saudara setanah air, lalu mengobrol tentang apa saja -mulai dari kabar infotainment terbaru, hingga masalah diaspora?

Yang mencoblos di Indonesia pun, TPS jadi ajang untuk bertemu tetangga yang biasanya hanya saling sapa, "Baru pulang, Pak?" atau, "Habis dari pasar, Neng?" saja. Sekarang kita bisa mengobrol lebih panjang saat mengantre untuk dapat giliran di kotak suara. Kadang ada ibu-ibu yang menyumbang cemilan sederhana untuk para pengguna hak suara, atau seringkali pedagang kaki lima memanen untung yang lebih besar dari hari biasa karena satu RT berkumpul di tempat yang sama. Selain itu, untuk yang muda-muda, atau yang tua tapi masih bertenaga, biasanya ikut serta jadi panitia dan sukarelawan di TPS. Yang tidak jadi panitia pun, kadang ikut menonton penghitungan suara dan memeriahkan.

Belum lagi, kalau sudah mencoblos, jari biasa yang dicelupkan di tinta ungu bisa jadi jari sakti untuk berburu diskon di toko-toko, atau mendapat minuman/ makanan gratis di gerai-gerai yang buka lebih siang dari biasanya untuk mengakomodasi para pemilik hak suara.

Bagiku sendiri, momen Pemilu ini bukan hanya soal siapa yang terpilih dan mewakili rakyat di setengah dekade mendatang, tetapi benar-benar menjadi Pesta Rakyat, tempat rakyat berkumpul, berinteraksi, dan bekerja sama. Apalagi karena ruang terbuka tempat masyarakat berinteraksi semakin berkurang; dan interaksi antar-tetangga sekarang semakin superfisial. Jika biasanya hanya ada dua momen dalam satu tahun tempat masyarakat luas berinteraksi: Idul Fitri dan 17 Agustus, tahun ini kita mendapat dua waktu ekstra. Luar biasa, bukan?

Terakhir, siapapun yang kita pilih, semoga pasangan yang menjadi presiden dan wakil presiden nanti adalah yang terbaik untuk negeri kita lima tahun ke depannya, ya. Jangan ribut-ribut, jangan memaksakan pilihan sendiri pada orang lain, jangan memojokkan satu orang, jangan bicara yang tidak enak. Tetap positif, tetap bersahabat dengan siapapun.

Mari, aku mencoblos duluan, ya.

4 komentar:

  1. salam tiga jari!! ^___^

    BalasHapus
  2. Fascinating. Ngelihat how fiery temen SMA are supporting one or the other candidates, jadi malu kemarin ngebuang form untuk jadi daftar pemilih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sayang sekali Mas/ Mbak. Alokasi APBN-nya besar lho, we might as well vote karena sayang duitnya ;)

      Hapus
  3. jadiii kamu pilih siapa Taan? :)))

    BalasHapus